
Menyempatkan membeli sebucket bunga mawar segar untuk wanita yang sedang menunggunya di rumah. Tak lupa, pria itu juga membeli berbagai macam Ice cream dan coklat di Jayamart yang di lewatinya dalam perjalanan pulang.
Pria itu menepis rasa tak nyaman dalam hatinya, ia berharap keadaan Maya baik-baik saja. Seharusnya Lingga masih ada jadwal pertemuan dengan pemilik stasiun TV lainnya. Terpaksa ia tunda esok hari, Lingga lebih memilih segera pulang untuk bertemu Mayanya.
Lingga mempercepat kepulangannya, karena batinnya tidak tenang, tiba-tiba saja wajah Maya melintas di matanya, seakan suara Maya terdengar jelas memanggilnya. Bibir Lingga tersenyum kala melihat bucket bunga yang ia letakkan di samping kursinya, ia sudah membayangkan Maya akan tersenyum senang dan memeluknya saat menyambut kepulangannya. Lingga menambah kecepatan laju kendaraannya, dengan kilometer yang bergerak ke atas, pria igusudah tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya.
Hanya selisih 10 menit dari kejadian. Mak Kom dan security sudah membawa Maya turun ke bawah. Sesampainya Lingga tiba di depan pintu unitnya, ia sengaja tidak menekan kode pasword bel digital.
Lingga memencet bel karena ingin memberikan kejutan dengan Maya yang akan menyambutnya di pintu. Lingga menyembunyikan bucket bunga dan sekantung ice cream dan coklat di belakang pinggangnya.
Tetapi ia terheran, beberapa kali memencet bel, tidak ada jawaban melalui intercom yang tersambung keluar, pintu itupun tidak terbuka dari dalam.
Akhirnya Lingga menekan kode pasword membuka pintu apartemen. Melangkah masuk, pria itu terkejut bukan main, saat melihat kantung kresek yang berisikan ayam dan sayuran tergeletak di lantai, Lingga juga melihat lantai ruang tamu yang berserakan pecahan keramik bercampur darah yang masih nampak segar.
"Maya.." mulutnya langsung menyebut nama sang istri dengan melempar kantung belanjaan dan bucket bunga mawar di sofa
"May.!! Maya.!!" Lingga berteriak memanggil, pria itu berlari melawati undakan tangga dengan langkah lebar. Membuka pintu, Lingga mencari keberadaan Maya.
"May.!!" Lingga membuka pintu kamar mandi, tetapi ia tidak menemukan keberadaan Maya. "Honey…" Lingga mencari ke ruang walk-in closet. Tetapi sama saja, wanita yang di carinya belum di temukan keberadaannya.
"Mak, Kom.." Lingga kembali berlari keluar menuruni anak tangga menuju ruang dapur yang bersebelahan dengan kamar pembantunya.
"Maak!!" Lingga membuka pintu kamar. Dan pembantu itupun tidak ada di tempatnya. Rasa cemas bercampur khawatir menyerangnya. Ia melihat ponsel Mak Kom tergeletak di atas meja makan dan ponsel Maya tergeletak di meja sofa. Meraih ponsel Maya, Lingga segera membuka ponsel miliknya yang terhubung dengan cctv di dalam apartemennya. Tetapi suara seorang pria memakai seragam keamanan masuk dan memanggilnya.
"Pak Lingga." pria itu masuk ke dalam
"Ya.." Lingga mengurungkan mengecek cctv. Ia berbalik ke arah pria yang datang.
Hanya dua rekannya yang mengantar Maya dan Mak Kom ke rumah sakit, ia harus tetap tinggal menjaga keamanan apartemen dan menunggu kepulangan Lingga. pria itu menjelaskan apa yang terjadi dan di lihatnya kepada Lingga.
"Untuk lebih jelasnya saya belum tau dengan detail Pak, Mak Kom belum sempat menceritakan kejadiannya. Tarno dan Didik yang mengantar Bu Maya ke Rumah Sakit Sehat Keluarga.."
Belum selesai sang keamanan itu bicara, Lingga sudah meninggalkannya berlari keluar menuju lift yang akan membawanya ke basement tempatnya memarkirkan Audinya. Wajah Lingga terlihat datar tanpa senyuman. Pria itu merasa kecolongan, ia merasa lengah dengan meninggalkan Maya tanpa pengamanan. Rasa cemas itu semakin besar kala pria yang bernama wawan tadi menceritakan kondisi Maya yang dalam keadaan terluka parah.
"Oh, ya Tuhan! Kenapa aku bisa lengah." Lingga meninju pintu Lift yang terasa lama membawanya turun. Tangisan Maya saat di telfon terngiang di telinganya. Lingga merasakan sesak di dadanya.
Bergerak cepat, Lingga segera menyalakan mesin mobil melaju ke luar meninggalkan apartemen menuju rumah sakit dengan kilometer maksimal. Menyalip banyak kendaraan agar cepat sampai tujuan.
Membuka ponselnya, Lingga menghubungi Lexsus agar menyusulnya ke rumah sakit yang di sebutkan.
"Aku tunggu!" Nada bicaranya tak bisa di bantah, Lingga memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya dan fokus kembali ke jalan raya.
°°°°°
Lexsus baru saja tiba di kontrakan Dina, sepulang dari makan siang bersama di rumah Tante Rossa, ia langsung mengantarkan Dina pulang ke kontrakannya dan berjanji akan kembali menemuinya setelah urusannya selesai bersama Lingga.
"Daeng akan pergi?" Dina bertanya sambil membawa minuman yang baru di buatnya untuk Lexsus.
"Maaf, Ri.. Daeng harus ke rumah sakit sekarang juga."
"Rumah sakit?" Dina bertanya. "Siapa yang sakit Daeng?"
"Belum jelas pastinya. Pak, Lingga hanya meminta Daeng segera menyusulnya ke rumah sakit Sehat Keluarga. Sepertinya ada masalah."
"Apa Maya sakit? Tetapi tadi siang Maya baik-baik saja?" Dina bertanya-tanya, hatinya ikut berubah cemas mengingat temannya itu sedang hamil muda. "Apa terjadi sesuatu dengan kandungannya?"
"Apa tidak masalah kalau Dina ikut Daeng?" Dina khawatir akan Maya.
"Tidak, asalkan selalu dekat dengan Daeng.." Dina tersenyum merapatkan bibirnya dengan pipi merona merah karena malu akan ucapannya. Ia tidak menyangka akan seberani itu.
"Daeng senang mendengarnya Ri, apa lagi melihat pipimu yang memerah seperti ini." Lexsus menyentuh pipi Dina. Pria itu mendadak lupa akan perintah Lingga yang memintanya segera menyusul ke rumah sakit saat di hadapkan dengan wanitanya.
"Daeeeeng….." dengan suara pelan mengalun merdu terdengar. "Jangan membuat Dina tambah malu." Dina ikut menyentuh tangan Lexsus yang masih menempel di pipinya hingga kedua mata anak manusia itu saling menatap, wajah keduanya semakin mendekat..
Seinci lagi bibir itu akan bertemu, suara dering ponsel Lexsus yang terdengar kencang mengejutkan keduanya. Lexsus tersadar Lingga sudah menunggunya. Apa lagi tertera di layar panggilan, nama Sutan Lingga tengah memanggil.
"Ri, pakai baju hangatmu.." menjauhkan wajah, Lexsus bicara kepada Dina sambil mengangkat telfon.
"Halo.. Ya, Pak.." Lexsus baru tau kalau Maya di larikan ke rumah sakit karena terluka.
"Iya, pak.." Lexsus mendengarkan perintah Lingga.
"Anri.. Cepat!" Lexsus memanggil
"Ya, Daeng.." Dina tergesa-gesa keluar dari kamar sambil memakai jaket sweaternya. Mengunci pintu keduanya bergegas berjalan ke tempat Lexsus memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
°°°°°
Lingga bertanya dimana ruangan pasien wanita yang mengalami cidera di bagian kepala kepada salah satu staf yang berada di meja informasi.
"Apa yang Bapak maksud Ibu Maya?"
"Ya, Maya."
"Masih di tangani oleh tim Dokter di ruang IGD Pak. Bapak lurus saja lalu belok kanan." staf rumah sakit itu mengarahkan
"Baik.. Terimakasih."
Dengan langkah kaki panjang, melewati lorong rumah sakit, Lingga menuju ruang IGD dimana sang istri tengah di tangani.
Lingga dapat melihat dari kejauhan, Mak Kom dan dua orang pria berseragam, Tarno dan Didik sedang duduk di kursi tunggu di depan ruangan.
"Pak.." Mak Kom segera berdiri saat melihat kedatangan Lingga. Ia harus menyampaikan apa yang terjadi dengan Maya. sedangkan kedua pria itu segera pamit kembali ke apartemen setelah kedatangan Lingga.
"Mak.."
"Pak.."
Pekerja dan majikan itu bersamaan memanggil. Tidak menunggu pertanyaan dari Lingga, Mak Kom segera menyampaikan apa yang di lihatnya.
"Maaf, Pak. Saat itu Mak sedang beli bahan makanan, sekembalinya Emak, Bu Alisa sudah memukul kepala Neng Maya."
"Brengsek kamu Lis!" Lingga meninju dinding rumah sakit untuk melampiaskan kemarahannya.
Membuat Mak, Kom gemetar ketakutan. Baru kali ini ia melihat sorot mata tajam penuh dengan kemarahan.
Mak dapat melihat sosok Lingga yang begitu menakutkan.
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungannya teman-teman 🙏