TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
TIDAK MENYANGKA



Berulang-ulang Mama Hani membuka lagi sosial medianya, mencari berita yang ia tonton di salah satu acara gosip. Ia masih belum bisa percaya wanita yang muncul di layar Televisi, wanita yang sedang ramai di perbincangkan di jagad maya itu adalah mantan menantunya Maya Mawanda.


Mantan istri dari Amar Maulan Haris, putranya. Perempuan biasa dari keluarga ekonomi rendah, saat ini telah menjadi menantu dari keluarga Sutan Cjokro pemilik Kabar Pos yang lebih di kenal dengan nama Kabar Grup. Sebuah perusahaan media cetak, media elektronik, dan pertelevisian di tanah air.


Nasib wanita itu sudah berubah, dari menantu yang tak di anggap berubah menjadi menantu kesayangan. Suatu bukti bahwa roda itu berputar selagi nyawa masih di kandung badan. Nasib manusia selalu akan berubah pada hakikatnya.


Tidak ada yang bisa menahan, juga tidak ada yang mampu menolak. Kita tidak bisa memilih harus di lahirkan pada situasi tertentu. Sebab semua itu kedaulatan yang kuasa, dan kita hanya menunggu waktu itu tiba.


"Maya.." mulut Mama Hani menyebut nama. Nama wanita yang telah di sia-siakannya. Menantu yang yang sangat tidak di sukainya, menantu yang terbuang. Selain tak memiliki harta yang patut di banggakan dari seorang Maya. Ada sebuah rahasia kecil, yang selama ini di pendamnya..


Sebuah alasan, mengapa ia sangat membenci Maya. Mengapa ia sangat tidak menyukai Maya. Ketika ia melihat wajah Maya, ia akan selalu teringat akan wajah Wanda. Wanita yang menjadi pemicunya dan berimbas kepada Maya.


Lima tahun yang lalu


Tanpa proses lamaran, Haris meminta Mama Hani agar bisa menghadiri acara pernikahannya. Hari itu, Hani Dwi Lestari yang biasa di panggil Mama Hani sangat terkejut, saat mengetahui siapa orangtua Maya. Wanita itu adalah Wanda Halimah, kekasih dari Azhar Maulana saat masa kuliah, yang saat ini menjadi suaminya. Wanda Halimah adalah wanita yang sangat di cintai Azhar sebelum akhirnya Azhar Maulana di jodohkan dengannya.


Setelah berpisah dari Azhar, Wanda menikah dengan Sofian Nugraha yang sama-sama berasal dari Desa Pangandaran Jawa Barat, ayah dari Maya.


Sebelumnya, selama tiga tahun, Wanda pernah kuliah di jakarta melalui jalur beasiswa. Wanda adalah salah satu pelajar yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah di ibu kota.


Disitulah awal pertemuan dan hubungan antara Wanda dan Azhar. Cinta masalalu sang suami, membuatnya sakit hati terbakar cemburu tak berkesudahan. Karena butuh waktu yang sangat lama untuk Hani berjuang menaklukkan Hati Azhar agar mau menerimanya. Kemarahan dan kebencian itu semakin bertambah saat Azhar selalu membela Maya ketika Hani sedang memarahinya.


Dan saat ini, Mama Hani tengah di pusingkan dengan masalah Tika putrinya, yang baru saja memiliki bayi. Herman mengajukan surat cerai tanpa bicara sepatah katapun kepadanya dan juga Azhar. Padahal selama ini Herman lah yang selalu ia bangga-banggakan. Belum lagi konflik rumah tangga Reksa dan Rani, Rendi dan Nina. Rumah tangga kedua putranya itu sedang tidak baik-baik saja. Ujian datang silih berganti menimpa keluarga, anak-anaknya.


Selepas Haris menjatuhkan talak kepada Maya, rumah tangga Tika di rundung prahara orang ketiga dan berakhir dengan perceraian. Tak lama, disusul rumah tangga Reksa dan Rani. Rani di vonis mandul tiga bulan terakhir ini. Sedangkan Rendi dan Nina.. Anak bungsunya itu, selalu bertengkar dengan sang istri akibat sang anak yang masih senang menghabiskan waktunya bersenang-senang dengan teman-temannya di club malam.


Diumurnya yang sudah mencapai kepala 5 seharusnya ia sedang menikmati masa tuanya dengan tenang dan bahagia bersama anak dan cucu-cucunya. Tetapi saat ini, ia malah di pusingkan dengan masalah rumah tangga anak-anaknya.


Kembali kepada Maya.


Hani masih sangat tidak menyangka, akan nasib Maya. Seminggu sebelumnya, Haris pernah mengungkapkan isi hatinya, kalau putranya itu masih mecintai Maya. Bahkan tidak sanggup melupakan Maya.


"Tidak di sangka ya, Ma? Nasib Maya akan seberuntung itu?" Tika bicara sambil menggendong bayinya yang baru berumur 40 hari. Tika duduk di samping Mama Hani yang sedang menyalakan televisi. Saat Maya masih menjadi kakak iparnya, Tika senang sekali memamerkan barang-barang mahalnya seperti tas, heels, pakaian, bahkan perhiasan. Terakhir yang ia pamerkan adalah mobil yang baru di beli Herman.


Mama Hani tidak bicara sepatah katapun apa lagi menjawab ucapan Tika. Ia terdiam dengan pikirannya. Ia masih memikirkan Lingga yang akhirnya menikahi Maya. Terakhir ia bertemu Lingga saat pria itu datang ke rumah dan bertengkar dengan Haris.


°°°°°


Dina sudah berdandan cantik berpakaian rapih..


Ia akan menunggu kedatangan Daeng yang akan menjemput, membawanya ke rumah sakit dimana Maya masih terbaring koma. Bergantian dengan Bunda Rossa yang akan berkunjung sore bersama Tuan Cjokro. Sedangkan Umi, masih berada di rumah sakit bersama Makan dan Mada.


Keluar kamar, dengan ceria secerah mentari pagi menuju siang.. Dina melangkah ke arah kamar pembantu yang berada di bagian belakang rumah.


"Mak, Kom…" Dina memanggil wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangga Maya dan Lingga.


"Mak , Koooommm…" Dina memanjangkan panggilannya saat tidak ada jawaban. "Bik Mar." Dina memanggil asisten rumah tangga Bunda Rossa. Tetapi sama saja, masih tidak ada jawaban.


"Pada kemana ya?" Dina bertanya sendirian.


"Neng, Dina cari siapa?" tiba-tiba, Kang ujang nongol dari pintu belakang.


"Mak Kom ada di taman belakang, sedang berjemur Neng. Kalau Bik Mar sedang ke pasar sama Ibu."


"Oouh.. Terimakasih Kang." Dina melangkahkan kaki menuju taman belakang. Dilihatnya wanita berdaster batik, dengan tubuh gemuk itu sedang bersantai di kursi taman dengan kepala di sandarkan, dan menatap matahari dengan kedua mata yang tertutup mentimun.


"Lagi ber-reinkarnasi jadi ikan asin Mak?" Dina mendekat, berdiri di depan Mak Kom dengan menatap ke bawah.


"Neng kata, Emak ikan peda apa?" Mak Kom bersuara


"Bukan ikan peda, Mak.. Tapi Ikan Dugong." Dina menahan tawanya. Entah kenapa, ia sangat suka sekali menggoda Mak, Kom yang sangat baik kepadanya. Uwa dari Kang Oleh itu senang bercanda, sangat mirip dengan Kang Oleh.


"Emang ada, Neng? Ikan asin Dugong?" Mak Kom belum menyadari sedang di jaili Dina.


"Ada, Mak.. Nooohhh.. Dugongnya ada di depan Dina. Lagi bejemur.."


"Ampun dah nih anak.!" Mak Kom ngegeplak lengan Dina, bangun dari posisinya dengan potongan mentimun yang terlepas dari matanya. "Ganggu konsentrasi Emak saja."


"Maaakkk.." Dina kaget melihat mata Mak Kom yang bintilan.. "Mak abis ngintip siapa?" Dina memicingkan matanya.


"Ngintip orang pacaran Neng, semalem. Mana pake acara mau ngebelah dada Mak lagi."


"Hihihi..." Dina tertawa sambil mengaruk kepala. Ia teringat kejadian semalam. Dan ia tidak menyadari akan kehadiran Mak Kom yang melihatnya.


"Mak kenapa pake ngintip? Kan bisa liat langsung."


"Beehh… Seneng bener di lihat Emak." Mak Kom kembali menempelkan mentimun di matanya dengan posisi masih duduk di bangku.


"Bukannya ngintip Neng, tapi gak sengaja." Mak Kom mengelak. "Ini tuh gara-gara Neng, Dina.. Bulan puasa pake acara sun-sunan."


"Kan puasanya siang Mak.." Dina tertawa memperlihatkan giginya. "Lagian Mak tuh aneh.. Berjemur pake daster? Bahaya, Mak.."


"Lahh.!! Emangnya kenapa, Neng?" Mak Kom serius bertanya, ia penasaran apakah benar ada yang salah dengan pakaian yang di kenakannya.


"Yahh, gak kenapa-kenapa sih Mak, cumaa.. Lebih bagus lagi kalau Emak berjemurnya pake bikini biar kaya orang bule Makkk...."


"Dinaaaaaaaaa….."


Mak, Kom berteriak dengan Dina yang segera beralari ke arah depan.


****


Bersambung ♥


Maaf yakkk kmarin gak up.. Ada urusan di Dunia nyata.. Jangan lupa jempolnya..


Niihhh yang belum tau Abang sama Neng Maya