TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
RINDU ITU BERAT



Maya kembali di buat terkejut saat mengetahui siapa orang-orang yang berada di dalam mobil yang baru saja tiba. Belum hilang keterkejutannya akan kedatangan Lingga, ia di kejutkan lagi dengan kedatangan Umi dan kedua adiknya.


Belum kering dari airmata. Pipi itu harus kembali basah. Matanya kembali berurai. Masih berada dalam rengkuhan sang pria, Maya menatap Lingga mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang telah di lakukan pria itu saat berada jauh darinya.


Mendapatkan anggukan dari Lingga, Maya melepaskan diri dan berlari menyambut sang Umi dengan banjir airmata.


"Umi.." Maya memeluk wanita yang memiliki wajah sangat mirip dengannya, wajah lembut yang terlihat menyejukan. Terlihat jelas, guratan sisa-sisa masa keemasan di wajahnya, kecantikannya di masa muda.


"May.. Anak Umi.." wanita itu ikut menangis, membalas pelukan Maya.


Wanita yang bernama Wanda itu tidak pernah menyanga akan nasip putrinya. Selama lima tahun, ia tidak mengetahui kehidupan yang di jalani Maya. Putrinya itu tidak pernah bercerita, setiap ia menjenguk Maya ke Jakarta. Maya tidak pernah mengeluh, bahkan tidak pernah menyampaikan kekurangan Haris selama berumah tangga.


Wanda pikir, rumah tangga Maya baik-baik saja walaupun ia mengetahui kondisi Haris yang memang sedang sakit. Ia pikir putrinya di terima dengan baik, di perlakukan dengan penuh kasih sayang saat di minta untuk menjadi menantu di keluarga Maulana. Ia pikir sebagai suami, Haris akan memperlakukan Maya sebagai istri yang di hormati dan di hargai.


Sehingga ia tenang menjalani hidup di kampung, ia fokus bekerja mengurus Mada Dan Maka. Tetapi kenyataannya, jangankan untuk memperlakukan Maya dengan baik? Saat melepas Mayapun Haris tidak memulangkan kepadanya sebagai orangtua.


Hingga datang sesosok laki-laki menghadapnya. Menemuinya di kampung, pria itu memasrahkan diri dengan meminta maaf atas kesalahannya. Pria itu mengakui dosa yang telah ia lakukan bersama Maya. Ia mengungkapkan rasa cintanya kepada Maya dengan meminta dan meminang Maya untuk di jadikan istrinya. Pria itu tak lain adalah Lingga.


Sebelum mengasingkan diri membenahi kekacauan yang terjadi. Ia menyempatkan pulang ke kampung Maya dengan alamat yang ia dapat dari Dina. Lingga menemui Umi dan menceritakan segalanya. Dengan berjanji akan menjemput Maya, menemui Maya sampai keadaan kondusif dan masa idah itu berakhir,


"Ceu.." Bik Hima mendekat, menyambut sang Kakak ketika rangkulan ibu dan anak itu sudah terlepas.


"Neng.." Umi beralih memeluk Bik Hima..


kedua wanita itu beruarai airmata. Jarak dan keadaan membuatnya keduanya lama tidak berjumpa.


"Ceuceu sehat?" Bik Hima bertanya setelah pelukan itu terlepas.


"Alhamdulillah. Eceu masih di berikan kesehatan dan umur panjang."


"Masuk Ceu, jangan di luar." Bik Hima merangkul lengan sang kakak agar masuk ke dalam meninggalkan maya, dengan sang Umi yang berucap.


"May, tolong di urusi dulu si Abang." Ucap Umi seraya tersenyum simpul sebelum kakinya ikut melangkah masuk bersama Himala. Ia meninggalkan Maya yang masih melepas rindu dengan Amaka dan Amada.


"Ceu.." Handoko menyapa, menyalami wanita yang menjadi kakak iparnya, pria itu menyambutnya di pintu.


Daksa, Dika ,Dania bergabung merangkul dua laki-laki sepupunya yang baru tiba setelah menyalami Umi, yang mereka panggil dengan sebutan Uwa.


Haru biru tengah di rasakan kedua keluarga kecil yang lama tidak bersua, dengan Maya yang beralih menatap pria yang tersenyum menatapnya.


Maya kembali mendekat menyambut uluran tangan, tatkala Lingga mengulurkan tangannya agar Maya meraihnya. Lingga menarik Maya agar masuk ke dalam mobil, ia membawa Maya pergi meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga yang sedang melepas rindu. Duduk berada di balik kemudi, dengan Maya berada di sampingnya. Pria itu segera melajukan kendaraan meninggalkan halaman dengan tujuan yang entah akan kemana.


Saat ini, yang ia inginkan hanya berdua bersama Maya, ia ingin melepaskan kerinduan yang seakan tidak pernah berhenti menyerangnya.


Maya masih tidak menyanga, seakan mimpi di pagi hari. Sesekali ia menengok kesamping menatap Lingga, menatap pria yang tengah mengemudi dengan satu tangan kanannya. Dengan tangan kiri yang ia tautkan ke lima jemari tangan Maya. Maya semakin terpukau melihat penampilan Lingga yang berbeda. Entah sudah berapa lama pria itu tidak merapihkan rambutnya dan jambangnya.


Wajah Maya seketika memerah mendengar ucapan Lingga. Dengan malu-malu Maya balik bertanya


"Apa Abang juga rindu Maya?"


"Sangat.. Abang sangat merindukanmu May…, tidak ada hari tanpa kamu di pikiran Abang. Tidak sedetikpun kamu lepas dari ingatan Abang. Kamu.. Dan kamu, May.." Lingga mengungkapkan isi hatinya dengan mata menatap ke depan, sesekali melihat Maya.


"Abang harus menahan untuk tidak bertemu. Abang tidak menggunakan ponsel agar Abang tidak menghubungimu dan melihat fotomu. Semuanya Abang lakukan agar Abang bisa bertahan selama 3 bulan."


"Rindu itu berat, May.." Lingga terkekeh pelan saat menirukan ucapan pria muda yang membintangi sebuah film, ucapan yang akhirnya menjadi tren di kalangan anak muda.


"Abang ingin menemuimu di waktu dan keadaan yang tepat. Maafkan Abang, May.. Harus membuatmu menunggu. Membiarkanmu melewati hari yang berat, sendirian di kota ini."


Walaupun tanpa di ketahui oleh Maya, Lingga menempatkan orang suruhannya untuk memantau kegiatan Maya. Keseharian Maya, apa saja yang di lakukan Maya. Ia juga mengetahui akan Gala, seorang perwira yang mendekati Maya. Ada rasa cemburu yang teramat besar saat mendengar laporan, seakan tak rela pria itu yang berada di sisi Maya. Menemani hari-hari Maya. Ia tau kalau Pria itu menginginkan Maya.


Tanpa di rencana mobil yang di kendarainya memasuki sebuah pariwisata sejuk di lereng gunung merbabu yang terlihat sepi saat pagi hari. Dengan pemandangan hamparan gunung yang menjulang tinggi, gunung yang masih di selimuti kabut. Memarkirkan mobil di sisi lahan yang terhalang pembatas sebagai pengaman. Lingga mematikan mesin mobil dengan menurunkan sedikit jendela. Memundurkan kursi ke belakang, Lingga meminta Maya agar duduk di pangkuannya.


"Kemari, May.. Biarkan Abang memelukmu." dengan sorot mata penuh cinta.


Maya pindah, menuruti keinginan Lingga dengan memasrahkan dirinya duduk menyamping di atas pangkuan Lingga.


"Abang akan mengganti waktu yang tersia-sia selama tiga bulan ini, dengan waktu yang lama, seumur hidup Abang." Lingga membelai kedua pipi Maya..


Seakan tidak puas, Lingga meraup wajah Maya agar berada tepat di depan wajahnya. Hembusan nafas hangat keluar saling menerpa di wajah keduanya. Di iringi nafas yang mulai berat. Lingga sangat menikmati kecantikan wajah Maya yang alami tanpa riasan apapun yang melekat di kulitnya.


Kedua mata itu saing menatap, mencari kebohongan yang tak di dapatkan, keduanya saling meresapi rasa yang di miliki, merasakan debaran di dada yang selalu muncul saat berdekatan maupun berjauhan. Keduanya seperti mahnet.


Binar rindu dan cinta menjadi satu dan tumbuh berkembang indah dan subur di dalam hati keduanya.


"Lupakan Haris May.. Dia hanya masa lalumu.." Lingga bicara lirih dengan ujung jempol yang tak berhenti mengusap bibir indah yang tampak menggoda.


"Abang hanya ingin nama Abang sepenuhnya yang ada di hati di pikiranmu, mulai saat ini dan seterusnya." mata Lingga terus bergerak dari mata turun ke bibir.


"Sama seperti Abang yang yang telah membuang hingga bersih tidak tersisa nama Alisa dari hati Abang. Dan Abang pastikan nama itu sesusungguhnya tidak pernah ada di hati Abang. Hanya ada kamu May.. Cuma kamu.."


Wajah itu semakin dekat.. Semakin dekat. Dengan Maya yang memejamkan matanya, kala bibir Lingga kembali mendarat di bibirnya.


Pria itu semakin dalam menyesap..


Dan, tiba-tiba Maya kembali membuka matanya kala teringat akan kehamilannya..


****


Bersambung ❤️