TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MAYA



"Kenalkan May.. Temanku sekaligus Atasanku IPDA Nagala." ( inspektur dua )


Daksa memanggil Maya untuk bergabung duduk bersama di ruang tamu. Sepupunya itu mengenalkan-nya dengan pria yang di kenalnya saat di perjalanan. Dengan kursi bersebelahan. Pria itu yang membuat Maya mengingat akan Dina dan Lingga


Pria yang bernama Nagala Braja itu tersenyum manis dengan mengulurkan tangannya kepada Maya.


"Nagala Braja. Ini yang kedua kalinya aku bertemu dengannya." ucapa Gala


"Oh, ya! Apa Maya? Wanita yang kamu ceritakan kepadaku Gal?"


"Ya.." Gala tersenyum.. Senyum dan tatapannya tak lepas dari Maya.


"Kalian berjodoh berarti."


Daksa tertawa menggoda keduanya, dengan Maya yang terdiam. Tiba-tiba pikirannya mengingat Lingga.


"Seharusnya aku memanggil dia Kakak karena Ibuku adik dari Ayahnya." Daksa menjelaskan "Berhubung umurku lebih tua darinya, apalagi dia perempuan. Maya harus memanggil ku Kakak karena dia adik perempuanku."


"Iyakan May?" Daksa menatap Maya


"May.. Maya.."


"Ya Kak."


Maya tersadar dari pikirannya, ia tidak fokus mendengarkan pembicaraan keduanya. Entah apa yang di bicarakan Daksa, Maya hanya menjawab ' Ya '


Sebelumnya.


Selisih hanya 15 menit dari kepulangan Maya dan Bik Hima dari ladang. Daksa bersama temannya tiba di rumah. Daksa sudah hapal, jika rumah kosong, orangtuanya masih berada di ladang. Begitupun dengan adik-adiknya, Dika dan Dania masih berada di sekolah dan sekitar jam 2 baru sampai di rumah.


Saat temannya meminta ijin untuk ke kamar mandi, Daksa membawa tas berisikan pakaian masuk ke dalam kamar. Tidak lama sang Ibu datang masuk ke dalam kamar.


"Sa.."


"Buk.."


"Kapan sampai?" sang Ibu bertanya


"Baru saja.."


"Kamu sehatkan?" Hima meraup wajah anaknya penuh dengan kasih sayang dan kerinduan. Seorang anak yang akhirnya mampu mengangkat derajat orangtua. Kerja kerasnya bersama suami menjadi petani selama ini tidak sia-sia.


Berpanas panasan berpeluh keringat tidak di rasakannya. Segala doa dan upaya Hima panjatkan dan perjuangkan demi mewujudkan cita-cita Daksa menjadi abdi negara.


Saat berpangkat AIPTU ( ajun inspektur satu ) Daksa di tugaskan di Kota. Ia akan pulang saat hari liburnya.


"Buk.. AIPDA Gala ikut pulang.."


"Benarkah? Dimana? Ibuk tidak melihatnya?


"Di kamar mandi.."


"Ibuk akan masak pepes ikan kesukaannya.


Baru saja Ibu dan sang anak itu keluar dari dalam kamar. Mereka mendengar teriakan Maya dari arah belakang.


"Maya bantu Bibik menyiapkan makan siang dulu Kak.." Maya memilih untuk ke dapur meninggalkan dua pria, dengan Gala yang terus memperhatikan-nya


"Bang Maya kangen." bicara dalam hati, Maya tak mampu menutupi rasa rindunya. Seminggu berada di sini, ia pikir akan terbiasa dan mampu untuk tidak memikirkan Lingga. Tapi ia salah, hati dan pikirannya tidak bisa lepas dari pria itu.


Maya juga rindu akan Umi dan dua adiknya.. Maka dan Mada.. Dua adik kembarnya itu sama besarnya dengan Dika.. Ia juga rindu akan Dina, rindu akan Kang Oleh.. Rindu akan Tante Rossa yang sudah ia anggap sebagai Ibunya.


"Sedang apa mereka?" tanpa sadar pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Dengan sorot mata kosong, Maya berdiri di depan kompor dengan wajan di atasnya yang berisikan tempe sedang di goreng..


"May... Gosong! Cepetan di angkat" Bik Hima mengingatkan dengan menepuk pundak.


"I.. Iya Bik.." Maya segera mengangkat tempe goreng dengan tampilan sebelah sisi gosong sebelah sisi tidak.


"Jangan melamun Neng.. Sudah, sekarang siapkan makan siangnya.. Pepesnya juga sudah matang. Setelah itu panggil Nak Gala dan Daksa untuk makan siang. Kamu temani ya, May.. Bibik nanti tunggu Mamangmu datang."


"Mamang kemana Bik? Bukannya tadi pulang bareng Bibik?"


"Di minta datang ke rumah Pak kepala desa, Neng.."


°°°°°


"Tempenya separuh gosong Buk? Daksa bertanya, sambil membolak balikkan tempe di atas piringnya.


"Si Neng gorengnya sambil melamun Sa."


Daksa dan Gala yang mendengar tertawa.


"Iih Bik, jangan bilang-bilang kenapa."


"Rasanya tetap enak, Buk.. Apa lagi yang memasaknya wanita cantik." Gala berkomentar sekaligus memuji Maya. Ia tetap memakan tempe separuh gosong itu ke dalam mulutnya.


Daksa dan Bik Hima tersenyum mendengar ucapan Gala.


"Di nikmati makannya Nak Gala.. Maaf seadanya. Ibu tinggal ya."


"Terimakasih Bu, ini sudah cukup nikmat. Ada tempe spesial dan pepes ikan.."


Membuat Maya tersedak, mendengar ucapan Gala.


"May hati-hati.." ucap Daksa dan Gala bersamaan.


°°°°°


Sedangkan di Jakarta


Lingga belum juga pulang ke rumah saat Lusiana menghubunginya. Berulang kali wanita itu meminta Lingga untuk pulang menemuinya. Dengan alasan kesibukan dan pekerjaan. Lingga belum bisa mengabulkan keinginannya. Hingga Lusiana memutuskan menemui putranya di kantor.


Sedangkan Lingga, ia bersama Roby sedang berada di ruang diskusi.. Sedang membahas beberapa program baru yang akan tayang bersama tim produksi..


Menganalisis ulang tayangan bersama tim pengawas sebelum menjadi ranah kpi yang bertugas mengawasi. Yang mempunyai hak penuh memberikan sensor penyangan jika di anggap tidak layak.


"Rekamannya sudah di kirim melalui Email Pak. Kita harus bergerak lebih cepat karena waktu penayangan di majukan satu hari dari jadwal yang di buat. Bisa kita mulai?" ketua tim strategi programming mulai memberikan intruksi.


"Apa tidak menunggu Dody dan kawan-kawan?" salah satu tim pengawas mempertanyakan.


"Tim di lapangan sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Kita tidak bisa menunggu. Jam 6 pagi sudah harus naik di berita dan jam 4 sore sudah harus tayang di sebuah program baru kita." ketua tim produksi menjelaskan.


"Baik. Di mulai saja. Bagaimana Pak Lingga?" ketua tim programming bertanya kepada pria yang sedang menunduk menatap ponselnya dengan jari yang sedang mengetik.


"Ya.. Lanjutkan, tidak masalah. Dan saya mendengarkan." Lingga bicara dengan mengangkat kepalanya melihat rekan-rekannya dan kembali lagi membalas banyak pesan penting dari Johan, Lendra dan Rayan.


10 menit.. 20 menit tayangan terus di putar, dengan menayangkan dan menyorot beberapa tempat di sebuah desa yang menjadi pusat inti dari acara.


Sesekali Lingga mengalihkan matanya dari ponsel untuk melihat ke layar lebar dengan memperhatikan yang sedang di ulas hingga sesi wawancara kepada para petani dan pekerja.


Drettt..


Ia harus menunduk lagi membaca pesan dari Rayan yang menjelaskan. Nama Maya ada di daftar perjalanan Bus malam antar kota. Tapi tidak tertulis jelas alamat lengkapnya.


Hingga telinganya menangkap sebuah kalimat jawaban dari tayangan yang sedang di putar dan membuat para tim ikut tertawa.


"Waahh.. Senang sekali Mbak. Apa lagi pekerja wanitanya baik-baik, cantik-cantik, seperti teman saya ini lohh.. Mbak Rahayu dan Mbak Maya. Menambah semangat kerja."


Deggg...


"Maya.." dengan ponsel yang terjatuh ke lantai.


"Pak anda baik-baik saja?" Roby bertanya setelah mengambil ponsel Lingga yang terjatuh di dekat kakinya.


"Stop.." Lingga langsung menatap layar.


"Ada apa Pak?" ketua tim pengawas bertanya. "Apa ada yang salah?"


"Tidak.. Tidak ada yang salah." dengan hati yang berharap banyak akan Maya benar adanya. Hatinya berubah berdebar.


"Mundurkan lima detik kebelakang sebelum wawancara." Lingga meminta bawahannya yang mengendalikan proyektor LED untuk mengulang beberapa detik sebelumnya.


Lingga dapat melihat sosok wanita yang di rindukannya berada di tengah-tengah para pekerja pengupas bawang


"Maya..


****


Bersambung ❤️