
Maya..
Dengan suara bergetar. Mulutnya mengucap satu nama.
Lingga tak kuasa menahan rasa bahagianya. Tuhan menunjukkan jalan kepadanya. Yang membuat akhirnya ia mengetahui keberadaan Maya.
Walaupun mengunakan topi yang menutupi separuh wajahnya. Tetapi Lingga sangat yakin kalau wanita itu adalah Maya. Maya Mawanda
Wanita yang di carinya.. Wanita yang seminggu ini membuatnya menggila akan cinta.. Mengila akan rindu yang membuncah...
"Rob, lanjutkan sampai selesai. Hasil ahirnya aku akan menyetujui. Dan tolong kamu kirimkan alamat desa itu ke aplikasi pesan." Lingga meraih ponselnya bergegas meninggalkan ruangan di saat menganalisis belum selesai.
Membuat para tim terheran-heran akan sikap Lingga. Mereka bertanya-tanya apa ada yang salah dari apa yang di lihatnya di layar monitor. Pria yang menjabat sebagai pimpinan umum itu mendadak meninggalkan diskusi yang masih dalam pembahasan.
Membuka pintu ruang kerjanya, langkah kakinya terhenti. Lingga terkejut saat mendapati Lusiana tengah duduk di sofa menunggunya. Wanita yang beberapa pekan terakhir ini di hindarinya
Wanita yang selama 32 tahun mengurusnya.. Wanita yang sudah mencurahkan kasih sayangnya. Hanya saja kedekatannya bersama Lusiana terasa berbeda pada saat ia berjumpa dengan Rossa. Tidak memiliki getaran rasa yang baru di pahaminya sekarang.
Dan saat ini Lingga sangat tidak menyangka, wanita yang lembut, penuh kasih sayang itu mampu menyimpan rapat kenyataan yang sebenarnya. Tega memisahkan ia dengan sang Bunda.
Hingga Lingga harus mempertanyakan Kemana hilangnya hati nurani seorang Lusiana. Hingga membuatnya merasakan kekecewaan yang lebih besar dari rasa kecewa sebelumnya. Rasa kecewa pada saat ia mengetahui Cjokro memiliki wanita lain.
Wanita itu telah banyak menyampaikan kebohongan akan ibu kandungnya. Wanita itu telah menanamkan kebencian di hati dan pikirannya agar ia membenci Ibu kandungnya. Wanita itu bahkan selalu membicarakan keburukan Cjokro selama ini. Dengan menuduh pria itu tidak setia.
Dan saat ini. Ia kecewa.. Ia marah.. Seandainya bisa ia lakukan, sudah pasti akan ia lakukan. Ia akan memukul habis orang yang telah tega memisahkannya dengan sang Ibu.
Tetapi ia tidak bisa. Lusiana seorang wanita, bagaimanapun mereka telah hidup bersama selama 32 tahun. Waktu yang tidak sebentar. Kasih sayangnya-pun tetap ada untuknya.
"Ling.." Lusiana beranjak dari duduknya mendekat ke arah Lingga.
"Kita harus bicara Ling. Jangan menghindari Mama." Lusiana memegang lengan Lingga. "Kamu pasti sudah mendengar kabar yang tidak benar dari wanita itu? Wanita itu pasti sudah menyampaikan cerita yang tidak benar, wanita itu pasti sudah menuduh Mama yang bukan-bukan?"
"Jawab Mama Ling? Jangan diam saja." Lusiana menggoyangkan lengan Lingga menyadari pria itu membisu tak bersuara.
"Mama akan ceritakan yang sebenarnya. Wanita itu pasti sudah memutarbalikkan fakta. Jangan di percaya Ling.. Wanita itu bohong. Dia sudah merebut Papamu dari Mama. Dan sekarang dia ingin kamu membenci Mama. Memisahkan kita Ling."
"Kenapa Mama bilang wanita itu bohong ? Apa yang sudah dia lakukan? Kabar dan cerita seperti apa yang Mama maksud? Tuduhan seperti apa hingga membuat Mama cemas? Fakta seperti apa yang sudah di putarbalikkan-nya?"
"Benarkah wanita itu sudah merebut Papa dari Mama? Atau malah kebalikannya?"
"Hentikan semua kebohongan ini Ma? Sebelum terlambat.. Sebelum hati Lingga tertutup untuk Mama."
"Mama tau? Wanita yang buruk di mata Mama itu menginginkan Lingga untuk tetap menghormati Mama, menyayangi Mama. Wanita yang Mama sebut pembohong itu meminta Lingga untuk tidak membenci Mama. Dan, dia Ibu Lingga Ma."
"Kenapa Mama tega menghancurkan perasaan Lingga Ma? Apa salah Lingga Ma? Hentikan kebohongan ini Ma, Lingga mohon.. Berhenti membencinya.."
"Tidak Ling.. Tidak.!"
Wanita itu tetap salah di mata Mama. Ya, Ling... Kamu benar. Tidak perlu Mama tutupi lagi. Wanita itu memang Ibu kandungmu! Wanita itu yang melahirkanmu. Tetapi Dia sendiri yang menyerahkanmu kepada Mama. Karena dia Mama harus kehilangan anak dan rahim Mama."
"Dia salah Ling, dia salah.. Lusiana menangis dengan memeluk pinggang Lingga. "Kamu harus percaya Mama Ling. Semua yang Mama lakukan karena Mama tidak ingin kehilanganmu Ling."
"Kita bersama selama 32 tahun. Bahkan Mama lebih memilih mengurusmu dari pada anak Mama sendiri. Kasih sayang lebih banyak Mama curahkan kepadamu selama ini Ling."
"Mengapa Mama tidak bisa mendapatkan apa yang Mama inginkan? Selama ini Mama hanya menginginkan Papamu mencintai Mama! Memperhatikan Mama. Tapi apa yang Mama dapatkan? Tidak ada! Tidak ada Ling!" Kami serumah tapi hatinya di tempat lain.
"Apa ini adil buat Mama? Dan, apa kamu sudah tidak mau mendengarkan ucapan Mama hanya karena kamu bukan terlahir dari rahim Mama? Dan, apa kamu tidak akan mengabulkan keinginan Mama Ling?"
Lingga mengurai pelukan Lusiana yang membelit pinggangnya.
"Siapa anak Mama?"
"Katakan! Siapa anak yang sudah Mama tinggalkan demi Lingga?"
"Ling.. Maksud Mama.."
"Jawab Ma.. Dan apa yang Mama inginkan dari Lingga saat ini? Saat Mama tidak mendapatkannya dari Papa?"
Lingga sudah sudah sangat paham. Kemana arah pembicaraan Lusiana, Mamanya akan menuntut sesuatu kepadanya. Lingga sudah bisa menebak. Apa yang di inginkan Mamanya akan menyangkut hubungannya dengan Alisa.
"Mama ingin kamu tidak akan pernah meninggalkan Alisa. Batalkan gugatan ceraimu Ling. Alisa akan tetap menjadi istrimu selamanya."
"Kenapa? Apa karena Alisa anak Mama bersama Sanjaya.?"
Raut wajah Lusiana berubah pias mendengar ucapan Lingga.. Ia tidak menyangka secepat itu Lingga akan mengetahuinya segalanya.
"Iya.. Alisa adalah anak Mama. Dan.. Sanjaya adalah mantan suami Mama."
Lingga tertawa sedih saat mendengar pengakuan Lusiana. Ia merasa sudah di permainkan selama ini. Ia menikahi Alisa yang ternyata putri dari wanita yang ia anggap Mamanya dan wanita itu bungkam seolah tidak terjadi apa-apa
Duduk berhadapan di sofa, keduanya sama-sama terdiam beberapa saat. Sampai ucapan Lingga mengejutkan membuat Lusiana tak percaya.
"Bagaimana kalau Lingga tidak bisa menuruti keinginan Mama? Apa yang akan Mama lakukan?"
Lusiana menatap tajam Lingga dengan suara yang terbata dengan wajah cemas
"Ke.. Kenapa? Bukankah kamu sangat mencinta Alisa? Jangan bilang kamu sudah memiliki wanita lain?"
"Cinta itu sudah hilang Ma, bahkan mungkin tidak pernah ada. Cinta itu telah Mati bukan karena Lingga memiliki wanita lain. Tapi karena perbuatan anak Mama sendiri."
"Apa Maksumu Ling? Jangan menuduh Lisa tanpa bukti?"
"Apa Mama pikir putri Mama itu wanita lugu yang tak mengenal pria lain selain Lingga? Lingga yakin Mama sangat paham. Apa perlu Lingga jelaskan sejauh mana hubungannya bersama pria yang bernama Steven? Lingga juga yakin Mama tidak akan kuat saat mengetahui kelakuannya."
"Cukup Ling! Jangan terus menyudutkan Alisa." Lusiana tampak tidak terima mendengar ucapan Lingga. Wajah Lusiana memerah.. Wanita itu sudah terpancing emosinya
"Kalau kamu tidak bisa bertahan atas dasar cinta. Paling tidak, kamu lakukan demi menebus dosa Mamamu. Mama tidak mau tau!"
"Jangan bahas soal perceraian lagi dengan Alisa. Kalau sampai kamu lakukan. Bukan hanya wanita itu yang telah melenyapkan anakku."
"Tapi kamu juga Ling. Kamu akan melenyapkan Alisa Ling. Kamu dan Ibumu akan di sebut sebagai pembunuh! Dan Mama akan mengangkat kasus itu lagi ke permukaan. Ingat itu Ling!"
Lusiana bangkit dari duduknya. Wanita itu melangkah keluar meninggalkan Lingga yang terdiam. Untuk saat Lingga belum bisa memutuskan masalahnya dengan Alisa. Ia tidak bisa bertindak gegabah dengan membahayakan sang Bunda. Walau ia memiliki bukti yang kuat yang akan ia pergunakan untuk menekan Lisa
"Mayy... Abang sangat membutuhkan kamu May.." ucapnya dengan lirih. Lingga meremat rambut, mengusap wajah dengan frustasi.
Meraih kunci mobil. Lingga meninggalkan kantor membelah jalanan. Dengan kepala yang terasa berat. Ia butuh udara bebas..
Ia butuh ketenangan.. Ia butuh tempat untuk melepaskan beban yang ada.
****
Bersambung ❤️
Jangan lupa jempolnya ya..
Di harap bersabar.. Ini ujian.. Ini ujian.. Part ini belum bisa mempertemukan Maya dan Lingga hehe
Up dari kemarin gak lolos. Bolak balik di revisi.. Tau dah salahnya dimana..
Lierrrr euy