TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
HARUS IKHLAS



Sudah seminggu dari kedatangannya ke kota M. Sebuah desa dimana adik dari almarhum sang Ayah tinggal. Semenjak menikah, sang Bibik di boyong suaminya pulang ke kampung halamannya.


Puluhan tahun merasakan, menjalani hidup di kota besar sebagai buruh salah satu pabrik tekstil. Sang paman yang memang asli dan berasal dari jawa tengah, setelah menikah memutuskan pulang kampung.


Membeli beberapa petak lahan kosong yang di belinya dari hasil uang pesangon untuk di kelola sebagai ladang bercocok tanam bawang merah.


Hidup sederhana tinggal di desa dengan mata pencarian sebagai petani bawang, membuat sang Bibik lama tidak pernah pulang ke kampung halamannya yang berada di jawa barat.


°°°°°


Flashback / saat kedatangan Maya


Sesuai alamat yang tercatat di buku kecilnya. Sampailah Maya ke sebuah desa yang cukup jauh dari terminal besar di Kota M. Ia masih harus menyambung, menggunakan transportasi bis kecil untuk bisa sampai di desa tempat tinggal sang Bibik berada.


Ia berdiri menatap rumah sederhana dengan pekarangan yang cukup luas. Menjinjing tas, Maya melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu rumah yang tertutup rapat.


Maya mengucapkan salam dengan tangannya yang terangkat mengetuk pintu. 3 kali salam ia ucapakan dengan ketukan yang masih ia lakukan.. Terdengar suara sautan dari dalam di iringi langkah kaki yang mendekat.


Klekk..


Pintu kayu bercatkan warna coklat itu terbuka. Berdiri di ambang pintu laki-laki remaja yang Maya perkirakan seumuran dengan adiknya.


Membetulkan kacamata, remaja itu terlonjak tak percaya saat menyadari siapa wanita yang berdiri di hadapannya.


"Mbak Maya ya?" remaja itu memastikan


"Kamu Andika kan?" Maya tersenyum balik bertanya. Terakhir mereka bertemu 10 tahun yang lalu saat sang ayah masih ada, dan membawanya ke desa ini untuk menjenguk sang adik. Saat itu Dika masih berumur 8 tahun dan Maya berumur 16 tahun. Setelah itu mereka hanya berkirim kabar lewat suara dan pesan. Sesekali saling menyapa lewat sosial media.


"Waahhh.. ! Aku pangling Mbak. Dika pikir artis yang datang ? Ndak biasanya wanita cantik muncul di kampung ini."


"Kamu semakin pintar ya Dik, sudah mengenal wanita cantik rupanya."


Di sambut gelak tawa dari Dika.


"Iyalah Mbak.. Dika kan sudah bukan anak kecil lagi."


"Ya, Mbak percaya. Kamu juga pasti pria tertampan dikampung ini?"


"Pastinya Mbak."


"Masuk Mbak." keasikan bicara Dika lupa menyuruh Maya masuk.


"Kog sepi Dik?" Maya bertanya saat sudah duduk di kursi rotan..


"Bapak sama Ibu masih di ladang Mbak, dhuhur nanti baru kembali. Di tunggu saja, atau Mbak Maya istirahat di kamar Dania. Perjalanan dari Jakarta pasti lelah.."


Entah karena lelah dari perjalanan atau memang semalam di bus, Maya tidak terlalu nyenyak, tidur bersandar di kursi dengan hati gelisah dan pikiran yang selalu mengingat Lingga.


Ia terbangun saat mencium bau masakan. Dan sudah ada selimut yang menutupi tubuhnya. Beranjak dari tempat tidur, Maya berjalan menuju dapur sederhana yang ada di belakang.


Maya melihat sosok wanita sedang memasak yang tak lain adalah adik sang ayah.. "Bik.." Maya menyapa duluan.


"Neng.." wanita dengan wajah mirip dengan sang ayah. Mengingatkan Maya akan sosok ayahnya yang sudah berpulang. Mematikan kompor wanita itu berbalik dengan memeluk Maya,


"Apa kabarnya Neng? Ya Allah, lama sekali ya Neng, Bibik tidak ketemu kamu?" setitik airmata mewakili rasa haru di hati keduanya. Jarak, waktu, dan keadaan memisahkan mereka sebagai keluarga.


"Maya sehat Bik." ucap Maya setelah pelukannya terurai.


"Apa kabarnya Umi, Neng?"


"Alhamdulillah Umi sehat Bik."


"Maafin Bibik dan Pamanmu, May. Kami belum bisa berkunjung menjenguk Umi dan adik-adikmu dan tidak bisa menghadiri pernikahanmu. Beginilah keadaan Bibik, May. Kami tidak bisa meninggalkan ladang lama-lama. Kamu taukan penghasilan pamanmu hanya dari bertani untuk biaya hidup dan sekolah Dika, Dania, dan Daksa."


"Ya, Bik.. Maya mengerti."


"Tapi Alhamdulillah, sekarang tinggal kebutuhan sekolah Dika dan Dania.. Daksa sudah mandiri dan bekerja. Tapi belum menikah, tunggu adik-adiknya lulus dulu katanya."


"Alhamdulillah Bik, Maya ikut senang mendengarnya."


Melepas rindu, sang Bibik menceritakan anak-anaknya yang menjadi sepupu Maya


"Kerja keras Bibik dan pamanmu terbayarkan dengan keberhasilan Daksa, May. Daksa sudah bisa membantu kebutuhan adik-adiknya."


Maya tersentuh mendengar ucapan Bibiknya. Seandainya ia dulu, melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan tidak segera menikah dengan Haris. Mungkin ia juga akan membantu kebutuhan adik-adiknya. Tapi percuma di sesali semuanya telah terjadi. Saat ini ia harus bisa melanjutkan hidupnya di tempat yang baru.


"Umi tau kamu kesini Neng? Dan kenapa suamimu tidak ikut?"


Wanita yang bernama Himala itu bertanya. Dengan Maya yang tertunduk diam.


"Tidak Bik, tolong untuk sementara jangan beritahu Umi dulu." Maya menatap sang Bibik dengan penuh permohonan.


"Ada apa Neng? Apa ada masalah?" wanita itu membimbing Maya agar duduk di kursi kayu meja makan.


"Cerita sama Bibik, Neng. Ada apa?" wanita itu bertanya lagi, Bik Hima mendesak Maya agar bercerita


"Maya.. Emm.. Maya sudah bercerai Bik."


"Astagfirullahal'azim, Neng.. Dari kapan?"


Maya akhirnya harus menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada sang Bibik yang ia anggap sebagai Ibunya. Ia sudah pasrah kalau sampai sang Bibik akan marah kepadanya. Ia tidak mau ada kebohongan dengan menutupi kesalahannya.


"Neng salah.. Tapi Bibik bangga Neng mau mengakui kesalahan. Bibik juga tidak akan terima Neng Maya di perlakukan seperti itu oleh Haris dan keluarganya. Sebagai orangtua Bibik juga kecewa dengan sikap mereka. Biarpun susah tapi kita masih punya harga diri Neng.."


"Kenapa tidak cerita sama Umi? Bibik yakin Umi pasti akan mengerti. Seorang Ibu tidak aka rela putrinya di sia-siakan."


"Semuanya sudah terjadi, Neng.. Jangan terlalu di pikirin, nanti Neng sakit.. Sudah menjadi garis dan jalan hidup Neng Maya seperti ini. Harus ikhlas, semoga akan datang jodoh yang lebih baik yang bisa membahagiakan kamu, Neng."


"Tinggallah disini, Neng.. Bibik seneng kamu ada disini.. Kehadiran kamu seperti pengobat rindu Bibik kepada ayahmu."


"Terimakasih, Bik.. Sudah mau menampung Maya.. Besok Maya mulai akan mencari pekerjaan."


"Pekerjaan? Kalau di desa ini semua warga beternak dan bertani Neng.. Lapangan pekerjaan lebih banyak di Kota. Istirahat saja dulu, jangan terburu-buru. Tunggu Daksa pulang dari tugasnya, kamu bisa bertanya dengannya. Siapa tau Daksa punya kenalan atau info lowongan yang membutuhkan pekerja."


"Ya, Bik.."


°°°°°


Dan hari ini, sudah seminggu lamanya Maya meninggalkan Jakarta dan berada di desa sejuk menanti kepulangan Daksa. Sepupu yang umurnya tidak jauh dengannya itu, hari ini libur dan waktunya kembali pulang. Selama bertugas di Kota Daksa tinggal di asrama.


Pagi-pagi sekali, Maya sudah bangun membantu Bibiknya di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga. Dika dan Dania yang akan berangkat sekolah, sedangkan Maya rencananya akan ikut sang Bibik ke ladang.


Tidak ada pekerjaan, membuat Maya merasa jenuh berada di rumah sendirian. Ia juga akan melihat pekerjaan yang di tawarkan Bibiknya semalam. Sementara belum mendapatkan pekerjaan di kota. Maya akan ikut bekerja sebagai pengupas bawang di salah satu ladang milik kepala desa.


****


Bersambung ❤️


Kalu jarak up-nya terlalu jauh harap maklum yaa.. Ngetik di hp tidak bisa menyimpan part. Sistemnya buat langsung kirim..