TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MAYA MAU ITU



Lingga berusaha menghindar dengan menyibukkan diri membuka laptop. Memilih mengecek pekerjaan dan beberapa Emile yang masuk. Bukan sesuatu yang mudah sesungguhnya.. Sedari tadi, Lingga berusaha menahan hasratnya yang sudah berada di ubun-ubun. Ia menguatkan diri untuk tidak memesrai Maya sampai Dokter Arum menyatakan kondisi rahim Maya sudah kuat untuk di buahi.


Belum lagi kondisi Maya paca operasi.. Lingga juga harus memastikan fisik, dan kesehatan Maya sudah benar-benar dalam keadaan stabil, sehat dan kuat secara psikis.


"May.. Jangan seperti ini Honney.. Kamu menyiksa Abang." Lingga meraup wajahnya frustasi. Ia tidak bisa konsentrasi dengan apa yang tengah di kerjaannya.. Sedari tadi istrinya itu berlenggak lenggok di hadapannya. Berjalan mondar-mandir, ada saja yang di lakukannya. Dan berakhir dengan duduk di sofa sambil bermain ponsel.


Terlihat jelas di hadapan Lingga paha mulus seakan memanggil menggodanya, meledeknya. Membuat benteng yang sedang di bangunnya dengan susah payah seakan mau roboh di hantam gulungan ombak..


Sepulang dari kediaman Lexsus.. Maya terus menempel bak perangko.. Bahkan saat Lingga sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wanita itu terus mendusel masuk ke dalam kaosnya. Puncaknya setelah mandi, Maya menggunakan gaun transparan warna hitam yang membuat wanita itu begitu menggoda..


Baju dinas yang memperlihatkan dengan jelas setiap inci lekuk tubuhnya. Bukan Lingga tidak suka. Kalau boleh jujur, Lingga sangat-sangat menyukainya. Istrinya itu terlihat sangat seksi ranum menggiurkan.. Tetapi Lingga khawatir, dirinya tidak bisa menahan nafsunya saat menggauli Maya. Dan ia sadar, saat ini istrinya itu sedang meminta haknya untuk bercinta..


Sepanjang jalan kembali ke hotel, Maya merayu agar segera memiliki anak..


"Kemari May.." Lingga mengulurkan tangan agar Maya mendekat kepadanya yang sedang duduk memangku laptop sambil bersandar di dashboard tempat tidur.


"Tidak mau.." masih asik mengutak atik ponselnya, Maya cuek seraya mengerucutkan bibirnya..


"May.. Please.. Kemari, Abang sayang dulu."


"No.." Maya kembali mengelengkan kepala.


"Abang harus mau dulu! Maya tidak mau di sayang! Maya mau itu.. Baru Maya akan mendekat ke Abang.. Kalau Abang tidak mau! Jangan dekat-dekat..!" Maya memberi ancaman.


Menahan tawa menghadapi sikap Maya yang terlihat lucu, Lingga hanya tersenyum simpul.


"Tapi kamu sudah membangunkan rudal Abang, May.. Abang akan membuatmu melayang, tetapi dengan cara lain. Seperti cara Maya kemarin.. Mau yaa?" Lingga berusaha membujuk.


Selama pernikahannya, baru kali ini Maya merajuk sampai menolaknya. Bahkan berdekatanpun Maya tidak mau.


"Kemarilah Honney.." Lingga masih terus merayu.


"Tidak! Sekali tidak tetap tidak..! Cium pun tidak boleh..! Peluk juga tidak boleh!" Maya menjauh dari Lingga masih dalam mood marah.


"Abang akan pastikan dulu, Sayang.. Abang tidak ingin terjadi apa-apa denganmu, May.."


"Maya sudah sehat Abang.. Maya sudah kuat.. Abang terlalu khawatir..! Bilang saja kalau Maya sudah tidak menarik lagi..!" keinginannya untuk cepat memiliki anak membuatnya merasa kecewa, walaupun ia tahu, Lingga menolaknya karena rasa khawatirnya yang terlalu besar. Tetapi Maya tidak ingin Lingga memperlakukannya seperti orang sakit yang tak berdaya.


Bangun dari sofa, Maya mengambil outer panjang untuk menutupi tubuhnya..


"May.. Mau kemana?" Lingga bertanya sambil memperhatikan gerak gerik istrinya.


"May Abang tanya mau kemana? Lingga bertanya kembali saat Maya menggunakan WIG dengan model BOB sepundak. Membuatnya berubah semakin terlihat lebih fresh dan terlihat seperti gadis remaja.


"Oh, ya ampun..! May..." Lingga segera mengangkat laptop dari atas pangkuan meletakkan di atas tempat tidur. Saat Maya melangkah ke arah pintu.


Lingga segera turun dari tempat tidur untuk menahan agar Maya tidak keluar dari dalam kamar tanpa di temani olehnya.


Sadar hanya menggunakan boxser.. Lingga segera menyambar celana panjang yang tergantung dan mengambil kaos oblong dari dalam koper. Dengan tergesa-gesa Lingga menggunakan pakaiannya sebelum ia kehilangan kemana Maya pergi.


Sedangkan Maya, memilih turun ke bawah.. Dimana sebuah Cafe berada di area lobi hotel. Cafe mini yang menyediakan kopi, teh, dan berbagai macam cemilan dan minuman kekinian.


Masuk lift.. Maya menekan tombol lantai dasar. Pintu lift tertahan oleh tangan sesosok pria yang segera masuk satu lift bersama Maya. Pria itu memberikan senyum ramahnya yang hanya di balas dengan anggukan oleh Maya.. Maya berdiri bergeser ke pojok dengan merapatkan outer yang di kenakannya.


"Mbak mau ke lobi juga?" Pria itu bertanya.


"Iya.." Maya mengangguk.


"Oh.. Berarti kita sama.." Pria itu masih menunjukkan senyumnya dengan pandangan lurus ke depan. Pria itu bisa dengan jelas melihat Maya dari dinding pintu lift.


Tetapi Maya memalingkan wajah dengan kedua tangan menyilang di dada berharap pintu lift segera terbuka. Tak lama..


Ting..!!


Suara pintu terdengar terbuka..


"Silahkan Mbak.." pria itu mempersilahkan Maya untuk keluar terlebih dahulu.


"Terimakasih Pak..


Melangkahkan kaki keluar. Maya dapat bernafas lega.. Sedikit ada rasa takut dalam hatinya.. Tetapi kalau di lihat dari penampilannya. Pria yang bersamanya di lift itu sepertinya bukan laki-laki jahat.


Maya menuju kafe yang berada di samping tidak jauh dari meja informasi. Efek panas di dalam tubuhnya, Maya sedang ingin meminum minuman dingin petang ini.. Jika ingin, sebenarnya Maya dapat memesan minuman melalui layanan kamar. Tetapi saat ini, ia sedang membutuhkan udara segar dari luar kamar.


Seketika matanya membulat tak percaya, saat melihat wanita yang baru saja masuk lobi bergandengan tangan berjalan di samping pria hitam manis yang juga di kenalnya..


"Mayaaa….." Dina balas meneriakinya.. Dina bahkan melepaskan diri dari genggaman Lexsus untuk mendekat berjalan ke arah Maya.


"Mau kemana?" Dina bertanya


"Noh.." Maya menunjuk sebuah kafe mini dengan dagunya. "Haus.." ucapnya.


"Abang mana?" Dina bertanya lagi saat tak melihat Lingga bersama Maya.


"Di kamar.." dengan cuek Maya menjawab


"Gak biasanya Neng? Abang ngebolehin Neng jalan sendiri?" Dina menatap curiga sahabatnya.


"Abang sibuk.." Maya menggelembungkan pipinya.


"Jangan bilang kalau lagi ngambek sama Abang?" Dina menebak..


"Ishh … sudah ahh, mau cari minuman segar." Maya melangkahkan kakinya meninggalkan Dina.


"Neng..!" Dina memanggil. Ia menyusul langkah Maya. Setelah sebelumnya berbalik melihat Daeng dengan ponsel menempel di kupingnya.. Dina menebak suaminya itu sedang menghubungi seseorang atau sedang menerima panggilan.


Maya duduk di bangku kafe bagian sudut ruangan seraya memanggil salah satu pelayan.. Ia memesan Ice Taro Latte dan kentang goreng sebagai cemilan..


"Anri Bayarin yaa.." Maya tersenyum meringis menyadari ia tak membawa dompet.


"Suami kaya minta di bayarin.! Huuhh..." Dina mencebikkan bibirnya..


"Lupa bawa dompet Anri Dinaaa…" Maya menggoda temannya dengan ikut memanggil Anri.


"Panggi Dina, Neng Mayaaa.. Panggilan Anri hanya untuk Daeng seorang."


Beehhh... Lebaynya Dina kambuh lagi..


"Hemm.. Gaya..!!" cibir Maya.


"Si Neng mah bener-bener! Sudah minta di bayarin.. Pesen minuman cuma buat sendiri.!" Dina menggerutu


"Mbak saya pesan yang di gambar itu ya.." Dina menunjuk Frappuccino yang gambarnya terpampang di dinding


"Ada lagi Bu?" pelayan itu bertanya..


"Itu saja.."


"Neng.. Kenapa sih?" meletakkan kedua tangan di atas meja Dina mulai mengintrogasi.


"Kenapa? Gak kenapa-kenapa.." jawab Maya.


"Jangan bohong Neng.. Kita kenal gak sehari dua hari.. Heran ya? Sifat gak berubah-berubah! Dari dulu kalau ada masalah gak mau cerita kalo gak di paksa di tanya.." sungut Dina..


"Ngomong Neng? Inget pesan Dokter.. Neng gak boleh ada pikiran apa lagi menyimpan kekesalan."


"Beneran Neng Dinaa.. Tidak ada apa-apa.. Sifat gak berubah-berubah! Dari dulu senengnya jadi detektif kaya Kang Oleh saja.." Maya menirukan ucapan Dina.


Sebelum Dina membalas ucapan Maya.. Suara seorang pria membuat Maya dan menengok dengan mengangkat kepala, menatap sosok pria tinggi yang berdiri di samping meja..


"Hai.. Boleh gabung?" pria itu tersenyum.. Senyuman yang sama saat bertemu Maya di dalam lift sebelumnya.


Dina memperhatikan pria itu dari atas rambut sampai kaki.. Tampak pria menunjukkan senyum ramahnya.


"Boleh bergabung?" pria itu mengulang pertanyaannya lagi. "Meja kurai di kafe ini sudah penuh.." pria itu memberikan alasan.


"Cari kursi lain!!"


Suara lantang dan tegas terdengar di telinga..


Membuat ketiganya berbalik badan ke arah datangnya suara pria dingin dengan sorot mata tajam.. Bak hunusan pedang yang bersiap-siap membelah sang lawan..


****


Bersambung ❤


Sabar tunggu MP-nya ya teman-teman... Kita jajan Ice Tarro dulu..


Sekarang tinggalkan like dan komen dulu yaakkk...