
Lendra meninggalkan caffe satu jam setelah kepergian Lingga. Pria muda itu sangat mengerti guncangan hati yang sedang di alami Lingga. Beberapa hari lamanya tidak bertemu dan berkirim pesan, tidak menutup kenyataan yang ada, dirinya pun merindukan Maya, rindu yang harus bisa ia patahkan. Ia hanya akan merebut Maya jika Lingga menyia-nyiakannya.
Kedua tangan Lendra tengah mencengkram dua stang dengan tubuh tegap berada di atas motor sportnya. Menembus jalanan berdebu menjelang siang. Hatinya gamang, hatinya sedang berada di tengah persimpangan. Saat ia melepaskan Maya untuk Lingga, ia memangkas habis, cinta yang baru saja akan tumbuh. Tetapi akar itu masih ada dan belum mati sepenuhnya.
Sampai di pertigaan lampu merah, Lendra membelokkan laju motornya ke arah kanan menuju gang mawar dimana ia pernah menurunkan Maya. Tiba tepat di depan gang, ia mematikan mesin motor sportnya yang meraung kencang.
Mengeluarkan uang 50 ribuan, Lendra menitipkan motor di depan warung pinggir jalan tak jauh dari gang.
"Titip ya Pak.."
"Ya Mas, tenang saja. Aman.." seorang bapak-bapak bertubuh kurus dengan rambut beruban tersenyum senang saat menerima selembar kertas biru di saat dagangannya masih sepi.
Memilih berjalan kaki, Lendra mulai melangkah masuk ke dalam gang perkampungan. Matanya tak lepas memperhatikan rumah petak yang berjejer di sepanjang jalan. Lingkungan yang lumayan ramai, jalanan yang hanya bisa di lewati kendaraan beroda dua itu di penuhi anak-anak yang sedang bermain bola.
Hingga 50 meter kira-kira ia berjalan, ia melihat seorang ibu-ibu yang baru keluar dari dalam rumah. Lendra menyapanya, dan bertanya dimana rumah yang di tempati maya.
"Nomor lima Mas." ibu itu menunjuk rumah paling ujung sederet dengan rumah yang di tempatinya.
"Terimakasih Bu." sebelum Lendra pergi si ibu bicara kembali.
"Tapi sudah 3 hari ini, rumahnya sepi Mas."
"Kemana ya Bu?"
"Wah! Ibu kurang tau Mas.. Cuma, dari yang di dengar para tetangga, tiga hari yang lalu sepertinya ada keributan. Terdengar barang-barang pecah dengan suara teriakan Neng Maya. Suaminya kan baru pulang Mas.."
Dengan lancar ibu itu menceritakan kejadian yang di dengarnya dan kepergian Haris sampai kepulangannya.
"Yang ibu tau sih seperti itu Mas."
Ada rasa khawatir yang di rasakan Lendra. Filingnya merasa, ada yang tidak beres yang terjadi dengan Maya. Meninggalkan si ibu yang belum selesai bicara, Lendra melangkahkan kakinya menuju rumah dengan nomor lima.
Lendra berusaha melihat ke dalam melalui kaca yang tertutup gorden berwarna coklat. Dan si ibu pun ikut mendekat, tiba-tiba sudah berada di belakang tubuh Lendra.
Entah kenapa ingin sekali Lendra masuk ke rumah itu, ia ingin memastikan apa yang terjadi sebenarnya.
"Mas mau masuk ya?" si ibu bertanya saat melihat pria muda itu mengeluarkan alat dari dalam tasnya.
"Saya khawatir dengan teman saya Bu, sudah beberapa hari ini tidak ada kabar. Ibu percaya sayakan? Saya bukan pencuri rumah kosong loh Bu." Lendra mengerti akan tatapan si ibu yang sedikit mencurigainya.
"Mana ada pencuri berwajah ganteng seperti saya Bu?" Lendra memberikan senyum termanisnya.
"Iya deh Mas, ibu percaya. Jebol saja kunci pintunya." si ibu ikut tersenyum
Hanya menggunakan alat kecil yang di milikinya, dengan mudah Lingga memutar kunci pintu. Klek. Pintu itu terbuka tanpa harus di jebol.
Lendra masuk ke dalam, rumah itu memang kosong tak berpenghuni. Ia melangkah ke arah dapur dan cukup terkejut. Dengan di ikuti si ibu yang juga kaget melihat pecahan barang-barang rumah tangga berserakan, penanak nasi yang pecah, sendok garpu yang juga berada di lantai.
Mengeluarkan ponsel, Lendra mengambil beberapa gambar keadaan.
"Mas.." si ibu memanggil dari depan pintu kamar. "Sini.."
Lendra mendekat, ikut melihat kondisi keadaan kamar dengan lantai yang di penuhi banyaknya pecahan kaca.
"Astaghfirullahalazim.. Ada apa ini Mas?"
°°°°°
Setelah bertengar dengan Maya di sore menjelang petang, Haris keluar menemui salah satu temannya sesama wartawan untuk mencari tau siapa pemilik dari kartu gold card yang di bawanya.
Dengan meninggalkan Maya yang masih meringkuk di atas tempat tidur. Tidak lupa, Haris mengunci kamar agar Maya tidak pergi meninggalkan rumah.
Sekitar jam 10 malam pria itu kembali ke rumah dan mengajak Maya untuk bicara.
"Keluarlah, May.. Mari kita bicara."
Mengganti pakain, dengan mata sembab dan wajah memerah. Maya keluar kamar dan duduk di sofa. Dengan Haris yang juga duduk tak jauh darinya.
Hening beberapa saat sampai akhirnya haris bicara.
"Maaf.. Maafkan aku karena telah menyakitimu. Aku telah berkata kasar kepadamu." Haris tergugu menangis di hadapan Maya dan melanjutkan bicara.
"Amarah membuatku lepas kendali. Aku marah karena aku kecewa kepadamu, May. Kamu telah menghianatiku.
Tapi aku sadar, akan kekuranganku sebagai suami. Aku sadar akan kesalahanku yang telah mengabaikanmu."
"Maaf, jika aku lebih memilih keuargaku. Pasti sangat menyakitimu kan? Dan aku tidak peka dan lupa bagaimana Mama memperlakukanmu selama ini. Dan pastinya sangat berat buatmu."
"Aku tidak bisa memilih antara kamu dan Mama. Aku masih mencintaimu May. Tapi aku juga menyanyangi Mama. Aku juga sadar hubungan kita sudah tidak sehat selama 3 tahun belakangan ini. Tetapi aku berusaha menutup Mata."
Maya mendengarkan ucapan Haris dengan mengusap airmata.
"Aku yakin, namaku di hatimu sudah tergantikan dengan pria itu bukan?"
Haris tertawa pelan, dengan raut wajah sedih, mengingat Lingga lah pria yang dekat dengan Maya. Pria yang menjadi temannya saat berada di lapangan. Dan pria itu sudah berubah menjadi pria sukses dengan jabatan baru, dan sebagai anak dari pemilik Kabar Grup tempatnya dulu bekerja.
"Sejak kapan May?"
Maya tak menjawabnya. Ia memilih bungkam.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi, pertemuanmu dengan Lingga pastinya karena diriku yang pernah memintamu mengantarkan berkas. Dan aku tidak akan bertanya bagaimana kelanjutannya.."
"Tetapi aku akan meminta keadilan kepadamu May. Sebagai penebus penghianatanmu kepadaku. Aku akan memberimu pilihan."
"Tinggalkan Lingga, lupakan pria itu. Kita lanjutkan rumah tangga kita. Dan aku akan menutup mata dengan apa sudah kamu lakukan. Jika kamu hamil, aku akan mengakui dia sebagai anakku."
"Dan kamu boleh memilih Lingga dan meninggalkanku. Dengan resiko yang harus kamu tanggung. Aku akan membongkar di hadapan para awak media, kalau pria terhormat itu telah meniduri istriku, dan aku juga akan membeberkan rahasia yang di tutupinya selama ini. Tentang skandal Alisa, wanita yang masih sah menjadi istrinya."
"Atau menghilanglah dari kehidupan Lingga, jangan pernah muncul di hadapannya, pergilah sejauh mungkin sampai dia tidak bisa menemukanmu. Dan aku akan melepasmu kalau itu yang kamu mau. Aku juga akan menutup rapat skandal istrinya dan perselingkuhannya denganmu. Ini hukuman untukmu Maya."
Alih-alih meminta maaf dan mengajak Maya bicara, dengan ego yang masih masih menguasainya, atau kekalahan yang belum bisa di akuinya. Pria itu memberikan pilihan yang sulit kepada Maya. Tetapi di luar dugaan, Maya memilih yang tidak di sangkanya.
Mengusap airmata untuk kesekian kalinya. Maya menjawab tanpa ragu dan jelas. Ia sudah mengerti apa yang di inginkan Haris. Ia menerima dan memilih pilihan sebagai bentuk keadailan yang di minta Haris kepadanya. Maya tidak membela diri, Maya juga tidak menyesali dengan apa yang sudah terjadi, ia melakukannya dalam keadaan sadar dengan rasa cinta yang besar.
"Aku tidak memilihmu, aku juga tidak memilih Lingga. Aku akan pergi sesuai keinginanku. Semoga bisa menjadi penebus salahku."
"Jatuhkan talak saat ini juga kepadaku Amar Maulana Haris."
****
Bersambung ❤️