
Mak Kom menyambut baik kehadiran Maya setelah Lingga memberitahukan statusnya. Hanya saja, pekerja itu tidak pernah menyangka, wanita yang ia tawarkan bekerja 3 bulan yang lalu akan menjadi majikannya.
Tetapi Mak Kom cukup senang, sikap Maya sangat jauh berbeda dari Alisa mantan Nyonya-nya. Maya mau turun ke dapur memegang peralatan masak, dan sikap Maya lebih ramah dengan tidak membuat jarak dan batasan kepadanya sebagai asisten rumah tangga.Tutur kata Maya pun lebih lembut dalam memerintahnya.
Di kamar utama.
Maya sedang memindahkan barang-barang miliknya dari dalam koper ke dalam lemari pakain. Hanya beberapa stel pakaian yang ia letakkan bersebelahan dengan tumpukan pakaian Lingga.
Celana, Kemeja, lengkap dengan jas dan dasi tersusun dan tergantung rapih di tempatnya masing-masing. Maya memperhatikan secara detail barang-barang Milik suaminya. Dari mulai koleksi jam tangan, sepatu, dari mulai sepatu kerja sampai sepatu santai. Di tambah deretan botol parfum mahal yang terpajang di dalam kaca khusus.
Walk-in closet itu penuh dengan barang-barang milik Lingga. Ia sudah tidak melihat satupun barang milik Alisa yang pernah di lihatnya, saat Lingga mengajaknya masuk ke kamar dan menciumnya untuk yang pertama kalinya.
Maya terkadang bertanya-tanya? Sekaya apa suaminya. Sampai tidak ada satupun barang milik Lingga yang berharga di bawah seratus ribu. Berbeda dengan dirinya, yang hanya mampu membeli pakaian yang di pajang di depan toko dengan tulisan 35 ribu per-item. Atau seratus ribu dapat 3.
Belum hilang rasa kagumnya akan barang-barang milik suaminya. Ketukan pintu terdengar bersamaan dengan suara Mak Kom memanggil.
"Bu.. Bu Maya."
"Masuk, Mak.."
Mak Kom masuk sambil membawa beberapa paperbag dan seorang pria berseragam mengekor di belakangnya dengan membawa dus besar.
"Apa ini Mak?" Maya terheran-heran
"Paket Bu. Kiriman dari Butiq." Mak Kom bicara sambil menyerahkan 3 paperbag ukuran besar. "Tadi Bapak telfon, Mak. Bapak pesan, Ibu di minta mengaktifkan ponselnya. Paswordnya tanggal pernikahan."
"Ponsel?" Maya membuka satu paperbag yang berisikan kotak Handphone.
"Mas, semua kardusnya tolong di bawa kemari ya.." Mak Kom bicara dengan pria yang bertugas sebagai kurir.
"Iya, Mak." Pria itu sepertinya sudah sangat mengenal Mak Kom.
Sebelumnya, sekitar 20 menit sampai di apartemen. Lingga ijin keluar, setelah mendapatkan telfon dari Lexsus. Pria itu meninggalkan Maya karena ada sesuatu hal yang harus ia selesaikan.
"Sudah ya, Mak.." Lima kardus besar sudah masuk ke dalam kamar. Sang kurir pun segera pamit.
"Iya Mas.." jawab Mak Kom
"Terimakasih, Mas.." Maya pun ikut bicara
"Ongkosnya sudah di kirim Bapak, Bu." kurir itu menolak dengan sopan saat Maya akan memberikan tip untuknya.
"Bu, Mak bantu bukakan ya kardusnya."
"Iya, Mak.." Maya pun membuka kotak ponsel dengan merk ternama.
Di keluarkannya satu ponsel keluaran terbaru yang sudah di aktifkan. Saat di buka, satu nama sudah tertulis di dalam kontak. ' Abang sayang '
Dan beberapa pesan masuk di satu aplikasi hijau yang sudah terpasang.
[ Semoga kamu suka ponselnya, Honey.. kamu bisa langsung hubungi Umi, Maka dan Mada ~ Lingga
[ Abang juga sudah memesan barang-barang dari Butiq untukmu.. kalau ada yang kurang, besok Abang pesankan lagi ~ Lingga
Maya mengetik pesan balasan kepada Lingga.
[Terimaksih, Abangku, Sayang.. Maya sangat suka.. Untuk barang-barangnya sudah cukup Abang ~ Maya
Meletakkan ponsel di atas tempat tidur, Maya ikut membuka kardus dalam ukuran besar itu. Ia terkesiap, saat tau apa isi di dalamnya. Berbagai macam model pakaian, lengkap dengan tas dan sepatu dengan brand terkenal. Maya menyentuh beberapa dres berbahan lembut dan adem dari lima brand berbeda. Salah satunya dari Ros Butiq milik Bunda Rossa.
"Terimakasih Bang, barang-barang yang Abang siapkan buat Maya, tak lebih besar berartinya dari rasa cinta dan sayang Abang buat Maya." Maya bermonolog. Merasakan rasa haru bercampur bahagia yang ia rasakan dengan kelopak mata yang sudah mengembun
"Bu, Ibu tidak apa-apa?" Mak Kom bertanya ketika melihat mata Maya bekaca-kaca
"Tidak apa-apa, Mak.. Maya cuma terharu, tidak menyangka Abang akan seperti ini."
"Iya, Bu.. Mak juga tidak menyangka Bapak seromantis itu sama Ibu." Mak Kom bicara sambil tangannya bekerja, merapihkan dan memasukkan pakaian Maya ke dalam lemari panjang.
"Padahal dulu sewaktu sama Bu Alisa. Bapak itu sangat pendiam. Mak tidak pernah lihat wajah Bapak seceria sekarang Bu.." Mak Kom melanjutkan ceritanya.
"Memangnya kenapa dengan Bapak dulu, Mak?" Maya sedikit mencari informasi
"Berangkat kerja, Ibu Alisa masih tidur. Tidak pernah sekalipun Bu Alisa Mau membuatkan kopi untuk Bapak. Pamitan saja tidak pernah, apalagi nganter sampai pintu.. Beda sama Bu Maya, kaya tadi ituh.. Adeeemmm..... Rasanya Bu, ngeliat Ibu nganter Bapak sampai pintu.. Cium tangan, cium kening, ciuuuummmm…" Mak, Kom terkekeh menutup wajahnya.
"Diiihh… Mak ngintip yaa.." Maya ikut tersenyum..
"Bukannya ngintip Bu, tapi gak sengaja lihat.. Mak juga kan pernah muda Neng.. Eehh.. Bu, maksudnya."
"Tidak masalah Mak.. Panggil saja Neng Maya seperti waktu sebelumnya.. Maya di panggil Ibu rasanya gimana gitu.. Tidak sopan, tidak nyaman, Mak.. Mak kan lebih tua dari Maya.. Dan Maya sudah menganggap Mak, seperti Umi dan Bunda.."
"Jangan, Bu.. Emak yang tidak sopan. Nanti apa kata Bapak.."
"Panggilan itu jangan di permasalahkan Mak, yang penting kita nyaman dan masih dalam batasan.. Anggap saja Maya, anaknya emak.."
"Iya dah, Neng.. Mak manut saja."
"Bapak sama Bu Alisa, apa tidak pernah sarapan bareng Mak?" Maya kembali bertanya, ia masih sedikit penasaran bagaimana hubungan Lingga dan Alisa sebelumnya.
"Tidak pernah Neng.. Ibu Alisa itu pemilih kalau soal makanan.. Bu Alisa tidak pernah mau makan masakan Mak."
"Kenapa?" Maya bertanya sambil menata peralatan make-up dan creamnya di depan kaca meja rias.
"Katanya masakan emak akan membuat Bu Alisa gemuk.. Bu Alisa selalu pesan catering khusus, Neng.. Emak masak cuma buat Bapak.. Itupun hanya untuk makan malam. Kalau pagi, Bapak cuma minta di buatkan kopi hitam."
"Tetapi makan malam selalu bersama kan Mak, hanya beda menunya saja."
"Enggak, Neng.. Bu Alisa itu selalu pulang tengah malam.. Kadang tidak pulang kalau lagi ke luar kota atau ke luar negri. Bisa 3 hari, kadang seminggu. Maaf, ya Neng.. Rumah tangga Bapak sama Bu Alisa itu rasanya hambar.. Kaya sayur tanpa garam gitu Neng.."
"Duuhhh.. Si Emak, sudah mirip Kang Oleh ngomongnya.." Maya tertawa kala mengingat temannya sesama pekerja.. Rindu rasanya dengan pria baik, petugas parkir itu.
"Siapa Kang Oleh Neng?" Mak Kom merasa tidak asing dengan nama itu
"Teman Maya sewaktu kerja, Mak.."
"Ooh …kirain si soleh. Emak juga punya keponakan namanya Solehudin. Kerja di Jakarta juga."
Setelah selesai menata barang-barang, Maya segera masuk kamar mandi, ia berencana akan turun ke lantai dasar, Maya akan berbelanja di supermarket 24 jam yang berada di area apartemen.
Maya ingin membeli ayam potong dan sayuran untuk makan malam dan sahur nanti. Kebetulan stok bahan makanan sudah banyak yang habis. Maya juga sangat menginginkan buah-buahan dan ice cream. Maya sudah mencatat segala kebutuhan bulanan yang harus di belinya.
Sebelum pergi, Lingga sudah mengembalikan lagi Gold Card kepadanya, di tambah dua kartu kredit dengan nama Bank berbeda.
****
Bersambung ❤️