
Suara panggilan telfon memutus pandangan pria itu, ia segera meraih ponselnya yang ia letakkan di dashboard dekat handrem, membuat tubuh pria itu semakin maju melewati Dina yang duduk di kursi kemudi. Dina dapat menghirup aroma tubuh bercampur parfum mahal yang di kenakan pria itu. Desiran aneh sepintas Dina rasakan. Ia memperhatikan gerak gerik pria yang terlihat galak, dingin, berkulit hitam, tetapi manis di pandang dan terlihat menarik dengan postur tubuh yang tinggi dan terlihat kekar.
"Pindah." suara bariton itu terdengar di telinga, pria itu bicara tanpa melihat wajah Dina yang masih bengong menatapnya. Pria itu baru saja mendapatkan telfon penting dari salah satu anak buahnya.
"PINDAH!"
Dina tersentak, ia baru tersadar kalau pria itu memintanya untuk pindah ke kursi sebelah karena ia duduk di kursi kemudi.
"Galak bener sih!" Dina pindah kursi sambil menggerutu dan mengelus dada. Gerutuan Dina masih bisa di dengar oleh sang pria. Tetapi pria itu diam tidak merespon. Menyalakan mesin mobil, pria itu melajukan kendaraannya keluar dari jalan kenangan. Terus lurus melaju ke jalan raya.
"Eh.. Kang berhenti! Dina turun di halte.." Dina bicara sambil berbalik badan menatap sang pria yang terus diam tak mengubrisnya. Seketika nyalinya menciut saat melihat wajah pria itu terlihat serius lebih dingin dari sebelumnya. Dina mulai merasakan rasa takut, kalau-kalau pria itu memang benar penculik.
Memberanikan diri Dina bicara. "Kang.. Dina tadi Cuma bercanda lohh! Mau di culik sama Akang. Dina gak serius kang.. Turunin Dina ya."
Pikiran buruk tengah bergejolak di dalam otaknya. Dina sudah menduga yang tidak-tidak. Salah satunya pria itu penjual organ bagian dalam tubuh manusia, atau penjual wanita.
"Akang gak lihat apa? Kalau tubuh Dina kurus kering.. Dijual juga gak akan laku, makan juga jarang yang bergizi, jadi tubuhnya Dina mah gak sehat Kang.. Pait rasanya. Turunin Dina ya Kang.." saat ini Dina sangat menyesal, karena menghindari Junaedi, dengan nekat ia masuk mobil pria yang tidak di kenal. Ia terus bicara dan merayu pria yang masih tak bersuara.
"Berisik! Bisa diam tidak?" Pria itu akhirnya bicara, dengan pandangan tetap fokus kedepan. Pria itu bahkan menambah kecepatan kilometer mobilnya.
Bersandar di sandaran kursi, Dina pasrah. Mulutnya tak berhenti komat kamit mengucapkan banyak doa. Semoga pikiran buruknya salah dan ia masih di berikan keselamatan. Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat 10 menit. Hingga mobil yang membawanya tiba di sebuah pelabuhan. Dina semakin gemetar ketakutan. Ia sudah berniat akan berteriak sekencang-kencangnya dengan kekuatan tenaga supernya, kalau sampai si pria macam-macam atau menyeretnya masuk ke sebuah kapal.
Mobil berhenti di sisi dermaga, dengan mengarah, menghadap lautan lepas. Tampak beberapa speedboat tengah bersandar di dermaga. Menurunkan jendela sedikit agar udara ada udara masuk. Pria itu menarik handrem mematikan mesin mobil.
"Tunggu disini.!" dengan tegas, pria itu bicara sambil melihat ke arah Dina. Ia membuka pintu dan keluar sebelum Dina bicara lebih banyak lagi.
Bip..
Suara pintu terkunci. Pria itu mengunci kendaraannya meninggalkan Dina.
"Kang.. kenapa Dina di tinggal?" Dina bertanya dengan suara keras dari dalam mobil, mulutnya di arahkan ke kaca jendela yang terbuka sedikit. "Kaangg…" Dina memanggil lagi, tetapi pria itu terus melangkah ke arah dermaga.
Dina bisa melihat dan memperhatikan dari dalam mobil, pria itu bicara dengan seorang pria lain yang sudah menunggunya. Keduanya lalu berjalan naik ke speedboat yang tengah bersandar.
Tak lama, speedboat itu di nyalakan, dan melaju membawa pria itu ke tengah lautan.
Dina merasa bingung apa yang tengah menimpanya. Tetapi rasa takut akan pikirannya, sedikit mencair, menghilang. "Siapa dia?" Dina bertanya sendiri. Di balik sikap dingin dan galaknya. Dina bisa merasakan kalau pria itu memiliki hati yang baik. Ia memilih bersabar menunggu sampai pria itu datang kembali.
Memperhatikan seisi mobil, tidak ada yang aneh di dalamnya, Dina hanya melihat dua stel kemeja tergantung di kursi belakang. Menguap efek dari rasa bosan dan kantuknya. Dina merebahkan kursi, agar ia bisa merebahkan tubuhnya sedikit terlentang.
°°°°°
Sepasang pengantin yang sedang berbulan madu itu tengah duduk bersandar di headboard tempat tidur, dengan selimut tebal yang menutupi tubuh tel**jang keduanya. Maya duduk di antara kedua kaki Lingga, dengan kepala bersandar di dada bidang suaminya, dengan tangan Lingga yang terus bergerak mengusap perut Maya.
Abang sudah tidak sabar ingin melihat jagoan Abang besar, May." Lingga bicara sambil sesekali mengecup pundak Maya. Sehabis makan malam romantis di teras pinggir kolam renang dengan pemandangan laut lepas, keduanya kembali terbawa suasana, hingga Lingga menginginnya lagi..
Mengangkat tubuh Maya menuju peraduan, Lingga kembali menghujaninya dengan ciuman dan cumbuan di seluruh tubuhnya. Maya kembali di buat tak berdaya saat Lingga menghentakkan miliknya, pria itu selalu berhasil membuat Maya men**sah, melenguh tiada hentinya. Memiliki tenaga yang cukup kuat, membuat Maya harus selalu mengingatkannya di sela-sela hujaman.
Memintanya untuk mengurangi kecepatan mengingat kandungannya yang harus terjaga dengan baik. Tetapi sejauh ini, tidak ada keluhan yang di rasakan Maya.. Hanya saja Maya merasakan perubahan pada dirinya. Ia berubah lebih manja, sedikit sensitiv dan tidak ingin jauh dari Lingga.. Begitupun dengan sang suami, pria itupun tidak bisa semenit saja tidak mengusap perut Maya dengan menghujaninya banyak ciuman dan akan berakhir dengan berhubungan.
Semenjak Maya hamil, hasratnya semakin bertambah, hingga Lingga selalu meminta haknya. Entah karena efek kehamilan sang istri yang di rasakannya berkali-kali lipat lebih nikmat, atau memang Lingganya saja yang super doyan.
"May, Abang mau lagi." tangan itu sudah kemana-mana, bukan hanya perut yang di usapnya. Tetapi berpindah ke area sensitiv Maya. Maya merasakan milik sang suami sudah terasa mengeras di belakang bokongnya. Apalagi mulut Lingga yang sudah menjelajah kemana-mana. Membuat Maya tak kuasa menolaknya.
"Bang…" suara Maya terdengar bergetar, mulutnya berdesis lirih merasakan kenakalan suaminya. Ia lemah, saat Lingga menyentuhnya.
"Kamu membuat Abang ketagihan, May." ucap Lingga di sela cumbuannya.
"Abang juga membuat Maya tidak bisa menolak.. Abang selalu membuat Maya melayang tinggi, membawa Maya ke bulan." Maya membalas pujian sang suami.. Keduanya saling mengagumi, saling memuja, dan saling memberi.
Dengan Maya yang berada di depannya, memudahkan Lingga untuk mengarahkan posisi Maya sesuai keinginananya. Lingga membenamkan miliknya dengan posisi Maya yang sudah menungging.
"Nghh.. Bang.." Maya merintih, mengigit bibir, merasakan rasa enak yang menghantamnya. Begitupun dengan Lingga, pria itu terus mengerang dengan nafas yang lebih cepat dari biasanya.
Pria itu tengah berburu, memburu sesuatu yang membuatnya tak ingin berhenti. Mulutnya terbuka, sesekali meracau memuji Maya, meneriakkan nama Maya.. mengungkapkan kenikmatan yang di dapatnya.
Maya mencengkram sprei yang sudah berantakan.. Dengan wajah ia benamkan di atas kasur.
"Ahkkhh.. May.." Lingga meremat Bokong Maya. Tangnnya terus meluncur mengusap punggung dan berbelok ke depan. Berpegangan di bukit kembar yang kenyal, Lingga menarik tubuh Maya agar sejajar dengan tubuhnya, merapat bersandar dengan Lingga yang berada di belakangnya bertumpu dengan lutut.
Lingga terus bergerak, dengan mendekap Maya. Menyelesaikan permainan yang akan sampai di puncak.. Bermain dengan setengah berdiri, membuat miliknya semakin terjepit, rudal itu meluncur, menghancurkan bendungan air, hingga meluap menyapu daratan.
"Ahkk.. Maaayyyyy…." Lingga mengerang merasa puas. Hingga keduanya terkulai lemas dengan keringat membanjiri tubuh kedunya.
"Terimaksih, May… Terimaksih Honey.." Lingga tak henti mengecup punggung Maya.
Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang Lingga dan Maya..
****
Bersambung ❤️