
Keluarga dan para sahabat masih berkumpul di ruang tengah sambil menikmati kudapan dan minuman setelah acara kirim doa selesai. Setelah sebelumnya mereka berbuka puasa bersama. Tarawih bersama..
Maka dan Mada malam ini berencana akan ikut Lingga ke rumah sakit. Dua remaja itu ingin menemani Abangnya sampai waktu sahur.
"Ikut ya Bang.. Maka kangen Teteh.." Maka lebih muda lima menit dari Mada.
"Mada Juga Bang. Mada tak mau di tinggal." sang Kakak bicara
"Iya. Nanti ikut Abang. Teteh Maya juga pasti kangen kalian." Lingga mengusap kepala Mada. Kedua adik Maya itu terus menempel di sisi Lingga.
"Da, biarkan Abang bicara hal yang penting dulu." Umi Wanda mengingatkan putranya untuk tidak mengganggu pembicaraan Lingga bersama Sutan Cjokro, Hadid dan yang lainnya.
"Biarkan Umi, Maka dan Mada harus mulai banyak belajar meyingkapi banyak masalah mulai saat ini. Bukankah kalian ingin menjadi pengusaha?" Lingga bertanya kepada keduanya.
"Mada yang ingin jadi pengusaha Bang.. kalau Maka ingin menjadi Dokter. Tentara. Polisi. Lawyer.. Ahh Bingung milihnya.." remaja masih labil itu masih bingung akan pilihannya.
"Kenapa tidak mau mengikuti jejak Kak Lendra?" Lendra ikut bertanya
"Kak Lendra kerja di bidang apa?" Maka mendekat duduk di samping pria muda itu.
Memilki karakter Ekstrovet, Maka lebih agresif dan banyak bicara. Kebalikan dari Maka, Mada memiliki karakter Introvet, remaja itu lebih pendiam dan tidak akan mau di ajak bicara jika lawan bicaranya di anggap tak membuatnya nyaman.
"Di kesatuan. Lembaga pemerintahan. Sebagai… Rahasia." Lendra tak melanjutkan ucapannya.
"Hah.. Bikin Maka penasaran saja."
Hadid yang turut memperhatikan interaksi keduanya hanya tersenyum.
"Apa ada perkembangan Maya Ling?" Cjokro bertanya, mereka duduk di sofa bersama, setelah sebelumnya membahas permohonan Suryo Wibowo meminta untuk bertemu." Roby baru saja memberikan laporan.
Hadid sebagai lawyer sekaligus konsultan ikut mengamati kasus Lingga.
"Ya, Pa.." Lingga menyampaikan yang terjadi ketika sore tadi di ruang pemulihan.
"Bagaimana kalau kita bawa ke China?" Hadid memberi saran
"Abang masih percaya kemampuan para tim Dokter disini. Kita tunggu dulu Pa.." Lingga masih bertahan, ia bicara kepada Hadid yang juga di panggil Papa.
°°°°°
Lexsus dan Dina memisahkan diri.
Sepasang kekasih yang sudah 3 hari tak bertemu itu duduk bersama di bangku taman samping rumah. Dengan pendar lampu taman dan gemercik air dari pancuran, menambah suasana semakin damai. Tetapi tidak dengan hati keduanya yang sedang di penuhi riak-riak cemburu.
"Maafin Dina Daeng.." Dina bicara pelan hampir tak terdengar.
"Sudah Anri pikirkan?"
Dina mengangguk pelan.
"Sudah tau kesalahannya?"
Dina mengangguk lagi.
"Anri punya mulut?"
Dina masih mengangguk.
"Apa perlu Daeng gigit bibrnya agar Andri menjawab dengan kata, bukan dengan kepala."
Sebenarnya Lexsus berusaha menahan tawanya. Melihat tingkah Dina, membuatnya tidak bisa berlama-lama marah kepadanya. Selama 3 hari tak bertemu, bukan berarti Lexsus tidak merindukan Dina. Rasa rindu itu ada, bahkan menyerangnya.. Tetapi harus ia tahan karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
"Apa boleh Daeng bilang kangen sama wanita lain?" Lexsus bertanya dengan wajah serius. Tidak tersenyum tidak juga berekspresi. Wajahnya datar dan lempeng seperti jalan tol palimanan.
"Tidak Boleh.." dengan cepat Dina menjawab setelah menarik bekapan tangannya. Mata melotot tanda tidak suka.
"Anri minta maaf, karena sudah bilang kangen sama pria lain." Dina mencoba merayu, ia harus bisa memberi pengertian tentang Kang Oleh yang bukan siapa-siapa selain sahabat. "Tapikan itu Kang Oleh Daeng.. Sohibnya Dina sama Maya. Kita itu cuma sahabatan, enggak lebih."
"Sumpah.. Berani di sambar bibir Daeng deh.." Dina merapatkan jari telunjuk dan jari tengah dengan tertawa. Dina harus bisa meyakinkan kulkas dingin berukuran jumbo yang sedang dalam mood cemburu.
"Lagian yahh.. Cinta dan sayang Dina itu hanya milik Daeng seorang." Beehhh..... manis bener rayuan Neng Dina buat si lempeng.
"Daeng itu keren, macho.. Kalau di bandingkan dengan Kang Oleh mah.. Jauh kemana-mana." Dina mengeluarkan jurusnya
"Maaf ya Kang Oleh." dalam hati Dina.
Sedikit demi sedikit Dina bergeser, duduk merapatkan diri di samping Lexsus.
"Kalau Daeng tidak percaya, belah saja dadanya Mak Kom.." Dina merapatkan bibirnya menahan tawa.
"Maaf ya, Mak." dalam hati Dina lagi
Sedangkan di belakang mereka, Mak Kom mengepalkan tangan sambil meninju telapak tangan kirinya.
"Tuuh anak ya, kelewatan bener dahh.. Dia yang enak-enak pacaran! Emak yang jadi korban.!"
Lexsus merangkul pundak Dina, pria itu tidak tahan mengabaikannya lama-lama. Sebenarnya Lexsus mengetahui siapa Kang Oleh. Tanpa sepengetahuan Dina, pria manis itu sudah mencari informasi selengkapnya tentang Dina, kehidupan Dina, keseharian Dina. Ia hanya ingin Dina tak asal sembarang bicara dan bermanja-manja dengan pria lain. Apa lagi bersentuhan fisik yang memang sangat tidak di sukainya. Ia ingin memiliki Dina seutuhnya, mencintai dan menyayangi Dina dengan caranya.
"Baik, Daeng maafkan.. Sekali lagi di lakukan.. Daeng potong-potong itu Kang Olehmu." Daeng mengancam Dina.
"Jangan Daeng.. Kasian.. Badannya Kang Oleh itu kurus kurang gizi. Buat apa coba di potong-potong? Di lempar buat makanan ikan saja, nanti ikannya bakal keracunan.. Jangan yaahh.." Dina tersenyum lebar sambil menyandarkan kepalanya dengan manja.
"Waduhhh si Soleh mau di potong-potong..?? Pak Lexsus itu apa mafia yakkk?? Serem bener.!" Mak Kom masih menguping pembicraan Dina dan Lexsus.
"Ri.. Daeng serius.. Daeng tidak main-main denganmu. Kamu akan menjadi istri Daeng. Jika waktunya sudah tepat, Daeng akan membawamu pulang. Sebelumnya Daeng sudah menyampaikannya kepadamu. Lambat laun, kamu akan mengetahui siapa Daeng. Untuk saat ini, Daeng masih fokus dengan masalah Pak, Lingga. Jadi bersabarlah.." Lexsus bicara pelan, pria itu memberikan pengertian kepada wanitanya.
Keduanya saling menatap dengan duduk yang sudah saling merapat dekat. Saling berhadapan, Lexsus membelai pipi Dina yang merona merah karena bahagia mendengar ucapan Lexsus. Di balik sikap dinginnya, ada kehangatan yang mampu pria itu berikan.. Dibalik sikap cueknya, ada sejuta perhatian yang terselip di dalamnya. Di balik keseramannya, ada cinta yang besar untuk dirinya.
Dina tidak meminta kesempurnaan dari pasangannya.. Karena ia sadar siapa dirinya. Dina tak bertanya harta yang di milikinya, ia hanya ingin mengetahui siapa Lexsus sebenarnya? Bagaimana kehidupannya? Dan ia akan bersabar menunggu sampai waktu yang di janjikan itu tiba.
"Percaya sama Daeng, Ri. Daeng sangat mencintaimu. Daeng akan buktikan, bukan dengan kata-kata. Tetapi dengan ikatan pernikahan. Ijinkan Daeng mencintaimu dengan cara Daeng, Anri.."
Lexsus mendekatkan wajahnya, telunjuk dan ibu jempolnya menjapit dagu Dina.. Menariknya agar lebih mendekat ke arah bibir coklatnya. Daging kenyal itu saling bersentuhan di bawah sinar terang bulan dengan bertaburan ribuan bintang yang mengelilinginya. Sama halnya seperti hati Dina yang sedang bertaburan bintang terang nan indah.
Ini untuk kedua kalinya, bibirnya tersentuh oleh pria yang sudah memenuhi ruang hatinya. Mata itu terpejam meresapi.. Ia pasrah, membiarkan bibirnya terjamah berlapiskan rasa cinta yang tengah menggelora.
"Asstaghfirulallahalazim…!!" Mak Kom menutup kedua matanya.
"Apes bener dah Emak.. Dapet tontonan layar tancep.."
****
Bersambung
Foto Lendra menyusul ya