
Kevin, Anna dan Nenek terkejut melihat Alex dan Julie muncul sabtu sore itu sambil bergandengan tangan. Satu-satunya yang senang hanya Gita.
"Tante Julie datang buat main dengan Gita?"
"Eh... Bukan sayang. Tante Julie mau ngobrol sama Nenek," Alex yang menjawab.
"Lama gak ngobrolnya? Sudah ngobrol bisa main sama Gita?"
"Tante gak bisa janji," Julie tersenyum tipis.
"Gita," panggil Nenek.
"Gita main di kamar dulu ya sama Bi Asih," lanjut Nenek. Bibir Gita langsung maju beberapa senti mendengarnya, namun tetap patuh.
"Ayo kita duduk di ruang keluarga saja," seru Nenek.
"Julie bisa bicara dulu sama aku?" Anna segera menyela.
Julie melirik Nenek Ratih dan Alex bergantian. "Aku gak akan memakanmu," kata Anna.
"Kami akan menunggu di ruang keluarga," bisik Alex.
Anna kemudian mengajak Julie ke kamarnya. Segera setelah menutup pintu, Anna langsung mencerca Julie.
"Sejak kapan? Kok kamu gak bilang-bilang sih? Tiba-tiba nongol mau nikah, aku syok tahu gak? Mana kamu hamil duluan."
"Tunggu. Alex bilang?" tanya Julie histeris.
"Gak sih. Kami cuma menebak-nebak dan ternyata benar."
"Aduh, gimana dong? Kalau Nenek marah gimana? Atau kalau Nenek suruh aku gugurin?" Julie mulai panik.
"Hei, santai saja. Nenek gak akan seperti itu."
"Siapa yang tahu Na?"
"Nenek sudah memutuskan akan mengikuti kemauan Alex soal pasangan. Kamu gak perlu khawatir."
"Biar gimana pun juga aku hamil sebelum nikah. Pasti akan Nenek menganggapku perempuan tidak benar."
"Artinya Alex juga gak benar dong. Kan kalian sama-sama melakukan. Lagian Nenek bukan orang yang akan berpikir seperti itu kok."
"Mudah-mudahan saja."
"Makanya pakai pengaman," ejek Anna.
"Biasanya pakai kok," balas Julie malu.
"Biasanya? Kenapa yang terkahir gak pakai."
Julie tidak langsung menjawab. "Karena udah gak tahan?" tanya Anna lagi.
"Kehabisan," jawab Julie.
"Itu mah alasan. Kalau kehabisan kan bisa pergi beli dulu."
"Tanggung," seru Julie menundukkan kepala. Anna tertawa.
"Udah berapa bulan?"
"Belum periksa ke dokter. Baru testpack," jawab Julie pelan.
"Sejak kapan kalian pacaran?"
"Tahun baru."
"Pas tahun baru?" Julie mengangguk sebagai jawaban.
"Baru lima bulan yang lalu?" tanya Anna. Julie kembali mengangguk.
"Wow. Memangnya kalian melakukan itu sesering apa?"
"Jarang kok. Aku kan ada di Bandung."
"Terus kenapa kamu gak pernah bilang?"
Julie menatap Anna. "Aku gak bisa Na. Kamu lagi berantem sama Kevin, masa aku umumin kalau aku pacaran sama adeknya."
"Alex dan Kevin kan dua individu yang berbeda," protes Anna.
"Tetap aja aku gak enak."
"Sudahlah gak usah dibahas lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Mending sekarang kita temuin Nenek."
"Aku gugup," seru Julie.
"Gak perlu gugup. Kan ada aku dan Alex. Ayo." Anna mengajak Julie keluar.
Waktu sudah berjalan hampir sepuluh menit. Julie dan Anna belum juga muncul. Nenek dan Kevin juga belum bicara apapun.
Alex terpaksa harus menunggu dalam diam, membuatnya gugup.
"Aduh kok waktu berjalan lama sih? Mana dari tadi Nenek diam," Alex membatin gelisah.
Begitu melihat Julie, Alex langsung sumringah. Alex langsung berdiri dan meminta Julie duduk di sampingnya, sementara Anna duduk di samping Kevin.
Nenek masih belum buka suara. Yang dilakukannya hanyalah menatap Alex dan Julie bergantian. Hal itu membuat Julie bertambah gelisah.
Menyadari kegelisahan Julie, Alex menggenggam tanngannya dengan erat.
"Gak usah takut," bisik Alex pada Julie. Julie membalasnnya dengan senyuman.
Alex berdehem membersihkan tenggorokannya.
"Nek," Alex memanggil. Nenek memfokuskan diri pada Alex.
"Seperti yang sudah saya bilang kemarin, saya mau memperkenalkan calon istriku. Saya yakin semua sudah kenal dengannya."
"Tentu saja, tapi yang jadi pertanyaan kenapa bisa?" Alex dan Julie mengerti maksud dari pertanyaan itu.
"Itu kesalahanku. Saya tidak bisa menahan diri dengan baik."
"Begitu?" Nenek mengangguk. Julie menundukkan kepala, tidak berani menatan Nenek Ratih.
"Kapan rencananya?" tanya Nenek. Julie langsung mengangkat kepalanya.
"Maaf?" tanya Alex.
"Memangnya kalian tidak mau menikah? Kok malah bingung," ejek Nenek.
"Se... Secepatnya Nek," jawab Alex.
"Secepatnya kapan?" kali ini Kevin yang bertanya.
"Kalau bisa mungkin akhir bulan ini," jawab Alex.
Julie menatap Alex dengan tatapan sedikit terkejut. "Memang bisa kalau secepat itu? Akhir bulan tinggal dua mingguan loh," batin Julie
"Emang Julie sudah setuju?" tanya Nenek lagi.
"Ya?" Julie sedikit bingung.
"Te... tentu saja saya mau Nek," Julie menjawab.
"Kalau kondisimu tidak seperti sekarang ini, kamu masih mau nikah sama Alex?" Nenek menatap Julie dengan ekspresi serius.
"Tentu saja Nek," jawab Julie tegas.
Nenek tersenyum, senang dengan jawaban Julie. Begitu pula dengan Alex.
"Nenek gak akan tanya macam-macam soal hubungan kalian, tapi Nenek punya syarat."
"Syarat apa Nek?" tanya Alex ragu-ragu.
"Nenek gak mau kamu jadi sekretaris Kevin lagi." Mendengar itu Kevin tersenyum senang.
"Maksud Nenek?" tanya Alex bingung.
"Kamu harus membantu Kevin memimpin perusahaan kita. Bukan sebagi sekretaris tapi direktur. Nenek akan mundur dari posisi Nenek."
Bibir Alex terbuka, tidak percaya pada omongan Nenek. "Gak bisa gitu dong Nek," protes Alex.
"Kenapa? Kamu mau tolak?" tanya Kevin sinis.
"Kamu tahu alasanku Vin."
"Karena tidak mengalir darah Bramantara di tubuhmu?" Alex diam, tidak menanggapi Kevin.
"Jadi selama ini kamu anggap kami apa? Sekedar kolega?"
"Bukan gitu Vin. Kamu sudah aku anggap saudara sendiri. Kalian keluargaku."
"Lalu kenapa kamu tidak pernah mau terima jabatan? Katanya kamu menganggap kami keluarga, tapi giliran diberikan tanggung jawab malah kabur."
"Aku bukan kabur. Aku hanya merasa tidak pantas."
"Apa yang membuatmu tidak pantas?" tanya Nenek.
"Kamu juga keluarga Bramantara kan? Lalu apa yang membuatmu tidak pantas duduk di Bramantara grup," Nenek melanjutkan.
"Aku... "
"Kalau gak mau, gak usah nikah." Anna langsung memotong. Mata Julie membulat sempurna karena kaget.
"Na, kok kamu tega sih?" protes Julie.
"Bukan gitu Li. Kalau Alex gak bisa urus perusahaan dengan alasan gak sedarah, bagaimana dia bisa urusin kamu? Keluarga yang tumbuh besar bersamanya saja tidak dianggap, apalagi kamu."
Julie dibuat tak berkutik dengan kata-kata Anna. "Aku rasa Anna benar," gumam Alex.
"Apa?" tanya Anna.
"Aku bilang kamu ada benarnya juga," jawab Alex sambil tersenyum tipis.
"Aku akan menerima tawaran Nenek," sambung Alex.
Nenek tersenyum puas. "Tapi kami juga ingin meminta beberapa hal," lanjut Alex.
"Katakan," balas Nenek.
"Pertama Julie ingin tetap bekerja."
"Itu tidak masalah," balas Nenek.
"Aku punya ide," seru Kevin tiba-tiba.
"Aku akan memberikan posisi komisaria di TC Bank pada Julie. Dengan begitu Julie gak perlu pindah kerja kan?"
"Dan aku tidak terima penolakan," lanjut Kevin.
Julie merapatkan kembali bibirnya yang tadi sudah siap menjawab Kevin. "Itu bukan hal yang buruk," jawab Alex.
"Apa lagi yang ingin kalian minta?" tanya Nenek.
"Kami harap bisa tinggal di rumah sendiri," jawab Julie.
"Maaf Nek, bukan kami tidak senang dengan rumah ini. Hanya saja kami ingin lebih menikmati hidup dengan keluarga kecil kami," Alex memberi pengertian.
"Boleh saja, tapi Nenek sendiri yang akan memilih rumahnya. Dan sebelum rumahnya siap, Julie akan tinggal di sini. Nenek tidak terima penolakan."
"Baik Nek," jawab Alex dan Julie kompak.
"Pergilah bicara dengan Gita. Setelah itu baru mita makab malam," Nenek memberi saran.
next>>>