TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
KEIKHLASAN



Tidak tahan menunggu lama dan berada di luar, Lingga memutuskan menerobos masuk kedalam dimana para tim Dokter sedang bekerja, berusaha dengan caranya. Lingga langsung mendekat dan memegang kedua sisi pundak Maya dengan Dokter Hansel yang memberikan ruang untuk Lingga. sebagai Dokter ia sangat menyadari, memaklumi psikis Lingga saat ini.


"May, bangun May.. Jangn bercanda! Abang tidak suka, May.." Lingga menggoyangkan pundak Maya.


"Bagun, Honey.. Abang mohon, jangan pergi.. Abang tidak mengijinkanmu May… bangun May.. Abang belum cukup puas membahagiakanmu, May.. Masih banyak janji yang belum Abang tepati. Istana yang Abang bangun pun belum Abang perlihatkan. Kamu belum melihtanya, May.."


"Apa kamu tidak kasihan sama Abang, May?"


"Kasihani kami, Mau.."


"Lihatlah Umi May, Lihat Maka dan Mada.. Yang tidak berhenti menangis menunggumu bangun. Begitupun dengan Bunda, Papa, Dina, mereka memintamu bangun, May. Kami semua menunggu, May.." dengan berurai airmata Lingga bicara dengan suara keras, ia terus menggoyangkan pundak Maya walaupun para Dokter berusaha menenangkan dan meminta untuk mengentikan aksinya.


Bunda Rossa yang baru tiba bersama Sutan Cjokro, Hadid dan Lena, segera masuk kedalam ruangan, ia akan menenangkan putranya yang sedang kacau saat ini. Pria itu histeris mendapati keadaan Maya yang mengalami penurunan dan pemberhentian detak jantung.


"Bang… tenang, Bang.. Jangan seperti ini Bang.. Kasihan Maya, Bang." Bunda Rossa mencoba menarik Lingga dan menjauhkan tangannya dari pundak Maya.. "Hentikan Bang, Bunda mohon.."


"Istiqhfar Bang..." Bunda Rossa mengingatkan.


"Kenapa Maya, tidak menepati janjinya Bun? Maya sudah berjanji sama Abang, Maya berjanji akan mendampingi Abang sampai kami menua Bun.. Maya sudah berjanji tidak akan meninggalkan Abang, Bun.." Lingga bicara sambil mendekap tubuh Maya, Lingga mulai melemah dan bicara pelan.


"Katakan kepada Maya Bun, tolong Bun.. Katakan kalau dia tidak boleh berbohong. Dia harus harus menepati janjinya Bun. Jangan sampai Abang membencinya kalau dia sampai mengingkari janjinya." Lingga menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Maya.


Sedangkan para tim Dokter sudah tidak bisa berbuat banyak. Siapapun yang berada di area rungan itu ikut menangis melihat bagaimana terpuruknya Lingga.


"Ikhlas Bang.." ucap Bunda Rossa


"Ikhlaskan putri Umi, Bang.." ucap Umi Wanda.


"Kuat, Bang.. Jangan lemah.. Kasihani Maya." ucap Cjokro. "Abang pasti bisa.."


Lingga teringat akan sebuah syair tentang keihklasan… tentang melepaskan…… tentang bagaimana kita merelakan sesuatau yang sangat berharga yang kita miliki.


...Lirih keikhlasan di antara duri Dunia....


...Aku bukanlah aku yang dulu, berjalan separuh nafas tanpa tahu tempat berpulang. Aku hanya sebuah kata yang tergambar tentang siapa dan apa? Siapakah sebenarnya hati dan jiwa yang akan kembali? dan apa sesungguhnya hati dan jiwa ini? Asa yang seolah hancur dilukai beribu duri yang tak tahu dari mana. Rongga-rongga yang terus menganga dan pelik untuk kembali terang dan terang....


...Lirih… Suara terdengar meyakinkan akan siapa aku kini. Apakah teguh setegar batu karang di tengah lautan yang tak pernah berkeluh kesah padanya akan sapuan ombak. Yang nyatanya tak pernah berucap sesal pada DIA, Sng Robbi. Karena batu karang tahu, ombak terhempas dengan atas Kehendak DIA, Sang Maha Sempurna....


...Dan… lirih itulah yang membuatku tahu seberapa kuatnya si karang bertahan, bertahan dengan kerendahan yang hanya teruntuk DIA, Sang Ilahi Robbi....


...Lirih… kembali melesat di antara titik titik akal. Tinggalkan jejak untuk meyakinkan akan Apa aku ini. Teriring langkah langkah demi langkah mengurai jalan berbatu, tegap tanpa pandang ragu, seolah tahu jika memang hanya DIA tempat kembali...


...Tajam tanpa pinta yang semu, seakan sadar bahwa memang DIA, Robb Sang Pencipta Bumi....


...Lirih itu bukan sekedar tanda, bukan pula sekedar bisikan yang menjelma, namun itulah tangisan berurai dari sebuah keikhlasan...


...Keihklasan bukan untuk di umbar dan dirasa, itu adalah kerendahan hati dan jiwa pada Sang Maha...


...Tinggi. Dimana setiap bayang-bayang dunia adalah duri untuk menyentuh buah keikhlasan. Kenapa dikata lirih keikhlasan? Itu yang terngiang…....


...Lirih karena sentuhannya hangat membasuh hati dan jiwa yang lara. Lirih karena degub nadinya teratur berirama dalam hati dan jiwa. Lirih karena tak gaduh diantara gejolak jiwa dan hati manusia....


...Seperti itulah keikhlasan, membahana dibawah alam kegaduhan, mencipta keheningan nyata akan cahaya Cinyanya, Allah’azza wa Jalla...


...Doa adalah inti maujud dari sebuah kepasrahan, dan kepasrahan adalah kekuatan suci akan sebuah keikhlasan. Sungguh segala dunia layaknya duri berkarat yang terbentang hingga tapal batas tak bertuan. Setitik amarah akan menghujam membekas hingga ke relung jiwa, membinasakan ketaatan hati pada Sang Maha Pencipta. Dan itu ketika hati yang suci tergoda oleh tipuan halus duri dunia....


...Kembali pada bait doa yang terlantun untuk sebuah keikhlasan dalam tergores tinta keistiqomahan dan tersinar oleh cahaya keimanan, percikan api keangkuhan pun akan padam oleh gemuruh irama bait doa kata demi kata yang terluap oleh kerendahan jiwa dan keikhlasan yang nyata....


...Yaa…yang nyata dan suci hanya terluap padanya, Sang Maha Bijaksana....


...Dunia bukanlah jurang untuk manusia kembali pada kemurnian bukan pula sebuah remeh temeh untuk beradu bersama hasrat tak nyata. Harusnya dunia terbentang layaknya ladang bertanam pahal kehakikian, mestinya dunia terlukis sebagai peta harta karun menuju Hidayahnya. ...


...Meskipin duri-diri berserakan tapi bukan itu nilai kehakikian bukan itu titik akhir sebuah perjuangan dan bukan pula suatau tujuan yang pada akhirnya ruh suci ini tersungkur tak berdaya. Sungguh dungu jiwa ini, terjerembab pada lautan duri dunia demi meraih titik tujuan bersembunyi pada tipu daya kata ikhlas tanpa tahu dimana arah hati melangkah. Bukan demikian itu keikhlasan yang hakiki karna ikhlas dan keikhlasan adalah lentera untuk melangkah di tiap sisi dunia ini....


...Apalah arti duri dunia, jika tajamnya tak berasa kesakitan oleh manusia, bahkan nyatanya mereka bangga berkubang dan menyelam didalamnya itulah, itulah manusia yang terbiasa berlarian mengejar keniscayaan, itulah manusia yang terbiasa bersembunyi diantara sela tajam duri dunia dan itulah manusia yang terbiasa menganggap diri dengan keangkuhannya....


...Jika, kamu bertanya kenapa Allah tetap memberinya tawa dan pelepas dahaga? Kenapa Allah tetap mengalirkan air kehidupan pada jiwanya?...


...Itulah ke Maha Sempurnaan Allah, itulah ke Maha Bijaksanaan Allah, namun itu pula ke Maha Murkaan Allah. Akankah jiwa dan hati ini kembali kepadanya, dengan ketakwaan dan kerendahan ataukah terus terlarut dan terlarut dalam kemegahan duni yang tak tersisa, dan itupun tetap menjadi keMaha Rahasiaan Allah di setiap Pengaturannya....


...Tahukah, wahai manusia…...


...Segenap kemegahan dunia Allah ciptakan bersama duri duri yang berhamburan. Segala keniscayaan dunia Allah hadirkan bersama titik titik kealpaan. Seluruh kenikmatan dunia Allah sandingkan bersama rongga rongga kelalaian....


...Tahukah, jika itu adalah nilai dari sebuah jihad dan perjuangan menuju-nya. Jika itu adalah harga mahal dari hati dan jiwa yang ikhlas tertunduk pada-nya....


...Dan, demukianlah Allah melimpahkan ke Maha Rahasiaannya di antara duri dunia yang nyata hingga manusia tersungkur tak berdaya kembali pada Dzat Yang Suci, Allah ‘Azza Wa Jalla- ...


...Pena SAFA...


Tiiiiiiiiiiiiiiiitttt……................


Suara monitor berbunyi kembali….


Bersamaan mengalirnya airmata yang keluar dari sudut mata Maya yang menetes di pipi Lingga…


****


Bersambung ♥