TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
SAYA SUKA KAMU



"Kang tolong di buka pintunya.." Dina bicara sama sekali tak melihat Lexsus, tangannya berusaha membuka handle pintu yang masih terkunci.


Lexsus sengaja menguncinya saat Dina akan turun.


Bukannya membuka kunci, Lexsus kembali melajukan mobilnya dengan mesin mobil yang belum ia matikan. Ia menyadari perubahan sikap Dina, wanita itu berubah diam, tidak cerewet seperti sebelumnya. Entah kenapa ia tidak menyukai saat wanita itu diam, bicara dengan tidak menatapnya. Ia lebih nyaman Dina yang ceria dan berisik seperti ucapanya. Dan ia menginginkan wanita itu mengomel dan mengoceh kembali. Ia ingin wanita itu tidak mengabaikannya.


"Kang.. Mau kemana? Dina harus kerja.!" Dina bertanya dengan suara sedikit tinggi.


"Kang.! Denger gak sih?" Dina bicara dengan kesal. Mau tidak mau Dina berbalik menatap Lexsus.


Tetapi pria itu terus melajukan kendaraannya keluar darI jalan kenangan. Lexsus sadar dengan tindakannya. Dengan waktu semalam Lexsus merasa Dina sudah berhasil membuka, menggoyahkan hatinya. Ia bingung akan perasaannya, tiba-tiba ia tidak rela saat Dina mengacuhkannya, dan ia juga tak nyaman ketika harus berpisah dalam keadaan Dina yang tak memandangnya sama sekali. Dam, ia bukan type pria yang suka mengulur masalah.


"Berhenti Kang.. Mau kemana Lagi?" Dina memukul bahu Lexsus dengan tas kecilnya agar pria itu menghentikan laju kendaraannya. Dina juga ikut bingung dengan sikap pria itu. Dina terdiam saat Lexsus menarik tangannya dan di gengamnya.


"Kang Lepas! Jangan kurang ajar ya?" Dina coba menarik tangannya, tetapi tertahan, tenaga pria itu cukup kuat.


Lexsus berhasil membuat Dina kesal dan mengomel kepadanya. Ia membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang buka 24 jam.


"Kita sarapan dulu." ucap Lexsus setelah melepas tangan Dina dan mematikan mesin mobilnya.


"Turunlah.." Lexsus membukakan pintu Dina, saat wanita itu belum juga bergerak dan belum mau turun dari mobil dengan wajah cemberut di tekuk.


"Turun!" dengan tegas Lexsus bicara. "Kalau kamu tidak mau turun. Saya akan kunci kamu di dalam mobil."


"Iya.. Iya.. Dina turun." dengan spontan Dina beranjak turun dan keluar dari dalam mobil.


Tanpa di sadari Dina, Lexsus tersenyum tipis melihat aksi ngambek Dina. keduanya masuk kedalam restoran dengan Dina yang berjalan di samping Lexsus. Pria itu tak mengijinkan saat Dina berjalan di belakangnya.


Seorang pramusaji restoran membawakan buku menu dimana meja kursi yang sudah di duduki Lexsus dan Dina.


"Selamat datang di restoran Familiy Kak.. Silahkan." pramusaji itu menyerahkan buku menu kepada Lexsus.


Sungguh ini pengalaman yang pertama kalinya untuk Dina. Di bawa ke sebuah restoran dengan seorang pria dan hanya berdua. Sebelumnya ia pernah ke restoran siap saji bersama Maya dan Lingga.


"Mau sarapan apa?" Lexsus bertanya kepada Dina yang masih tak bersuara.


"Apa saja?" Dina menjawab pelan.


"Soto betawi plus nasi 2.. Teh hangat 2. Kamu tidak ingin menambah yang lain?" menatap Dina Lexsus menawarkan lagi sebelum menyerahkan buku menu.


Dina mengelengkan kepalanya.


"Di tunggu Kak.." sang pramusaji pergi dengan membawa kembali buku menu.


Beberapa detik setelah kepergian pramusaji restoran. Lexsus mengajak Dina bicara dengan serius.


"Namaku Lexsus Kamoga.. Dari awal kita bertemu, kamu pasti bertanya-tanya siapa namaku dan siapa diriku." Lexsus mulai mengenalkan diri


Dina mendengarkan dengan serius


"Kamu bekerja di Ros Butiq berarti kamu mengenal Maya?"


"Akang kenal Maya?" seketika Dina menatap Lexsus saat pria itu menyebut nama temannya.


"Bukan hanya Maya.. Tetapi Lingga suaminya."


Dina langsung merubah posisi duduknya, dan buyar sudah mood buruknya ketika mendengar dua nama yang di kenalnya. Ia memajukan tubuhnya lebih merapat ke meja berhadapan dengan Lexsus.


"Terus?" Dina meminta Lexsus melanjutkan ucapannya.


"Tidak pakai terus.. Saya bukan ingin membahas pengantin baru itu, tapi saya ingin membahas kita."


"Kita?" Dina belum mengerti kemana arah pembicaraan Lexsus.


"Ya, kamu dan saya." Lexsus mempertegas.


"Memangnya ada apa dengan kita, Kang?"


"Habiskan dulu makanmu.. Baru kita bicara." Lexsus menunda pembicaraannya saat pramusaji mengantar pesanannya.


"Selamat menikmati.."


"Terimaksih Mbak.." Dina menjawab.


"Gak enak Kang kalau tidak pedas." Dina memprotes


"Tapi masih pagi Din, kurangi sambalnya. Jiwa overprotektif Lexsus sudah mulai keluar. Keduanya berdebat hanya karena sambal. Tanpa di sadari, Lexsus sedikit-sedikit mulai banyak bicara saat bersama Dina. Pria dingin itu biasanya tak akan bicara kalau tidak penting.


"Akang ini bukan siapa-siapa Dina, kenapa harus melarang-larang? Bapak bukan, saudara bukan, pacar bukan, kenal juga barusan." Dina ngedumel


"Ya, anggap saja saya pacar. Dan kita kenal dari semalam." dengan entengnya Lexsus meminta Dina menganggapnya pacar.


"Pacar? Pacar dari mana? Akang saja tidak menembak Dina. Dan kita kenal bukan dari semalam. Semalam itu cuma ketemu! Akang kan baru saja mengenalkan nama, itu baru namanya kenalan dan kenal."


Lexsus kewalahan mendengar ucapan Dina yang tidak ada remnya. Jika tak khawatir Dina akan marah. Ingin rasanya ia membungkam mulut Dina dengan bibirnya. Tapi ia harus bisa menahannya.


Bibr Dina yang mungil tipis mulai mengodanya. Bibir yang tidak mau berhenti bicara, tetapi ia menyukainya.


"Kalau saya tembak kamu, nanti kamu mati gimana?" Lexsus pura-pura tidak paham.


"Isshhh.. Si Akang! Bukan tembak beneran.. Tapi..." ucapan Dina terhenti, ia baru sadar apa yang di sampaikan Lexsus barusan.


"Tapi apa?" Lexsus menatap mata Dina.


"Tau ahh.. Dina lapar." wanita itu menunduk dan melahap makanannya, Dina tidak berani menatap mata Lexsus yang baru ia sadari. Mata hitam itu tajam menusuk menembus hatinya.


"Panggil aku Daeng." Lexsus melanjutkan pembicaraannya setelah sepiring nasi beserta semangkung soto habis di lahapnya.. begitupun dengan Dina.


"Daeng?" Dina belum mengerti artinya.


"Asalku dari bugis. Tepatnya Sulawesi Selatan." Lexsus menjelaskan


"Apa Daeng itu panggilan untuk kakak?" Dina bertanya


"Ya, Kakak.." Lexsus mengiyakan.


"Apa Kakak tidak nyaman Dina panggil Akang?"


"Tidak masalah. Tetapi saat kamu kubawa menemui Indo-ku, ( Ibu ) kamu harus memanggilku dengan panggilan Daeng.


"Bertemu Indo" Dina tiba-tiba Nge-blank..


Pembicraannya dengan Lexsus sudah jauh melangkah kedepan. Sedangkan belum ada kesepakatan di antara keduanya. Ucapan Lexsus terlalu cepat.. ia merasa belum siap, kasusnya bersama Kang Jujun juga baru hitungan jam selesai. Belum lagi statusnya sebagai janda. Dina terdiam untuk beberapa saat.


"Kang.. Sudah siang, Dina harus kembali ke Butiq." Dina mengalihkan pembicaraan. Ia beranjak berdiri dari tempat duduknya.


Tetapi tangannya langsung di cekal oleh Lexsus.


"Kamu tidak menyukaiku?" Lexsus bertanya dengan wajah serius terkesan dingin.


"Kang kita belum lama mengenal. Dan.." Dina bingung harus bagaimana menyingkapinya.. Perasaannya masih bimbang. Otaknya tiba-tiba tumpul tak bisa di bawa berpikir.


"Dan apa?" Lexsus masih mencekal tangan Dina


"Akang belum mengenal Dina sedalam-dalamnya. Dan kita baru mengenal."


"Hanya itu?"


Dina menganggukkan kepalanya.


"Bagaiman kalau aku sudah mengetahui siapa kamu dengan sedalam-dalamnya?" Lexsus tidak akan melepaskan Dina. "Apa kamu akan menolakku?" Lexsus berdiri menghadap dan mendekat kearah Dina.


"Ma.. Maksud Akang?" Dina memberanikan diri menatap mata Lexsus.


"Saya suka kamu?"


"Saya tidak main-main."


"Saya mau kamu jadi istri saya."


****


Bersambung ❤️


Partnya buat Lexsus dulu yaa