
Setelah makan siang bersama keluarga dan orangtua Lexsus yang di undang untuk datang di restoran hotel tempatnya menginap. Sore ini juga, Lingga Maya beserta keluarga terbang kembali pulang ke Jakarta. Karena kesibukan dan tuntutan pekerjaan. Sepasang suami istri itu tidak bisa berlama-lama berada di kota Makassar.
Begitupun dengan Maka dan Mada yang sudah waktunya kembali ke sekolah. Karena hari libur sekolah yang sudah hampir selesai, setibanya di Jakarta, Umi dan kedua adik kembarnya itu akan pulang ke pangandaran dimana kampung mereka berasal. Ambo Werang, Indo Senna dan Laoka melepas keluarga Sutan dari hotel. Kedua orang itu tidak ikut serta mengantar ke Bandara.
"Hubungi Oka ya, kalau sudah sampai di Jakarta.." ketiga remaja itu saling memeluk berpamitan.
"Akan aku kabari.." ucap Mada dan Maka bersamaan.
Agar sang istri beserta orangtuanya merasa nyaman dan menjaga privasi saat penerbangan. Lingga menyewa satu kabin khusus untuk keluarganya. Lexsus dan Dina, meluangkan waktu mengantar keluarga Sutan ke Bandara. Dua fortuner hitam meluncur beriringan membelah jalanan kota Makassar menuju Hasanuddin International Airport 1 Makassar.
Satu mobil di isi para orangtua dan sang supir. Sedangkan mobil yang di kendarai Lexsus membawa Lingga Maya, Maka dan Mada, bersama Dina yang duduk di sampingnya.
"Abang kita kan belum mengunjungi tempat-tempat wisata disini." Maya sebenarnya belum rela meninggalkan kota Makassar, tetapi apalah daya.. Lingga sudah mendapat telfon dari Roby.. Beberapa dokumen dan pertemuan penting membutuhkan tanda tangan dan kehadirannya sebagai pimpinan tertinggi di Kabar Grup. Akan ada banyak program acara baru yang akan segera di tayangkan dalam waktu dekat ini.
Menghadap jendela, Maya bicara sambil matanya tak lepas memperhatikan bangunan, memperhatikan jalanan yang ramai dan hiruk pikuknya kota Makassar.
"Lain kali, May.. Abang akan membawamu berlibur lagi. Kemari, kalau bicara lihat Abang." Lingga menarik lengan Maya agar mendekat kepadanya.
"Abang akan mencari waktu yang tepat, dan disaat tanggung jawab pekerjaan sudah longgar. Abang akan menjadwalkan bulan madu untuk kita.." bisik Lingga seraya mengusap kepala Maya.
"Apa Teteh ikut pulang saja bersama kita ke pangandaran? Nanti Maka temani dehh, kemanapun Teh Maya mau main." satu dari dua remaja yang duduk di bagian belakang itu memberikan penawaran, lebih tepatnya ajakan.
"Terus Abang Lingga, siapa yang menemani Makaaa.." Mada sang kakak menoyor kepala sang adik.
"Iya.. Siapa ya ?" Maka meringis tertawa.
"Nanti akan ada waktunya Abang membawa teteh kalian pulang Maka, untuk saat ini Abang belum punya banyak waktu … kalian berdua harus fokus sekolah agar lulus nanti, mendapatkan nilai terbaik. Dua bulan lagi kalian harus mempersiapkan diri melanjutkan sekolah di Jakarta." Lingga bicara menjelaskan sambil terus mengusap lengan Maya yang bersandar di pundaknya.
"Apa Umi akan sendirian di kampung Bang." Mada bertanya.
"Tidak Mada, Abang tidak setega itu membiarkan Umi sendirian. Abang akan memboyong kalian beserta Umi, Abang juga akan mempersiapkan tempat tinggal.."
"Yeeessss..!!!" Maka tampak bersorak gembira mengepalkan tangan. "Kita bisa satu sekolah dengan Laoka.." karakter Maka dan Laoka hampir sama yang memiliki sifat ceria, berbeda dengan Mada yang pendiam tak banyak bicara. Tetapi akan segera bertindak jika di butuhkan.
Lexsus yang duduk di belakang kemudi mengendarai mobil tersenyum tipis mendengarkan ucapan dua remaja kembar itu. Iapun bisa tenang dengan mengijinkan Laoka sekolah di Jakarta.
Tidak terasa mobil yang membawa keluarga Sutan itu sudah berbelok memasuki arae Bandara. Menggunakan masker sebagai penutup separuh wajahnya, Maya berjalan bersisian dalam rengkuhan tangan Lingga. Ia masih mengingat terakhir ia berada di bandara saat kepulangan dari pulau Lombok. Belum sampai 24 jam berada di Jakarta, sudah beredar berita gosip tentangnya.
"Tegakkan kepalamu, May.. Jangan menunduk. Ada Abang.." Lingga semakin mengeratkan tangannya di pinggang Maya. Ia memahami, masih ada rasa takut dalam diri Maya saat berhadapan dengan jepretan kamera.
"Semua akan baik-baik saja, Abang pastikan tidak akan ada lagi masalah Honney.."
Maya mengangguk tersenyum dari balik masker yang di kenakannya. Ia merasa tenang dan juga terlindungi.
Orang-orang Lexsus yang sudah standby di Bandara sudah siap mengawal kepulangan keluarga Sutan Cjokro sampai di kediaman Lingga. Bunda Rossa tak lepas merangkul lengan Sutan Cjokro. Bersamaan Umi Wanda, Maka dan Mada dengan beberapa pengawal yang berjalan di belakang. Keluarga itu langsung menuju ruang tunggu khusus keberangkatan. Karena Check-in dan sebagainya sudah ada orang-orang yang mengurusnya.
Lexsus dan Dina yang juga jalan beriringan menautkan jemari saling mengenggam. Keduanya mengantar sampai pesawat yang membawa keluarga Sutan Take-off ( terbang dari landasan )
°°°°°
Jakarta.
"Hena.." nama itu meluncur begitu saja, keluar dari mulutnya. "Apa lagi yang kamu lakukan di belakangku? Apa yang kamu sembunyikan Hena?"
Flashback.
Seminggu setelah pertemuan untuk yang kedua kali dengan wanita masa lalunya, Lendra belum sempat menghubungi Hena. Setumpuk tugas yang baru di embannya, di tambah ia harus mengantar pulang Mama dan Papanya ke Negara China.
Membuat ia belum memiliki waktu untuk menemui wanita yang sudah meninggalkan luka sangat dalam di hidupnya. wanita itu memilih pergi, meninggalkannya. Wanita yang lebih memilih pria lain yang menjadi sahabatnya. Hena mematahkan rasa cinta yang sedang tumbuh hebat dan berkembang dalam jiwanya.
Hal yang sama yang juga tengah di rasakan oleh Hena. Wanita itu masih terngiang ucapan Lendra saat pertemuannya yang tidak di sengaja. Setelah meminta nomor kontaknya, pria itu berjanji akan menghubunginya. Dan entah kenapa terbesit rasa harap dalam hatinya, bahwa pria itu akan datang menemuinya. Tetapi ia tidak bisa berharap banyak mengingat, ia telah mengores luka dalam hati Alend. Panggilan kesayangan yang ia sematkan untuk Lendra.
Sesekali wanita itu membuka ponsel, memperhatikan sederet angka bertuliskan nama Sutan Nalendra. Berharap pria itu menghubungi walau tak menemuinya. Ada rasa pilu yang selama ini ia pendam, ada rasa yang tidak bisa hilang dan ungkapkan dalam hatinya. Sebuah nama yang tak pernah hilang, tertanam dalam di relung hatinya.
Lamunannya buyar ketika teman satu shifnya menepuk pundaknya.
"Hei Na.! Melamun saja … ada yang nyariin tuh di ruang tunggu.." teman seprofesinya itu memberitahu.
"Siapa Mbak?" Hena merasa tidak memiliki janji dengan siapapun.
"Tau tuh.. Om Om.." temannya tersenyum mengoda.
"Om Om?" Hena tampak berfikir.
Bertanya-tanya siapa pria yang datang menemuinya. Tidak mungkin Nalendra kalau bertampang Om Om seperti yang di ucapkan temannya. Hena bermonolog dalam hati.
"Sudah, temuin sana.. Lagian jam kerjamu sudah selesaikan?"
"Ia Mbak, sudah.. Catatan pasien sudah Hena catat di buku Laporan, tinggal menunggu Dokter Hansel.." Hena menjelaskan sebelum pergantian shif jaga.
"Hena pulang dulu ya Mbak.."
"Ya, Hen … Hati-hati di jalan ya.. salam buat Ibumu, semoga sepat sehat … kamu sudah menebus obat yang Dokter Hansel sarankan?"
"Sudah Mbak … tapi baru separuh.." wajah Hena terlihat sendu.
"Sabar ya … separuh obat itu semoga bisa membantu kondisi Ibumu, agar lebih baik."
"Ya Mbak … terimakasih suportnya.."
"Terimakasih sudah banyak mengingatkan Hena."
Mengambil tas kecil dari dalam loker. Hena menuju ruang tunggu khusus karyawan. Ia penasaran dengan laki-laki yang sedang menunggunya..
"Siapa dia.. ?"
****
Bersambung ❤
Sebenarnya kemarin UP sayang.. Tetapi apa daya tertahan.. Tinggal kan jejak komen dan likenya yaa.... Terimakasih