TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
KAMU



"Neng Maya beneran mau ikut ke ladang?" suami dari sang Bibik yang bernama Handoko bertanya


"Iya, Mang." Maya menganguk


"Di ladang panas Neng." walaupun asli jawa, pria itu tetap memanggil Maya dengan panggilan yang sama dengan istrinya.


Begitupun dengan Maya. Memanggilnya denga sebutan Mamang.


"Gak apa-apa, Mang.. Paling juga hitam." mengenakan celana panjang dan kaos tangan panjang, tak lupa Maya memakai topi bundar dari anyaman bambu.


"Biarkan saja, Kang.. Anggap saja kita mengajarkan Maya bertani. Sekalian cuci mata. Hari ini desa kita mendapatkan penghargaan sebagai desa yang berhasil dalam mengembangkan dan menghasilkan bawang terbaik. Yang akan di liput oleh media."


"Di ladang pasti ramai. Bahkan beberapa para petani akan di wawancarai."


°°°°°


Bukan hanya para pekerja lelaki yang tak berkedip melihat Maya. Tetapi para pekerja wanita pun sama. Mereka terkagum-kagum akan kehadiran seorang wanita cantik dengan kulit wajah yang bersih tanpa noda.


Walaupun berdandan ala kadarnya dan berpenampilan biasa, tidak mengurangi akan pesonanya. Jarang-jarang, bahkan sangat jarang seorang wanita yang mereka anggap sebagai wanita dari kota mau turun langsung ke ladang apalagi ikut mengupas bawang.


"Ko, siapa itu?" salah satu pekerja pria bertanya


"Dia keponakanku, baru datang dari Jakarta. Dan ingin ikut bekerja."


"Aduhhh Mbak.. Nanti tangannya lecet lohh.. Jadi istriku saja, tidak perlu capek-capek bekerja." satu lagi pekerja pria menggoda Maya.


"Mbang Mbang.. Ucapanmu! Kamu sudah siap di bawakan parang oleh si Surti?" salah satu pekerja wanita menimpali dan di sambut gelakan tawa dari pekerja lainnya


"Jangan macam-macam kamu Mbang." sang Bibik menunjukkan kepalan tangan.


"Ampun Mbakyu.. Aku guyon." pria yang bernama Bambang itu nyengir sambil menggaruk kepala. "Tapi kalau kenalan boleh kan? Sesama pekerja kan harus kompak dan saling mengenal. Betul kan Mbak?"


"Ya, Pak.." Maya hanya tersenyum sopan menanggapinya.


"Loohh.. Jangan Bapak to manggilnya. Panggil MAS BAMBANG." pria itu terlihat lucu dan suka bercanda.


"Hati-hati sama buaya kali Mbak." seorang wanita yang masih terlihat muda menimpali. "Sini duduk dekat aku." wanita itu memberikan bangku kayu kepada Maya agar duduk di dekatnya.


"Namaku Rahayu." wanita itu mengulurkan tangan


"Maya.." Maya menyambut uluran tangan wanita yang terlihat ramah kepadanya.


Sebuah bangunan kokoh mirip dengan tenda yang luas di siapkan di tengah ladang para petani bawang. Bangunan milik kepala desa sebagai penampung atau biasa di sebut tengkulak. Kepala desa membeli hasil panen dari para petani. Yang akan di olah menjadi bawang goreng sebagai usahanya.


Ia mempekerjakan warganya sebagai pengupas bawang. Setelah bawang bersih dari kulitnya, baru akan di bawa ke rumah produksinya untuk di olah lebih lanjut lagi.


"Keponakanku tolong diajari cara mengupas bawang yang benar ya Mbak Rayu." Bik Himala menitipkan Maya sebelum ia pergi ke petakan ladangnya yang tidak terlalu jauh dari tenda.


"Iya Buk.. Jangan khawatir."


Rahayu memberikan pisau kecil dan sarung tangan kain kepada Maya, wanita itu mulai mengajari Maya. Mendapatkan ilmu baru, Maya baru tau cara yang benar dalam mengupas bawang agar lapisan dalamnya tidak ada yang terbuang.


Satu jam duduk bersama. Maya mulai mengenal beberapa nama pekerja.. Kedatangannya untuk ikut bergabung di sambut baik oleh semuanya. Apalagi pria yang bernama Bambang. Ada saja yang di bahasnya. Pria itu selalu membuat para pekerja lainnya selalu tertawa hingga membuat Maya juga tidak bisa menahan tawanya. Wajah-wajah polos pencari rupiah itu tampak saling membantu dan bersahabat. Membuat Maya bisa melupakan masalahnya untuk sesaat.


Melewati dua jam berada di ladang, Bapak kepala desa beserta rombongan pria berseragam dan para awak media, yang di ketahui sebagai wartawan datang ke tengah-tengah ladang.


Pemimpin desa itu banyak menjelaskan mata pencarian warganya yang 70% sebagai petani bawang. Dan pria itu juga menjelaskan usahanya sebagai tengkulak yang mempekerjakan para warga sebagai pengupas bawang.


Satu pria berseragam salah satu stasiun televisi mulai mengambil gambar dari segala titik. Dari mulai para petani yang berada di ladang sampai masuk ke tenda besar yang di penuhi oleh para pekerja wanita dan tumpukan ikatan bawang.


Sampai tiba seorang reporter meminta satu orang untuk di wawancarai. Pak kepala desa memanggil Bambang sebagai narasumber. Banyak pertanyaan yang diajukan sampai di pertanyaan terakhir.


"Senang ya Mas bekerja di sini?"


"Waahh.. Senang sekali Mbak. Apa lagi pekerja wanitanya baik-baik, cantik-cantik, seperti teman saya ini lohh.. Mbak Rahayu dan Mbak Maya. Menambah semangat kerja."


Kekonyolan Bambang membuat para pekerja tertawa bersama Begitupun sang kepala desa dan reporter.. Wanita itu ikut tersenyum melihat kejujuran Bambang.


"Akan di tayangkan dua hari lagi Mas. Jangan lupa di tonton yaa.. Di FansTV di program acara BERBAGI KESUKSESAN."


°°°°°


Menjelang dhuhur.. Semua para pekerja selesai dengan pekerjaannya. Mereka bekerja dari pagi sampai menjelang siang. Maya mencuci tangan dengan sabun tangan yang di sediakan di tempat pencucian tangan.


"Mbak Maya mau pulang bareng? Rahayu menawarkan tumpangan.


"Ya, Mbak.."


Maya segera menyelesaikan cuci tangannya. Setengah hari duduk mengupas bawang lumayan membuat punggungnya pegal.


"Capek ya Mbak?" Rahayu bertanya saat keduanya sudah berada di jok motor.


"Lumayan Mbak.. Mungkin karena baru pertama kali, lama-lama juga nanti akan terbiasa." Maya bicara dari belakang punggung Rayu.


"Panggil nama saja Mbak, sepertinya kita seumuran." Rayu menyarankan "Biar lebih akrab."


"Mbak juga sama ya, panggil saja Maya."


Ngobrol di sepanjang perjalanan, Maya baru tau kalau Rayu belum lama berpisah dari suaminya. Belum selesai ceritanya, motor yang di kendarai Rahayu sudah tiba di halaman rumah sang Bibik.


"Mampir Ra." Maya menawarkan


"Lain kali saja, May.. Kamu juga kapan-kapan main ke rumahku ya."


"Ya, pasti. Terimakasih tumpangannya."


Maya masih berdiri saat wanita itu pergi menjauh dengan motornya.


"May.. Masuk dulu." suara Bik Hima yang baru saja datang bersama pamannya mengalihkan pandangan Maya.


"Ya, Bik."


Maya melangkah masuk kedalam rumah langsung ke belakang menuju kamar mandi. Badannya terasa gerah, menyambar handuk yang tergantung di jemuran belakang. Maya mendorong pintu kamar mandi tanpa tau ada orang di dalamnya.


"Aaaaaaaaa......" Maya berteriak dan berbalik dengan menutup kedua mata dengan tangan saat melihat pria tinggi berambut cepak tengah membuka resleting celananya.


"Ada apa May?" sang Bibik di ikuti pria yang tak lain adalah Daksa berlari ke belakang.


"Ada orang Bik." Maya bicara masih dengan menutup mata dan berdiri di pintu kamar mandi.


Pria yang baru saja menurunkan resletingnya segera menaikkan-nya kembali. Pria itu tak jadi membuang air kecil.


Daksa yang melihat tertawa lebar.


"Sudah sempat di lihat belum?" Daksa malah menggoda Maya dan temannya


"Sudah." sang pria


"Belum." Maya


Keduanya menjawab bersamaan dengan Maya yang masih memunggungi.


"Beluuummm.." Maya membalikkan badan untuk melihat pria itu, ia tidak terima saat pria itu mengatakan sudah.


"Kamu?"


"Kamu?"


Keduanya bersamaan terkejut, terutama Maya saat mengetahui siapa pria di hadapannya.


****


Bersambung ❤️