
"Kenapa kamu menghela nafas kayak gitu?" Kevin masuk ke ruangan Alex tanpa mengetuk pintu.
Kevin melirik ponsel yang dipegang Alex. "Lagi chat sama pacarmu?"
"Bukan urusanmu," jawab Alex.
"Kenapa? Stress?" Alex hanya menghela nafas berat.
"Nyesal sudah pacaran sama dia?" tanya Kevin lagi.
"Gak lah. Aku cinta sama dia."
"Terus? Nyesal gak pakai pengaman?" goda Kevin.
"Mungkin." Kevin mengangkat sebelah alis.
"Kalau keadaanya seperti ini, otomatis gak bisa mengadakan pesta pernikahan yang bagus kan. Pasti semuanya harus buru-buru. Aku kasihan sama dia tidak bisa merasakan pernikahan impiannya."
"Bukan janda ya?" tanya Kevin.
"Bukan," jawab Alex kesal.
"Wah, hebat juga kamu bisa dapat anak gadis."
"Ngapain kamu ke ruanganku?" tanya Alex.
"Cuma mau bilang kalau aku mau nongkrong di ruangan Anna seharian ini."
"Seharian? Kerjaanmu siapa yang mau kerja?"
"Aku akan kerjakan di ruangan Anna," jawab Kevin santai.
"Dasar bucin."
"Setidaknya aku tidak perlu khawatir lupa pakai pengaman," ejek Kevin.
Tiba-tiba saja pintu ruangan Alex terbanting membuka. Mahesa Pratama menerjang masuk.
"Mau sampai kapan kamu menunda?" Mahesa mendekati Kevin dengan marah. Saking dekatnya Kevin bisa merasakan hembusan nafasnya.
Kevin mundur selangkah. "Ini ada apa ya?" tanya Kevin santai.
"Kamu bertanya ada apa?" balas Mahesa.
"Ya."
"Kamu sudah menghamili anakku dan menunda-nunda pernikahan, sampai Vanessa sakit. Kamu masih mau bertanya?"
Kevin tertawa mengejek, Alex juga berusaha menahan tawa. "Apa yang kalian tertawakan?" bentak Mahesa.
"Rasanya sudah sekian kali kubilang, itu bukan anakku."
"Kamu menginginkan tes DNA kan? Maka ayo kita lakukan. Biar kamu puas," sahut Mahesa.
"Saya tidak perlu lagi yang begituan, karena saya yakin seratus persen itu bukan anakku."
"Lalu anak siapa?"
"Mike Laksono," jawab Kevin.
"Tidak masuk akal. Kamu sendiri tahu Vanessa cuma suka padamu."
"Oh, ya? Lalu kenapa dia tidur dengan Mike, lalu minta pertanggung jawaban padaku?" Kevin tersenyum sinis.
"Kamu punya bukti apa kalau Vanessa tidur sama Mike?" Mahesa berteriak marah.
"Bukti? Mau bukti? Lex kasih dengar dia," perintah Kevin pada Alex. Alex segera mengeluarkan ponselnya dan memutar percakapan Vanessa yang diberikan Clarence.
'Benaran itu anak Kevin?' Suara Sera terdengar. 'Pengennya sih gitu.' Begitu mendengar suara Vanessa, Mahesa terlihat terkejut.
'Maksudmu? Itu bukan anaknya Kevin?'
'Gimana mungkin ini anaknya Kevin, aku sama dia gak ngapa-ngapain juga. Aku gagal jebak dia.'
Wajah Mahesa seketika menjadi pucat.
"Gimana?" tanya Kevin.
"Itu pasti sudah diedit," tuduh Mahesa.
"Nanti saya kirimin pada anda. Nanti anda bisa cari tahu sendiri. Saya yakin teknologi jaman sekarang bisa menganilisi itu."
Kevin tersenyum penuh kemenangan. "Kalau Pak Mahesa bersikeras, saya tidak keberatan untuk tes DNA. Hanya saja, anda tentu harus menanggung konsekuensinya."
Dengan marah Mahesa Pratama meninggalkan ruangan. "Batalkan perjanjian kita dengan mereka," perintah Kevin pada Alex.
"Yakin? Dia juga kan cuma korban anaknya sendiri."
"Kalau Mahesa hancur, anaknya juga pasti hancur kan? Vanessa gak mungkin sanggup hidup miskin."
Mahesa benar-benar sangat malu dan kecewa pada Vanessa. Mahesa hendak melewati meja sekretaris dan melihat Anna di sana.
Entah setan apa yang menghampiri Mahesa, dia mendatangi Anna. "Ini semua gara-gara kamu," teriaknya memegangi bahu Anna.
Karena kaget, Anna menyenggol cangkir kopi di dekatnya. Isi cangkir itu tertumpah ke lantai dan mengenai kakinya.
Mendengar suara keras dari luar pintu yang masih terbuka, Kevin dan Alex segera keluar.
Anna juga ikut oleng. Untungnya dengan sigap, Dinda menyangga tubuh Anna.
Riri yang melihat kejadian itu segera menelpon security. "Kevin." Alex menahan Kevin agar tidak menyerang lagi.
"Panggil security," perintah Alex.
"Sudah Pak," jawab Riri. Kevin menyentak kedua lengannya, membebaskan diri dari Alex.
Kevin menunjuk Mahesa yang terduduk di lantai. "Akan saya pastikan kamu dan keluargamu menyesali ini."
Tak lama kemudian dua orang security datang, membawa Mahesa pergi. Kevin segera menghampiri Anna.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Kevin lembut. Anna menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Sebaiknya kamu bawa Anna istirahat dulu," Alex menyarankan.
"Kita ke ruanganmu saja ya," Kevin berbisik pada Anna.
"Jangan lupa bereskan ini," perintah Alex pada Dinda.
"Baik Pak." Dinda menelpon meminta OB datang membersihkan pecahan kaca.
Setelah semuanya bersih, Dinda masuk ke ruangan sekretaris di belakang tempat dia biasa duduk.
"Itu tadi kenapa sih?" Riri mulai kepo. Dinda meminta rekan-rekannya untuk mendekat.
"Jangan bicara keras-keras ya, nanti Pak Alex dengar."
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Dika.
"Kalian tahu kan gosip soal Vanessa?" tanya Dinda. Semua kepala yang ada di sana mengangguk.
"Sepertinya Pak Mahesa datang meminta kejelasan pada Pak Kevin. Kalian tahu dong reaksi Pak Kevin gimana?" Semua kembali mengangguk.
"Nah, yang bikin aku kaget. Sekilas aku ada dengar kalau Vanessa itu bohong," bisik Dinda.
"Maksudnya dia pura-pura hamil?" tanya Riri.
"Dia benaran hamil, tapi itu bukan anaknya Pak Kevin."
"Yang benar?" teriak Dika.
Langsung saja Riri dan Dinda memukul lengannya. "Jangan terlalu ribut," protes Dinda.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Emma.
"Tadi waktu Pak Mahesa masuk, pintunya gak tertutup rapat. Suara mereka juga keras. Kalau tadi Mbak Anna gak datang, aku pasti nguping sampai selesai."
"Terus sekalinya Pak Mahesa keluar kamu ketahuan. Langsung dipecat deh," ejek Dika.
"Salah mereka ngomong kencang gitu. Pintunya terbuka lagi," Dinda membela diri.
"Kasihan amat sih Mbak Anna digituiin amat sama Vanessa. Emang Mbak Anna kita salah apa?" tanya Riri.
"Betul banget. Orang si Vanessa yang genit sama Pak Kevin," balas Emma. Dika mengangguk setuju.
"Kalau gitu ayo kita dukung Mbak Anna," Dinda memberi usul.
"Caranya?" seru kompak teman-temannya.
"Kita bikin Viral aja," jawab Dinda singkat.
"Bisa dijelaskan lebih detail lagi gak sih?" protes Dika.
"Mari kita semua mengumbar kemesraan Pak Kevin dan Mbak Anna ke medsos. Mudah-mudahan dengan begitu, Vanessa bisa sadar dari kehaluannya. Sekalian kita menyebarkan pada dunia, sebenarnya bos kita itu dari dulu selalu rukun dan mesra."
"Bisa juga sih. Itu bisa menepis gosip gak enak soal mereka berdua. Gosip itu masih cukup santer terdengar kan?" tanya Emma.
Riri mengangguk setuju. "Walaupun gak bisa bikin Vanesaa sadar, setidaknya publik tahu Pak Kevin bukan tukang selingkuh."
"Kita minta tolong anak-anak dari bagian lain juga sekalian," seru Dinda senang. Para wanita-wanita di ruangan terkekeh senang.
"Aku gak mau ikutan ya," seru Dika malas.
"Loh gak bisa dong. Kamu kan sekretarisnya Pak Kevin harus ikutan," protes Dinda.
"Aku kan cowok Din, masa ikutan gibahin orang?"
"Bukan Gibah, tapi fakta."
"Awas ya kalau gak ikutan," seru Emma.
"Ehmm..." Alex berdehem keras.
"Kalian gak kerja?"
"Maaf Pak." Mereka semua langsung bubar, duduk di meja masing-masing.
Begitu Alex tidak terlihat lagi, Dinda langsung bersuara agak keras. "Aku kasih tahu sekretaris Mbak Anna dulu ya."
"Sip," seru kompak teman-teman Dinda.
"Mari kita viralkan bos kita," gumam Dinda lirih.
next...>>>