
"Neng.. Umi datang.. Maka dan Mada juga ikut. Mereka ada di luar.." Umi Wanda mengajak Maya bicara.
"Bangun ya, Neng. Kasihan Abang kalau Neng kelamaan tidur.. Abang tidak ada yang ngurusin. Neng pernah bilang sama Umi … katanya mau belajar jadi istri sholehah yang selalu mendampingi suami? Kalau mau menjadi istri sholehah harus kuat, jangan lemah, Neng."
"Saat hari raya nanti, Umi kepengen ngenalin menantu Umi keliling kampung. Tetangga di kampung bilang, suami Neng Maya ganteng.. Katanya menantu Umi gagah, keren, terkenal. Orang-orang di kampung lihat di TV Neng, waktu Neng bulan madu di Lombok. Pernikahan Neng sama Abang masuk di acara gosip. Sekarang saja beritanya masih ramai Neng di perbincangkan Neng."
"Ohya Neng.. Bik Hima, Mang Handoko, Dania, Dika, kirim salam. Mereka semua mendoakan supaya Neng cepat sehat, kalau tidak ada halangan Bik Hima akan datang berkunjung."
"Oh iya, Umi sampai lupa, ada salam juga dari Daksa dan temannya … siapa yaa, namanya? Umi kog lupa namanya?"
Umi wanda tampak berpikir.. "Umi inget Neng, Nak Gala.. Nagala Braja. Bik Hima cerita sama Umi katanya Daksa dan Gala sedang berada di Jakarta."
"Cepat bangun ya, Neng.. Umi tunggu.. Umi tidak akan pulang kalau Neng belum bangun. Nanti malam selesai tarawih.. Akan ada acara kirim doa ( tahlil ) untuk si kasep cucu Umi.
"Umi tinggal dulu ya, Neng.. Besok Umi datang lagi." Umi Wanda mengecup pipi Maya sebelum ia melangkah meninggalkan ruangan.
°°°°°
Salah seorang penjaga melaporkan kepada Cjokro bahwa ada seorang wanita yang datang ingin menemuinya. Wanita itu memaksa dan tidak akan pulang sebelum bertemu dengan Tuan Cjokro atau Sutan Lingga. "Maaf, Tuan kami sudah meminta wanita itu untuk pergi, tetapi ia tetap memaksa."
"Biarkan Bunda saja yang menemuinya Pa." Bunda Rossa sudah sangat paham, siapa wanita yang dimaksud itu siapa. Dia tak lain adalah Lusiana.
"Bunda yakin?" Cjokro tampak cemas, ia tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan menimpa Rossa.
"Sangat yakin. Papa jangan Khawatir, Bunda sangat kuat dari yang Papa pikirkan." Bunda Rossa tersenyum seraya mengusap bahu suaminya.
"Baiklah, jangan lama-lama."
Dengan di kawal satu pengawal, Bunda Rossa menuju ruang tunggu yang berada di luar ruang perawatan. Rossa tak mengijinkan Cjokro ataupun Lingga menemui Lusiana. Dilihatnya wanita itu tengah duduk menunggu. Dan, Lusiana cukup terkejut saat mengetahui siapa yang datang menemuinya.
"Yang ingin aku temui Cjokro atau Lingga, bukan dirimu Rossa!" Lusiana berdiri dengan seraya berucap.
"Aku tidak memberikan ijin, suami maupun putraku bertemu denganmu." Rossa melangkah mendekat ke arah dimana Lusiana berdiri. "Katakan? Ada keperluan apa sehingga membuatmu datang kemari? Aku yakin kamu kemari bukan untuk menjenguk menantuku."
"Aku akan bicara kalau Cjokro yang menemuiku. Dan apa yang ingin aku bicarakan tidak ada urusannya denganmu Rossa." Lusiana menjawab.
"Kamu salah Lus. Disaat Cjokro mencerikanmu dan disaat Lingga sudah mengetahui kebenarannya, apapun yang bersangkutan dengan Cjokro dan Lingga akan menjadi urusanku." suara Rossa terdengar tegas
"Aku sarankan, pulanglah.. Disini bukan tempatmu.. Jangan memperburuk keadaan, kami sedang berduka.. Dan kami sudah cukup sabar atas apa yang telah putrimu perbuat kepada menantu dan cucuku."
"Selama puluhan tahun aku sudah banyak mengalah kepadamu. Tetapi tidak untuk sekarang! Aku akan menjaga keutuhan keluargaku dari wanita licik sepertimu!"
"Hubunganmu dengan Cjokro dan Lingga sudah selesai. Apa harap kamu masih memiliki rasa malu?" Rossa masih bicara
"Jangan lupa Rossa. Sebelum kamu berada di posisi sekarang, aku yang lebih dulu menikmatinya. Dan aku yang sudah mengurus Lingga sampai ia dewasa." Lusiana tampak tidak terima.
"Aku tidak menutup mata kalau kamu sudah mengurusnya. Akan tetapi, apa kamu lupa? Air susu siapa yang di minum setiap harinya oleh Lingga? Aku.. Lingga meminum air susu ibu kandungnya sendri. Dan kamu? Apa yang sudah kamu berikan? Kasih sayang palsumu itukah? Hanya demi sebuah ambisi dan tujuan, kamu dengan tega merebut putraku atas dalih sebagai ganti kematian anakmu bersama Sanjaya yang kamu akui sebagai anak dari Cjokro."
Lusiana terdiam mendengar ucapan Bunda Rossa. Ia tidak menyangka wanita yang di anggapnya lemah selama ini, sekarang berubah akan seberani ini. Tak bisa menjawab, Lusiana menjinjing tasnya pergi meninggalkan Rossa.
°°°°°
Saham yang di miliki Berita Grup anjlok, merosot drastis setelah salah satu program acara di stasiun TV miliknya mengangkat sebuah berita yang ternyata tidak sesuai fakta. Belum lagi tuntutan yang di layangkan oleh pihak Lingga sebagai pencemaran nama baik dan kebohongan publik. Johan sebagai lawyer jebolan dari Firma Hukum Hadi Darma, yang di tunjuk oleh Lingga dan Kabar Grup bergerak cepat memproses ke jalur hukum.
Sang pimpinan dari pemilik Berita Grup itu tampak geram dengan salah satu jurnalisnya yang bernama Anton. Ia merasa kecolongan. Kenapa pihak penyiaran menayangkan berita yang tidak sesuai fakta. Apa lagi yang menjadi bahan berita adalah sesosok Lingga, yang ia kenal putra dari Sutan Cjokro pemilik Kabar Grup. Masalah yang di hadapinya tidak main-main.. Bukan hanya tuntutan yang di layangkan.. Tetapi belum sampai 1 x 24 jam berita itu naik ke permukaan. Sahamnya turun drastis, ia harus kehilangan beberapa pemegang saham yang menarik kembali modalnya. Belum lagi pemboikotan untuk stasiun TVnya.
Pimpinan yang bernama Suryo Wibowo itu memerintahkan asistennya untuk menghubungi Roby asisten Lingga di perusahaan Kabar Grup. Suryo Wibowo mengajukan permohonan untuk bisa bertemu dan berunding dengan Sutan Cjokro atau Sutan Lingga. Dan siang ini, Suryo mengadakan rapat darurat para pimpinan departemen khususnya divisi penyiaran dan para jurnalis yang terlibat di dalamnya. Pria itu tidak menginginkan perusahaan yang di bangunnya selama ini akan hancur hanya karena kelalaian, kecerobohan bawahannya.
Desas desus yang beredar mulai terdengar sampai ke telinga Haris. Tentang Maya, apa yang terjadi dengan Maya.. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya, tidak terekspos media dan tidak tersorot kamera. Keluarga Sutan sangat menutup rapat, membatasi akses setiap pencari berita yang mencoba mendatangi rumah sakit untuk mencari tau kebenarannya.
"Bagaimana kondisimu saat ini May? Kamu pasti terluka parah?
Bisakah aku bertemu denganmu, May? Aku berharap akan ada kesempatan untukku bisa bertemu denganmu, May. Banyak yang ingin Mas bicarakan. Mas ingin meminta maaf kepadamu, May.." Haris bermonolog.
Rencananya sore ini, ia akan pulang ke rumah kontrakannya di gang Mawar. Haris akan pulang ke rumah sederhana itu saat rindunya dengan Maya sudah tak bisa di bendung. Ia akan mengenang banyak hal, kebersamaannya dengan Maya di rumah itu.
Tentunya Haris tidak lupa, ia ingat ketika ia sakit, Maya dengan setia, telaten dan penuh kesabaran mengurusnya. Dari mulai menyiapkan air hangat, baju ganti, sarapan, obat yang sudah di siapkan di piring khusus untuknya. Maya akan menyempatkan pulang pada jam istirahat hanya untuk membelikan makan siang untuknya. Maha tidak pernah menggunakan penghasilannya yang tak seberapa, agar bisa menebus obat yang harus di konsumsinya sehari 3 kali.
Maya bahkan tidak pernah mengeluh ketika ia tidak bisa menyentuhnya.
Saat ini Maya sakit.. Dan ia tidak bisa membalas mengurusnya.. Untuk melihatnya pun sesuatu yang mustahil baginya.
Akankah ada wanita yang sama seperti Maya?.. Yang akan mencintainya??..
****
Bersambung ❤️
Mau upload foto Daeng dr kemarin kemarin lupa terus