
Anna tidak bisa mengontrol air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Dia berusaha menelpon Julie, tapi tidak ada yang mengangkat telpon.
Di sisi lain, Clarence membawa Kevin kembali ke kamarnya. Kevin membanting pintu kamar dengan kasar.
"Astaga ini anak kenapa sih? Mana Alex tidak bisa dihubungi," gumam Clarence. Clarence memutuskan menjampangi kamar Alex.
Clarence menekan bel kamar Alex dengan tidak sabar.
"Alex kemana sih?" Clarence terus menekan bel kamar.
Setelah menunggu lebih dari lima menit, akhirnya Alex membuka pintu. Alex muncul dengan rambut basah, hanya menggunakan handuk dan nafas sedikit terengah.
"Astaga kenapa lama sekali?" Clarence berusaha masuk, tapi Alex menahan pintu dengan tangannya.
"Ada apa sepagi ini datang mencariku?" tanya Alex.
"Biarkan aku masuk dulu."
"Bicara saja dari sana," pinta Alex.
"Kamu menyembunyikan perempuan ya?" Clarence menyipitkan mata dengam curiga.
"Aku belum pakai baju, kamu juga cuma pakai gaun tidur. Kalau ada orang yang lihat pasti akan jadi bahan gosip," jawab Alex tenang.
"Benar juga sih," gumam Clarence.
"Ada apa?" tanya Alex.
"Sepertinya Kevin bertengkar dengan Anna."
"Kok bisa?" tanya Alex lagi.
Clarence mengangkat kedua tangannya.
"Sepertinya ada hubungannya dengan Vanessa dan Mike. Kevin bahkan menerobos masuk kamar Mike dan memukulnya."
Sedetik kemudian Alex membanting pintu kamar.
"Astaga dua saudara ini kenapa sih? Padahal tidak sedarah, tapi kelakuan sama." Clarence melangkah pergi dengan kesal.
Anna sudah dua puluh menitan menangis di dalam mobil. Mobilnya masih terparkir di pinggir jalan.
Ponsel Anna berdering tidak sabaran, menampilkan nama Julie pada layarnya.
"Halo, Anna?" Julie bersuara duluan, karena Anna masih tidak sanggup bicara.
"Anna kamu kenapa? Kamu nangis?" Julie terus bertanya. Anna masih belum menjawab.
"Sekarang kamu di mana?" Julie bertanya dengan cemas.
"Aku juga gak tahu ada di mana," isak Anna.
"Kamu bisa kirim lokasi kamu? Aku jemput kamu di sana." Anna mengangguk tanpa bisa dilihat Julie.
"Tapi aku mohon, jangan beritahu Kevin atau Alex. Jangan beritahu siapa pun juga."
"Aku gak akan bilang ke siapa-siapa. Aku janji."
Karena jalanan sedang lengang dan banjir sudah surut, Julie tiba dalam waktu singkat. Rambutnya masih basah dan belum sempat berdandan.
"Anna." Julie mengetuk pintu mobil. Anna yang tadinya bersandar pada kemudi bangun dengan pelan.
Begitu melihat wajah Julie, air mata Anna kembali mengalir. Anna membuka pintu mobil dan langsung memeluk sahabatnya itu. Julie membiarkan sahabatnya menangis sampai puas.
Karena Anna tidak ingin pulang ke hotel atau rumah Kevin, Julie membawanya ke rumah mereka yang dulu.
Julie harus menelpon Pak Didi untuk membawa kembali mobil Kevin. Pak Didi dengan senang hati menerima tawaran Julie, karena diberikan tip besar.
Sesampainya di rumah Julie membiarkan Anna tidur. Sementara Anna tertidur, Julie menyempatkan diri menelpon Alex.
"Bagaimana?" Alex langsung bertanya tanpa mengucapkan salam.
"Anna belum mau bicara. Bagaimana di sana?"
Terdengar Alex menghela nafas.
"Kevin belum mau keluar dari kamar. Nenek sudah khawatir."
"Nanti akan ku kabari lagi," balas Julie.
"Memangnya kalian sekarang ada di mana?" tanya Alex.
"Nanti ya. Aku akan kabari lagi kalau Anna sudah tenang."
Sampai jam makan siang, Anna masih belum mau bicara.
"Anna, makan dong. Kalau kamu gak mau ngomong gak apa-apa, tapi seridaknya kamu makan."
Anna menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Julie menatap Anna dengan sedih.
"Anna please. Kamu gak boleh gini. Kalau kamu kayak gini terus, artinya kamu membiarkan Vanessa menang. Kamu mau lihat dia tertawa diatas penderitaanmu?"
"Terus aku harus gimana?" tanya Anna.
"Pada dasarnya dia sudah menang," lanjut Anna.
"Maksud kamu apa sih?"
Anna diam tidak menjawab.
"Anna, kalau kamu gak bilang apa-apa gimana aku bisa bantu kamu?"
Anna memberikan ponselnya pada Julie.
"Lihat saja sendiri," gumam Anna lirih. Julie melihat foto yang ada di ponsel Anna.
"Na, mungkin saja ini sudah diedit. Kamu kan tahu Kevin gak suka sama Vanessa."
"Terus bagaimana menjelaskan bekas lipstik di tubuh Kevin?" Julie terdiam.
"Aku tahu banget kalau Kevin gak suka Vanessa. Aku tahu Kevin pasti dijebak," Anna berargumen.
"Lalu kenapa kamu seperti ini?" tanya Julie.
Anna memegang dadanya.
"Sakit banget. Aku sampai kepikiran hak yang tidak-tidak."
Anna mengambil nafas panjang.
"Aku berpikir bagaimana kalau mereka benaran tidur bersama? Bagaimana kalau sampai Vanessa hamil?"
"Na, pikiranmu terlalu jauh."
"Aku tahu Li. Aku tahu, tapi aku gak bisa menahannya. Apalagi Kevin itu diberi obat. Dia bisa melakukan apapun dibawah pengaruh obat."
Julie tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Setidaknya kamu makan dulu ya. Supaya kita bisa memikirkan, apa yang harus kita lakukan berikutnya."
"Kamu janji gak akan beritahu Kevin dan keluarganya soal keberadaanku?" tanya Anna.
"Aku janji Na."
Anna memeluk Julie dengan erat.
"Kamu emang sahabatku yang terbaik Li."
Setelah lewat jam makan malam. Ketika Anna yang mengantuk telah tertidur, Julie menelpon Alex lagi.
"Julie?" panggil Alex.
"Kamu sudah terima foto yang kukirim?" tanya Julie.
"Ya," jawab Alex singkat. Mereka terdiam sejenak.
"Kamu gak mau tanya lebih jauh?" tanya Julie.
"Kurang lebih aku sudah bisa tahu, tapi Kevin bukan orang seperti itu."
"Hmm. Aku tahu. Anna sudah cerita. Ada kemungkinan Kevin diberi afrodisiak."
"Aku bisa tebak siapa pelakunya," balas Alex.
"Aku juga. Tapi siapa yang mengambil gambar?" tanya Julie.
"Kemungkinan besar Mike."
"Mike?"
"Dia sepupu kami," jawab Alex.
"Bagaimana bisa?" tanya Julie.
"Entahlah, aku juga tidak tahu pastinya bagaimana. Tadi Clarence hanya sempat bilang, Kevin memukul dan mengancam Mike."
Mereka berdua terdiam lagi.
"Bagaimana Anna?" tanya Alex kemudian.
"Sudah tidur. Hari ini dia banyak menangis dan tidur."
"Kalian ada di mana?" Julie tidak langsung menjawab.
"Maaf Lex, aku sudah janji gak akan bilang-bilang."
"Gak apa-apa kok Li. Aku mengerti keadaanmu. Sekarang istirahatlah dulu, nanti kita berkabar lagi." Alex memutuskan sambungan telpon.
"Bagaimana?" Nenek dari tadi duduk di Kamar Alex, menunggu kabar dari Julie. Cleo menemani Nenek.
Alex memperlihatkan ponselnya pada Nenek dan Cleo.
"Astaga apa-apaan ini? Berani-beraninya anak itu," Nenek mulai marah.
"Nenek jangan marah dulu. Kevin dijebak sama Vanessa dan Mike, dia diberi obat."
"Sudah kuduga," gumam Cleo.
"Maksudnya?" tanya Nenek Ratih.
"Selama acara kemarin, sikap Vanessa mencurigakan." Cleo memberi jeda pada kalimatnya.
"Ada kemungkinan Anna juga diberi obat yang sama, soalnya Vanessa kelihatan marah waktu minuman Anna tumpah. Andaikata minuman Anna tidak tumpah, mungkin Mike akan ambil kesempatan." Cleo memberikan hipotesisnya.
"Ya kita tahu sepak terjang Mike selama ini. Wajar jika Kevin memukulnya," sahut Alex.
"Sekarang Kevin gimana?" tanya Nenek.
"Masih belum mau keluar kamar. Aku dapat info, tiga jam yang lalu dia sempat pesan alkohol," jawab Alex.
Bel di kamar Alex berbunyi. Alex segera membukakan pintu. Di depan pintu berdiri manager hotel, beserta satu orang staff.
"Ada apa ya?" tanya Alex.
"Anu Pak. Kata staff bar, barusan Pak Kevin pesan minuman alkohol."
"Lalu?" Alex masih bingung.
"Saat anak ini mengantar minuman, Pak Kevin tidak membuka pintu. Staff saya ini sudah menunggu di depan pintu kamar hampir setengah jam."
"Sialan." Alex berlari keluar kamar. Alex menghampiri kamar Kevin yang tak jauh dari kamarnya. Alex menekan bel dengan tidak sabaran.
"Ada kunci cadangannya?" tanya Alex pada manager hotel.
"Ada Pak."
"Ada apa Lex?" Nenek Ratih datang ditemani Cleo.
Alex tidak memberi jawaban. Diambilnya kunci cadangan yang diberikan manager, segera menempelkan kartu itu pada pegangan pintu.
Begitu pintu terbuka, tercium bau alkohol yang sangat tajam. Alex berlari mencari Kevin dan menemukannya tak sadarkan diri di sebelah ranjang.
"Kevin," teriak Alex. Alex menepuk-nepuk pipi Kevin. Alex melihat banyak botol minuman berserakan disekitarnya.
"Astaga kamu minum seberapa banyak sih Vin?"
next>>>