TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
DI TUNDA DULU



Tinggalah kerabat dekat yang masih tinggal untuk membantu Ambo Werang dan Indo Senna berbenah. Memindahkan makanan yang masih tersisa banyak ke dalam panci untuk di hangatkan. Menata dan merapihkan ulang kembali berbagai macam kudapan.


Bersama dua orang pria yang di tugaskan untuk bersih-bersih, Laoka ikut membantu memvacum, membersihkan karpet agar tetap bersih dan nyaman untuk di duduki. Karena kemungkinan nanti malam masih akan ada tamu yang akan datang berkunjung.


Keluarga Sutan pun sudah pamit satu jam yang lalu kembali ke Hotel untuk beristirahat. Para tetua adat, petugas dari kantor agama, pemuka agama, dan para tetangga yang hadir pun sudah pulang ke rumah masing-masing. Acara hari ini berjalan dengan khidmat, lancar tanpa hambatan.


Kedua mempelai pun sudah masuk kamar untuk berganti pakaian dan beristirahat. Setelah dari pagi hingga menjelang sore keduanya harus berdiri menjalani sesi pemotretan. Belum lagi, Lexsus dan Dina harus selalu tersenyum ramah menyalami tamu yang hadir satu persatu dan menemani untuk berbincang-bincang sejenak.


Tanpa undangan, siapa yang menyangka.Tamu yang datang dari kampung bugis dan dari kampung sebelah, yang sangat mengenal baik keluarga kamoga datang ketika mendengar kabar kalau Werang dan Senna menikahkan putranya.


Belum lagi para nelayan dari pesisir yang bekerja di pelelangan milik Lexsus. Mereka memilih datang untuk memberikan ucapan selamat kepada pria yang telah banyak membantu perekonomian mereka.


Keluar dari dalam kamar mandi. Lexsus sudah terlihat segar hanya dengan menggunakan boxser hitam. Tetesan air dari rambut yang di kusaknya dengan handuk kecil membuat pria manis itu semakin tampan berkali-kali lipat. Belum lagi perutnya yang sudah mirip dengan roti sobek.


Membuat Dina yang melihat dan memperhatikan dari arah sofa ia duduk, harus menelan ludahnya berkali-kali. Pria yang sudah sah menjadi suaminya itu tampak menggoda imannya. Otaknya sudah traveling kemana-mana.


"Waras.. Waras.. Waraasss Dinaaaa.. Jangan mesum." Dina menepuk-nepuk kepalanya sambil bermonolog dalam hati. Tanpa di sadari pipinya tampak memerah merasakan hawa panas yang tiba-tiba merasukinya. Dina melirik kado dari Maya yang baru saja di bukanya. Menggeleng tidak percaya, matanya tidak berkedip ketika mengetahuinya. Ia membentangkan sebuah gaun tidur mirip jaring ikan. Gaun transparan begitu sangat di kenalinya.


Tidak tanggung-tanggung. Setengah lusin model Lingerie dengan model dan warna yang berbeda Maya siapkan. Ia tidak bisa membayangkan kalau gaun itu ia gunakan dan berlenggak-lenggok di depan pria dingin itu. Apa reaksi yang akan Lexsus tunjukkan.


"Hihh.." Dina bergidik membayangkannya. Selama menjadi pelayan toko, ia tidak menyangka akan mengenakannya juga. Padahal selama ini ia cuma membungkusnya rapih untuk di serahkan kepada para pembeli.


"Cape Anri?" Lexsus ikut duduk di samping Dina.


"Hahh..!!" terlalu fokus dengan pikirannya, Dina tidak menyadari pria itu sudah duduk di sampingnya dengan bertelanjang dada. Dina terlihat gugup mengalihkan pandangannya, tak mampu melihat dada bidang yang di penuhi bulu.


"Anri demam?" Lexsus meraup pipi Dina agar berpaling menatapnya.


Tidak bisa berkata-kata. Dina menggelengkan kepalanya. Hilang sudah keberaniannya.


"Kenapa wajah Anri memerah?" Lexsus bertanya seraya menatap mata Dina. Meletakkan punggung tangannya di kening Dina. Lexsus tersenyum manis.


"Naikan kesini."


Melepaskan tangannya dari wajah Dina, Lexsus menepuk pahanya, ia meminta wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu menaikan kedua kaki dan di letakkan di kedua pahanya.


"Apanya?" Dina berubah menjadi lemot dan linglung.


"Kakinya Anri... Letakkan disini." Lexsus mengulang, menepuk lagi pahanya yang juga memiliki banyak bulu hitam sampai kaki.


"I.. Iya.." memutar badan, Dina menurut ucapan Lexsus dengan mengangkat kakinya. Karena betisnya memang terasa pegal. Ia berusaha serileks mungkin menghilangkan debar dan detak jantung yang seakan sedang berlari kencang.


Mengangkat gaun sebatas lutut, Lexsus mulai menyentuh bagian kaki. Jemarinya mulai bermain, memijat dengan pelan dan penuh kehati-hatian agar tak menyakiti wanitanya.


"Bagaiman rasanya? Sudah lebih baik?" Lexsus bertanya


"Hemm… Enaknya Daeng.." harus di akui, pijatan Lexsus membuat betisnya merasa lebih baik dari sebelumnya. Memejamkan mata, Dina merebahkan kepalanya di sandaran lengan sofa. Ia mulai menikmati tekanan demi tekanan yang Lexsus berikan. Dari mulai telapak kaki, berpindah ke betis, dan mulai naik ke lutut mendekati paha.


Sedikit-sedikit, pijatan itu berubah nakal.


Desiran halus mulai di rasakan Dina. Usapan lembut tangan lexsus mulai merambah naik. Otaknya kembali tidak waras dan membayangkan yang akan terjadi malam ini. Ia teringat ucapan Maya sesaat sebelum berpamitan. Sahabatnya itu terus menggodanya, bahkan Maya berkata milik Lexsus seperti singkong bakar gosong. Jika Dina tidak segera mencicipinya, singkong bakar itu akan basi, kalau tidak segera di santap, rasanya akan berubah menjadi dingin dan tak hangat lagi.


Dina tdak dapat membayangkan kalau ucapan Maya benar adanya.. Ia mengira-ngira singkong bakar dengan ukuran besar itu akan segera..??


"Hahhhh…!!" membuka mata, Dina bangkit seraya menarik kakinya. Otaknya sudah benar-benar terkontaminasi ucapan Maya.


"Ada apa Anri?" Lexsus memperhatikan wajah Dina yang terlihat pias.


"Tidak ada apa-apa Daeng.. Anri belum mandi." Dina mencari alasan. Iapun teringat akan gaun yang harus di kenakannya.. "Tetapi saat ini masih sore." ucap Dina dalam hati.


"Ahh..." pikiran Dina benar-benar kacau.


"Biar Daeng bantu Anri melepas gaunnya." Lexsus berniat membantu membukakan resleting gaun yang berada di belakang punggung.


"Tidak Daeng.. Anri saja.." Dina segera berdiri. Entah kenapa Dina merasa sangat malu. Saat ini Dina menjadi gugup akibat singkong bakar yang di bayangkannya.


"Kemari.." tidak bisa di tolak, Lexsus tetap membantu menurunkan resleting dan melepaskan gaun panjang yang melekat di tubuh Dina. Pria manis itu ikut berdiri di belakang tubuh sang wanita. Lexsus dapat merasakan dan menyadari kalau sang istri tengah di landa rasa malu dan gugup.


"Kenapa harus malu Anri? Daeng sudah sah menjadi suamimu, Daeng berhak menyentuh, bahkan melihat tubuh Anri seutuhnya."


Dina mematung, saat nafas hangat menguar di telinga menyapu leher jenjangnya. Mengigit bibir, Dina berusaha mengatur nafasnya yang berubah sesak. Seakan udara yang berada di ruangan ini sangatlah sedikit.


Ketika gaun itu terjatuh ke lantai.. Tampak pundak kuning langsat dan punggung mulus yang tampak menggoda. Memiliki tubuh semampai kurus padat berisi, menjadikan tubuh Dina terlihat seksi.


Dina berdiri terpaku, ketika merasakan sentuhan bibir yang mendarat di pundaknya.. Pria itu mengungkungnya dalam pelukan. Dina tak kuasa menolak saat Lexsus tidak berhenti mengecup..


Bukan hanya di pundak, tetapi bibir itu terus bergerak, bermain, berpindah ke punggung lalu naik ke tengkuk. "Emm.. Daeng… Anri belum mandi." berkata pelan, Dina merasa tidak percaya diri karena belum membersihkan tubuhnya.


"Daeng suka aroma keringatmu Anri.." Pria itu menginginkan dan akan melanjutkan kembali cumbuannya. Dan, Dina tidak mampu menolak.


Dina tak mampu menahan rasa yang membuat bulu kuduknya terasa berdiri dan pori-porinya meremang terbuka. Dina hampir saja lupa, ia ikut terbawa suasana menikmati sentuhan pria yang teramat di cintainya. Sampai suara ketukan pintu beberapa kali terdengar keras hingga membuyarkan konsentrasi sepasang pengantin yang akan memulai memadu kasih.


Siapa lagi kalau bukan suara Laoka. Sang adik yang menjadi pengganggu.. Suaranya memekik keras bak halilintar yang menggangu indra pendengaran dan merusak telinga.


"Kakak Dina..!! Kakak Dina..!!"


"Daengg..!! Daeng Lexsus Kamoga..!!"


"Ada tamu menunggu..!!"


"Cepatlah keluar.!!"


"Buat keponakkan untukku nanti saja..!!"


"Di tunda dulu.!!"


****


Bersambung❤


Tinggalkan jejak komen dan likenya yaa... Terimakasih 🙏