TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
DUGONGKU TERSAYANG



"Ada apa Ri..? Daeng memperhatikan area sekitar rumah khawatir terjadi sesuatau.


Pria manis itu bertanya ketika melihat Dina berlari dari arah belakang dan segera mauk kedalam mobil dengan tergesa-gesa. Ia belum sempat turun dari mobil.. Fortuner hitam itu baru saja sampai di halaman rumah.


Sebelum menjawab, Dina sudah tertawa lebih dulu sambil menutup mulutnya.


Daeng meneliti, ekspresi Dina yang sedang tertawa.


"Anri jailin siapa barusan?" sedikit-sedikit Lexsus mulai paham keseharian Dina jika sudah bersama Mak Kom dan Bik Mar. Kekasihnya itu senang sekali menggoda para pekerja rumah tangga.


"Enggak.." Dina mengelengkan kepalanya dengan bibir di lipat menghentikan tawanya.


"Anri.! Jangan bohong.." Daeng mematikan mesin mobil dan menurunkan kaca jendela.


"Cuma becanda, Daeng.." Dina akhirnya bicara jujur.


Apa lagi Mak Kom sudah berdiri di ambang pintu dengan membawa sapu dan nafas yang terengah-engah.. Keringat itu mengalir di dahinya


"Anri turun.. Minta maaf, dulu.." Daeng mengerti pasti kekasihnya itu sudah membuat pekerja Lingga itu kesal.


"Daeengg…" Dina memelas, agar Lexsus tak menyuruhnya turun.


"Turun Anri… Ayok minta maaf dulu." Daeng bicara lembut penuh ketegasan dengan mengusap pipi Dina.


Membuka pintu, Dina turun dari mobil melangkah ke arah Mak Kom yang masih memegang sapu dan tersenyum jumawa merasa kemenangan ada di tangannya. Ia mendengar dari kejauhan kalau Lexsus menyuruh Dina meminta maaf.


Dina tertawa nyengir saat langkahnya semakin mendekat. "Maakkkk…" suara Dina terdengar mendayu tanda-tanda akan merayu.


"Apee?? Pasti ada maunya?" Mak Kom melihat dengan tatapan curiga melihat Dina yang senyum-senyum mematikan.


"Maafin Dina, Yakk? Becandanya bikin Mak kesal." Dina mengelus pundak Mak Kom dengan menunjukkan wajah termanisnya.


"Duhhh... Cakep bener dah, anak Emak kalo lagi manis begini. Dengerin nohh kata calon laki Neng.. Neng Dina, jangan nakal. Yang nurut sama calon laki."


"Iya, Mak.. Mak Kom sudah tidak marah kan?"


"Enggak, Neng.. Emak mana bisa marah sama Neng Dina?"


"Lahhh.. Terus kenapa Emak pake acara bawa sapu ngejer Dina?" Dina mengerutkan keningnya


"Siapa yang ngejer Neng Dina? Emak ngejer si belang noh." Mak Kom menunjuk Kucing Kang Ujang yang di biarkan berkeliaran di pekarangan rumah.


"Masuk dapur ngegondol paha ayam.. Gak ada sopannya tuh kucing." Mak Kom tampak kesal di buatnya.


"Ya’elahhh Makkkk… Kirain ngejer Dina.."


"Impas kita Neng.." Mak Kom tertawa lebar.


"Tunggu pembalsanku ya Mak." Dina tersenyum bicara dalam hatinya.


"Ya, sudah Dina pergi dulu ya Mak."


"Ya, Neng hati-hati di jalan.. Semoga ada kabar baik dari Neng Maya.."


"Mak.." Dina berbalik lagi melihat Mak Kom.


"Ada apa Neengg?"


"Dina boleh peluk Emak tidak?"


"Ya, ampun Neeengg …ya boleh atuh."


Dalam hati Dina yang terdalam.. Dibalik keceriaannya.. Di balik tawa dan canda guraunya. Dina sedang merindukan sosok kedua orangtuanya yang sudah lama tiada. Bersyukurnya, ia di kelilingi para orangtua yang baik dan menyayanginya. Kedekatannya dengan Mak Kom juga dapat mengobati rasa rindu yang terpendam selama ini.


Dina mengurai pelukannya.. "Dina berangkat ya Mak."


"Ya, Neng… Jangan nakal." Mak Kom mengingatkan.


"Enggak, Mak.. Byee.. Byee… Dugongku tersayang."


Dina mengisyaratkan kiss yang ia tiupkan melalui telapak tangan..


Interaksi keduanya tak lepas dari pantauan Lexsus. Pria itu tersenyum tipis kala melihat Dina yang mampu berbaur dengan siapa saja.. Ia juga berharap, Dina akan dekat dengan Indo-nya. Tetapi ia merasa seperti ada yang di sembunyikan dari raut wajah Dina. Daeng dapat melihat dari sorot matanya. Mata itu tidak dapat menutupi kesedihan yang sedang menggelayutinya.


°°°°°


Sesampinya di parkiran rumah sakit, Daeng tak langsung membuka pintu mobil. Ia malah merebahkan kursi agar bisa merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan sebagai penganjal kepala.


"Daeng, kenapa kita tidak turun?" Dina bertanya dengan membalikkan bandannya melihat Daeng yang memejamkan mata.


"Sebentar Anri.." Lexsus berucap. "Daeng ingin bersamamu sebentar."


Dina ikut merebahkan kursinya sedikit kebelakang dengan punggung kepala bersandar dan pandangan ke samping jendela..


Sama-sama terdiam sesaat dengan jalan pikirannya maing-masing. Lexsus membuka mata dengan tangan tangan kiri meraih tangan kanan Dina. Pria itu masih dalam posisi membaringkan tubuhnya.


"Ri… Ada apa?" Lexsus mulai bertanya


"Apa tidak ingin membaginya dengan Daeng?"


Suara bariton itu membuat Dina menundukkan pandangannya.


"Lihat Daeng, jangan menunduk Ri.." Lexsus mengenggam tangan Dina, yang ia bawa ke atas perutnya yang bak roti sobek.


"Tidak ada apa-apa Daeng.. Memangnya ada apa?" Dina menjawab dengan berbalik kesamping, dengan kepala dan pandangan yang masih tertunduk.


Seandainya bukan bulan puasa, mungkin Daeng akan membawa Dina kedalam pelukannya. Ia sangat paham, wanitanya saat ini sedang membutuhkan kenyamanan dan pelukan.


"Kalau tidak ada apa-apa kenapa tidak mau menatap mata Daeng? Apa ada yang mengganjal hatimu Ri..?"


Dina mengelengkan kepala, tetapi wajah itu berubah menjadi sendu. Wajah ceria itu hilang tak berhias


"Katakan? Daeng tidak suka Anri memendamnya sendiri. Anri tidak bisa berbohong." Lexsus masih mengenggam tangan Dina. Pria itu memiringkan badannya menghadap Dina. Kini keduanya saling berhadapan dengan kursi yang di rebahkan.


"Tidak ada masalah apa-apa, Daeng.. Dan tidak penting untuk di bahas."


"Apapun yang menjadi masalah Anri, akan menjadi penting untuk Daeng. Katakan!" Lexsus sudah mengeluarkan aura dinginnya yang tidak bisa di bantah oleh Dina.


"Anri tidak mau bicara, karena Anri tidak ingin menangis Daeng.. Anri hanya sedang merindukan Emak dan Abah yang sudah lama tiada. Kalau di bulan puasa menjelang hari raya, akan terasa kehilngannya. Dina Cuma kangen mereka.." Dina bicara dengan mata memerah menahan air mata yang akan tumpah.


"Menangislah Ri.. Jangan di tahan, kemari.."


Lexsus membawa kepala Dina agar di rebahkan di pundaknya. Pria itu membalilkan badannya, memberikan posisi yang ternyaman untuk kekasihnya, Lexsus membelai rambut Dina yang menangis di pundaknya.


"Anri punya Indo, Ambo, anggaplah mereka orangtua Anri.. Ada Daeng, yang selalu ada mendampingi.. Jangan risau dan bersedih hati Ri.. Anri tidak sendiri. Bukankah ada Umi, Bunda, bahkan Mak Kom yang selalu Anri jaili?"


"Apa perlu Daeng hubungi Indo sekarang, agar bicara dengan Anri?"


"Jangan, Daeng.. Nanti saja.. Anri malu.." Dina menahan tangan Lexsus saat pria itu akan mengambil ponselnya dari dalam saku celana.


"Kenapa harus malu? Daeng sudah banyak cerita tentang Anri kepada Indo."


"Apa reaksi Indo, Daeng?" Dina bertanya masih dalam posisi menyandarkan kepala di bahu kiri Lexsus.


"Indo senang, akhirnya Jakanya akan pulang membawa calon istri." Lexsus bicara dengan tangan kiri memainkan rambut Dina dari belakang.. keduanya ngobrol santai di dalam mobil dengan suhu dingin.


"Apa Daeng pernah berhubungan dengan wanita lain? Emm.. Maksud Anri, kekasih.." Dina tidak bisa menahan rasa keingintahuannya.


"Apa harus di ceritakan? Apa Anri siap mendengarnya?"


Dina mengangguk pelan. Entah kenapa Dina meraskan kenyamanan saat merebahkan kepalanya di pundak Lexsus. Ia semakin merapatkan kepalanya di dada samping kiri Lexsus..


"Ceritakan Daeng.. Anri akan mendengarkannya, bagaimanapun dan seperti apapun. Anri ingin tau."


"Anri tidak ingin mengetahuinya dari orang lain.."


****


Bersambung ♥