
Sesuai yang di janjikannya, menjelang maqrib ini Lingga akan mengabulkan keinginan Maya yang ingin makan Cilok buatan Kang duda tamvan rupawan penjual Cilok di ujung ruko tempat pangkalan Kang ojek. Kang Cilok yang menjadi pria rebutan dan dambaan para pekerja di jalan kenangan. Duda beranak satu yang di anggap pria beristri yang sempat membuat Dina patah hati.
Lingga mengangkat tubuh Maya tanpa bantuan kursi roda menuju taman rumah sakit. Melingkarkan kedua tangan di leher Lingga, Maya membenamkan wajahnya karena malu. Lexsus sudah mengabari kalau Cilok dan yang lainnya sudah sampai, dan para keluarga sudah menunggunya di bawah.
"Bang… pakai kursi roda saja." Maya tak ingin membuat suaminya kerepotan dan kelelahan.
"Biarkan, May.. Abang lebih tenang kalau kamu dalam gendongan Abang."
Masuk lift, Maya membantu menekan tombol lantai satu, dimana di lantai dasar ada sebuah taman di tengah-tengah bangunan rumah sakit.
"Abang nanti cape." Maya masih merayu Lingga agar membiarkannya duduk di kursi roda.
"Badanmu sangat kurus, May.. Abang tidak merasa sedang mengangkatmu. Setelah ini, kamu harus makan banyak makan. Tidak boleh diet."
"Kita mau kemana?" Maya belum tahu kalau Lingga mendatangkan bukan hanya Cilok yang di bungkus plastik, tetapi gerobak Cilok beserta penjualnya.
"Kita akan ke taman rumah sakit, bukankah kamu menginginkan Cilok hasil racikanmu sendiri?"
"Ke taman? Apa Dina menunggu di taman Bang? Kenapa tidak mengantarkannya ke ruang perawatan?" Maya merasa heran
"Tidak, Honey.. di bawah semuanya sudah menunggu. Kita akan berbuka puasa bersama."
Maya terkejut bukan main saat melihat semuanya sudah berada di bawah tengah menikmati jajanan gerobak yang di datangkan Lingga, bukan hanya gerobak Cilok.. tetapi gerobak bakso, gerobak minuman yang sedang kekinian, gerobak mie ayam, gerobak buah, gerobak seblak, gerobak ketoprak, sampai gerobak gorengan pun ada.
Hari ini dengan seijin Dokter Hendra sang pemilik rumah sakit. Lingga menyiapkan jajanan untuk Maya dan menggeratiskan banyak makanan bukan hanya untuk Maya dan keluarga, tetapi untuk semua pasien dari kelas 3 sampai kelas satu, untuk semua para keluarga yang sedang menunggu keluarganya yang sedang terbaring sakit di rumah sakit ini. Termasuk para Dokter dan perawat yang juga ikut menikmati makanan gratis siang ini.
Lingga bukan hanya memesan satu gerobak tetapi 3 gerobak untuk setiap makanan. Suasana di taman menjelang petang ini sudah seperti pasar malam yang menyediakan dan menjual jajanan lengkap beraneka ragam.
Maka dan Mada sedang menikmati bakso dengan mulut penuh, Dina sedang meracik mie ayam kesukaan Lexsus, sedang Umi, Mak Kom, Bik Mar, sampai bunda Rossa tengah menikmati jajanan rakyat yang menggugah selera. Mirip pesta taman, semuanya makan dengan berdiri tanpa ada jarak dan rasa malu yang tercipta. Hanya para orang tua yang duduk di bangku taman dan bangku yang di siapakan para penjual.
Lingga mendudukkan Maya, di kursi roda yang telah di siapkan seorang perawat khusus yang baru dua hari melayani Maya
"Mau saya gantikan Pak?" sang perawat itu menawarkan dirinya.
"Tidak, Sus… biarkan saya saja. Anda silahkan menikmati makanan yang ada."
"Terimakasih, Pak." suster perawat itu mengangguk hormat.
"May, Mau makan apa?" Lingga mendorong kursi roda memutari bermacam makanan.
"Cilok dulu Bang." Dina menunjuk Kang Cilok langganannya.
Dengan wajah ceria dan sangat gembira, Maya meminta Cilok dengan porsi sedang kepada kang Cilok tamvan rupawan
"Neng Maya, semoga cepat sehat.." kang cilok berucap tulus. Pria itu tak berani memandang wajah Maya dengan lama karena ada Lingga yang mendampinginya.
"May, jangan dulu terlalu banyak sambalnya." Lingga mengingatkan
Maya hanya tertawa saat ketahuan menuangkan sambal banyak kedalam plastik.
Wanita itu tidak meminta di belikan barang-barang mewah, tidak juga meminta makanan dari restoran mahal. Hanya jajanan seperti ini saja, Maya sudah bersorak gembira. Senyum itu tak lepas dari bibirnya serasa mendapatkan emas dan permata.
Lingga melihat Maya yang tengan menikmati jajanan bulat dengan saus kacang bertabur sambal.
"Abang mau?" Maya menyodorkan plastik berisi cilok kepada Lingga. Biarpun berkantung tebal, Lingga tak asing dengan jajanan seperti ini. Semasa ia di tugaskan di lapangan sebagai wartawan, Lingga sangat mengenal jajanan pinggir jalan dan ia sangat menyukai makanan sederhana. Lingga ikut menikmati, memakan Cilok racikan Maya.
"Abang Maya mau itu?" Maya menunjuk seblak level mematikan di samping gerobak gorengan setelah Cilok itu habis berpindah kedalam perutnya.
"Ayo, kita kesana.." Lingga mendorong kembali kursi rodanya.. Banyak pasang mata yang memandang pasangan Lingga dan Maya dengan penuh rasa kagum dan terpesona. Dari kalangan Dokter sampai para perawat dan pasien rumah sakit sudah tau siapa Lingga dan Maya, bukan hanya karena bertemu dari rumah sakit, tetapi dari kabar berita gosip di layar televisi. Mereka yang menyaksikan dan baru pertama kali ini melihat langsung sepasang pasangan yang tengah menghebohkan dunia maya itu.
Lexsus kepedasan memakan mie ayam racikan Dina, wanita itu lupa kalau mie ayam itu bukan untuk dirinya tetapi untuk pria manis sang pujaan hatinya. Dina mengelap keringat di dahi Lexsus dengan tissue dengan bertanya.
"Pedes ya, Daeng?"
"Sudah tau nanya." Mak Kom yang menjawab.
Wanita bertubuh gemuk itu juga sedang menikmati mie ayam ceker plus kepala.
"Mak kok makan kepala?" Dina bertanya saat melihat mak Kom sedang menggerogoti tulang kepala ayam.
"Memangnya kenapa?" Mak kom menghentikan aksinya. Sudah tau Dina jail, tetapi tetap saja mak Kom selalu lupa.
"Bahaya mak!" Dina bicara dengan wajah seriusnya.
"Bahaya? Bahaya kenapa Neng?" Mak Kom tiba-tiba menghentikan aksinya.
"Bahaya. Takut ketagihan Mak, soalnya enak." Dina tersenyum dengan mencebikkan bibirnya.
Seandainya tidak ada Lexsus di samping Dina, sudah pasti itu kepala ayam sudah melayang ke arah Dina. Dan Mak Kom kembali melanjutkan lagi menikmati paruh kepala ayam berbumbu kecap yang sangat sedap dengan berbalik badan memunggungi Dina.
"Ri.. Jangan jail." Lexsus bersuara.
Brakkk...
"Oh, Maaf Mas… saya tidak sengaja."
Perawat yang di khususkan melayani Maya itu tidak sengaja menabrak pria muda yang juga akan mengarah kesalah satu gerobak makanan.
Perawat itu mencoba mengelap kemeja Lendra di bagian dada yang terkena tumpahan kuah seblak yang di bawanya. Dari kantor, pria muda itu langsung menuju ke rumah sakit.
"Biarkan saya saja." dengan reflek, Lendra mencekal tangan sang perawat agar berhenti.
Keduanya saling bertatapan dengan wajah saling berhadapan.
"Hena.."
"Lendra.."
Keduanya bersamaan menyebut nama masing-masing. Raut wajah ttegang terkejut terlihat di keduanya.
"Kamu kerja disini?" Lendra bertanya sambil memperhatikan seragam yang di kenakan Hena,
"Iy.. Iya.." Hena tersenyum tipis terlihat gugup, wanita itu langsung pergi meninggalkan Lendra dengan seribu banyak pertanyaan.
Lendra memperhatikan, punggung wanita yang di kenalnya semasa SMA yang semakin menjauh dan menghilang di tengah kerumunan.
"Hena.." Lendra kembali mengucapkan namanya. pandangannya belum beralih dari wanita itu
Sampai tepukan di punggungnya mengalihkan pandangannya.
"Melihat apa?" Mama Lena bertanya dengan tersenyum menatap putranya.
****
Bersambung ❤
Mohon dukungan like komennya teman teman