The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 72 Ladies



"Seriously?" Clarence berteriak tidak percaya. Anna mengangguk cepat.


"Ren bisa suaranya gak sekencang itu," protes Cleo.


"Amel tiba-tiba nongol minta rujuk? Ini shocking banget tau," cerocos Clarence.


"Bukan minta rujuk Ren. Dia cuma mau jenguk Gita," bantah Anna.


"Setelah sekian lama ngapain?" tanya Clarence.


"Gak tahu. Dia cuma bilang kangen dengan keluarga satu-satunya," jawab Anna.


"Satu-satunya dari mana?" protes Cleo.


"Katanya udah cerai dari suaminya," jawab Anna.


"Itu namanya kualat," balas Cleo.


"Hush. Jangan ngomongin orang. Gak baik," tegur Anna.


"Ini dari tadi juga omongin orang" ejek Cleo.


"Gila kali dia. Siapa juga yang mau terima dia lagi," Clarence masih berceloteh.


"Ren, suaranya bisa dikecilin volumenya? Ruangan ini gak soundproof." Cleo melirik staff yang mengerjakan kuku Clarence.


"Ruang VIP kok gak sound proof. Cuma dihalang tirai pula," protes Clarence.


"Ini salon kuku, bukan tempat karaoke." Cleo kembali mengerjakan kuku Anna.


"Salon kuku kamu lumayan besar, sampai ada ruang VIP segala. Aku gak nyangka." Anna melirik Cleo yang sementara mengerjakan kuku kakinya.


"Mama mati-matian mau bantuiin untuk gedung dan dekor. Udah syukur dia gak pasang iklan di mana-mana."


"Bukannya kamu mau jadi designer? Kok tiba-tiba berubah haluan?" tanya Clarence.


"Lagi pengen saja. Aku juga gak mau saingan sama Vira."


"Harus banget kamu yang kerja kuku Anna?" Clarence melirik hasil kerja Cleo.


"Iya dong," jawab Cleo singkat.


"Aku kagum sama kamu Cle. Kamu berbakat banget," puji Anna.


"Iya dong. Siapa dulu."


"Sombong," ejek Clarence.


"Tumben Kevin izinin kamu keluar sendiri?" tanya Cleo pada Anna.


"Iya. Bukannya dia posesif?" lanjut Clarence.


"Kevin yang antar kok," jawab Anna santai.


"Terus mana dia?" tanya Clarence lagi.


"Pulang. Nanti baru dia jemput lagi." Cleo hanya berdecak mengejek.


"Habis ini kita ngemal yuk," ajak Clarence.


"Emang Ren gak sibuk?" tanya Anna.


"Hari ini aku off demi si kecil Bramantara ini." Cleo menatap Clarence tajam.


"Emang kamu yang paling muda."


"Aku sih pengen makan. Cacingku udah pada minta makan." Anna tersenyum lebar.


"Ya udah makan dulu baru shopping. Cleo ikut kan?"


"Aku sibuk," jawab Cleo singkat.


"Ayolah Cle. Cuma sekali-sekali saja kan," ajak Anna. Cleo memutar manik matanya.


"Oke," jawabnya singkat.


"Harus banget makan di B Cafe gitu?" tanya Anna.


"Yup. Supaya Anna bisa traktir," jawab Clarence.


"Ren, tempat makan di GI itu banyak. Bisa kali aku traktir di tempat lain," protes Anna.


"Katamu Kevin cuma mau minum kopi buatanmu kan Na?" tanya Clarence.


"Kevin? Si tukang pilih-pilih itu?" tanya Cleo tidak percaya.


"Hubungannya apa?" Anna bertanya balik.


"Kalau di B Cafe, kamu kan bisa pinjam dapurnya mereka. Aku mau minum kopi buatanmu," jawab Clarence.


"Ide bagus. Aku juga mau coba." Cleo langsung masuk ke dalam cafe diikuti Clarence.


"Kalian serius?" Anna menyusul.


Ketika Clarence masuk, semua mata tertuju pada trio wanita cantik ini. Wajar karena Clarence itu selebriti.


"Akhir pekan rame ya," seru Clarence.


"Akan makin ramai lagi karena ada selebriti," sahut Anna.


"Sana kayaknya kosong." Cleo menunjuk meja di pojokan.


"Lokasi yang bagus," seru Clarence.


"Rian? Kamu juga masuk di hari minggu?" tanya Anna.


"Iya Mbak. Kebetulan saya kebagian jatah masuk hari ini. Berapa orang?"


"Tiga orang," jawab Clarence.


"Empat," lanjut Anna cepat.


"Kevin barusan chat dia mau ke sini." Anna menunjukkan ponselnya.


"Meja yang di pojok bahkan bisa untuk lebih dari empat orang," Rian memberi saran. Rian menuntun ketiga ladies ini ke meja yang dimaksud.


"Saya gak tahu kalau Mbak Anna punya kenalan selebriti," sahut Rian.


"Kenalin ini Rian, manajer toko sini. Dan seperti yang Rian sudah tahu ini Clarence. Dia teman kecil suami saya."


"Oh," seru Rian.


"Cleo ini Rian yang dulu bantuin kamu. Rian juga mungkin masih ingat Cleo." Anna kembali mengenalkan Rian.


"Bantu aku?" tanya Cleo.


"Itu loh, waktu yang di Bandung. Aku pernah cerita kan sama kamu," jawab Anna. Bibir Cleo membulat sempurna.


"Terima kasih ya sudah bantuin," kata Cleo pada Rian.


"Sama-sama. Saya juga tidak bantu banyak kok."


"Wait, kayaknya aku ketinggalan gosip. Apa yang terjadi di Bandung?" tanya Clarence penasaran.


"Gak usah tahu," jawab Cleo.


"Jadi kalian mau minum apa?" Anna duluan bicara sebelum Clarence protes pada Cleo.


"Yang penting bukan kopi," jawab Cleo.


"Menu non kafein kami banyak Mbak," sahut Rian.


"Oke. Kalau Ren?" tanya Anna.


"Emmm. Ice macchiato maybe. Less sugar."


"Low fat?" tanya Anna lagi.


"Absolutely," jawab Clarence. Rian menatap mereka bingung.


"Saya mau pinjam peralatannya ya," kata Anna pada Rian.


"Peralatan?" tanya Rian.


"Saya mau bikin minuman sendiri." Rian kaget mendengar perkataan Anna.


"Nanti Rian tolong bantu untuk pesanan makanannya ya."


Anna langsung berjalan menghampiri mesin kasir dan menginput pesanan minumannya. Semua staff yang ada di sana sudah mengenal Anna, sehingga Anna bisa leluasa menggunakan bar kopi.


Setelah Rian menginput pesanan makanan Clarence dan Cleo, Rian pergi membantu Anna.


"Perlu dibantu Mbak?"


"Gak perlu," jawab Anna.


Sementara itu Vanessa dan teman-teman, masuk ke B Cafe tempat Anna berada. Dari jauh Vanessa bisa melihat Cleo dan Clarence. Vanessa meminta teman-temannya mencari meja, sementara dia mendekati meja pojok.


"Hai, tumben banget bisa lihat kalian berdua di sini." Vanessa menyapa dengan gaya yang amat sombong. Clarence dan Cleo memandangnya dengan tatapan jijik.


"Ada apa? Oh, kalian rupanya sadar dengan tas baruku ya?" Vanessa memamerkan tas LV keluaran barunya. Clarence dan Cleo makin menampakkan eksresi tidak suka mereka.


"Pamer pada tempatnya dong. Kamu dapat uang dari mana beli tas mahal gitu?" tanya Cleo.


"Paling dari sugar daddy," sambung Clarence.


"Memangnya saya itu kamu? Dipelihara sama banyak orang," Vanessa menyindir Clarence. Bukannya tersinggung, Clarence malah bisa membalikkan keadaan.


"Ya iyalah. Kalau aku gak 'dipelihara' sama para fans aku, mana mungkin aku seterkenal ini." Clarence memberi tekanan pada kata dipelihara.


"Yakin cuma dipelihara fans? Bukan dipelihara sama om-om," Vanessa berusaha membalas.


"Berhentilah boros Dek, mulailah kerja. Harta keluargamu itu sudah hampir habis," balas Cleo.


"Gak usah terlalu berlagak. Kamu cuma orang yang sebentat lagi dicoret dari kartu keluarga. Gak bakal dapat warisan deh," balas Vanessa.


"Aku keluar dari rumah atas keinginan sendiri kok. Aku bisa hidup tanpa warisan, karena aku kerja. Bukan pengangguran kayak kamu," jawab Cleo.


"Memangnya anak manja seperti kamu bisa kerja apa?" tanya Vanessa.


"Gak kebalik?" Clarence bertanya balik.


"Yang anak manja itu kamu. Kerjaan saja gak ada udah sombong," sambung Clarence.


"Coba tiru Cleo sudah jadi pengusaha," Clarence masih bersuara.


"Pengusaha apaan? Coba sebut nama butikmu, biar kubantu menghabiskan barangmu." Vanessa benar-benar bicara dengan sombong.


"Makasih, tapi aku gak menerima tamu kampungan seperti kamu." Cleo berbicara sebelum Clarence membocorkan semuanya.


"Ada apaan ini?" Anna muncul di belakang Vanessa.


next>>>