TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
JAIL



Selama 1 jam 55 menit berada di dalam pesawat. Kini, pesawat terbang yang membawa Lingga dan Maya sudah mendarat dengan selamat di landasan Bandara Soekarno Hatta tepat pukul satu siang.


Keduanya berjalan bersisian melangkah keluar dari area kedatangan, setelah sebelumnya mengambil koper di bagian bagasi. Saling menautkan jemari, Lingga menggenggam tangan Maya dengan menyeret koper berjalan keluar dari terminal 1A menuju lobi.


Wajah pias terlihat di wajah Maya saat ia kembali menginjakkan kaki di wilayah Cengkareng menuju Jakarta. Kota yang ia tinggalkan 3 bulan lebih lamanya. Masih jelas di ingatannya, akan ucapan Haris yang memintanya pergi menjauh, sejauh mungkin bahkan tidak kembali lagi.


"Kenap, May? Lingga bertanya saat dirasa telapak tangan Maya terasa dingin berkeringat. Lingga sadar, istrinya sedang merasakan nervous


"Tidak, Bang.." dengan berjalan lambat, Maya tersenyum di paksakan.


"Ada Abang, jangan khawatir, Ok.." melepaskan genggaman, berganti merangkul pundak Maya. Lingga berusaha memberikan kenyamanan kepada Istrinya.


"Ayo.. Lexsus sudah menunggu di depan."


Maya mengangguk dengan melingkarkan tangan di pinggang Lingga.


Banyak pasang Mata yang memperhatikan kemesraan keduanya. Mulai dari yang tua sampai yang muda, pria dan juga wanita, mereka di buat iri dan ternganga melihat sepasang pengantin yang berjalan melangkah dengan mesra.


Lima meter lagi akan sampai di pintu keluar. Maya melihat wanita yang sangat di kenalnya, berdiri di samping Lexsus. Lebih tepatnya Maya merasa di buat terkejut akan keberadaan Dina bersama Lexsus dengan jemari Dina yang berada dalam genggaman tangan Lexsus.


Begitupun dengan wanita itu, Dina terkejut saat melihat kedatangan Maya, ia baru tersadar bahwa Lexsus mengajaknya ke bandara untuk menjemput Maya dan Lingga. Ini adalah kejutan yang Daeng Lexsus berikan untuknya.


Dengan spontan Maya melepaskan rengkuhan tangannya di pinggang Lingga. Wanita itu berteriak memanggil nama kegirangan, bersamaan Dengan Dina yang juga melepaskan tautan jemarinya dari tangan Lexsus.


"Dinaaaaaaa...!!"


"Mayaaaaaaa...!!"


Lingga terkejut, seraya menutup telinga kirinya. Begitupun dengan Lexsus ia pun menutup telinganya mendengar teriakan Dina.


Kedua wanita itu sama-sama berlari saling mendekat dengan luapan hati yang teramat bahagia.


"May …jangan lari!" Lingga mengkhawatirkan kandungan Maya … tetapi percuma, ucapannya tidak di dengar Maya. istrinya tetap berlari menuju sahabatnya.


"Din."


"May."


Keduanya saling berangkulan sangat erat, saling menitikkan airmata.


"May, kangen.." Dina tergugu menangis. Sungguh, ia sangat merindukan Maya.


"Aku enggak Din, aku hanya kangen Cilok." Maya sengaja menggoda Dina.


"Maaayyy… kamu tega ihh !! Dina semakin menangis dengan wajah cemberut dan kaki di hentakkan. Ia mengurai pelukan, bersiap akan melanjutkan ocehan. Tetapi tertahan saat menyadari kedatangan Lingga.


"Hai.. Din." Lingga tersenyum menyapa.


"Abang.. Maya tuh keterlaluan! Sudah di kangenin berabad-abad malah nyebelin!" Dina mengadu kepada Lingga. "Gak tau apa? Kangen itu berat." Dina mengusap airmatanya.


"Din, itu ucapan Abang. Jangan di ambil." Maya menjawab dengan menahan tawa.


"Bodo amat!" Dina masih kesal di buatnya.


"May… kamu jail ya.." Lingga mengusak rambut Maya


"Udah lama Bang, gak buat Dina kesal. Kan rugi gak di jailin… kangen.." Maya terkikik dengan mengulurkan tangan agar Dina memeluknya lagi. Keduanya kembali berangkulan, melepaskan rindu yang teramat dalam.


"Selamat datang, Pak.." Lexsus menyambut dan menyapa hormat.


"Terimakasih Lex.." ucap Lingga


"Din, kamu kog bisa sama lexsus? Kalian..??" Maya bertolak pinggang dengan tatapan menyelidik.


"May, di tunda dulu, mengintrogasi Dina. Bunda sudah menunggu untuk makan siang." Lingga menarik Maya dari pelukan Dina.


"Anri.. tidak boleh begitu." Lexsus menengahi. Ia memang belum banyak melihat keakraban dan polah Dina dan Maya. Tetapi sedikit banyaknya Dina sudah banyak bercerita tentang kedekatannya dengan Maya dan Kang Kang Oleh.


°°°°°


Dua jam sebelumnya, Dina mendapat telfon Dari Daeng Lexsus untuk bersiap-siap. Pria itu sedang dalam perjalanan menuju Butiq dan akan menjemputnya. Bahkan pria itu telah meminta ijin kepada Tante Rossa untuk membawa Dina pergi.


Lima menit setelah panggilan berakhir, Dina kembali mendapat telfon dari Tante Rossa, pemilik Ros Butiq. Wanita itu memerintahkan-nya untuk menutup Ruko.


Masih belum mengetahui akan di ajak kemana. Tanpa banyak bertanya Dina bersiap-siap menutup ruko. Selesai dengan tugasnya, Dina sudah menunggu di depan. Menunggu pria yang akan menjemputnya. Pria yang telah menjadi kekasihnya.


"Kenapa tutup Neng?" Kang Oleh bertanya dari kejauhan.


"Mau pergi Kang.." Dina menjawab setengah berteriak. Yang di acungi jempol oleh Kang Oleh. Pria itu sedang sibuk saat menjelang makan siang. Banyak para langanan warung makan yang membawa kendaraan.


Toyota Fortuner milik Lexsus berhenti tepat di depan Dina, banyak pasang mata sesama pekerja yang memperhatikan, seakan bertanya-tanya saat Lexsus membukakan pintu untuk Dina.


Sebenarnya Dina merasa sedikit risih, tetapi ia berusaha untuk terbiasa, mengingat pria itu tidak bisa di tolaknya ketika berulang kali menjemputnya.


"Daeng kita mau kemana?" Dina bertanya setelah masuk kedalam mobil.


"Ke Bandara." Lexsus menjawab dengan terus melajukan mobilnya keluar dari kawasan jalan kenangan menuju jalan raya dan masuk tol ke arah Bandara.


"Bandara? Jemput siapa?" Dina bertanya


"Kejutan. Kamu akan tau sesampainya disana."


"Ishh.. pake rahasia-rahasiaan.." Dina mengerucutkan bibirnya.


Lexsus hanya tersenyum simpul melihat Dina. "Hari ini kamu cantik Anri." Lexsus memuji Dina. Sungguh sangat di luar dugaan. Pria manis itu menyanjung, mengeluarkan kata-kata pujian yang membuat pipi Dina merona malu. Wanita itu tersanjung bukan kepalang seakan mau melayang.


"Berarti kemarin Dina tidak cantik ya Daeng?" Dina menjawab sekaligus bertanya.


"Cantik Ri… sangat cantik.." hanya saja hari ini kecantikanmu bertambah berkali kali lipat. " Lexsus yang biasanya tak banyak bicara hari ini mau mengumbar kata.


"Daeng sudah mengabari Indo dan Ambo. Pulang lebaran nanti, Daeng akan membawamu juga."


"Apa tidak terlalu cepat Daeng? Apa orangtua Daeng akan menerima Dina." Rasa khawatir mulai di rasakannya. Mengingat akan statusnya sebagai janda dan sudah tidak memiliki orangtua. Dina tertunduk terdiam.


Hingga tidak terasa mobil yang di kendarai Lexsus sudah tiba, masuk area Bandara dan berhenti di parkiran terminal 1A.


Berbalik menghadap Dina, Lexsus meraih tangan Dina. "Jangan takut, Indo dan Ambo yang meminta agar Daeng segera pulang dengan membawa calon Istri." Lexsus meyakinkan Dina, tangannya berpindah, membelai pipi Dina seraya mengangkat Dagu.


Keduanya saling menatap, dengan wajah Lexsus yang semakin mendekat. Bibir coklat itu meraih bibir Dina yang berhasil menggodanya. Siang ini Lexsus sudah tidak bisa menahannya.


Disaat wanita lain akan memejamkan matanya. Berbeda dengan Dina, Kedua bola matanya melotot seketika, dadanya seakan mau copot di buatnya. Ia berharap Lexsus tidak akan mendengar detakan jantung yang berdetak kuat tak beraturan.


Menahan nafas, bibirnya kaku tidak bisa di gerakkan. Selama menjalani pernikahannya yang pertama, Dina sama sekali tidak pernah mau melakukan ciuman, saat melayani suaminya pun ia dalam keadaan terpaksa.


Ciuman itu terbantu dengan gerakan bibir Lexsus yang lebih lincah dan berpengalaman. Ya, Lexsus banyak menghabiskan waktu kosongnya di club malam dan saat ada bisnis yang harus di kerjakan, ia akan di temani wanita malam walau hanya sebatas kissing.


"Bernafas Anri.. Lexsus berbisik …memberi ruang dan melepas pagutan bibirnya. Lexsus tersenyum saat menyadari wanitanya masih polos.


****


Bersambung ❤️


Maaf ya.. Untuk Diego dan Aulia belum aku buatin.. Jujur saja, aku belum dapat Feel-nya.. Malah lebih dulu dapet Feel Lexsus dan Dina yang sudah aku garap.


Untuk kelanjutan Lexsus dan Dina aku pindah di judul yang lain.


Insyallah kalau tidak ada halangan seminggu lagi aku UP..