TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
TEGA DIRIMU NENG



Memilih rumah makan sederhana yang menjadi pavorit dengan menu ayam geprek bertabur sambal dan lalapan. Bersama Kang Oleh, Maya tampak lahap menyantap seporsi nasi ayam plus sambal bawang berwarna merah yang terasa pedas membakar lidah dan tenggorokan.


"Neng.." Kang Oleh bicara di sela-sela makannya.


"Hemmm.." dengan mulut penuh nasi dan ayam Maya menyahut.


"Bapak pasti marah kalau tahu Neng Maya makan siang di sini." ucap Kang Oleh. Karena sebelumnya Lingga sudah berpesan kepadanya agar membawa Maya ke salah satu restoran ternama dengan fasilitas tempat duduk yang nyaman.


Meraih sebotol air putih mineral. Maya meneguk air itu terlebih dahulu sebelum menjawab ucapan kang Oleh. "Kenapa marah Kang?" Maya kembali mereteli tulang ayam.


"Kan Kang Oleh di tugaskan mengantar Neng Maya makan di restoran?" sang asisten sekaligus supir pribadi itu khawatir Lingga akan marah.


"Rumah makan ini juga kan restoran Kang." ucap Maya. "Hanya saja lebih kecil tempatnya." bisiknya pelan. "Udah Kang jangan takut, cepet di habiskan tuh makanannya.." tunjuk Maya ke arah piring Kang Oleh yang belum di habiskan nasi plus ayamnya.


"Aiihhh !!! Si Neng mah sukanya coba coba.." Kang Oleh menggelengkan kepala. Baru saja ucapan itu meluncur keluar dari mulutnya, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan adanya panggilan masuk.


Menggunakan tangan kiri, dengan cepat Kang Oleh mengambil ponsel dari saku celana. Sepertinya panjang umur untuk Lingga, baru saja di bahas olehnya. Sang Bos langsung menghubunginya.


"Neng, Bapak.." Kang Oleh memperlihatkan ponsel dengan tertera nama ' Bapak Lingga '


"Angkat.." Maya memberi isyarat dengan gerakan mulut.


"Ya Pak.." Kang Oleh mendengarkan.


"Sudah sampai di restoran Leh?" berada dalam meetingroom Lingga menyempatkan membuka ponsel menghubungi sang supir.


"Saya dan Bu Maya sedang berada di rumah makan Pak."


"Rumah makan? Rumah makan apa?"


"Ayam geprek Pak." dengan perasaan khawatir Kang Oleh menjawab yang sebenarnya.


"Kenapa tidak ke restoran yang saya minta Leh? kamu tau kan kalau Maya harus menjaga pola makannya?" nada suara Lingga terdengar tegas di telinga.


"Iya Pak.. Mafkan saya, tidak akan saya ulangi lagi." jawab Kang Oleh dengan tegas juga.


"Berikan ponselmu ke Maya."


"Neng…" Kang Oleh menyodorkan ponselnya.


"Bang.." suara lembut mendayu khas Maya mampu meruntuhkan nada yang sebelumnya meninggi menjadi turun.


"Kenapa makan ayam geprek May?" suara tegas itu terdengar melembut.


"Maya lagi pingin makan ayam geprek Bang… jangan marah yaa… Maya yang paksa Kang Oleh anter kesini. Maya Janji gak sering-sering Bang.


Malam nanti Maya makan sayur masakan Umi."


"Janji.." ucap Lingga.


"Janji Bang.." Maya tersenyum lega karena mampu meyakinkan dan membuat pria itu tak banyak berkomentar lagi.


"Ya sudah, cepat pulang dan istirahat. Kalau sudah sampai rumah kabarin Abang."


"Ok, Abangku sayang."


"Mmuuaacchhhhh…"


Tanpa di minta terlebih dahulu, Maya memberikan kiss melalui ponsel. Hingga membuat sosok pria tampan yang sedang rapat itu terkekeh pelan..


"Cium kening, cium pipi, cium bibir dari Abang.." ucap Lingga


"I love you May.."


"Love you too Abang … semoga pekerjaannya berjalan dengan lancar dan cepat pulang."


Memutuskan panggilan, Maya menyerahkan ponsel milik Kang Oleh kembali.


"Cieeee… berhasil jadi pawang." Ledek Kang Oleh dengan di balas cengiran dari Maya.


"Yaaaelaahhh Neeeng… gak nyadar nih anak.. Pak Lingga itu siapaaa?? Kalau orang lain mahh, keciilll…" Kang Oleh menjentikkan jari kelingkingnya.


"Nah kalo Pak Lingga!! Bisa mati duluan Akang Neng."


"Kog bisa mati duluan kang?" tanya Maya tidak paham.


"Ya iya Neng.. Pak Lingga tingal telfon Pak Lexsus… goodbye alias innalillahi Kang Oleh… mana belum punya bini.! Gak kasihan apa?" dengan mimik merajuk yang Kang Oleh tunjukkan.


"Enggak!!" jawab Maya sambl tertawa terbahak.


"Tega dirimu Neng."


°°°°°


Sedangkan di rumah sakit keluarga sehat.


Sesosok pria muda berwajah tampan tengah berdiri dari kejauhan. Sudah 30 menit lamanya pria itu memperhatikan tiga orang yang sedang beinteraksi dengan hangat di sebuah taman rumah sakit. Dua orang yang berbeda usia sudah sangat di kenalnya, dan seorang Ibu yang tengah duduk di kursi roda yang juga sudah ia ketahui sebagai Ibu kandung Hena.


Wanita yang masih tersimpan di relung hatinya. Wanita yang hampir saja tergantikan dengan nama lain. Dengan sosok wanita yang saat ini sudah hidup bahagia dengan Kakak sepupunya, Maya.


Pria itu adalah Lendra, pria muda yang cukup cerdas dalam menyingkap sebuah kasus dan masalah lainnya. Pria yang baru dua bulan ini menggeluti sebuah pekerjaan di badan hukum. Belum sempat mencari tau ada hubungan apa antara Hena dan Burhan tanpa di sengaja Lendra bertemu dengan sahabatnya. Sahabat yang membuat hubungannya bersama Hena hancur berantakan.


Flashback


Cciiitttt…. !!!


Terdengar bunyi gesekan ban. Seketika motor sport hitamnya berhenti mendadak saat wanita hamil menyebrang tergesa-gesa dengan tiba-tiba tanpa menengok kanan dan kiri. Beberapa centi lagi hampir saja body motornya menyentuh tubuh wanita itu.


Terdengar teriakan dari suara laki-laki.


"Sayang..!! Kamu tidak apa-apa?" seorang pria berlari dengan penuh rasa cemas sambil mengecek seluruh tubuh sang wanita berharap tidak ada yang terluka.


"Kenapa tidak menunggu Mas?"


"Maaf Mas, Linda hanya tidak ingin kang ciloknya pergi." wanita hamil itu menunjuk ke arah dimana pedagang cilok tengah mendorok gerobaknya.


"Iya, tapi berbahaya Lin… kalau tadi sampai terjatuh bagaimana?" Pria itu mengusap perut sang wanita. Mengkhawatirkan janin yang ada di dalam kandungan dan berharap tetap aman.


Menepikan motornya di sisi jalan, Lendra mendekat ke arah dua orang yang masih saling berpegangan. Serasa tidak asing, Lendra seperti mengenal siapa pria itu.


"Reno.." menyapa pelan, Lendra pun ikut terkejut saat mengetahui siapa pria itu. Pria yang telah mengecewakannya. Terkejutnya lagi, Reno memanggil wanita hamil itu dengan panggilan sayang. Setahunya, Hena meninggalkannya karena akan menikah dengan pria yang saat ini berdiri di hadapannya dan tak kalah terkejutnya.


"Lend.." Reno masih mengingat dengan jelas suara sahabatnya walaupun Lendra belum membuka helm fullface-nya.


Sahabat yang sebenarnya sangat di harapkan dapat bertemu. Sahabat yang sudah memutus komunikasi. Baik nomor kontak dan keberadaannya. Karena setelah lulus sekolah Lendra memutuskan untuk tingal di apartement.


"Siapa wanita ini?!" dengan sorot mata tajam dan suara yang terdengar dingin Lendra bertanya.


"Len, bisa kita duduk bersama? Melalui kejadian siang ini, sepertinya tuhan sudah menjawab doaku agar di pertemukan denganmu. Aku harus menjelakan banyak hal Lend." pinta Reno


Reno sadar ada kemarahan di mata Lendra saat mengetahui dirinya bersama Linda Istrinya.


"Mas, siapa?" gurat khawatir dengan wajah bingung tergambar jelas di wajah wanita hamil itu.


"Tidak apa-apa Lin… dia Lendra, sahabat Mas semasa sekolah yang pernah Mas ceritakan." Reno berusaha menenangkan sang istri dengan mengusap lengannya.


Menurunkan ego serta emosinya, Lendra menyetujui saat Reno mengajaknya ke sebuah kedai minuman yang berada tidak jauh dari tempat kejadian.


Di samping itu, Lendra merasa dirinya harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan siapa wanita hamil itu? Karena selama ini, yang ia ketahui Hena meninggalkannya dan memilih Reno sahabat dekatnya dan berniat akan segera menikah di kampung halaman.


Dirinya harus mengetahui yang sebenarnya terjadi.


****


Bersambung ❤