
Dina duduk di sofa dengan mengatur nafas yang terasa sesak memenuhi rongga dadanya. Ia lebih memilih masuk ke dalam kamar kembali setelah mendengar ucapan orangtua Ape. Rasa marah membuat hatinya terasa panas. Rasa kesal pun tidak bisa di tutupinya lagi.
Ia pikir, pembicaraannya terakhir bersama Ape dapat membuat wanita itu mengerti dengan tidak berharap lagi, untuk bisa memiliki dan meminta Lexsus menikahinya. Tetapi pikirannya salah…yang ia tidak sangka adalah bukan lagi Ape yang datang meminta, tetapi kedua orangtunya.
Menyusul masuk ke kamar. Lexsus duduk di samping Dina. Pria yang tengah di perebutkan itu sangat memahami yang tengah di rasakan sang istri saat ini. Ia mengerti akan kemarahan yang tampak terlihat jelas di wajah wanita tercintanya.
"Anri.. Kenapa memalingkan wajah dari Daeng?" dengan penuh kelembutan, Lexsus meraup pipi Dina agar berbalik menatapnya.
"Apa Daeng sudah membuat Anri kesal?"
Dina hanya menggelengkan kepala menunduk.
"Apa Daeng membuat Anri kecewa?"
Dina masih mengelengkan kepala tanpa menatapnya.
"Apa Daeng telah melakukan kesalahan?"
Dina tetap menggeleng..
"Kenapa tidak mau menatap Daeng?"
Sadar sang suami tidak melakukan kesalahan… perlahan Dina menatap sorot mata Lexsus..
Dengan menahan tangis Dina akhirnya bersuara. "Anri kesal.! Anri marah.! Anri kecewa.! Hari ini hari pernikahan kita Daeng. Tapi.." Dina tak lagi melanjutkan ucapannya kala Daeng merangkulnya… membawa tubuh ramping itu ke dalam pelukan.
"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi Anri.. Daeng tidak mau hati dan pikiran Anri di penuhi rasa amarah yang akan merugikan Anri sendiri. Yang akan merusak hari bahagia kita. Membebani pernikahan kita.."
"Tidak penting untuk di pikirkan, karena yang Anri takutkan tidak akan pernah terjadi.." Lexsus membelai rambut Dina penuh kasih sayang. Dengan Dina yang semakin membenamkan wajah di dadanya.
"Bukankah pernah Daeng katakan. Hubungan kami sudah selesai. Di hati Daeng hanya tersimpan satu nama, terpahat dengan kuat hanya Anri seorang. Mencintai Anri membuat Daeng kuat. Jangan ragukan itu Anri. Daeng sudah menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Cinta yang sesungguhnya pada diri Anri.."
"Jangan lupakan saat Daenga mengucapkan ' Aku nikahkan Dina Rahmata binti Rahmawan dengan mas kawin tersebut ' saat ikatan, janji dan sumpah telah Daeng ikrarkan. Itu artinya kita tidak akan terpisahkan. Terkecuali maut yang datang.."
"Aku di berikan kesempatan hidup kembali… tetapi pernikahanku cukup sekali dengan wanita yang akan menemani seumur hidupku… yaitu Anri.
Anri boleh cemburu, tapi jangan sampai berpikiran Daeng akan menikah lagi. Walaupun orangtuanya yang meminta. Sekali tidak tetap tidak."
"Anri hanya takut.. Maaf jika Anri merasa khawatir Daeng akan..."
"Daeng tidak selemah itu Anri.."
Daeng mengangkat wajah Dina ketika pelukan itu terurai. Dengan ibu jempol, Daeng mengusap sudut mata yang menggenang. "Jangan menangis Anri… Jangan bersedih… Kita akan seperti Ambo dan Indo sampai masa tua."
Jempol itu turun kebawah.. Mengusap lembut bibir mungil Dina.. Rona merah dari lipstik membut bibir itu semakin seksi… Dan ingin mencicipinya…
Mendekatkan wajah, Lexsus menciumnya…
Dina memejamkan mata, menyambut dengan membuka sedikit mulutnya kala ciuman Lexsus berubah menjadi lum*tan. Bibir coklat itu melahap habis bibir mungil Dina. Pria itu sedang menumpahkan sebuah rasa… bukan hanya Lexsus yang menumpahkan rasa cintanya melalui ciuman yang semakin panas.. Dina pun ikut hanyut dan terbawa arus akan sebuah rasa.. Saat kata cinta dan rasa takut akan kehilangan tak mampu di ungkapkan.
"Emhhh...." Dina melenguh dalam sesapan..
Tangannya ikut meremas kemeja yang Lexsus kenakan. Dina tidak mampu melepaskan diri.. Siap tidak siap, sebagai istri Dina akan melayani Lexsus karena sudah menjadi kewajibannya..
Dan ciuman itu harus terlepas saat suara sang pengganggu terdengar lagi dari luar. Siapa lagi kalau bukan Laoka Kamoga.
"Daeng..!! Maqrib..! Ambo bertanya apakah Daeng akan ikut bersama kita ke masjid?"
Dina tersenyum merapatkan bibir menatap Daeng yang terlihat menahan kesal.
"Sholatlah dulu bersama Ambo Daeng.." Dina mengusap pipi sang suami..
"Sepertinya kita harus mengungsi.. Malam ini Daeng harus membawamu pergi ke tempat yang nyaman dan jauh dari si penganggu.. Jangan sampai untuk ketiga kalinya bocah itu mengacau."
Dina terkikik mendengar ucapan sang suami. Beranjak dari sofa, Dina membuka lemari… mengambil baju koko berwarna putih yang tergantung dengan sarung.
"Anri akan ikut kemanapun Daeng akan membawa pergi." sejenak, Dina memeluk pinggang Daeng dari belakang seraya mengecup punggungnya.
"Gantilah pakaian.. Segera ambil wudhu… Anri akan sampaikan ke Ambo agar menunggu."
"Tapi Daeng masih ingin seperti ini." Daeng menahan tangan Dina.. "Sebentar saja.."
°°°°°
Terdengar obrolan Senna dengan sang Kakak kandung dan kerabat yang memang belum pulang. Mereka ikut mendengar pembicaraan yang terjadi barusan..
"Aku heran sekali dengan Layang? Kenapa dia tidak punya malu sampai harus meminta Lexsus menikahi Ape.. Padahal laki-laki yang menikahi Ape memiliki harta yang banyak.. Ya walau tak sebanyak Lexsus keponakanku.." ucap wanita yang menjadi Kakak Senna..
"Tapi ya sayangnya memang laki-laki itu sudah berumur.." ucapnya lagi.
"Darimana kakak tahu?" Senna bertanya sambil memindahkan masakan ke dalam mangkuk besar.
"Ah ! kau itu.. Kemana saja selama ini? Satu kampung sudah mengetahuinya bahkan sampai terdengar ke kampung sebelah. Ape itu menjadi istri yang ketiga.. Kabar yang aku dengar… kalau istri yang pertama sudah sakit sakitan. Untuk berjalanpun harus menggunakan kursi roda."
"Tetapi istri yang kedua… galaknya bukan main. Pernah suatu ketika, Tuan tanah itu datang berkunjung ke rumah yang ia siapkan buat Ape.. Tapi tak lama, selang beberapa jam dari kepulangan si Tuan tanah, Istri keduanya itu datang mengamuk.. Semua barang yang ada di hancurkannya. Mungkin itulah mengapa Ape pergi meninggalkan rumah, pulang ke rumah Layang dan meminta cerai.. Di tambah rasa cintanya kepada keonakanku Lexsus tidak bisa di buangnya. Akhirnya hanya penyesalan yang ia dapatkan."
"Indo.." suara Dina menghentikan obrolan ketiganya..
"Din, kemarilah.." Senna meminta Dina ikut bergabung.
"Apa yang perlu Dina bantu Indo?"
"Tidak usah, Dina.. Semua masakan sudah selesai di hangatkan.." ucap Senna
"Tugasmu hanya membuatkan Indo-mu ini cucu secepatnya… Indo ingin segera di panggil Nene.."
Dina tersenyum malu mendengar ucapan sang mertua. Ia tidak menyangka Indo memiliki karakter yang ceplas ceplos apa adanya..
"Ya, Indo.."
"Janganlah bersedih Dina.. Tidak ada dari keturunan Kamoga yang memiliki istri dua.." wanita yang bernama Soyya itu ikut membesarkan hati istri keponakannya.
"Iya, Bibi.." Dina mengangguk tersenyum..
"Assalamuallaikum…"
"Wa'alaikumsalam..."
Para wanita yang berada di dapur menjawab ucapan salam Laoka yang terdengar nyaring. Ketiga laki-laki itu sudah pulang dari masjid.
"Sambutlah suamimu pulang Dina.. Akan menjadi ibadah untuk kita para istri."
Menurut ucapan sang mertua, Dina melangkahkan kakinya ke depan.. Di lihatnya sosok pria dingin, hitam manis itu tampak gagah dan semakin tampan ketika mengenakan baju koko dan sarung… dengan peci hitam menutup kepalanya.
Tersenyum hangat, Dina meraih tangan Lexsus dan menciumnya dengan takzim..
"Inilah harta Daeng yang sesungguhnya Anri.. Kebahagiaan seperti ini." pria itu berkata pelan setelah mengecup kening Dina..
"Daeng mau ganti baju dulu? Atau mau langsung makan?" Dina menawarkan
"Kita akan makan di luar Anri.. Besiaplah.. Daeng akan membawamu pergi ke suatu tempat."
"Kemana?" Dina bertanya manja dengan melingkarkan tangan di pinggang Lexsus.
"Kejutan.." Lexsus berbisik di telinga..
Sesuai ucapan dan rencannya.. Malam ini Lexsus akan menghabiskan malam pengantinnya di salah satu hotel bintang lima yang sudah di pesannya.. Sebuah hotel mewah yang berada di tengah kota Makassar.. Tanpa memberitahukan kepada Dina kemana tujuannya.
Lexsus tidak ingin terjadi gangguan yang kesekian kalinya.. Yang akan membuatnya kepalanya di landa pusing tujuh keliling..
"Apa perlu Anri berganti pakaian?" Dina bertanya sambil memperhatikan gaun yang di kenakannya.
"Tidak perlu Anri.. Anri sudah sangat terlihat cantik mengenakan pakaian apapun.. Apa lagi gaun yang Anri sembunyikan."
Wajah Dina merona merah karena malu...
"Jangan lupa dibawa ya..."
****
Bersambung ❤
Jempolnya di mainkan teman-teman... Biar semangat nihh ngehalunya... Terimakasih untuk segala bentuk suportnya yaaa...