TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
BUKU CATATAN



Still flashback


Hena berjalan dengan langkah cepat menuju ruang tunggu yang di sediakan bagi para pekerja rumah sakit untuk menerima kunjungan dari teman atau keluarga. Merapihkan pakaian dan rambutnya, Hena mengatur nafas supaya lebih tenang. Perlahan, Hena membuka pintu ruangan.


Tiba-tiba saja jantungnya berdebar, entah kenapa ia merasa hatinya berubah menghangat, sebuah rasa yang tak mampu ia artikan kenapa.


Klek


Pintu berbahan stanless itu terbuka separuh, perlahan Hena melangkahkan kaki masuk ke dalam. Matanya menangkap jelas, sesosok pria yang tengah duduk di kursi. Pria berumur yang masih terlihat gagah, rapih berkharisma, memiliki kulit yang bersih. Tampak gurat ketampanan semasa muda masih membekas di wajahnya.


Sejenak Hena terpaku menatap pria yang menengok melihat ke arahnya. Pria itu langsung berdiri beranjak dari kursi. Serasa tak asing bagi Hena, seakan ia pernah melihat wajah itu. Tapi dimana? Dan mata itu? … mata itu sama seperti miliknya. Sepasang mata bulat dengan kornea berwarna hazel.


Hena memaksa otaknya agar bekerja keras mengingat wajah pria yang berjalan pelan ke arahnya. Desiran hangat seketika muncul lagi bahkan semakin bertambah dalam jiwanya yang terdalam. Semakin pria itu mendekat semakin Hena merasakan sesuatu yang berbeda, yang ia sendiri tidak tahu itu apa?


Wajah pria itu, seakan menghipnotisnya, ia mendapatkan rasa nyaman yang ia sendiri tidak mengerti sebabnya. Hena hanya mengikuti nalurinya, ia menyambut hangat sorot mata rindu dari pria yang tak lepas menatapnya.


"Anda siapa?" membuka suara Hena bertanya lebih dahulu.


Bukannya menjawab pertanyaannya. Pria itu menatap lama dirinya. Dengan pandangan dan sorot mata sendu dan senyum penuh keharuan.


"Kamu belum mengenal siapa aku Aya.."


Deg!!! …


Hena terkejut saat pria berumur itu memanggil nama kecilnya, tidak ada yang memanggilnya dengan panggilan Aya selain sang Ibu. Perlahan ia sedikit mulai mengenali wajah pria itu, wajah yang pernah di lihatnya. Wajah di selembar foto yang tersimpan rapih. Foto yang ia temukan di dalam buku catatan sang Ibu beserta tulisan yang menggambarkan serta menjelaskan bagaimana isi hati dan perjalan hidup sesosok wanita yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.


Tubuh Hena terasa lemas, mulutnya terkatup rapat. Ia tidak tahu harus bicara apa. Harus berbuat apa. Mimpikah ia ? …


Burhan menatap sendu wajah wanita muda yang berdiri di hadapannya. Wajah yang sangat mirip dengan Rindia. Hanya saja mata itu miliknya.


Ia tidak menyangka, satu bulan dari pernikahannya. Benihnya tumbuh dalam rahim wanita yang telah di nikahinya. Wanita yang tiba-tiba menghilang, pergi meninggalkannya tanpa alasan dan sebab yang pasti. Ia juga masih mengingat jelas ucapannya setelah melakukan malam pertama bersama Rindia. Jika kelak Tuhan memberikannya anak perempuan, ia akan memberi nama ' Jalanaya Sidarta ' dan jika laki-laki akan di beri nama ' Jalal Sidarta '


Dan wanita muda yang berdiri terdiam di hadapannya saat ini adalah HenaJalanaya Sidarta.


Selepas pembicaraannya dengan Tuan Cjokro sebulan yang lalu. Ia memiliki semangat lagi untuk mencari tahu keberadaan Rindia dengan di bantu Lexsus yang memiliki akses dan orang-orang yang terlatih. Dan tidak butuh waktu lama, Lexsus telah memberikan laporan kalau Rindia tengah terbaring tak berdaya karena sakit. Wanita yang di carinya itu menempati rumah kontrakan petak di salah satu gang yang berada tidak jauh dari rumah sakit. Bersama wanita muda yang di yakini adalah anak kandungnya.


"Anda siapa?" Hena bertanya lagi, ia ingin memastikan siapa pria itu.


"Nama belakangku tersemat di namamu Aya. Matamu adalah mataku … wajahmu adalah wajah kekasihku, Rindia. Wanita yang selama 25 tahun menghilang, wanita yang telah membawa benihku dalam rahimnya. Dan saat ini, benih itu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, mandiri dan kuat. Aku Burhan Sidarta, aku ayah kandungmu Aya.." Burhan tak sanggup meneruskan ucapannya, ia sudah tak kuat menahan sesak yang seakan mau pecah, ia sudah tdak sabar ingin segera memeluk putrinya.


"Be… benarkah?" dengan suara tersendat, Hena masih tidak percaya.


"Apa ayahmu ini harus memberikan bukti kepadamu Aya?"


Tanpa sepengetahuan Hena. Burhan melakukan tes DNA dengan menggunakan helaian rambut Hena yang di ambilnya dari orang suruhannya.


"Hena benar-benar punya Ayah? Apa Hena tidak sedang bermimpi?"


"Ibuku tidak berbohong… aku memang bukan anak yang terlahir dari hubungan terlarang? Aku bukan anak ha*am ?" Hena bicara dengan suara tertahan seraya menahan air mata.


"Anak Ha*am?" Burhan mengulang ucapan Hena.


"Ya, sedari kecil hidupku menderita Ayah … aku kuat karena Ibu … aku menahan airmataku karena ejekan karena Ibu bilang, aku lahir dari pernikahan yang sah. Tumbuh dari rasa cinta dan sayang.


Tetapi teman-temanku tidak percaya, mereka tetap saja menyebutku anak ha*am."


"Ibu melarangku untuk menyalahkan Ayah atas apa yang terjadi padaku. Ibu bilang, Ibu yang salah, Ibu yang meninggalkan Ayah demi.." Hena tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Ya, Ayah tahu Aya.. Ayah sudah mengetahui kenapa Ibumu pergi tanpa sebab. Kenapa dirinya menghilang seperti tertelan bumi. Sekuat tenaga, bertahun-tahun Ayah berusaha mencarinya. Dan.."


Burhan terdiam kala mengingat dan bagaimana hancur hatinya saat mengetahui kalau Rindia pergi atas permintaan sang Ibu sambung. Wanita yang menjadi istri baru dari ayahnya itu meminta Rindia melepaskan dirinya karena putri kandungnya yang bernama Sarah, adik sambung dari Rindia begitu mencintai dan menginginkan dirinya.


Tiga bulan setelah kepergian Rindia, sang Ayah dan Ibu sambung Rindia memintanya agar turun ranjang dengan menikahi Sarah. Tetapi Burhan tetap dengan pendiriannya, ia tak bisa menikahi Sarah karena sedikitpun tidak ada rasa cinta untuk wanita itu. Walaupun saat itu, sang Ibu menyampaikan kalau Rindia sudah menikah dengan laki-laki lain.


"Pria itu yang memberi tempat tinggal untuk kami Ayah .. pria itu yang memberi makan kami, dan pria itu juga yang dengan ikhlas memberikan pakaian yang layak dan sekolah untukku. Pria itu menyukai Ibu, tetapi Ibu menolaknya. Sebab sampai hari ini, Ibu tidak mampu membuang rasa cintanya kepada Ayah.. Rasa cinta itu terlalu besar sehingga sulit untuk di keluarkan.."


Berurai airmata, Hena menceritakan seperti apa yang di bacanya dari tulisan tangan sang Ibu di buku catatan yang masih tersimpan rapih. Setiap malam menjelang tidur. Setelah selesai dengan rutinitasnya sebagai pelayan di rumah pria kaya itu, Rindia akan memandangi foto pria yang tengah berdiri di hadapannya dengan berderai airmata. Rindia seolah-olah tesenyum bahagia kala Hena kecil bertanya akan masalahnya.


"Ibuku selalu berkata, Ayah sedang bekerja … dan akan lama sekali untuk kembali, dan jika Aya sudah besar dan menjadi anak yang pintar, Ayah akan pulang. Ayah akan menemui dan menjemput kami. Harapan itu terus tumbuh Ayah.."


Burhan menangis bergetar kala Hena memanggilnya Ayah.


"Aku sempat merasakan kecewa.. Aku sempat marah.. Aku sempat ingin melupakan Ayah. Tetapi goresan tinta itu telah memberitahu yang sebenarnya. Buku catatan itu telah membuktikan segalanya. Tulisan tangan Ibu, telah menjelaskan semuanya. Pengakuan Ibu yang membuat putrimu ini yakin. Bahwa suatu hari nanti, Ayah akan datang mencari kami.."


"Maafkan Ayah Nak.. Ayah terlambat … Ayah telah membiarkan hidup kalian terlunta-lunta dan menderita. Ayah telah gagal menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kalian."


"Tidak Ayah … tidak ada yang salah.. kalaupun kami menjalani hidup dengan kepedihan, tetapi kami sudah melewatinya dengan ikhlas. Bukan salah akan kehidupan, kehidupan tidak pernah mempermainkan kita Ayah. Hanya saja, kita berada di tengah-tengah orang yang salah.


Hena tahu.. Seberapa besar cinta dan sayang Ayah dan Ibu.."


"Bolehkan Hena memeluk Ayah?" Sena tak dapat menahan tangisnya.


"Kemari putri Ayah.." Burhan merentangkan kedua tangannya. "Peluklah pria tua ini.."


"Beri kesempatan kepadaku untuk menjalankan peran dan kewajibannya menjadi Ayah yang bertanggung jawab. Ayah akan memberikan yang terbaik, kehidupan yang layak, serta kebahagiaan untuk dua wanita yang aku cintai.."


****


Bersambung ❤


Mohon dukungannya ya … terimakasih 🙏