TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
BEST FRIEND



Mengenakan kebaya putih dengan songket merah, membuat Dina terlihat anggun dan tampak cantik pagi ini. Dina baru tau, kalau kebaya yang ia pakai adalah pemberian Bunda Rossa untuknya yang di titipkan kepada Lexsus.


Bukan pernikahan megah yang di rayakan di dalam gedung dengan tamu undangan ribuan orang. Lexsus dan Dina hanya menginginkan sebuah acara pernikahan yang sederhana, cukup di hadiri keluarga besar Kamoga dan orang-orang terdekat mereka.


Awalnya Ambo menolak mengingat Lexus putra pertama. Dan pada akhirnya, Ambo Werang menyetujui juga. Yang terpenting adalah khidmatnya suatu proses pernikahan yang sangat sakral.


Rasa bahagia tengah di rasakan bukan hanya kepada kedua calon pengantin, tetapi seluruh keluarga khususnya Indo dan Ambo yang merasakan bahagia, harapannya agar Lexsus segera menikah dengan wanita lain terwujud sudah. Sejak kemarin, kedua orangtua itu sibuk mempersiapkan segalanya.


Flashback


Satu hari sebelum hari pernikahan


Terkejut dan tidak menyangka. Seperti itulah reaksi yang Dina tunjukkan, setelah seharian mengitari Kota Makasar dengan menikmati beragam budaya dan keindahan alam, di lanjut dengan mencoba, mencicipi banyak makanan, kelejatan kuliner khas Kota Makassar Kabupaten Sulawesi Selatan.


Sesampainya di rumah, Dina ternganga ketika meihat rumah Lexsus yang berubah menjadi indah karena di penuhi hiasan, dekorasi bunga yang menempel di ruang depan. Rumah itu terlihat ramai dengan para pekerja beserta keluarga inti, keluarga besar yang sedang membantu mempersiapkan acara.


Dan, Dina baru mengetahui kalau acara yang tengah di siapkan itu adalah acara akad nikahnya bersama Lexsus yang akan di laksanakan besok pagi. Tanpa sepengetahuannya juga, Daeng Lexsus telah mempersiapkan surat-surat yang di butuhkan untuk mereka melakukan ijab kabul.


Dina benar-benar bingung dan heran dengan calon suaminya itu. Apa yang tidak bisa dia lakukan sebenarnya. Lelaki itu sungguh luar biasa


°°°°°


Dan pagi ini saat Dina tengah di rias. Sebuah kejutan besar juga ia dapatkan. Dari dalam kamar, Dina dapat melihat melalui jendela yang terbuka lebar, Dina dapat mendengar mesin mobil berhenti. Ia juga dapat melihat wanita yang sangat di kenalnya turun dari mobil mewah beserta orang-orang yang juga sangat di sayanginya.


Bukan hanya Maya, tetapi dua orang wanita yang sudah Dina anggap sebagai ibunya. Bunda Rossa dan Umi Wanda, di susul keluar dari dalam mobil berikutnya, Tuan Sutan dan dua remaja Maka, Mada dan pemeran utamanya adalah Sutan Lingga yang berada di sisi Maya.


Tampak Lexsus dam Ambo Werang beserta tiga orang kerabat menyambut kedatangan tamu yang sangat di tunggu-tunggu. Tamu spesial yang akan menyambung menjadi keluarga. Pendamping dan saksi untuk mempelai wanita yaitu Dina Rahmata


Mengangkat kain songket setinggi lutut, Dina berlari dari dalam kamar ke halaman depan untuk memeluk sahabatnya denga rasa haru dan bahagia. Ia tidak mengubris panggilan penata rias yang sedang memoles wajahnya dan teriakan Indo Senna yang memintanya agar jangan berlari karena berbahaya.


"Dina jangan lari.."


"Iya, Indo.." tetap saja Dina berlari karena ingin segera sampai depan.


"Maayyy…"


"Dinnn…." Maya melepakan diri dari rangkulan Lingga, ia ikut menyambut kehadiran Dna.


Keduanya saling berangkulan tak perduli dengan orang-orang di sekitar.


"May.. Aku kira, aku akan sendirian di hari penting ini. Aku kira, aku tidak memiliki siapa-siapa. Dari semalam nahan sedih tau, May.. Pingin telfon kasih kabar tapi aku khawatir kamu akan memaksakan datang, sedangkan kondisimu baru pulang dari rumah sakit. Dan akan mengganggu istirahatmu dan Abang.." Dina bicara sambil menangis.. 4 hari tidak bertemu rasanya lama sekali.


"Din, jangan nangis nanti riasan-mu rusak. Kasian penata riasnya kalau harus merapihkan kembali."


"Ihh, May.. Malah mikiran penata rias. Bukannya ikut sedih." rajuk Dina, membuat Maya tertawa.


"Siapa bilang kamu akan sendirian? Siapa bilang kamu tidak punya siapa-siapa? Aku, Kami akan ada untukmu, Din.. Ada Bunda, ada Umi.." ucap Maya.


"Kita bukan hanya best friend Din, tetapi kita saudara. Kita sudah melewati hari-hari kita dengan tangis, tawa dan canda, dengan semua kesulitan yang kita jalani. Dan, masa itu telah lewat Din.. Aku sudah bahagia dengan memiliki Abang. Dan saat ini, saatnya kamu harus bahagia juga dengan Lexsus. Aku selalu mendoakanmu Din. Aku bahagia, dapat menyaksikan sahabatku bersanding dengan pria yang tepat."


"Terimakasih May.. Seneng deh dengarnya.." Dina menyeka airmata sambil menarik cairan yang memenuhi hidungnya.


"Deehhh.. Jorok! Gesreknya datangkan?" Maya mencebikkan bibirnya.


"Sudah-sudah, ini bukan waktunya saling bersedih." Bunda Rossa melerai pelukan keduanya. "Pengantin harus selalu tersenyum agar aura kecantikan terpancar keluar dan kebahagiaan dapat menular kesemua tamu yang hadir.. Apa kamu tidak mau gantian memeluk Bunda, Din?"


"Bunda.." Dina beralih memeluk Bunda Rossa. Siapa sangka, nasip membawanya ke titik ini. Dimana sang bos pemilik butiq tempatnya mencari nafkah, berubah mengangkatnya menjadi anak dan merangkulnya sebagai keluarga.


"Terimakasih Bun, Dina sangat senang Bun.. Dina sangat Bahagia. Bunda hadir di pernikahan Dina."


"Bunda juga Din, Bunda sangat senang dan sangat bersyukur saat Lexsus menemui Bunda tempo hari. Lexsus mengutarakan keinginannya, Lexsus menyampaikan niatnya kepada Bunda untuk menjadikanmu pasangan yang halal saat membawamu pulang ke kampung halamannya. Dan ucapannya terbukti."


"Terimaksih Umi." Dina berganti memeluk Umi Wanda setelah selesai dengan Bunda Rossa. Umi Wanda pun merasakan haru yang tak bisa di sembunyikannya.


"Umi doakan kebahagiaan dan kehidupan yang damai untuk, Neng.. Jangan bersedih ya.. Awali segalanya dengan Bismillah."


"Selamat datang di gubuk kami Nyonya.." dengan ramah, Senna menyambut Bunda Rossa.


"Alangkah baiknya, Besan jangan memanggil Nyonya.. Dan sepertinya kita seumuran bukan? Panggil besanmu ini Rossa.." Bunda Rossa balas memeluk, pelukan dari wanita yang telah melahirkan Lexsus.


"Iya, Rossa.. Terimakasih sudah menyayangi dan menerima Lexsus putraku sebagai putramu juga."


"Pasti Senna.. Dia sangat manis, gagah dan bertanggung jawab. Siapapun pasti akan menyayanginya."


Sebelum bertemu, Bunda Rossa dan Indo Senna telah berkomunikasi membicarakan banyak hal, salah satunya persiapan pernikahan yang akan menjadi kejutan buat Dina.


"Apa ini besanku juga Ros?" setelah mengurai pelukan, Senna beralih menyambut Umi Wanda.


"Iya, kenalkan.. Beliau ini Wanda, Ibu dari menantu kesayanganku, Maya.." Bunda Rossa memperkenalkan Umi yang selalu tersenyum tenang. Umi Wanda mengangguk membenarkan.


"Kenalkan Umi.. Aku Senna.." wanita itu merangkul Umi Wanda seperti yang ia lakukan kepada Bunda Rossa.


"Pangil aku Wanda, Senna.. Apalah artinya sebuah panggilan. Aku senang sekali, putriku mendapatkan putramu Lexsus. Dia pria penyayang. Ucap Umi Wanda.


"Dan aku sangat bersyukur Putriku Dina memiliki keluarga Kamoga."


"Ya Wanda, putrimu sangat cantik.."


"Mari masuk dulu besan, kita lanjutkan bicara di dalam. Acarnya akan di mulai nanti jam 9."


Sutan Cjokro dan Lingga sudah lebih dahulu masuk kedalam dengan di sambut Ambo Werang, Lexsus dan tiga orang kerabat. Tidak lupa satu orang yang di tuakan sebagai kepala adat sudah datang sebelum kedatangan rombongan mobil yang membawa keluarga Sutan.


"Trimakasih, Tuan.. Terimakasih, pak Lingga. Sudah berkenan hadir.. Suatu kehormatan dan kebanggaan untuk kami disini, khusunya keluarga besar Kamoga." ucap Lexsus


"Kamu selalu ada untuk keluarga Sutan. Dan akupun akan selalu ada untuk keluarga Kamoga." balas Lingga. "Aku turut senang, akhirnya kamu menemukan wanita yang tepat untuk menjadi pendampingmu."


"Sayangi dia dengan segenap jiwa dan ragamu.. Jadilah suami yang dapat melindungi.. Keaadaanku kemarin jadikan pelajaran untukmu."


"Terimakasih Tuan, sudah memberikan kepercayaan kepada putraku." Ambo Werang ikut bersuara.


"Putramu pria yang tangguh dan aku sangat menyukainya." Cjokro membalas ucapan Werang.


Semuanya sudah berkumpul, duduk bersama di lantai beralaskan karpet permadani.. Semuanya duduk di sisi pinggir membentuk lingkaran luas dengan satu meja yang telah di siapkan, meja yang sudah di hias dengan rangakaian bunga segar nan indah. Di tutupi taplak meja berwarna putih yang di letakan di tengah-tengah.


Kedua keluarga itu melanjutkan obrolannya. Berbagi kehangatan antara keluarga...


Di tengah-tengah obrolah, tiba-tiba penata rias datang dan bicara kepada Indo Senna


"Maaf, Indo.. Pengantin wanitanya belum selesai di rias."


Serempak semua yang berada di ruangan itu menatap Dina.


Dina tersenyum meringis kala mendapatkan tatapan.. Ia ikut duduk di samping Maya.


Wanita itu lupa.. Ia melupakan kalau dia yang menjadi pengantinnya hari ini.


Plakk…


Maya mengeplak lengan Dina.


"Cepetan masuk.."


****


Bersambung ❤


Mohon maaf, belum bisa dobel up.. Waktuku sedang terbagi dengan pekerjaan lainnya.. Maaf yaa.. Maaf banget...Sebisa dan semampunya, aku akan usahakan up tiap hari walau kadang ada bolongnya.. Semoga selalu setia dengan Maya ya teman-teman 🙏...


Doakan part edan Lexsus dan Dina lolos aman terkendali.. Kalau kurang edan berarti sudah di revisi..