TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MENUTUP HARI DENGAN INDAH



Menikmati hari terakhir, siang menjelang sore hari di Resort Pantai Senggigi di kepulauan Lombok, dimana tempat sang pengantin baru yang tengah berbulan madu itu menginap. Karena esok hari Lingga dan Maya akan kembali ke Jakarta. Melepaskan handuk kimono yang di kenakan, Maya melangkah turun kedalam kolam renang yang langsung berhadapan dengan Pantai.


Dengan pemandangan hamparan laut biru sepanjang mata memandang. Wanita itu mulai asik menggerakkan tubuh dan tanganya ke tengah kolam. Tinggal di kawasan Pantai Pangandaran membuat Maya mahir berenang. Cukup bergerak 2 kali putaran, Maya menepi ke sisi kolam renang dengan tangan melipat, ia rebahkan di dasar lantai pingiran kolam renang sambil menghadap lauatan, memandang warna jingga sang matahari.


Flashback kebelakang. Maya mengingat kembali perjalanan hidupnya, membuang nafas dengan hati yang jauh lebih tenang, Maya tersenyum menyongsong lembaran demi lembaran kehidupan yang baru bersama Lingga. Tak henti bersyukur kepada Tuhan, bahwasanya ia mampu melewati segala getir dan kepahitan hidup sebelumnya. Dan saat ini, Tuhan menghadirkan sosok Lingga. Hanya saja sedikit mengganjal dalam hatinya, bagaimana kalau ia kembali ke Jakarta dan bertemu dengan Haris. Maya masih mengingat jelas ucapan Haris yang memintanya untuk pergi sejauh mungkin agar tidak memilih Lingga.


"Apa yang kamu pikirkan? Hemm.." tiba-tiba Lingga sudah berdiri, memeluk tubuhnya dari belakang dengan dagu ia rebahkan di pundak Maya. Tangan kokoh itu melingkar di pinggangnya. Membuat Maya terkejut, pikirannya langsung buyar, ia tidak menyadari kedatangan suaminya.


"Tidak ada, Bang.." Maya tersenyum menyembunyikan kekhawatirannya.


"Benar? Tidak ada yang kamu pikirkan? Jangan menutupi apapun dari Abang May.." Lingga sudah mulai menggigit lembut pundak Maya.


Sebelumnya


Pandangan Lingga tidak lepas dari Maya, pria itu memperhatikan Maya yang tengah berenang, meliukkan tubuhnya di dalam air kolam, dengan benda pipih yang masih menempel di sisi telinganya. Lingga tengah bicara serius melalui sambungan telfon dengan salah satu jurnalis yang menjadi bawahannya. Ada beberapa informasi yang di terimanya. Sampai pembicaraan itu selesai, Maya masih berada di dalam kolam renang dengan mengarah dan memandang ke hamparan laut lepas.


Melepaskan pakain yang melekat di tubuhnya tanpa menyisakan sehelai benangpun. Lingga ikut menyusul turun ke dalam kolam. Memeluk tubuh indah yang selalu membuatnya lupa.


Merasakan gigitan dan sapuan lembut bibir sang suami di pundak dan tengkuknya. Membuat mata Maya terpejam meresapinya dengan tangan masih ia letakkan di pinggiran kolam.


"Katakan May. Katakan kepada Abang, apa yang kamu pikirkan?" Lingga bertanya lagi di sela-sela kecupannya. Dengan tangan yang terus bergerak liar, mengusap perut naik ke atas. Meremat lembut dua gundukan milik Maya yang semakin kencang. Tak tahan, Lingga membalikkan tubuh Maya agar menghadapnya. Ia akan mencari tau lebih dalam dari sorot mata Maya. Mata yang tak bisa membohonginya.


"Abang akan dengarkan." Kedua tangannya beralih meraup wajah Maya agar menatapnya.


"Maya hanya takut, Bang.. Kita akan kembali ke Jakarta besok. Bagaimana kalau Mas Haris tau Maya kembali?" Maya mengungkapkan kekhawatirannya.


"Apa yang harus kamu takutkan, May? Ada Abang di sampingmu.. Janjimu sudah tidak berlaku saat kamu sudah menjadi istri sah Abang. Apapun yang menjadi masalahmu akan menjadi urusan Abang dan akan menjadi tanggung jawab Abang sepenuhnya. Tidak akan Abang biarkan siapapun, baik dari masa lalu Abang atau masa lalu-mu mengusik dan menganggu ketenangan kita."


"Jangan habiskan tenaga dan pikiranmu untuk orang lain. Kamu hanya boleh memikirkan Abang dan jagoan kita. Kamu paham." ucap Lingga masih dengan posisi meraup wajah Maya.


Maya mengangguk, menurut segala ucapan Lingga.


"Kita akan menutup hari kita disini dengan sesuatu yang indah May.." Lingga mengecup seluruh wajah Maya dan berakhir di bibir. Bukan lagi sebuah kecupan, tetapi lum**an dan sesapan yang memabukkan. Di bawah matahari menjelang sore, yang menjadi saksi dua insan saling bercumbu menjadi satu.


Warna terang itu berubah warna. Ia mulai memudar menjadi warna jingga, yang perlahan meredup di cakrawala luas. Tetapi tidak dengan sepasang suami istri itu, hasrat mereka bertambah dan semakin menggebu. Lingga mensesap leher jenjang Maya, dengan kedua tangan Maya yang melingkar di leher Lingga..


Wanita itu menenggadahkan kepalanya, menikmati desiran hebat di seluruh tubuhnya. Ia membiarkan pria itu melakukan yang di inginkannya. Membiarkan tangan kokoh itu menyentuh sesuatu miliknya. Entah sejak kapan penutup bukit dan kain segitiga miliknya sudah terlepas dan mengambang di atas permukaan air kolam.


"Abang ingin disini, Honey.." Lingga berbisik seraya menggigit pelan telinga Maya … dengan mengangkat, kedua kaki Maya agar membelit pinggangnya, setelah Lingga membenamkan miliknya, dengan merapatkan tubuh Maya di dinding pingiran kolam renang.


Maya merebahkan, menenggadahkan kepalanya di pinggir kolam sebagai tumpuan saat kedua tangan kekar Lingga menahan bokongnya.. Sinar redup menambah kesyahduan suasana menjelang petang..


"May.." Lingga bersuara di tengah buruan nafasnya …kita pindah kedalam Honey.."


"Mmhhh…" hanya suara des**an yang mampu Maya ucapkan.


Meraup tubuh Maya.. Lingga berjalan ke sisi kolam, menaiki anak tangga menuju daratan. Masih dengan posisi menggendong, menahan sesuatu yang tertanam. Pria itu melangkah masuk, mendudukkan bokongnya di sofa dengan tubuh Maya yang berada di atas pangkuannya.


"Lakukan, May…" Lingga kembali meraup bibir kenyal Maya … mencecapnya, dengan saling bertukar saliva. Bersamaan dengan Maya yang mulai mengayunkan pinggulnya dengan perlahan tapi menghanyutkan. Bak sebuah dayung yang terus mengayuh lautan.


Tangan Lingga terus turun melingkar ke belakang mengusap, membelai punggung, terus turun ke pinggul sampai ke bokong Maya. Dengan bibir Lingga yang sudah tidak lagi di bibir Maya, tetapi sudah berpindah ke belahan dada. Lingga mengulum pucuk yang mengeras mencuat, dengan di balas rematan dan jambakan di rambut Lingga.


Sisa-sisa air kolam renang sudah bercampur dengan air keringat. Keduanya sedang menyatu mengejar sesuatu yang mampu mengobrak abrik rasa yang di dapat. Keduanya sudah melayang semakin tinggi di samudra lepas, sangat tinggi hingga lupa akan daratan..


Menggapai kenikmatan, keduanya melenguh, men**sah, mengerang bersamaan dalam dekapan dan ciuman.. Saling meneriakkan nama dalam hati. Saling memuja tiada henti.


"Akhhh…" suara Lingga terdengar saat ciuman itu terlepas..


Maya masih berada di atas pangkuan dan pelukan Lingga.. Wanita itu tampak puas walau dengan tubuh lemas.. Maya membenamkan wajahnya di ceruk leher Lingga.


"Abang mandikan ya." Lingga merapihkan rambut Maya.


"Heem…" kelopak mata Maya seakan ingin terpejam.


"Jangan tidur, May.. Kita akan makan malam. Abang sudah memesan makanan spesial untukmu."


Tak ingin sang istri ketiduran.. Lingga segera membopong tubuh Maya masuk ke dalam kamar mandi untuk saling membersihkan diri.


"Jangan nambah ya Bang.." Maya bicara pelan dalam gendongan.


Membuat Lingga terkekeh pelan.


****


Bersambung ❤️


Selama ramadhan upnya selalu sore teman-teman... Jangan lupa jempol dan komennya yaa..