
Dengan tangan memerah karena luka akibat pukulan. Lingga membuka ponsel untuk melihat rekaman cctv yang ada di apartemennya. Dengan jelas ia dapat melihat bagaimana Lisa memukul Maya, setelah terjadi adu mulut. Lingga berusaha menahan amarahnya yang sudah meluap menguasainya.
"Aku akan membuatmu menyesal telah berurusan denganku Sa!! Kamu akan memohon pengampunan di kaki Mayaku! Aku akan membuatmu hancur, bahkan tidak akan sanggup menatap dunia. Dan aku akan membuatmu menjadi manusia tidak berguna, sehingga kamu akan memohon sebuah kematian. Jeruji besi terlalu nyaman untukmu."
Lingga bicara dengan rahang mengeras, sorot mata memerah, dan wajah yang terlihat menyeramkan, saat manyaksikan kekejaman Lisa terhadap Maya.
Pandangannya terputus dari layar ponsel saat pintu ruangan IGD terbuka. Lingga memasukkan kembali ponselnya ke saku celana dan menghampiri pria dengan seragam Dokternya.
"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" Lingga bertanya dengan tatapan cemas
"Saya harus segera melakukan tindakan operasi Pak. Pukulan benda keras di kepala istri anda mengakibatkan cidera kepala dan tulang leher." Dokter dengan tag nama Hansel itu menjelaskan. "Jika tidak segera di lakukan pembedahan akan berakibat fatal, yang mana terdapat bagian dari batang otak yang sangat vital."
"Dan cidera kepala yang di alami Bu Maya dapat bermanifestasi menjadi perdarahan dalam tulang tengkorak yang mana jika sampai terlambat di tangani dan di bawa kemari, akan terjadi tekanan jaringan otak sehingga dapat menimbulkan gejala neurologis yang artinya Ibu Maya akan mengalami muntah menyemprot tanpa didahului mual hingga penurunan kesadaran. Dengan kata lain mengalami koma."
"Lakukan yang terbaik Dok. Saya mohon."
"Kami akan melakukan yang terbaik Pak, tapi karena kondisi istri anda yang sedang hamil. Kami harus.." ucapan Dokter Hansel terhenti saat seorang Dokter wanita keluar dengan tatapan berbeda. Dia adalah Dokter Arum. Dokter kandungan yang pernah menangani Anindirra, istri dari Tuan Dirga.
"Bisa kita bicara di dalam Pak." Dokter Arum dan Dokter Hansel sebagai Dokter bedah meminta Lingga mengikutinya ke sebuah ruangan.
"Jelaskan Dok. Saya ingin tau kondisi istri saya dan kandungannya." Lingga membuka omongan saat ketiganya sudah duduk bersama.
"Mohon maaf sebelumnya Pak, Lingga. Saya sebagai Dokter kandungan akan terus berusaha semaksimal mungkin. Terjadi pendarahan pada Bu Maya. Banyak faktornya, selain dari tekanan saat terjatuh, kondisi Bu Maya juga sepertinya dalam kedaan tidak stabil lebih tepatnya stres mendadak, hingga mengakibatkan kram di area bawah perut secara spontan."
"Saya sudah memberikan suntikan agar pendarahannya terhenti dan janin masih bisa di selamatkan. Tetapi kita harus bersabar menunggu sampai pendaharan itu terhenti selama kurang lebih 3 jam. Jika selama 3 jam pendarahan masih terus berlanjut. Dengan berat hati. Kami mohon maaf, Pak.. Saya sebagai Dokter kandungan, dengan berat hati meminta ijin untuk mengeluarkan janin di dalam rahim Bu Maya."
"Dan Dokter Hansel belum bisa melakukan operasi. Sampai 3 jam kedepan. Kita harus bersabar menunggu, Bu Maya juga kehilangan banyak darah. Kondisinya sangat lemah."
Jantung Lingga seakan terhenti seketika. Raganya seakan hilang dari tubuhnya. Bukan hanya kesediahan yang ia terima jika harus kehilangan calon bayinya, tetapi Maya. Yang ia pikirkan hanya maya. Ia tidak akan kuat melihat Maya yang akan terpuruk rapuh dan bersedih. Lingga tidak akan sanggup melihat Maya kembali menangis.
"Bagaimana, Pak? Kami butuh persetujuan Bapak untuk menindaklanjuti proses selanjutnya?" Dokter Arum bertanya. Wanita bertitel Dokter spesialis kandungan itu sangat memahami apa yang tengah di rasakan Lingga.
Sungguh keputusan yang sangat berat. Lingga sangat berharap Dokter Hansel segera melakukan tindakan, tapi di sisi lain ia harus bersabar menunggu paling lama 3 jam kedepan sampai Dokter Arum menyatakan kandungan Maya dapat di pertahankan atau harus di keluarkan.
"Lakukan yang terbaik Dok. Saya meminta tim Dokter terbaik di rumah sakit ini. Saya mengutamakan kesehatan Maya jika ada pilihan. Mayaku. Mayaku harus sehat." Lingga menjelaskan
Lingga pasrah, ia hanya berharap apapun yang terjadi Tuhan memberikan kekuatan dan ketabahan kepada Maya. Hanya kondisi psikis Maya yang ia pikirkan saat ini. Lingga menandatangi surat pernyataan yang telah di sediakan.
"Saya ingin menemui istri saya Dok."
"Ya, Pak Lingga.. Tetapi tidak boleh terlalu lama." Dokter Hansel menyampaikan
Mayanya tergolek lemah dengan mata tertutup rapat dan selang yang menancap di mulut dan tangannya. Tampak wajah pucat seputih kapas menghiasi wajah cantik nan teduh yang selalu tersenyum hangat kepadanya. Tidak ada rengekan suara yang selalu meminta di belikan ice cream setiap harinya. Tidak ada suara yang memanggil Abang dengan suara manja dengan penuh mesra. Tidak ada sorot mata yang selalu menatapnya dengan penuh cinta. Tubuh itu terdiam, kelopak mata itu tertutup rapat, mulut itu terkatup rapat tanpa kata. Hanya suara detak jantung yang terdengar dari mesin monitor yang terlihat di layar, bergerak naik turun dengan irama menyedihkan.
Lingga ambruk tergugu di atas dada Maya. Ia memeluk Mayanya, ia memeluk sang penguasa hatinya. Ia tidak akan sanggup menjalani hidup jika terjadi sesuatu dengan Maya. Seumur hidup, ia akan menyesali diri, menyalahkan dirinya karena tak mampu menjaga Maya dan calon buah hatinya.
"Jangan hukum Abang dengan cara seperti ini May.. Maafkan Abang karena lalai menjagamu, maafkan Abang, May.."
"Seharusnya Abang tidak meninggalkanmu tanpa penjagaan. Hukum Abang dengan cara yang lain, May.. Jangan dengan cara seperti ini.. Abang tidak akan sanggup melihatmu seperti ini."
"Abang mohon kamu kuat, May.. Abang mohon.." Lingga tak dapat menahan kesedihannya. Ia sangat menyayangi Maya.. Rasa cintanya lebih besar dari sebuah kata-kata.. Rasa sayangnya lebih besar dari perhatian yang ia berikan. Rasa cinta dan sayang yang di milikinya untuk Maya lebih besar dari Lingga mencintai drinya.
"Abang sangat mencintaimu, May.. Kamu wanita yang mampu membuat Abang jatuh cinta. Kamu wanita yang membuat Abang bahagia. Kamu wanita yang menguasai hati dan pikiran Abang, May.."
"Abang akan ikhlas jika Tuhan belum mempercayakan seorang putra untuk kita. Tapi Abang tidak akan rela jika harus melihatmu menangis dan menderita."
Lingga bicara dengan berurai air mata. Ia kalah, ia rapuh, hatinya hancur. Saat ini ia sedang lemah.. Karena Maya sedang terbaring tak berdaya
Usapan lembut di punggung Lingga, membuat Pria itu mengangkat kepalanya dari tubuh Maya. Lingga berbalik dan melihat siapa yang berdiri di belakangnya. Sesosok wanita yang juga tengah menangis menatapnya.
"Bunda.." suara pria itu terdengar lirih. Lingga memeluk wanita itu untuk mencari kekuatan.
"Sabar, Bang.. Sabar sayang.." Bunda Rossa mengusap punggung Lingga, agar putranya itu sedikit tenang.
"Mayaku, Bunda.. Mayaku… Dia terluka Bunda.."
Sebelumnya
Bunda rossa dan Sutan Cjokro langsung mendatangi rumah sakit saat mendengar kabar dari Lexsus.
Saat perjalanan ke rumah sakit, Lexsus memberi kabar tentang Maya. Sesampainya di rumah sakit, Dina dan Lexsus segera menuju ke IGD dimana Mak Kom masih berada di depan menunggu sendirian.
Tak lama Cjokro, Burhan dan Bunda Rossa tiba.
Bunda Rossa memaksa meminta di ijinkan masuk ke ruangan IGD untuk bisa menenangkan Lingga.
****
Bersambung ❤️
Tinggalkan jejak jempolnya yaa.. Dan terimakasih untuk doanya 🙏