
Masuk kedalam kamar.. Hembusan angin kencang terasa sangat dingin menusuk tulang memenuhi seisi ruangan. Lingga menutup jendela yang masih terbuka lebar, tidak perlu menggunakan AC sebagai pendingin ruangan, AC alami dari alam sudah membuat tubuh mengigil kedinginan.
Dilihatnya Maya, tengah meringkuk di bawah selimut dengan nyenyak. Duduk di tepi ranjang, sejenak memandang wajah damai yang nampak tenang dalam tidurnya. Menyentuh pipi, membelainya dengan lembut. Membuat Lingga ingin berlama-lama memandang wajahnya.
Melepaskan pakaian dan celana panjangnya, Lingga masuk kedalam selimut, setelah membersihkan diri. Menarik tubuh Maya agar lebih mendekat
"Bang.." Maya menyebut namanya, dengan mata terpejam, wanita itu hanya bergerak masuk kedalam pelukan Lingga dan melanjutkan kembali tidurnya. Entah sadar atau tidak, atau Maya bicara di alam bawah sadarnya. Wanita itu kembali terlelap. Lingga tersenyum melihat polah tidur Maya, pandangannya belum lepas dari wanita yang tengah ia dekap, wanita yang tampil apa adanya.
Lingga mengingat bagaimana Maya berusaha memuaskannya tadi saat berada di dalam mobil. Membuat Lingga semakin mencintainya, Dengan gemas Lingga menciumi seluruh wajah Maya tanpa disadari oleh pemiliknya.
"Kamu sangat berbeda, May.." Lingga bicara pelan. "Kamu mampu menundukkan Abang dengan apa adanya dirimu. Kamu juga wanita hebat. Mampu bertahan dengan kondisi tertekan. Kamu wanita pekerja keras, kamu bahkan tidak malu melakukan pekerjaan apa saja."
Lingga meraih tangan Maya, memperhatikan telapak tangan dengan jari-jari lentiknya. Sungguh saat itu, hati Lingga tersayat tidak tega, ketika mendapat informasi Kalau Maya bekerja sebagai pengupas bawang selama sebulan sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan di toko pakaian kawasan alun-alun kota Magelang.
"Abang akan membahagiakanmu, May.. Abang tidak akan pernah membuatmu menderita lagi. Beruntungnya, Abang bisa bertemu dan mengenalmu. Dan Abang tidak akan mengijinkanmu bekerja, apapun alasannya. Abang yang akan bekerja keras dan mencukupi segala kebutuhanmu, Umi dan adik-adikmu."
Lingga teringat akan ucapan Maya, saat Lingga melamar di ketep pass lereng gunung merbabu saat pagi hari tadi. Wanita itu meminta di ijinkan untuk melanjutkan bekerja di butiq Tante Rosa saat kembali ke Jakarta dengan alasan, Maya ingin membantu biaya sekolah adik-adknya.Saat bicara, mengutarakan keinginannya, wanita itu belum sadar atau memang lupa siapa suaminya. Faktor terbiasa bekerja mencari nafkah untuk kebutuhannya. Maya masih berfikir dan menyamakannya saat ia bersama Haris.
°°°°°
Maya terbangun dari tidurnya, ia ingin ke kamar mandi karena air kecil yang harus di keluarkannya.. Ia merasakan tangan Lingga yang melingkar di pinggang tengah memeluknya. Dengan perlahan, Maya mengangkat tangan itu untuk di taruh di sampingnya. Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 4 pagi, suhu udara semakin dingin, kalau tidak benar-benar kebelet enggan rasanya menyentuh air. Dengan pelan ia beranjak bangun menurunkan kaki menyentuh lantai yang juga terasa dingin.
Terasa lega saat selesai membuang air kecil yang membebani kantung kemihnya, sekalian membersihkan area wanitanya. Mengambil pasta gigi, Maya baru teringat saat akan tidur ia belum sempat menggosok giginya. Tidak sanggup berlama-lama di dalam kamar mandi, air yang keluar dari kran sudah menyamai dengan dinginnya air es.
Mengigil kedinginan, Maya segera naik ke tempat tidur masuk kedalam selimut di samping Lingga dengan memunggungnya Baru saja ia akan kembali melajutkan tidurnya .
Tangan kokoh Lingga sudah melingkar kembali memeluk pinggangnya, Maya dapat merasakan tubuh Lingga bergeser semakin mendekat. Tidak ada suara yang terdengar, hanya gerakan tangan yang tiba-tiba mengusap perut Maya.
Terus mengusap dengan pelan dan masih tak ada suara janya hembusan nafas hangat yang di rasa. Maya membiarkannya, ia pikir tangan Lingga akan kembali terdiam dan melanjutkan tidurnya. Tetapi perkiraannya salah..
Tangan itu menelusup masuk kedalam baju, terus naik keatas, meraba bukit kembar yang sudah tidak memakai pembungkusnya. Tangan itu Mulai memilin ujungnya, sesekali meremat.
Seketika, tubuh Maya meremang.. dengan cepat ia terbawa arus.. Seakan tersetrum aliran listrik yang mampu menggetarkan dan membuat panas aliran darahnya.
"Abang pingin lagi?" denga suara tertahan, seakan menahan nafas.. Maya bertanya masih dengan posisi memunggunginya.
Tidak ada jabawan, tetapi Maya mulai mersakan sapuan halus bibir Lingga di pundaknya. Maya kembali bergetar ketika sapuan itu berubah dengan sesapan..
"Banggg.." mulutnya berdesis, merasakan kulit pori-porinya serasa terbuka lebar, gelenyar panas denga hasrat yang datang sedang di rasakannya.
Puas mengecupi punggungnya .. Lingga menelentangkan tubuh Maya.. Aroma mint yang keluar dari mulut Maya membuat Lingga tak kuat untuk tidak menciumnya. Cecapan dan Lum**an ia lakukan, memakan habis bibir Maya dalam belitan lidah bertukar saliva.
Tak sejengkal pun terlewati, ciuman itu terus turun ke leher, ke sisi telinga hingga dada.. Mel**mat lahap pucuk yang mencuat dengan warna pich.
"Banggg.." Maya meremat rambut Lingga saat dirasa sesapan itu terlalu kuat. "Nghhh…" Maya melenguh, menggeliat, saat kepala itu terus bergerak turun ke perut yang belum banyak berubah, lidah dan bibir itu tak berhenti dan terus menjilat.
Geli dan rasa nikmat bercampur menjadi satu.. "Baaaangggg…" kali ini Maya melenguh panjang saat wajah Lingga sudah berada di antara ke-langkangnya..
Maya ikut mengerakkan tubuhnya, dengan sedikit mengangkat pinggulnya saat lidah itu bermain, menggelitik, menekan area sensitivnya..
"Aaahhh…. Banggg…." tubuhnya menegang dengan pinggul yang semakin terangkat dan kembali di tahan oleh tangan Lingga..
"Abang sudahhh… Ahh.. Bang.." Maya tak kuat menahannya, ia mengingikannya
Lingga mengangkat kepalanya setelah menyelesaikannya dengan sempurna..
Pria itu tersenyum puas saat Maya berhasil mendapatkan pelepasan.
Mengganjal bokong Maya dengan bantal, Lingga mulai mengarahkan miliknya yang sudah siap, bak roket yang siap meluncur terbang meluluhlantahkan sarang musuhnya. Dan Lingga melarang Maya untuk membersihkannya lebih dulu..
"Biarkan, May.. Abang suka.."
"Tapi Bang, biarkan Maya ber.." belum selesai ucapannya.. Miliknya terasa penuh dan sesak saat milik Lingga melesak masuk penuh tak tersisa.
"Mmmhhh…" mengigit bibir menahan suara.. Maya menggapai, mencari pegangan ke sprei kanan kirinya, ia tidak bisa menggapai tangan dan bahu Lingga saat, tangan kokoh itu memegang pinggulnya. Dengan Lingga yang mulai bergerak, mendorong dan menarik sesuatu yang semakin mengeras.
"Hahhh… May…" Lingga ikut mengeluarkan suara, ia tidak bisa untuk tidak menyebut nama Maya, dan memujinya..
"Oh… Mayyy… kamu membuat Abang menginginkannya lagi dan lagi May…" Lingga terus bergerak berubah cepat, setelah mengangkat kaki Maya, di letakkan di pundaknya.. Cukup lama.. Dan bertahan dengan lama. Dengan kaki Maya yang berpindah membelit pinggang Lingga
"Bang.. Ahhh…" tubuhnya terguncang, mendapatkan hentakan yang semakin kuat, semakin kencang … keduanya sama-sama terbang ke surganya dunia, terbang bersama menuju indahnya nirwana..
Saling mengucapkan kata cinta dan mengungkapkan sayang dengan bahasa tubuh dan sorot mata yang saling mendamba, saling memuja..
Titik itu hampir sampai, semakin datang, dan akan segera di raih keduanya.
"Bareng May, kita lepaskan bersama.. Tunggu Abang, May.."
"Banggg… Cepettt…" Maya semakin kuat mencengkram saat di rasakan titik itu semakin kuat dan akan menyembur keluar.
"Oh, Mayaku… Akhhhh.."
Lingga mengerang bersamaan dengan Maya yang juga melepaskan lahar hangat dari miliknya
"Abangggg…" dengan suara pelan
Lingga terkulai di atas tubuh sang wanita dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher Maya.
Satu jam setengah permainan, di rasakan cukup untuk pagi ini.. Di dalam ruangan bersuhu dingin yang berubah menjadi panas dan berkeringat..
"Terimaksih, May.."
****
Bersambung ❤️