
"Benarkah?" Lingga mulai bersuara setelah puas mendengarkan ucapan Lisa.
"Benar Ga.. Aku tidak mungkin berbohong." Alisa berusaha meyakinkan
"Tapi yang aku lihat kamu memukulnya Lisa?" Lingga bertanya dengan tersenyum menakutkan.
"Ak.. Aku tidak sengaja Ga.." Lisa menjawab dengan semakin gugup dan ketakutan.
"Dengan tangan yang mana? Yang kamu pergunakan untuk memukulnya?" Lingga bertanya dengan santai dan wajah yang masih tersenyum berbeda.
"De.. Dengan kedua tanganku." dengan bergetar, Lisa memperlihatkan kedua telapak tangannya ke hadapan Lingga.
"Apa kamu tau? Mayaku sedang hamil, dan aku kehilangan bayiku karena pukulanmu. Mayaku kehilangan banyak darah, dan saat ini Mayaku masih dalam keadaan koma?"
"Kamu tau rasanya kehilangan, Sa? Kehilangan yang sangat berharga dari diri kita? Dari jiwa kita? Dari tubuh kita?" Lingga bertanya dengan wajah tenang tetapi menghanyutkan.
"Ga.. Aku tidak sengaja.. Aku mohon maafkan aku.. Ak.. Aku berjanji tidak akan menganggu Maya Lagi.. Tapi tolong lepaskan aku. Pulangkan aku ke rumah.. Aku tidak mau berada disini. Aku mohon Ga.." Alisa brsimpuh akan menyentuh kaki Lingga, tetapi pria itu selangkah mundur ke belakang. Lingga tidak sudi Alisa menyentuh kulitnya walau terhalang kain.
"Maafmu tidak akan mengembalikan bayiku... Maafmu tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang tengah di rasakan Mayaku... Maafmu tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula." Lingga bicara dengan wajah datar.
"Tetapi, aku akan mengabulkan permintaanmu Alisa? Aku akan memulangkanmu. Aku tau bukan disini tempatmu. Tenang saja, aku tidak akan mengambil nyawamu."
"Benarkah? Kamu akan memulangkanku Ga?" wajah Lisa tampak tertawa bahagia. Ia merasa berhasil telah melunakkan hati Lingga. Ia percaya, pria yang pernah menjadi suaminya itu tidak akan pernah tega berbuat kasar kepadanya.
"Benar. Aku akan memulangkanmu. Aku bahkan tidak melaporkan perbuatanmu ke pihak berwajib. Aku tau, tempatmu bukan disana. Tempatmu di rumah Alisa.. Bersama Mamamu.. Aku hanya akan meminta sesuatu yang berharga dari tubuhmu, sesuatu yang telah membuat Mayaku terkapar di lantai hingga cidera dan kehilangan bayinya." Lingga bicara dengan tersenyum penuh misteri.
"Mak… Maksudmu apa Lingga?" Lisa dapat menangkap sesuatu yang mencurigakan.
"Kamu akan tau secepatnya Alisa.." Lingga mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku dan menyerahkannya kepada sang pengawal. "Kalungkan di atas lehernya." Lingga bicara dengan pria bertubuh kekar meyeramkan. Antarkan wanita ini pulang tepat di depan pintu rumahnya.
"Baik. Bos.. Kabar akan segera kami laporkan."
"Lingga..!! Linggaaa…"
"Jangan tinggalkan aku Lingga…"
"Linggaa…!!"
Alisa berteriak memanggil Lingga, saat pria itu berbalik meninggalkannya pergi masuk lift kapsul bersama Lexsus. Alisa ingin mengejar kepergian Lingga yang mengubris panggilannya.
Lingga menatap tajam ke arah Alisa yang tengah berteriak dan berusaha melepaskan diri dari cekalan sang pengawal. Ia melihat dari dalam kapsul kaca yang terus bergerak ke atas.
°°°°°
Di rumah Lusiana sedang bingung, dari pagi hingga menjelang sore, ia tidak mengetahui keberadaan putrinya. Seperti tertelan bumi, Alisa hilang tanpa meninggalkan jejak. Membuka ponsel milik Alisa yang tertinggal. Lusiana mencari kontak dan membuka pesan aplikasi teman-teman yang terakhir kali di hubungi sang putri. Ia menghubungi, bertanya keberadaan Alisa ke semua teman terdekat Alisa dan Tim kerjanya. Tetapi tidak ada satupun yang merespon dan mengetahuinya.
Ketika Video itu beredar, tak ada satupun rekannya yang perduli .. berbeda saat namamya masih harum menyandang nama besar Sutan di belakangnya. Orang-orang di sekeliling Alisa begitu mengelu-elukannya. Mereka sangat menghormati Alisa sebagai wanita berkelas.
"Kemana kamu Sa?" Lusiana tampak resah, ia tidak bisa berdiam diri menungu di ruang keluarga. Meraih kunci mobil Lusiana berniat akan menemui Lingga yang ia ketahui berada di rumah sakit.
°°°°°
Lingga sudah berada di ruang pemulihan. Mayanya belum tersadar setelah pasca operasi semalam. Kelopak mata itu masih terpejam, tertidur dengan damai. Wajahnya tampak tirus meneduhkan..
Lingga mendapatkan ijin khusus untuknya keluar masuk ke dalam ruangan. Sedangkan yang lainnya, hanya bisa memantau dari balik kaca besar.
Menempelkannya di pipi sesekali di kecupnya sembari bicara dengan sorot mata yang teramat sendu, dengan hati yang teramat pilu.. Ia kehilangan separuh nyawanya. Sunguh hidupnya tak memiliki gairah.. Hanya Maya yang sanggup membuatnya tertawa.
"Abang sudah memakamkan jagoan kita, May.. Putra kita sudah tenang.. Putra kita sudah berada di tempat terindah.. Dan Abang sudah berjanji akan membawa Miminya untuk datang menjenguknya."
"Kamu tau, May? Putra kita sangat tampan.. Abang tidak dapat membayangkan kalau putra kita di berikan umur panjang.. Saat dewasa, akan banyak wanita yang akan mengejar-ngejarnya.. Tapi Abang akan menseleksi.. Putra kita harus mendapatkan istri sama seperti Miminya.. yang selalu memberikan senyum keteduahan, memiliki hati yang tulus yang mencintai pasangannya tanpa syarat.
Lingga terus bicara tanpa henti, ia mengecupi seluruh wajah Maya, membisikkan ungkapan dan syair cinta di telinga Maya.
...Aku tidak bisa marah, karena bagiku kau adalah anugerah terindah yang mendekap barisan hariku penuh bahagia tumpah ruah. ...
...Sepotong senyum yang kau titipkan pada arakan senja, menghapus kesalku jadi tawa merekah, dan rinduku tiba-tiba dipenuhi keindahan yang berlimpah....
...Inikah sebuah pertanda? Pertama kali tatapku yang bergulir nyata pada beningnya matamu, telah memasung bahagiaku tanpa ampun. Tak perduli seberapa lemah getar itu menyisir kalam batinku. Aku hanya tahu, ada rindu yang kujaga untukmu....
...Mengenalmu adalah anugerah. Menyakitimu serupa larangan. Pertemuan menjadi kebahagiaan....
...Kamu sangat populer di kepalaku. Bahkan saat aku tidur, kepalaku tetap di sibukkan olehmu. Karena kamu selalu singgah dalam mimpiku. Menatap matamu yang syahdu adalah kesukaanku....
...Aku mencintaimu Maya.....
...Sangat.....
...Semangat hidupku adalah dirimu....
"Abang berjanji.. Setelah ini Abang akan menjagamu lebih baik lagi. Abang akan membawamu ke tempat yang lebih indah dari Pulau Lombok."
"Bangunlah, May.. Abang kesepian tanpamu.. Abang rindu suaramu, manjamu, rengekanmu."
"Bukankah kamu sudah berjanji akan mencukur jambang Abang..
Kamu tidak mengijinkan orang lain menyentuh wajah Abang.
Kamu senang ya, May? Membiarkan wajah Abang menjadi hutan belantara."
Lingga terkekeh pelan dengan mata memerah..
Hadid dan Lena beserta Cjokro dan Rossa menyempatkan menjenguk Maya ke rumah sakit sebelum acara kirim doa nanti malam. Dua pasang suami istri itu tampak terharu menyaksikan Lingga yang tengah mendampingi Maya dan mengajaknya bicara.
"Jika tidak ada perubahan dalam waktu 2 kali 24 jam. Bagaimana kalau kita bawa ke China?" Hadid adik dari Cjokro mengusulkan.
"Kita bertahan disini dulu. Rumah Sakit ini rumah sakit terbaik. Kita harus bersabar sebentar. Kita akan membahasnya dengan Lingga." ucap Cjokro.
Tak lama, Umi Wanda, Maka dan Mada tiba.. Sesampainya tadi pagi di Jakarta, ia belum sempat melihat Maya karena harus langsung berangkat ke pemakaman.
Atas seijin Dokter dan Lingga, ia akan masuk kedalam ruang pemulihan untuk bicara dengan Maya.
Hatinya seakan terbelah, ketika menyaksikan sang putri tengah tidak berdaya di atas brankar denga selang yang menopang kehidupannya.
"Oh, Putri Umi.. Bangun Nak.."
****
Bersambung ❤️