TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
THANKS YOU HONNEY



Begitu senang, Maya sangat bersemangat ketika Lingga menyampaikan kalau jam 5 besok pagi, Lingga akan membawanya ke Kota Makassar untuk menghadiri acara sakral dua orang terdekatnya yaitu Lexsus dan Dina.


Sebelumnya, Lingga mendapatkan kabar dari Werang dan juga Lexsus, kalau besok tepat pukul 9 pagi, pria itu akan melaksanakan ijab kabul ataw akad nikah. Pria yang selama ini sudah banyak membantunya, setia kepadanya, pria yang menempatkan drinya sebagai asisten sekaligus sahabat untuknya itu akan melepas masa lajangnya.


"May.. Hentikan! Biarkan Mak Kom yang memasukan pakain kita ke dalam koper. Kamu tinggal tunjuk saja mana yang akan di bawa."


Lingga meminta Maya untuk tidak banyak melakukan pekerjaan. "Duduk dulu, May.." perintah Lingga seraya meraih pinggang Maya agar duduk di pangkuannya dia atas sofa.


"Kenapa tidak mau diam, May.." Lingga melingkarkan tangannya di pinggang Maya


"Hanya merapihkan pakaian Bang.." dengan manja, Maya ikut melingkarkan tangannya di leher Lingga.


"Tetap saja akan menguras tenagamu.. Kamu akan lelah." ucap Lingga


"Maya bosan Bang.. Apa-apa tidak boleh.. Bantu Umi Masak tidak, boleh.. Bantu Mak Kom bersih-bersih rumah juga tidak boleh.. Semuanya tidak boleh.. Hahhh.. Terus Maya ngapain?"


"Makan tidur!... Makan tidur!..."


Lingga tersenyum mendengarkan Maya yang sedang protes kepadanya. Istrinya itu terlihat lucu di matanya dan tampak bersemangat mengungkapkan keberatannya atas larangan yang Lingga terapkan.


"Maya pijit kepala Abang saja ya.." Lingga mengangkat tangannya mengusap pipi Maya.


"Abang pusing?" Maya melupakan uneg-unegnya berganti mengkhawatirkan Lingga. "Yang mana yang sakit Bang?" tangannya segera memegang kepala Lingga. "kenapa tidak bilang dari tadi?" Maya merubah posisi duduknya menjadi menghadap ke depan duduk di pangkuan Lingga.


"Pusingnya sudah beberapa hari ini May.." ucap Lingga seraya tersenyum simpul meresapi pijitan Maya yang terasa seperti usapan di kepalanya.


"Apa masih pusing?" Maya bertanya


"Masih, May.."


"Maya ambilkan obat ya?"


"Tidak ada obatnya, May.." Lingga menjawab dengan mata terpejam.


"Ada Bang, di kotak obat banyak."


"Tidak akan mempan May.."


"Memangnya Abang biasa minum obat apa?"


"Obat khusus May.. Tidak di jual kepada siapapun dan dimana pun.. Obat itu di larang keras di perjual belikan."


"Sakit kepala macam apa itu Bang? Kenapa obatnya susah sekali? Terus kenapa Abang sampai sakit kepala? Apa mungkin karena Abang kurang istirahat?" Maya terus bertanya.


"Bukan kelelahan, May.. Tetapi Abang sudah lama tidak mendapatkan vitamin darimu."


"Vitamin? Dari Maya?" Maya menghentikan pijatan di kepala Lingga. Butuh waktu beberapa detik agar otaknya dapat bekerja dengan cepat. Sampai akhirnya Maya membulatkan matanya ketika menyadari apa yang maksud vitamin oleh suaminya.


"Belum boleh Abang." Maya tersenyum malu menunduk.


"Ya, May.. Abang akan menunggu sampai Mayaku benar-benar pulih dan sehat."


"Sekarang cium Abang dulu May.. Anggap saja kita mulai menyicilnya dari sekarang."


Lingga memejamkan matanya seraya menyodorkan bibirnya. "Abang tunggu May.. Jangan membuat Abang menunggu."


Cup..


Hanya kecupan yang akan Maya berikan. Sebelum ia kembali menarik bibirnya, dengan cepat Lingga menahan tengkuk leher Maya. Lingga mencium, mel*mat bibir Maya dengan penuh kelembutan.. Bibir tebal itu selalu terlihat seksi menggoda, terasa nikmat untuk di sesap. Lingga terus memainkan lidah sesekali mensesap bibir indah Maya.


Maya dapat merasakan di bawah bokongnya sesuatu yang terasa mengganjal dan mengeras, ia juga menyadari sudah terlalu lama suaminya itu tidak mendapatkan haknya, dan sebagai istri iapun sudah lama tidak melakukan kewajibannya.


"Maya keluarkan ya Bang?" ucap Maya pelan dengan wajah memerah karena malu-malu


"Kamu bisa Honney?" Lingga bertanya memastikan, dengan tangan mengusap sisa saliva di bibir Maya. Suaranya terdengar berat, nafsu sudah menguasainya.


Maya tersenyum mengangguk mengiyakan.. Ia akan membantu suaminya terbebas dari rasa pusing yang mendera dengan cara lain. "Setelah itu Maya akan mencukur jambang Abang yang sudah menyerupai hutan belantara. Dan sore nanti Abang harus menyempatkan pergi ke Barbershop untuk potong rambut. Maka dan Mada yang akan menemani Abang."


"Ya tuan putri, Abang akan menurut.. Sekarang selesaikan dulu tugasmu. Dia sudah semakin berontak menunggu sentuhanmu May.."


Lingga memejamkan mata, meresapi sentuhan Maya yang membuatnya tidak bisa menahan des*han setelah selesai berciuman kembali, kini Maya tengah meraba, mengecupi dada Lingga, Maya memasukkan kepalanya kedalam kaos rumahan yang di kenakan. Seperti yang biasa Maya lakukan, dan Lingga sangat menyukaknya ketika sedang bermanja manja di tempat tidur atau sofa, Maya akan memasukkan kepala masuk kedalam kaos dengan mengelurakan kepalanya.


"Oh, May.." Lingga mengeluarkan suaranya ketika Maya meninggalkan banyak stempel dan memainkan Pu**ng Lingga dengan lidah, yang sesekali di sesapnya.


Maya menurunkan kepalanya dari dalam kaos. Bibirnya terus bergerak turun ke perut, dengan bokong yang juga turun dari pangkuan Lingga, Maya berjongkok di antara kedua belah paha Lingga yang hanya menggunakan bokser tanpa pengaman kain segitiga. Berada di atas perut yang tampak rata sesuai standar pria yang rajin melakukan olahraga, Dan Maya sangat menyukai kalau menyentuhnya


"Uuhh, Mayy…" Lingga terus meracau menenggadahkan kepalanya bersandar di sandaran sofa saat sesuatu yang menegang terasa hangat masuk kedalam mulut Maya. Lingga sedikit menegakkan punggungnya yang bersandar, ia meraih, menggulung rambut Maya dan menggumpulkannya dalam genggaman, Lingga inggin melihat wajah Maya yang mampu meningkatkan lib*do dan hasratnya..


"Terus, Honney.. Ahh May.." Lingga kembali menyandarkan punggungnya kala ujung kepala miliknya di sapu dari bawah ke atas, Maya terus memainkannya dengan perlahan.. Menggelitik dengan ujung lidahnya, hingga membuat Lingga terus men**sah.


"May, lebih cepat Honney.." Lingga bicara dengan suara yang semakin berat. Mulutnya terbuka dengan berdesis merasakan sesuatu yang semakin berdenyut kencang, yang mbuatnya melayang.. Satu bulan lebih lamanya, cairan itu tidak di keluarkan.


Maya menambah tempo kecepatannya, bibirnya bergerak lincah bermain-main. Maya melakukannya dengan mengikuti nalurinya. Ia juga bisa merasakan kalau Lingga akan segera sampai di puncaknya, pria itu akan melepaskan sesuatu yang sudah mengumpul tidak terbendung.


Semakin kencang mulut Maya bergerak, semakin kencang juga erangan dan des**an Lingga.


"Hahh…. Kamu pintar May… sebentar lagi May... Abang akan sampai.."


Hingga di detik berikutnya, Lingga sudah tidak bisa menahannya.. Lingga mengerang ketika seluruhnya muntah keluar setelah Maya melepaskan keluar dari mululutnya.


"Akkkhhhhkhh… May....." Lingga menarik Maya dan mendekapnya dengan rasa nikmat dan lega yang terasa luar biasa. Dengan nafas terengah-engah dan Maya yang masih dalam pelukannya, Lingga tak henti-henti mengecupi wajah Maya dengan posisi terlentang bersandar di sofa..


"Thanks you, Honney.."


"Maafkan Abang.. Abang terbang ke bulan sendirian, Abang janji setelah Dokter Arum menyatakan kamu sembuh total. Abang akan menggantinya berkali-kali lipat nikmatnya."


Lingga merasa bersalah karena tak dapat memuaskan Maya seperti apa yang sudah di dapatnya.


"Iya, Abangku sayang.. Jangan Abang pikirkan." Maya meraup wajah Lingga dengan posisi masih di atas dadanya. "Kepuasaan Maya ada pada diri Abang.. Maya senang, bisa memberikan sesuatu yang membuat Abang senang.. Membuat Abang Melayang.." Maya tersenyum dan mengecup bibir Lingga.


"Ayok.. Kita bersih-bersih, Abang kebanjiran." Maya beranjak melepaskan diri dari pelukan Lingga dan mengulurkan kedua tangannya untuk Lingga agar masuk ke kamar mandi.


Lingga menurut duduk di Closet dengan Maya yang kembali duduk di pangkuannya.. Wanita itu tampak serius dengan clipper di tangannya. Membersihkan bulu-bulu yang menutupi rahang suaminya. Keduanya akan mandi bersama dalam bathup yang sudah terisi air hangat dan ramuan oil beraroma terapi.


"Sudah selesai, May?"


"Sedikit lagi Abang.."


Lingga mengangkat rahangnya agar Maya mudah menjangkaunya.


"Nahh… Selesai.."


Wajah berjambang itu terlihat mulus.. Seperti awal ia bertemu Lingga. Wajahnya yang selalu tampan dengan jambang atau tanpa jambang.


"Sekarang giliran Abang.." Lingga mengangkat tubuh Maya melayang.


"Abang harus memandikan dan menggosok punggungmu, May..


****


Bersambung ❤