TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
HABIS KAMU MAY



Menautkan jemarinya, Lingga membawa Maya langsung ke parkiran dengan Dina yang mengekor di belakangnya, Dina menyusul Maya ke kamar mandi saat temannya itu tidak segera kembali, padahal hanya untuk mencuci tangan.


Dina terkejut saat melihat Lingga memukul pria yang ia ketahui bernama Herman, sesama menantu di keluarga Maulana. Dina hanya bisa menebak pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Lingga melakukan pemukulan.


"Masuk, May.." Lingga membukakan pintu agar Maya duduk dan masuk ke dalam mobilnya.


"Bang, Dina pesan ojek online saja ya.. Tempat tinggal Dina gak jauh dari sini kog." Dina ingin memberikan ruang keduanya untuk bicara leluasa. Ia paham suasanya sedang tidak mendukung kalau ia ikut bergabung.


"Pesan taksi Din, jangan ojek.." Lingga mengeluarkan lima lembaran merah, menyerahkannya kepada Dina.


"Sorry Din, I can’t take you home."


( maaf Din, saya tidak bisa mengantar kamu pulang )


Tak mengerti artinya apa, Dina hanya mengangguk-anggukkan kepala merespon ucapan Lingga. Ia juga terbengong saat lima lembaran merah sudah berada di tangannya.


Keberuntungan di balik insiden yang di terjadi kepada Maya. Tapi yang namanya rezeki tidak mungkin di tolaknya, apalagi berpura-pura tidak butuh, itu bukan sifat Dina.


"May.. sampai bertemu besok." Dina menyempatkan melongokkan kepalanya melalui jendela.


Maya hanya menganguk dengan mata memerah.


°°°°°°


Meninggalkan area restoran menuju jalan raya, Lingga mengemudikan Audi-nya dengan kecepatan penuh. Ia pun kesal, merasa tidak terima mendengar ucapan pria yang telah menghina Maya.


Kalau tidak mengingat sedang berada di dalam restoran, ingin rasanya Lingga memukulnya berkali-kali. Terlepas dari masalah antara Maya dengan Haris, apa yang terjadi dengan Maya barusan sedikit banyaknya karena keberadaannya, dialah yang menjadi pemicunya. Pria itu menyukai dan mencemburui Maya karena dirinya.


Lingga menepikan mobilnya ke sisi kiri jalan. Ia tidak kuat melihat, membiarkan wanita di sampingnya terus mengusap airmata yang seakan tak mau berhenti walaupun Maya sudah menahan tangisnya. Lingga berbalik menghadap Maya saat mobil sudah berhenti dengan sempurana.


"Kemarilah May." Mengulurkan tangan, Lingga meminta Maya agar mendekat dan menyambut uluran tangannya. Ia ingin menyalurkan ketenangan untuk wanita yang di cintainya.


Menatap Lingga sesaat, Maya menghambur ke dalam pelukannya. Ia membenamkan kepalanya di dada bidang Lingga dengan tangis yang pecah. Ia tidak bisa menahan lagi kesedihan yang tengah di rasakannya, yang selama ini di tahannya, Maya menangis dalam rangkulan Lingga. Dalam pelukan pria yang memberikannya kekuatan.


"Menangislah, May.. Tapi tangisan ini untuk yang terakhir kalinya. Abang tidak mau kamu menangis lagi untuk pria lain."


Lingga mengecup pelipis Maya, semakin mengeratkan pelukan dan menarik Maya agar semakin merapat. Memiliki fitur canggih di dalam mobilnya, Lingga memencet tombol otomatis sehingga kedua kursi itu bergerak mundur membuat ruang gerak lebih leluasa.


Tangan kanannya menelusup masuk di bawah tungkai kaki Maya dan mengangkat tubuh kurus itu sehingga posisi wanita itu berada di pangkuannya.


"Ada Abang, May.. Kamu tidak sendiri lagi.. Kita akan secepatnya menyelesaikan ikatan kita masing-masing. Tunggu Abang, Maya.."


"Beri Abang waktu, Abang sedang menyelesaikan masalah Abang dengan Lisa, setelahnya Abang akan mengurus perceraianmu dengan Haris."


Lingga bicara meyakinkan, dengan mengusap punggung Maya penuh dengan kelembutan.


Mengurai pelukan, Maya menatap mata Lingga, ia mencari kebenaran di dalamnya. Iapun tidak menyangka pria di hadapannya telah mengetahui statusnya bersama Haris.


"Abang mengetahui kalau aku istri.."


"Ya, May.. Abang tau kamu istri Haris." ucap Lingga sambil menatap Maya dan menyelipkan anak rambut yang menutup pipi ke belakang telinga.


"Sekarang, katakan May.. Katakan kalau kamu mencintai Abang. Itu sudah cukup untuk Abang berjuang melepaskanmu dari Haris.


"Please, May.. Tell me you love me."


( katakan kalau kamu mencintai aku )


"Cukup cinta darimu May, sudah cukup membuat Abang kuat untuk melewati segala masalah."


Lingga bicara dengan menatap kedua bola mata Maya yang masih basah akan airmata, tangannya meraba leher Maya, merambat naik ke wajah berhenti di pipi, dengan ujung jempol yang terus mengusap pipi terus ke bibir, bibir tebal yang akan menjadi candunya, tangannya beralih kebelakang tengkuk Maya, dan menariknya perlahan agar semakin mendekat hingga kejadian tadi pagi saat berada di dalam kamar terulang kembali, dengan kondisi saat ini keduanya dalam keadaan sadar.


Bibir keduanya bertemu, Lingga mel*mat menyecap bibir dengan lidah yang menerobos masuk saat bibir Maya terbuka menyambutnya. Keduanya sama-sama terbuai, seakan haus akan kehangatan, keduanya sama-sama membutuhkan belaian, yang tidak di dapat dari pasangannya masing-masing.


Keduanya saling membelit, bertukar saliva.. Hingga terdengar decapan merdu dari bibir yang tengah beradu. Melepaskan ciuman, saat di rasa Maya membutuhkan udara.. Ciuman itu berlanjut turun ke bawah dagu, Lingga mensesapnya memberi tanda kemerahan.


"Nghh.. Baangg.." Maya melenguh bersuara saat di rasa sesapan itu terus turun ke leher, dengan posisi Lingga berada di bawahnya. Lenguhan Maya, semakin membuat Lingga hampir hilang kendali. Baru saja tangannya membuka satu kancing kemeja Maya.


Keduanya di buat kaget, tersadar dari nafsu yang semakin membesar ketika suara sirine iring-iringan mobil dari petugas dan mobil ambulance yang melintas di jalan raya.


"Oh, sial.." umpat Lingga.


Dengan Maya yang tertunduk, mengigit bibir karena malu. Wanita itu segera pindah dari pangkuan Lingga. ia merapihkan kemejanya dan rambutnya yang berantakan. Dengan jantung yang berdetak kencang.


"Maaf, May.. Abang tidak bisa mengontrol perasaan Abang." Lingga bicara dengan mengusap kepala Maya, pria itu membenarkan posisi duduknya dan berusaha meredam sesuatu yang masih menegang di balik celana. Lingga kembali memencet tombol otomatis agar kursi kembali ke posisi semula.


"Kamu membuat Abang kecanduan May,


Abang tidak bisa menjamin untuk tidak menyentuhmu. Rasanya sangat berbeda, May.." Lingga bicara dalam hati


Lingga kembali melajukan kendaraannya, menembus keremangan malam berada di jalanan, menuju Jakarta Timur.


"Kita mau kemana Bang?" Maya membuka suara dan bertanya saat arah jalan yang di ambil Lingga tidak mengarah ke rumah kontrakannya.


Lingga hanya tersenyum menjawab pertanyaan Maya..


"Abang, ihh di tanya malah senyum-senyum."


"Kita mau menghabiskan waktu bersama malam ini May. Apa jawaban Abang jelas?"


"Iya, tapi kemana?"


"Kita akan ke bulan.." Lingga menjawabnya dengan tersenyum simpul.


"Ke bulan?" Maya menengok menatap Lingga di balik kemudi.


"Bukan hanya ke bulan, tapi ke langit ke tujuh jika bisa. Dan Abang akan membawamu pergi jauh ke suatu tempat, kalau sampai kebahagaian kita terusik disini."


"Kemana?"


"Cium Abang dulu." Lingga mengetuk-ngetuk pipinya. "Nanti akan Abang beri tau."


"Ishh... Abang cari kesempatan." Maya mengerucutkan bibirnya.


Lingga tertawa, mendengar ucapan Maya.


"Kesempatan itu harus di cari, May. Kamu terselamatkan dengan suara sirine tadi, kalu tidak." Lingga tak melanjutkan ucapannya, tapi menarik tangan Maya.


"Bersandar di Abang, May, peluk Abang."


Maya menyandarkan kepalanya di pundak Lingga dengan tangannya merangkul perutnya dan bertanya.


"Kalau tidak apa?


Lingga terkekeh mendengar Maya masih bertanya.


"Kalau tidak... Habis kamu, May."


****


Bersambung ❤️


Jempolnya jangan ketinggalan