TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
AMPUN BESTIE



Sudah lima stel gaun yang Maya keluarkan dari dalam lemari pakaian. Seperti yang sudah di janjikan oleh Lingga, di jam makan siang, mereka memiliki janji kontrol bertemu dengan Dokter Hansel dan Dokter Arum di rumah sakit.


Setelahnya, Lingga mengajak Maya bersantap makan siang di salah satu restoran. Hampir 30 menit, Maya masih memilah milah gaun apa yang cocok untuk di kenakannya siang ini. Tidak lupa, Maya akan menggunakan WIG saat berada di luar rumah untuk menutupi kondisi kepala bagian belakang yang botak separuh pasca operasi.


"May, kenapa berantakan seperti ini?" terlalu serius dengan mencoba satu persatu gaun yang tergantung di lemari. Putrinya itu sampai tidak mendengar ketukan pintu.


"Kebetulan ada Umi." Maya menyambut senang kehadiran Umi Wanda. "Maya bingung Mi, harus mengenakan gaun apa?"


"Selain bertemu Dokter, Neng sama Abang ada acara apa siang ini?" Umi memastikan


"Tidak ada Mi, Abang cuma ngajak makan siang."


"Gaun Neng semuanya bagus. Buat acara apa saja sudah tersedia, Neng." Umi Wanda bicara sambil mengeser helai demi helai gaun yang tergantung dengan merk yang belum terlepas dari kainnya. Karena memang semua dress yang terpajang belum banyak di gunakan. "Kalau cuma untuk acara santai, makan siang, bertemu dengan orang luar, coba pakai yang ini." Wanda mengambil salah satu dres santai dengan warna soft.


"Cepat siap-siap, biarkan Umi yang merapihkan pakaian Neng.. Jangan sampai Abang menunggu lama. Lebih baik Neng datang lebih dulu."


"Terimakasih Umi, Umi memang yang terbaik." Maya merangkul Lengan Umi manja.


°°°°°


"Kang Oleh … hati-hati mengemudinya." Umi mengingatkan Kang Oleh sebelum mobil baru itu melaju membawa Maya.


"Baik, Umi. Laksanakan." Kang Oleh mengangguk sopan.


Bukan hanya interior yang terlihat mewah, suara mesin yang terdengar halus menjadi ciri khas mobil mahal itu. Maya sungguh tidak menyangka, lima bulan yang lalu. Dirinya masih berjibaku, naik turun angkutan umum dan ojek pangkalan. Saat ini, Maya bisa merasakan nyamannya berkendara.


"Alhamdulillah ya, Neng.." Kang Oleh bicara dengan tangan mencengkram stir kemudi dan pandangan fokus ke jalan raya. Pria yang duduk di balik kemudi itu sekarang terlihat lebih tenang pembawaannya dari sebelumnya yang pecicilan.


"Kehidupan Neng yang sekarang hasil dari buah kesabaran yang selama bertahun-tahun Neng harus jalani. Kang Oleh ikut seneng Neng.." Kang Oleh melanjutkan ucapannya.


Atas permintaan Maya dengan ancaman yang tidak mau mempekerjakan dirinya sebagai supir. Kang Oleh mau tidak mau memanggil Maya dengan panggilan lama, panggilan sebagai teman akrab. Pria itu hanya meminta kepada Maya untuk tetap di ijinkan memanggil Ibu saat bersama Lingga, dan Maya menyetujuinya.


"Iya Kang, kalau mengingat perjalanan hidup Neng kemarin, Neng sendiri masih belum percaya. Serasa mimpi kang, Neng masih berasa seperti hidup di negri dongeng yang bertemu dengan pangeran impian.." Maya menerawang perjalanan hidupnya ke belakang.


"Bukan hanya Neng Maya, Kang Oleh juga ikut senang mendengar kabar Neng Dina yang juga menikah dengan Bos Lexsus."


"Oh iya, sebentar Kang." teringat Dina, Maya mengeluarkan ponsel dari dalam tas dengan senyum sumringah. Mencari kontak bestienya yang masih berada di kota Makassar dan menghubunginya melalui videocall.


Tut … Tuuut … Tuuut …


Panggilan pertama belum mendapatkan respon. Maya mencoba lagi untuk kedua kalinya.


"Siaanggg Neeeengggg…….!!! Kelon aja teruuussss!!" Maya berteriak saat wajah bantal Dina terlihat dari layar ponsel.


Dina balas tertawa menanggapi ucapan Maya.


"Enak, Neng Mayaaaaa…..!!! Ganggu aja iihh… !! Kalau tadi pas nanggung gimana coba?" terdengar suara tertawa terbahak-bahak dari Dina.


"Huussttt… Jujur banget si Neng.." – Maya


"Ada yang ikut denger tau !!" – Maya


"Upsss.. Ada Abang ya Neng?" wajah Dina langsung berubah.


"Bukan Abang Neng.. Abang di kantor.." – Maya


"Lahh !! Terus siapa? Neng mau kemana ? Sama siapa?" Dina memberondong banyak pertanyaan.


"Diihhh... Nanyanya kaya sama Daeng saja.!" cibir Maya.


"Serius Neeengggg…!! Neng sama siapa? Emang Abang kasih ijin Neng jalan keluar rumah sendirian? Tidak mungkin terjadi Neng.." -- Dina


"Enggak.!! Sama Bodyguard tampan lah." ucap Maya bangga menggoda Dina.


"Neng siapaaaa? Gak mungkin Maka sama Mada?" jiwa kepo Dina meronta.


"Mau tahu aja apa mau tahu banget?" -- Maya


"Si Neng ya!! Bener-bener nih anak!!"


"Taraaaaa…." Maya memperlihatkan kamera ponselnya ke arah Kang Oleh.


Dengan mimik wajah terkejut berubah senang. "Kang Oooolleeeeeeehhhh…!!!" suara cempreng Dina terdengar menggelegar melalui ponsel, membuat Kang Oleh dan Maya menutup sebelah telinganya.


"Neng.. Gak pake teriak bisa gak?" -- Maya


"Enggak bisa.!!" ucap Dina di iringi tawa.


"Ya, Neng Dinaaa.." Kang Oleh tertawa nyengir melihat kamera, sesekali melihat jalan raya.


"Beehhhh…!! Kang Oleh sekerang bedaaa.. Dari si itik buruk rupa berubah menjadi angsa."


"Duuhh Neng. Itukan istilah buat wanita. Kang Oleh kan pria sejati.." Pria yang menjadi solmednya itu protes sambil membanggakan diri.


Sekembalinya Dina ke Ros Butiq… Dina sudah tidak menemukan keberadaan Kang Oleh dan Kang Ncup. Terakhir mereka bertemu saat di pemakaman. Kedua pria itu di rekrut oleh Lexsus untuk di gembleng menjadi pria yang bisa memegang senjata dan ilmu bela diri.


"Pria sejati tapi belum punya gebetan.." ejek Dina.


Ketiganya tertawa lepas bersamaan.


"Neng.. Cerita-ceritanya nanti di sambung lagi ya, kalau Neng Dina sudah pulang dari Makassar. Sudah mau sampai kantor Abang."


"Iihhh, Neeenngg… Masih kangen tauuuu…" Dina tidak rela Maya mengakhiri obrolan.


"Makanya cepetan pulang.. Nanti kita ngopi bareng.."


"Dan yang teraktir Kang Oleeehhh…" ucap Maya dan Dina bersamaan di iringi gelak tawa.


"Ampun dahh.." Kang Oleh tersenyum menggelengkan kepala. "Sudah pada kaya, masih saja memeras yang lemah."


"Ampuuunnn Bestiiieeeee…" ucap Maya dan Dina lagi… keduanya kompak bersamaan mengucap slogan yang sedang viral hingga membuat riuh di dalam kendaraan.


°°°°°


Untuk kedua kalinya, Maya menginjakkan lagi kakinya di gedung perusahaan Kabar Grup. Masih teringat jelas di ingatannya saat pertama kali ia masuk kedalam gedung ini, menemui resepsionis wanita yang bernama Ana dengan membawa berkas untuk menemui pria bernama Lingga Hanunggara.


Kang Oleh segera turun untuk membukakan pintu setelah mesin mobil mati dan kendaraan terparkir rapih di jalurnya. Beberapa karyawan yang keluar masuk gedung tampak memperhatikan kedatangan Maya. Tentunya BMW yang membawanya pun menjadi sorotan.


"Kang, malu." Maya bicara pelan setengah berbisik kepada Kang Oleh.


"Kenapa harus malu Neng? Tegakkan kepala. Neng sekarang istri dari pemilik perusahaan Kabar Grup.." Kang Oleh memberikan semangat agar Maya percaya diri.


"Tapi Maya risih kang.." Maya masih berdiri di samping pintu mobil. "Coba Kang Oleh lihat? Banyak yang memperhatikan kita?"


"Bukan memperhatikan kita, Neng.. Tapi mengagumi Neng Maya."


"Isshh, sih Akang mah.." gerutu Maya


"Hayuk, Kang Oleh harus mengantar Neng sampai dalam.."


Menjinjing tas mahal dengan heels gelang hitam 5 centi, Maya terlihat anggun sederhana, tapi tidak menghilangkan kesan mewahnya. Saat mengenal Anindirra, Maya banyak belajar dan memperhatikan cara istri dari sultan yang berteman baik dengannya itu dalam mengenakan pakaian dan aksesoris. Wanita sederhana dengan segala pesonanya itu menjadi inspirasi baginya.


"Selamat siang Buk Maya.." resepsionis yang pernah di jumpainya itu berdiri dari duduknya menyambut ramah kedatangan istri dari pemilik tempatnya bekerja.


"Selamat siang Mbak Ana… Bapak ada?" Maya balas bertanya dengan sopan.


"Bapak masih rapat Buk, sekitar 15 menit lagi selesai, dan Bapak berpesan kalau Ibu datang di minta menunggu di ruangannya."


"Pak Edi, tolong antar Buk Maya ke rungan Bapak Lingga.." Ana memerintahkan satu security yang baru keluar dari lift untuk mengawal Maya.


"Kang, Ayok!" Maya meyenggol lengan Kang Oleh saat pria itu tak bergerak mengikuti langkahnya.


"Lihat yang bening aja, lupa sama Maya." Maya melirik ke arah Ana yang juga tersenyum malu menunduk saat ada seorang pria yang menatapnya tak berkedip.


"Neng Maya saja yang ke atas. Kang Oleh tunggu di bawah. Sudah ada Pak Edi yang mengawal."


"Awas ya kalau modus." Maya mendelik dengan di balas cengiran Kang Oleh seraya menggaruk kepala.


"Enggak, Neng.. Janji." Kang Oleh menunjukan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan. "Kang Oleh cuma mau cari kopi di depan."


"Kopi apa kopi?"


"Sueerr Neng, Kopiiii.....


****


Bersambung ❤


Maaf ya bestiee.... Up-nya tersendat bahkan tidak tiap hari.. Banyak yang sedang di urusi di alam nyata.. Nanti kalau sudah aman.. InsyaAllah berjalan normal 🙏🙏 Terimakasih untuk segala bentuk dukungannya.. Semoga kita semua sehat..


Kang Oleh