
Berada di lereng Merbabu tepatnya di dusun Dakawu kecamatan Pakis Kabupaten Magelang yang merupakan sentra penghasil bawang merang.
( selain lima kota besar lainnya )
Suhu udara pagi ini terasa dingin hingga menusuk tulang. Maya sampai harus menggunakan sweater untuk menghangatkan tubuhnya. Menghalau rasa dingin yang membuat ia mengigil.
"Dingin May?" Gala bertanya saat melihat Maya tengah menghangatkan tangannya di atas kompor dengan api yang menyala kecil.
"Iya, kak.. Pagi ini suhunya dingin sekali." Maya mematikan kompor berbalik menatap Gala
"Kakak akan pulang pagi ini?" Maya balik bertanya saat melihat Gala yang sudah berpakaian rapih dengan baju dinasnya.
"Ya, May.. Kakak ada tugas pagi ini. Sebenarnya berat jauh dari kamu, Kakak pasti akan merindukan adik Kakak yang cantik ini." Gala tersenyum menggoda dengan mengacak rambut Maya.
"Pagi-pagi sudah menggombal. Kakak mimpi apa semalam?" Maya tertawa membalas ucapan Gala.
"Mimpi kehilangan kamu May." tatapan Gala berubah sendu seakan telah mendapatkan firasat kalau ia memang harus mengikhlaskan Maya, melepaskan Maya, tapi tidak dengan melupakannya. Ia akan tetap menyimpan Maya di hatinya dengan rasa yang akan di rubahnya, walau sulit dan membutuhkan waktu.
"Bisa kita bicara sebentar May? Sebelum Kakak berangkat."
Maya menganggukkan kepala. Keduanya berjalan ke ruangan depan.
"Kakak mau bicara apa?" Maya membuka suara setelah beberapa detik terdiam begitupun dengan Gala.
"Mengenalmu menjadi hal yang terindah buat Kakak, May.. Kakak mencintaimu May.. Tapi Kakak tidak bisa memaksakan hatimu. Seandainya boleh meminta dan memutar waktu, Kakak ingin mengenalmu jauh dari sebelum pria itu mengenalmu lebih dulu. Kakak tidak pernah menyesali telah mengenalmu, bertemu seorang wanita yang tengah menangis di dalam keremangan bus antar kota. Itu akan menjadi kenangan terindah untuk Kakak May."
"Dan selama 3 bulan terakhir. Kamu sudah berhasil membuat Kakak terlalu menyayangimu. Kakak hanya ingin melihatmu bahagai, kamu berhak bahagia dengan pilihan dan keputusanmu. Ijinkan Kakak memelukmu sebentar, May.. Untuk yang pertama dan terakhir.."
Tidak tega untuk lebih dalam mengecewakan Gala. Maya membiarkan pria itu membawa tubuhnya ke dalam pelukannya sebagai bentuk kasih sayang Kakak terhadap adiknya.
"Berbahagialah, May.." ucap Gala dengan Maya yang masih berada dalam pelukannya.
Sungguh berjiwa besar. Gala seakan mendapatkan sebuah firasat kalau ia memang tidak bisa memiliki Maya. Dan mungkin pagi untuk yang terakhir kalinya ia bisa memandang wajah Maya dan menyimpan dalam hatinya.
"Terimakasih, Kak.. Kakak sudah banyak membantu Maya. Maya tidak akan melupakannya." Maya mengurai pelukannya.
Sedangkan Daksa yang mendengar pembicaraan mereka dari balik tirai, tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak bisa memaksakan kehendak walau hatinya menyetujui seandainya Maya mau menerima Gala. Karena ia sangat mengenal Gala sebagai pria yang baik.
Bermalam di kediaman Daksa sang kawan, pagi-pagi sekali sekitar jam 5 Gala berpamitan kepada penghuni rumah untuk kembali ke kota Magelang. Sebagai Letnan dua, mendadak pagi ini Gala mendapatkan tugas dari sang kapten yang harus segera ia laksanakan.
Sedangkan Daksa akan menghabiskan waktu liburnya selama dua hari dan akan kembali esok hari.
Melambaikan tangan, mobil yang di kendarai Gala mulai meninggalkan halaman rumah dengan segala cerita. Meninggalkan wanita yang mampu meluluhlantahkan hatinya. Meninggalkan segenggam cinta untuk Maya.
Selang beberapa meter menjauh dari halaman. Mobil yang di kendarai Gala bersalipan dengan Land Rover berwarna hitam dengan plat Jakarta. Sedangkan Maya, wanita itu masih berdiri dengan pandangan lurus mengarah kemana mobil yang membawa Gala menjauh.
Maya melihat bagian depan mobil berkaca gelap. Ia hanya bertanya dalam hatinya. Siapa gerangan yang datang bertandang di pagi hari ke rumah Bibiknya. Dengan mesin mobil yang masih menyala. Matanya memicing menyipit, memperhatikan siapa sosok yang duduk di kursi depan, melihat ke arah kaca, menatap seseorang yang belum ia tau siapa.
Sedangkan sesosok pria yang masih berada di dalam mobil, memandang sang wanita yang tengah berdiri di teras rumah dengan sorot mata penuh kerinduan, rasa rindu yang selama ini di tahannya dengan sekuat tenaga. Rasa cinta yang setiap hari semakin membuncah bertambah besar. Seandainya cinta itu berbentuk dan bisa ia kumpulkan, tidak akan ada wadah dan tempat yang mampu menampungnya
Memandang wanita yang selalu hadir di setiap mimpinya, wanita yang menemani tidur di sepanjang malamnya di tempat ia mengasingkan diri. Di kamar tempat mereka menyatukan diri. Wanita yang sudah berhasil membuatnya banyak berubah dengan mengambil langkah besar.
Mesin mobil itu berhenti diam, mendengar suara pintu yang terbuka terdorong dari dalam. Pandangan Maya turun kebawah, saat kaki beralas sepatu mahal itu menginjak tanah. Baru ketika pintu kembali tertutup, matanya perlahan naik ke atas hingga batas kepala. Dan, wajah itu ?? Ohh... Sungguh membuat tubuhnya lemas, seakan tulang berhamburan lepas terpisah dari dagingnya.
Dadanya berdebar, bergemuruh hebat, dengan detak jantung yang bekerja lebih cepat dari biasanya. Dengan kedua bola mata yang mulai memanas, berisikan airmata yang masih bertahan di kedua kelopak matanya.
Maya terkesiap, kesadarannya hilang untuk beberapa saat. Ingin rasanya ia berlari mendekat, menabrak, memeluk dengan beteriak senang menyambutnya. Tetapi kakinya terasa berat seakan mati rasa untuk di bawa melangkah. Mulutnya terkunci tak bersuara, sepuluh langkah di hadapannya telah berdiri sesosok pria yang teramat di rindukannya. Ia masih sangat mengenalinya walau dengan penampilan yang berbeda.
Ia bahkan tidak pernah lupa akan sorot mata tajam yang penuh puja dan cinta saat menatapnya. Dengan kekuatan yang coba ia paksakan, Maya membuka mulutnya perlahan.
"Abaaanggg…" suara halus hampir tak terdengar, hanya gerak bibir yang tersirat
"May… Kamu tidak ingin memeluk Abang?" Pria itu mulai melangkah mendekat ke arah Maya. "Apa kamu tidak merindukan Abang?"
Dengan tungkai yang lemas, Maya mengangkat kakinya ikut melangkah pelan ke arah Lingga dengan airmata yang tak kuasa di tahannya.
"Kemari May, peluk Abang.. Berlarilah ke Abang." lima langkah lagi, Lingga berhenti membiarkan wanita itu semakin mendekat kepadanya
Hingga selangkah lagi, Lingga tak tahan untuk tidak segera memeluk Maya.
"Oh, May.. Abang kangen... Abang kangen kamu, May.." mendekap erat, membawa tubuh indah itu masuk ke dalam rengkuhannya, membenamkan kepala di dadanya dengan di balas belitan kedua tangan Maya di pinggang Lingga.
Aroma tubuh wanita itu tidak berubah dan hilang dari penciumannya. Masih sama dan selalu memabukkan.
Begitupun dengan Maya, ia merasakan hal yang sama.. Aroma tubuh pria itu tidak hilang, tidak berubah rasanya. Selalu membuatnya merasa tenang, dekapan itu selalu hangat di rasa. Pria itu berhasil membuat dirinya berharga, pria itu selalu membuat ia berdebar, malu dan berhasil membuatnya terlena.
Meraup wajah Maya, di tenggadahkan-nya ke atas agar menatap wajahnya. Kecupan Lingga daratkan dari mulai kening, kedua boal mata, kedua pipi dan hidung, berakhir turun ke bibir. Berulangkali ia mengecup tal berhenti.
Tak perduli lebih dari sepasang mata tengah melihatnya. Rasa rindu yang menggunung mengalahkan, menghilangkan rasa malu. Sungguh Lingga tidak perduli.
"Abang.." Maya mulai bersuara saat kecupan itu terhenti. Dan suaranya tenggelam hilang saat Lingga meraih bibirnya lagi, kali ini bukan kecupan, tapi berubah menjadi ciuman yang mampu menarik Maya masuk kedalam kubangan hasrat kerinduan, di bawah langit pagi yang terlihat terang, dengan cuaca yang cerah. Secerah hati keduanya yang selama 3 bulan lebih terselimuti awan.
"Abang, Maya.." Maya bersuara lagi mengajak Lingga bicara saat ciuman itu terlepas. Dan, Maya harus menahan tak bicara lagi karena Lingga kembali menghujaninya ciuman di seluruh wajah.
Dan mendarat lagi di bibir Maya. Ciuman itu terpaksa terhenti saat satu mobil lagi tiba di halaman rumah.
****
Bersambung ❤️