
"Ada apa ini??"
"Jauhkan tanganmu dari Haris!" suara teriakan Mama Hani terdengar saat melihat Lingga tengah mencengkram kerah baju Haris.
"Jangan pikir aku tidak bisa membalas pukulanmu Ris! Tidak aku lakukan karena Maya." Lingga melepaskan cengkraman tangannya dan mendorong tubuh Haris hingga terduduk di sofa.
"Mau apa kamu datang kemari? Belum puas kamu menyakiti anak Tante?" Mama Hani bertanya dengan suara yang keras. Wanita itu tidak terima saat menyaksikan Lingga mendorong putranya.
"Bukan saya yang menyakitinya Tante." Lingga melangkah, mendekat ke arah wanita yang ia ketahui sebagai Ibunya Haris. "Tetapi dirinya sendiri, anak Tante yang sudah menyakiti dirinya sendiri dengan menjadi pria lemah! Dia yang telah menyakiti Maya, tapi seakan dialah yang paling tersakiti."
"Dan, sepertinya hati nurani keluarga ini sudah hilang! Terutama Tante sebagai seorang Ibu." Lingga memilih melangkah keluar melewati Azhar yang terdiam tak bersuara. Ia tidak mungkin berlama-lama di dalam rumah itu sebelum emosinya terpancing dan menghajar pria yang telah merendahkan Maya.
Menarik nafas berulang kali untuk mengurai amarahnya. Lingga sudah berada di balik kemudinya. Dan suara ponselnya kembali berbunyi saat ia menyalakan mesin mobilnya.
"Ya, Rob ada apa?
Lingga mendengarkan apa yang di sampaikan oleh sekertarisnya.
"Rumah sakit sehat? Ada apa?"
"Oh, sial! Kenapa kamu tidak berhenti membuat masalah Lisa?" Lingga tampak geram saat mendengar laporan kalau sekertarisnya itu saat ini sedang berada di rumah sakit sehat bersama Mawardi Sanjaya Purba. Pria itu memaksanya agar ikut menemui Alisa saat Lingga tidak berada di kantor.
Lisa mencoba mengakhiri hidupnya disaat Johan menyerahkan gugatan cerai kepadanya.
Tak butuh waktu lama. Lingga telah sampai di halaman rumah sakit dimana Alisa tengah di tangani. Belum hilang rasa kesalnya saat berhadapan dengan Haris. Sudah di tambah lagi dengan tindakan Alisa.
Ia berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Dimana kamar tempat Alisa dalam perawatan. 30 menit sebelumnya wanita itu sudah selesai di tangani dan sudah di pindahkan ke ruang perawatan.
10 meter lagi Lingga akan sampai di depan kamar perawatan. Terdengar dua orang yang sedang berdebat membelakanginya, yang tak lain adalah Lusiana dan Cjokro. Sepasang suami istri yang sudah lama tak saling bertegur sapa.
"Aku tidak ingin anakku menjalani hidup sepertiku Lus! Sampai kapan kita akan merahasiakannya? Lingga sudah cukup dewasa untuk menerima kenyataan yang sebenarnya." Cjokro bicara kepada nada yang di tekan.
"Sudah puluhan tahun, Mas. Tapi kamu tidak bisa berubah? Sebesar itukah rasa cintamu kepada wanita itu. Apakah karena selama ini rahimku tidak bisa memberikanmu keturunan? Dan apakah karena wanita itu sedang sakit sehingga kamu menekanku untuk bicara yang sebenarnya? Sampai kapanpun Lingga akan menjadi putraku!"
"Dan aku yakin, Lingga akan tetap mencintai Alisa dan tidak akan pernah meninggalkannya."
"Jangan egois Lusi! Sudah cukup keegoisan kita selama ini. Bukan hanya kamu yang tersakiti. Tetapi Rossa, sudah cukup selama ini dia bertahan dengan perasaannya. Di akan kuat saat dunia tak mengenalnya sebagai istriku. Tapi sebagai seorang Ibu hatinya rapuh saat anaknya tak mengenal, tak mengakuinya sebagai Ibu kandungnya. Dan juga sudah waktunya Lingga bahagia dengan pilihannya. Jangan penjarakan cintanya demi keinginanmu Lusiana. Lingga harus bahagia bersama wanita..."
"Cukup! Cukup Mas! Aku tidak mau mendengarnya lagi!" saat Lusiana akan berbalik meninggalkan Cjokro. Langkahnya terhenti saat melihat keberadaan Lingga tak jauh dari mereka. Begitupun dengan Cjokro, pria itu terkejut saat menyadari Lingga tengah berdiri menatapnya dengan tajam.
Sepasang suami istri itu terdiam saat langkah pelan Lingga mulai mendekat ke arah mereka. Dengan wajah dingin dan sorot mata sendu, pria itu menatap wajah kedua orang tuanya dengan banyak pertanyaan dan rasa kecewa.
"Ling dengarkan Mama.. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Papamu terlalu mengada-ada. Kamu taukan? Papamu lebih mencintai wanita itu dan selalu mencari kesalahan Mama."
Dan sebelum Lingga membuka mulutnya untuk bicara. Suara perawat yang muncul dari dalam kamar menghentikannya.
"Apa ada yang bernama Bapak Lingga?"
Membuat ketiganya menengok ke arah datangnya suara.
"Saya sus." Lingga menjawabnya.
"Anda di tunggu Dokter Rian di ruangannya. Mari Pak." sang perawat meminta Lingga agar mengikutinya.
"Dengan Bapak Lingga." sang Dokter mempersilahkan Lingga agar duduk di kursi meja kerjanya.
"Ada apa Dok?" Lingga mulai bertanya
"Saya akan menyampaikan psikis yang sedang di alami oleh Ibu Alisa. Saat ini Ibu Alisa sedang mengalami guncangan. Selain cairan terlarang masuk ke dalam tubuhnya, Bu Lisa juga mengalami tekanan. Lebih sering kita dengar dengan sebutan depresi. Untuk saat ini, hindari dulu kabar yang akan membuat jiwanya semakin memburuk."
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud ikut campur dengan masalah pribadi anda. Tapi sebagai Dokter, tolong jangan membahas masalah perceraian dulu. Karena yang saya tau dari laporan. Ibu Alisa mencoba memotong urat nadinya setelah membaca surat gugatan cerai yang di ajukan oleh pengecara Bapak."
"Sekali lagi saya mohon maaf. Tolong beri waktu sampai psikisnya benar-benar membaik dan Bu Alisa bisa menerimnya. Jika tidak, kejadian seperti ini akan terulang lagi."
Lingga memejamkan matanya untuk beberapa saat. Seakan masalah datang tiada henti. Dia saat ia telah mempersiapkan mental dan cukup banyak bukti untuk melepas wanita itu. Keinginannya harus tertahan oleh tindakan Alisa. Belum lagi pembicaraan Cjokro dan Lusiana yang memecah pikirannya. Sehingga ia tidak mampu berpikir dengan tenang. Saat ini ia butuh sendiri dan menenangkan diri.
Lingga keluar dari ruang Dokter yang menangani Alisa. Dengan langkah gontai ia menyempatkan masuk ke dalam ruang perawatan dimana Alisa masih tertidur, efek dari suntikan yang di berikan Dokter sebagai penenang. Keberadaan Roby dan Sanjaya pun masih berada di dalam ruangan menunggu Alisa.
"Apa seperti ini tanggung jawabmu sebagai suami Lingga?!" tiba-tiba Sanjaya bersuara. "Di saat istrimu sedang dalam masa pemulihan kamu malah menggugat cerainya! Dimana pikiranmu!?"
Pria yang bernama Sanjaya yang tak lain adalah Ayah dari Lisa menunjukkan rasa tidak terimanya saat mengetahui Alisa mencoba mengakhiri hidupnya karena gugatan cerai yang di layangkan pria yang berdiri diam dengan tatapan kosong ke brankar dimana Alisa tengah terbaring.
"Cukup. Tuan Sanjaya! Jangan membuat keributan disini." Roby menghalangi pria itu saat akan mendekat ke arah Lingga.
"Tanyakan kepada anakmu. Apa yang sudah di perbuatnya di belakangku." Lingga bicara tanpa melihat wajah Sanjaya.
"Jangan sampai aku membongkar kelakuannya. Berhenti menuduhku. Aku sudah cukup bertanggung jawab selama ini. Jangan sampai kesabaranku hilang tak tersisa. Aku tidak akan meneruskan gugatanku sampai kondisinya membaik."
Lingga meninggalkan ruangan di susul dengan Roby yang berjalan mengejarnya.
****
Bersambung ❤️
Tinggalin jempolnya yaa.. Buat penyemangat jempolku yang pegel ngetik di hp.. Hehe