
Hai teman-teman.. Jangan skip yaaa
Sebenarnya berat untuk menamatkan cerita Lingga dan Maya. Tetapi jalan cerita ini harus sampai disini dulu yaa.. terimakasih untuk segala bentuk perhatian, dukungan, suport, juga keritikannya yang sangat membangun.
Insyallah kita akan berjumpa di cerita yang lainnya.. Akan ada session / gabungan cerita anak-anak dari Anindirra dan Maya.. Mohon doa dari teman-teman agar segera terlaksana.
Semua pasangan sudah bahagia.. Sudah menemukan cinta sejatinya, cinta yang sesungguhnya.. Di TRUE LOVE for MAYA
Baik Maya Lingga
Lexsus Dina.
Lendra Henna.
Jangan hapus dari pavorit yaa… supaya tahu notifikasi karya aku selanjutnya.
Mohon maaf jika ada salah kata, salah pengucapan, baik dari segi penyampaian, tulisan dan bentuk kekurangan lainnya. Yang pastinya bnayak typo bertebaran..
Mohon maaf juga teman-teman, Semenjak bulan ramadhan untuk karya Maya ini banyak tersendat dan membuat para pembaca menunggu lama hingga bosan..
Aku sebagai penulis banyak-banyak mengucapkan rasa terimakasih. Tanpa kalian Aku bukanlah apa-apa. Teimakasih sudah mau membaca dua karya ku.
See you..
( sampai berjumpa di karya berikutnya )
Tunggu yaaaaaaaa...
Jangan tinggalkan aku..
I will always miss you 😘
Yang belum baca Anindirra kepoin ya besti
"Kamu sudah pintar menjawab ya." Dirga mengigit pipi sang istri dengan gems. Hingga obrolan keduanya terhenti saat kedua telinga mendengar tangisan bayi yang begitu kencang memenuhi setiap sudut ruangan.
Ucapan syukur dari semua Tim yang menangani terucap bersamaan.
"Selamat datang putraku." ucap Dirga dengan menitikkan airmata haru saat mendengar tangisan dan menyaksikan putranya sudah terlahir. Dengan masih berselimut Sarah saat kakinya di angkat sedikit tinggi open Dokter Arum sebelum di serahkan kepada bidan yang Alan membersihkannya.
"BabyBoy, Tuan Dirga. Dan Alhamdulillah dalam kondisi normal, sehat, tidak Ada cacat di tubuhnya."
"Alhamdulillah.." untuk kesekian kakinya pasangan suami istri itu mengucap syukur dengan perasaan yang tidak mampu di ungkapkan dengan kata.
Para orang tua yang mendengar samar-samar suara tangisan bayi dari luar ruangan turut mengucap syukur Dan dapat bernafas dengan legal.
Selamat datang penerus Wijaya. Cucuku.
Bastian berkata dengan suara bergetar penuh haru dan bahagia. Harapan dan keinginannya telah Tuhan Kabulkan..
Mendapatkan keturunan, penerus dari sang putra. Lengkap sudah rasanya kebahagiaan hidupnya.
"Dad, cucu kita.." Alyne bicara dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca
"Oh, Tuhan.. Terimakasih." Alyne berkata lirih
"Aku sudah tidak sabar ingin segera melihatnya."
Begitupun dengan Bu Rahma.. Ucapan penuh syukur tak henti-hentinya ia panjatkan kepada Sang Maha Pencipta. Kehadiran cucu keduanya menambah kebahagiaan Dan kelengkapan seluruh keluarga.
Do dalam ruangan, saat Anin masih harus menyelesaikan jahitannya. Dirga menerima sang bayi yang sudah dalam keadaan Berlin dengan kedua tangannya untuk segera di azankan.
Bayi laki-laki dengan wajah yang sangat mirip dengannya. Sosok pria Kevin yang kaan menjadi penerus dan penggantinya kelak.
Anin terharu, ia sangat tidak menyangka. Pria posesif, pria pencemburu, pria pemaksa yang setahun ini menjadi pendampingnya memiliki suara yang merdu. Mengikuti tata cara yang ada, Dirga menghadap kiblat saat mengumandangkan lafadz adzan di telinga kanan sang putra.
Selamat datang putraku..
Semoga kelak tumbuh besar, kuat dan sehat. Kamu akan menjadi penerus yang tangguh di keluarga Wijaya..
Selamat datang BOY MEHRDAD WIJAYA