TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MAYA ATAU ALISA



"Siapa Alisa Bunda?"


"Bunda tidak punya hak untuk bicara, menyampaikan-nya kepadamu Ling.. Bertanyalah kepada Lusiana. Pesan Bunda, apapun yang kamu dengar dan yang sudah kamu ketahui, jangan pernah membenci Lusiana. Wanita itu tetap akan menjadi Mamamu."


"Lusiana juga korban sebuah keadaan. Dengan cara apa Lusiana mengikat Papamu, kita tidak berhak menghakiminya. Yang pasti, Dia begitu mencintai Papamu."


"Bersikap adillah kepadanya Ling.. Bunda yakin, Mama Lusi sangat menyayangimu bukan?"


Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Rossa mengusap kepala Lingga yang berada di pangkuannya. Saat sedang bermanja-manja seperti ini. Rossa akan selalu mengangap pria itu menjadi Bayi kecil lucu yang mengemaskan.


"Jadikan jalan hidup dan takdir kami sebagai pelajaran untukmu agar bisa memutuskan segala masalah dengan bijaksana dan berani. Kamu harus bisa memutuskan sesuatu yang tidak akan kamu sesali di kemudian hari."


"Soal keputusanmu terhadap Alisa. Bunda tidak akan ikut campur. Bunda anggap kamu sudah cukup dewasa untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah. Bunda percaya kamu memiliki alasan yang kuat, kenapa sampai kamu melakukannya.."


"Bunda hanya ingin melihatmu bahagia dengan wanita pilihanmu.."


"Terimakasih, Bunda.." seperti tersiram air sejuk yang mampu meredam panasnya bara api.. Ucapan wanita itu memberikan-nya ketenangan, kesejukan, menunjukkan-nya arah kemana ia harus melangkah.


"Ling.. Boleh Bunda bertanya sesuatu?"


"Katakan Bu, apa yang ingin Bunda tanyakan?" Lingga bangun dari pangkuan Rossa, dan menatapnya.


"Apa.. Kamu benar-benar mencintai Maya? Jawab yang jujur Ling?"


"Ckk.. Lingga berdecak dengan wajah menegang malu yang di palingkan agar Rossa tak melihatnya. "Pasti anak nakal itu sudah mengadu kepada Bunda."


"Sepertinya Bunda, saat ini sedang menghadapi anak perawan yang sedang ketahuan jatuh cinta." Rossa melipat bibir menahan tawa. "Seandainya wanita wajahmu pasti sudah memerah."


"Apa Lingga, salah Bun?" pria itu bertanya dengan menyandarkan punggungnya di sofa. Perasaan Lingga kepada Maya, tidak sama saat Lingga bersama Alisa."


"Apalagi Alisa sudah.." Lingga terdiam tak sanggup menyampaikannya.


"Tidak harus di ceritakan Ling.. Simpanlah untuk dirimu sendiri jika menurutmu itu yang terbaik. Aib istrimu, adalah Aibmu.. Selesaikan segalanya dengan baik."


Rossa meraih tangan Lingga dan mengenggamnya. Ia menyalurkan kekuatan, memberikan kepercayaan untuk pria itu menyelesaikan masalahnya.


"Kita tidak pernah meminta dengan siapa kita jatuh cinta bukan? Cinta yang kamu miliki untuk Maya tidak pernah salah."


"Dengan cara apa hati kalian terikat pasti ada sebabnya. Hanya saja saran Bunda, kamu selesaikan dulu masalahmu dengan Alisa jika itu yang ingin kamu selesaikan. Dan seandainya kamu masih ingin mempertahankan rumah tanggamu, lepaskan Maya. Jangan serakah untuk memiliki keduanya, karena pada akhirnya akan membuat hati keduanya terluka."


"Tidak ada manusia yang bisa bersikap adil. Tidak ada wanita yang sanggup berbagi. Kalaupun ada. Satu banding seribu di dunia ini, Ling."


"Ya, Bunda.. Lingga mengerti. Dan terimakasih sudah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Lingga. Saat ini yang Lingga butuhkan hanya doa restu Bunda."


"Doa restu ? Untuk siapa? Maya atau Alisa?" kelamaan bergaul dengan Dina dam Maya. Tante Rossa bisa berubah menyebalkan dengan senang menggoda sang korban.


"Haisss... Bunda sama saja dengan Lendra.. Menyebalkan!"


Membuat Rossa dan Lingga tertawa lepas bersamaaan untuk pertamakalinya. Pria itu terselamatkan dari godaan Rossa selanjutnya saat Bik Mar menyampaikan kalau makan malam telah siap.


"Buk, makan malam sudah siap."


"Kita makan dulu, Ling.." berdua berjalan menuju ruang makan dengan Rossa yang bergelayut manja di lengan Lingga.


"Apa Bunda selalu seperti ini kepada Papa?" Lingga bertanya


"Menurutmu?" Rossa menjawab dengan tersenyum mengedipkan matanya.


"Pantas saja! Papa jarang pulang. Bunda ternyata wanita penggoda."


"Kamu akan merasakannya nanti saat bersamaaa...."


"Bersama siapa?" Lingga penasaran dengan ucapan Rossa


"Dengaaannn...." Rossa membisikkan satu nama wanita ke telingga Lingga.


Hingga keduanya kembali tertawa bersama.


"Ohh, Bunda senang mendengarnya."


"Dan Papa tidak akan membiarkan itu terjadi." tiba-tiba suara Cjokro menghentikan langkah Lingga dan Rossa. Ia cukup puas mendengar pembicaraan keduanya.


Cjokro menatap haru bercampur bahagia saat dua orang yang di cintainya telah bersatu dengan damai. Bukan hanya hubungannya dengan Lusiana yang menjauh dan memburuk selama ini.


Tetapi hubungannya dengan sang putra-pun sama jauhnya sama buruknya. Sudah terlalu lama sekali, kedua pria itu tidak pernah menghabiskan waktu bersama untuk sekedar bicara selain membahas pekerjaan yang di lakukan di kantor.


"Apa kamu tidak ingin berbagi kehangatan dan memberikan kesempatan kepada pria tua penuh dosa ini Ling?"


"Aku sudah cukup renta kalau harus terus berperang denganmu.. Aku memasang bendera perdamaian Lingga.. Bagaimana?" sorot mata Cjokro penuh pengharapan.


Rossa mengangukkan kepala saat Lingga menatapnya. Ia menitikkan airmata lagi saat menyaksikan dua pria yang menjadi cinta pertamanya saling berpelukan.


Seperti mimpi di siang hari. Petang ini. Rossa mendapatkan kejutan. Ia masih tidak percaya sehingga ia harus mencubit lengannya sendiri.


Lingga dan Cjokro bersamaan mengulurkan tangan agar Rossa ikut bergabung.. Merangkul bersamaan dengan di saksikan Mang Ujang dan Bik Mar yang tanpa sadar ikut berpelukan juga


"Astagfirullahalazim... Bukan muhrim." Bik Mar menepuk lengan Mang Ujang.


Plakkkk..!!!


°°°°°


Disaat seorang anak dan orangtua sudah berdamai dengan kenyataan hidup yang di jalaninya. Bahkan mereka sedang menikmati makan malam bersama di barengi senda gurai.


Ketegangan terjadi di kediaman Lusiana. Meninggalkan rumah sakit, Sanjaya nekat mendatangi kediaman Cjokro dan mantan istrinya.


"Ini semua karenamu Lus! Kamu yang memiliki ide agar Alisa mendekati Lingga. Putriku bahkan sampai harus berpisah dengan kekasihnya Steven. Demi menuruti keinginan Mamanya."


"Kamu lihat apa yang terjadi? Saat putrimu sudah mulai mencintai Lingga, putra angkatmu itu malah menggugat cerai Alisa! Apa belum puas kamu membuat putriku menderita?"


"Sudah cukup kamu membuatnya menderita Lusi!! Kamu meninggalkannya dari kecil dan lebih memilih mengurus anak yang bukan darah dagingmu!"


"Kenapa kamu menyalahkan-ku? Bukankah dari awal kamu menyetujuinya? Kenapa sekarang seolah-olah aku yang salah? Aku lakukan semuanya demi masa depan Alisa! Apa kamu lupa bagaimana keadaan Steven saat ini? Apa yang bisa di harapkan dari pria blasteran itu?"


"Tidak ada! Pria itu malah merusak Alisa dengan berakhir di balai rehabilitasi."


"Tapi paling tidak pria itu tulus mencintai putriku. Tidak seperti putra angkatmu yang sangat dingin dalam memperlakukan Alisa. Dan aku tidak akan pernah terima atas perlakuannya."


"Jangan memperburuk keadaan Sanjaya! Lingga bersikap seperti itu karena memang Alisa melakukan kesalahan! Putri kita kedapatan sedang bersama Steven saat penangkapan. Kita tidak bisa menutup mata dengan apa yang Alisa lakukan."


"Berdoa saja, Lingga tak mendapatkan bukti yang sedang di carinya."


"Apa kamu yakin Lingga belum mendapatkan bukti? Bahkan dia sudah berani mengancam dan membantah ucapanku saat di dalam ruang perawatan."


"Aku pastikan Lingga tidak akan menceraikan Alisa.. Aku pastikan.. Aku masih memiliki kartu AS dan aku sangat mengenal baik bagaimana putraku."


"Pergilah.. Sebelum Cjokro kembali."


"Aku pegang ucapanmu Lusi. Kalau sampai kamu tidak bisa meyakinkan Lingga. Akan aku bongkar kebohongan yang sesungguhnya kepada pria itu."


"Kamu terlalu tega dengan mengorbankan anak-anakku."


"Berhenti mengancamku Sanjaya! Cepat tinggalkan rumah ini." Lusi berteriak "Jangan pernah datang menemuiku di rumah ini. Kita bisa bertemu di tempat biasanya."


****


Bersambung ❤️


Aku.. Ter.. Terrrr rayu oleh rayuan maut para readers yang meminta up lagiii... Menyogok dengan bunga dan menawarkan kopi hangat buatku.. Aku lemah.. Harusnya part ini aku up besok, dengan tulus ikhlas aku up malam ini... Hehehe... Pisss ✌️✌️ahhh


Terimakasih yaaakkkk.....