TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MENCINTAI MU



Selang lima belas menit dari kepulangan Anin dan Stella, Maya kedatangan tamu yang tidak pernah di duganya sama sekali. Dua sosok pria berseragam yang tidak asing untuknya, dua sosok pria yang selama tiga bulan pernah bersamanya, menemani hari-harinya.


Dua sosok pria yang sudah banyak membantu dan menjaganya, bahkan memberikan kasih sayang yang tulus sebagai bentuk persaudaraan di tengah keterpurukan-nya saat ia melarikan diri ke Kota Magelang.


"Kak Gala.. Kak Daksa.." Maya mengurungkan niatnya untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Maya segera bangun, duduk dan bersandar dengan bantal yang Umi letakkan di belakang punggung Maya.


"May.. Berbaringlah, jangan memaksakan untuk duduk." ucap Gala saat melihat Maya duduk bersandar dengan wajah yang terlihat pucat.


Gala ikut membantu membenahi bantal yang di jadikan sandaran.


"Terimakasih Kak.. Tidak apa-apa, Maya kuat."


Maya tersenyum melihat kedatangan Kakak sepupunya dan Pria yang juga sudah ia anggap sebagai Kakaknya.


Terlalu banyak bergerak memangku dan bermain dengan Baby Boy dan Baby Biru, membuat Maya merasakan sedikit pusing di bagian kepalanya. Sebelumnya, Perawat Hena baru saja melakukan tugasnya, mengecek tensi dan memberikan obat yang harus Maya minum siang ini. Perawat itu juga mengingatkan Maya untuk tidak banyak melakukan aktifitas dan interkasi berlebihan yang akan membuatnya kelelahan.


"Uwa.." Daksa mencium tangan Umi Wanda di ikuti Gala setelah menyapa Maya. Maka dan Mada pun ikut menyalami Daksa sebagai Kakak karena umur Daksa yang lebih tua dari mereka.


"Sudah berapa lama di Jakarta, Nak?" Umi bertanya setelah Gala mencium punggung tangannya.


"Sekitar dua minggu Wa, maaf.. Kami baru sempat menjenguk Maya.." ucap Daksa.


Sebelum masuk ke dalam ruangan, Daksa dan Gala sempat mengalami kesuitan saat akan menemui Maya.. Mereka harus meyakinkan dua Bodyguard yang berada di luar, seragam serta keterangan yang mereka sampaikan tidak dapat meyakinkan dua penjaga itu kalau Daksa adalah kerabat dari Maya.


Mereka sempat bersitegang sebelum akhirnya, salah satu Bodyguard menghubungi Lingga, baru keduanya di ijinkan masuk ke ruang perawatan.


"Tidak apa-apa Sa, Umi tau kamu pasti sangat sibuk karena harus menjalani dan mengikuti pelatihan lagi." jawab Umi


"Bagaiman keadaanmu May?" Gala bertanya saat Daksa berbincang dengan wanita yang baru ia ketahui sebagai Ibunya Maya beserta kedua adiknya.


"Alhamdulillah, Kak.. Keadaan Maya sudah jauh lebih baik." jawab Maya seraya tersenyum


"Kakak turut prihatin, May.." pria itu berdiri di sisi tempat tidur.


Gala mengetahui yang terjadi dengan Maya, sampai harus kehilangan bayinya dari Daksa, sedangkan Daksa mendapatkan kabar dari Ibunya, Bik Hima yang berada di kampung.


"Ya, Kak… terimakasih.." Maya menurunkan pandangannya saat Gala menatapnya dengan dalam. Ia tidak mau berlama-lama berpandangan dengan pria lain selain Lingga. Apalagi Maya tau kalau Gala sempat mengungkapkan isi hatinya dan memintanya menjadi istrinya.


Sedangkan Gala, menatap Maya penuh dengan kerinduan.. Sorot mata itu tidak bisa menutupi bagaimana hatinya, tidak mudah untuknya membuang rasa itu untuk Maya. Gala tidak bisa membohongi dirinya kalau rasa dan nama Maya masih memenuhi hati dan pikirannya.


Butuh waktu entah sampai kapan, hingga Maya benar-benar hilang dan keluar dari relung hatinya yang paling dalam. Mendapatkan kabar kalau Maya mengalami insiden yang membuatnya koma dan kehilangan bayinya, membuat Gala ikut merasakan sakit dan kesedihan yang mendalam.


"May.." Daksa mendekat ke sisi ranjang. "Semoga kamu cepat sehat, Kakak sangat terkejut saat Ibu memberi kabar. Maaf, Kakak baru bisa datang hari ini. Tidak ada ijin untuk Kakak jika masih dalam masa pelatihan." Daksa menjelaskan.


"Iya, Kak.. Tidak apa-apa.. Cukup doakan saja kesembuhan untuk Maya, dan secepatnya Maya di berikan momongan."


"Pasti May." Ucap Daksa seraya tersenyum. "Kamu harus sabar dan kuat." Daksa memberikan semangat untuk adik sepupunya.


Di tengah perbincangan, ponsel Maya berdering. Umi menyerahkan ponsel milik Maya yang tergeletak di atas nakas. Panggilan Videocall dari aplikasi pesan dengan nama ' Abangku Sayang ' terlihat tengah memanggil tak berhenti. Terlihat jelas wajah Lingga yang sedang berada di dalam ruangan rapat setelah Maya menerima panggilan.


"Bang.." Maya tersenyum menyapa duluan.


"May.. Waktunya kamu istirahat.." tanpa banyak bertanya Lingga langsung bicara. "Jangan banyak bergerak, May.. Kamu belum pulih dan ingat yang di sampaikan Dokter Hansel?" terlihat wajah serius dan suara Lingga yang terdengar tegas saat bicara.


"Iya, Bang.." Maya dapat melihat wajah Lingga yang tidak tersenyum seperti biasanya.


"Baringkan badanmu May.. Kamu harus tidur, jangan duduk bersandar. Abang tidak mau kondisi kesehatanmu menurun. Apa Abang harus kembali ke rumah sakit?"


"Iya, Bang.. Maya akan istirahat, Maya akan tidur.. Abang selesaikan pekerjaan Abang, jangan khawatirkan Maya Bang. Ada Umi disini.."


Ucapan Lingga dapat di dengar dengan jelas oleh Daksa dan Gala.


Sedangkan di kantor, di tengah rapat yang sedang berjalan. Lingga menyempatkan menghubungi Maya melalui sambungan Videocall, setelah sebelumnya Lingga mendapatkan laporan dari para Bodyguard yang di tugaskan untuk berjaga dan menjaga keamanan Maya selama di rumah sakit. Para Bodyguard itu melaporkan akan kedatangan dua pria berseragam bernama Gala dan Daksa yang datang berkunjung untuk menjenguk Maya.


Bagi Lingga, tidak akan menjadi masalah untuk Daksa, tetapi saat pria bernama Gala juga ikut datang menjenguk Maya, dan saat ini tengah berada di dalam ruang perawatan. Ada rasa cemas yang menganggu pikirannya, mungkin lebih tepatnya rasa cemburu tengah menguasai hatinya, suatu rasa yang mampu mengganggu konsentrasi kerjanya.


Selama Maya berada di Kota Magelang, Lingga tahu, bahwa pria yang bernama Gala sangat menyukai Maya. Dan Lingga juga tahu kalau Gala pernah melamar, meminta Maya agar mau menjadi istrinya.


"Apa ada masalah Pak?" Roby bertanya saat melihat perubahan di wajah Lingga setelah menghubungi Maya di rumah sakit.


"Tidak Rob.. Lanjutkan.." Lingga kembali meletakkan ponselnya di atas meja rapat.


"Baik, Pak.."


°°°°°


"May, Kakak harus kembali ke asrama." Daksa memutuskan segera pamit setelah sambungan Videocall Maya dan suaminya sudah terputus.


"Maaf, Kak.." Maya merasa sangat sungkan..


"Jangan di pikirkan May.. Kakak sangat mengerti. Turuti ucapan suamimu, kamu memang harus banyak istirahat supaya kamu cepat pulih."


"Jangan memaksakan saat kondisi fisikmu belum kuat." Daksa menata bantal yang di jadikan sandaran punggung Maya untuk di letakan di atas tempat tidur sebagai alas kepala.


"Cepat sehat ya, May.." Gala tersenyum saat pamit


"Aamiin Kak.. Terimakasih, maaf kita tidak bisa berlama-lama berbincang." ucap Maya


"Lain waktu dan dalam situasi yang nyaman, kita akan bertemu dan berbincang lagi May.." Daksa paham akan situasi yang ada. Kehadiran temannya Gala, pasti telah membuat Lingga tidak merasa nyaman. Daksa menarik selimut sampai ke dada Maya.


"Kakak pulang ya.."


"Iya, kak.." Maya mengangguk


"Jaga kesehatan Wa.." Daksa mencium punggung tangan Umi untuk berpamitan.


"Kamu juga Sa.. Sering-seringlah memberi kabar."


"Gala pamit Bu.."


"Terimakasih ya Nak.." ucap Umi saat Gala turut berpamitan dan juga mencium punggung tangannya.


"Pamitkan kepada Maka dan Mada, Wa.."


Daksa tersenyum saat melihat kedua adiknya itu sudah tertidur pulas di sofa besar.


"Kakak pulang May.." pamit Gala


"Maaf, May.. Kakak belum bisa berhenti mencintaimu." ucap Gala dalam hati


****


Bersambung ❤


Sabar untuk menunggu UP nya ya teman-teman... Mau lebaran ada kesibukan yang gak bisa di tinggalkan 🙏


Untuk foto Lendra nanti ya.. masih belum nemu yang pas


Nagala Braja