
"Kevin Bramantara terciduk menjemput Clarence di bandara. Bahkan tetangga yang tinggal di kompleks apartemen yang sama dengan Clarence, memberikan statement Kevin Bramantara terlihat masuk berdua ke gedung apartemen."Alex berhenti bicara dan melirik Kevin tajam.
"Bahkan ada yang mengklaim mereka melihat Clarence dan Kevin turun di lantai yang sama. Mereka katanya juga disambut oleh seorang anak kecil, yang memanggil Clarence 'mama'. Selain itu tersebar kabar bahwa Kevin Bramantara telah menghamili seorang gadis."
Alex menjauhkan ponselnya. "Sebenarnya mau berapa banyak masalah yang ingin kamu buat Vin?"
"Aku tidak bikin masalah," sahut Kevin frustasi.
"Lalu kenapa tiba-tiba kamu jemput Clarence di bandara? Tidak ditemani pula?"
"Itu supaya aku bisa bertemu Anna," jawab Kevin.
"Clarence tahu di mana Anna?" tanya Alex.
"Apa yang kamu maksud Alex? Memangnya Kevin tidak tahu lokasi Anna selama ini?" Nenek mengajukan pertanyaan.
"Nomor Kevin dan Alex diblokir sama Anna," Kevin menjelaskan.
"Lalu kamu biarkan saja? Kamu gak cari dia?" Nenek marah.
"Nek daripada membicarakan itu, kita selesaikan dulu masalah yang sekarang. Lagipula kita juga sudah tahu posisi Anna sekarang," Alex memberikan nasihat.
"Bagaimana kalau dia menghilang lagi?" tanya Nenek.
"Tidak mungkin. Pasti apartemen itu sudah dikerubuti wartawan, sulit untuk keluar. Apalagi Anna lagi hamil," seru Kevin.
"Ya betul sekali. Dia pasti memilih untuk diam di rumah," Alex membantu Kevin.
"Astaga. Aku bisa gila," Clarence berteriak histeris di kamarnya.
"Mana mereka bawa-bawa Nico lagi. Aku harus gimana?"
Terdengar ketukan pelan di pintu kamar Clarence. "Masuk," pinta Clarence.
"Apa aku mengganggu?" tanya Anna.
"Gak kok. Ada apa?" tanya Clarence.
"Kamu gak apa-apa?"
"Apanya?" Clarence balas bertanya.
"Aku baru saja baca berita."
Clarence menghela nafas. "Bukannya aku yang harus tanya kayak gitu? Nama Kevin sampai dibawa-bawa."
"Tapi Nico juga jadi kebawa-bawa kan?"
"Aku gak tahu harus gimana soal itu." Clarence terlihat frustasi. Anna duduk di sebelah Clarence.
"Bukannya ini saat yang tepat untuk memberitahu keberadaan Nico?" tanya Anna.
"Aku gak mau Na. Aku gak mau dia dihujat netizen. Cukup aku saja."
"Ren bukannya aku mau ikut campur, tapi Nico itu jauh lebih dewasa dan bijaksana. Bahkan sangat bisa diandalkan. Aku saja minder sama dia."
"Hm. Dia memang anak yang luar biasa," balas Clarence.
"Itu karena dia tumbuh dengan baik."
"Aku gak cukup baik untuk Nico," seru Clarence.
"Bagi Nico kamu itu ibu terbaik. Nico gak punya papa, masa dia harus main sembunyi-sembunyi dengan mamanya."
Tok... Tok... Tok...
Nico muncul dari balik pintu. "Aku ganggu mama?" Clarence menggeleng dan merentangkan tangannya. Nico berlari memeluk mamanya.
"Aku keluar dulu ya. Supaya kamu bisa ngobrol sama Nico."
"Selamat tidur Tante."
"Selamat tidur Nico," balas Anna.
"Mama gak apa-apa?" tanya Nico.
"Kenapa Nico tanya gitu?"
"Nico sudah baca berita soal mama dan Om Kevin."
"Dari mana kamu baca gituan?" tanya Clarence.
"Dari internet. Nico kan selalu cariin berita mama."
"Buat apa?" Nico tidak langsung menjawab.
"Karena Nico mau tahu keadaan mama. Nico kan gak bisa selalu jagaiin mama." Clarence tertawa.
"Kamu masih kecil gini. Gimana bisa jagaiin mama coba?"
"Makanya, Nico mau cepat gede. Supaya bisa jagaiin mama, biar mama gak stress karena gosip."
"Kamu gak takut dinyinyir netizen?"
"Mama takut?" Nico bertanya balik.
"Kalau mama gak takut, Nico apalagi. Nico kan harus lebih kuat dari mama."
"Aduh anak mama, gak kerasa sudah gede begini." Clarence memeluk putra kesayangannya.
"Nico?"
"Ya."
"Nico mau punya papa?"
"Kalau mama mau nikah lagi, Nico gak masalah. Kalau mama gak mau juga gak apa-apa."
Clarence tersenyum pada anaknya. "Kalau begitu Nico mau kenalan gak sama wartawan?"
"Hmmm. Apa artinya Nico sudah gak perlu sembunyi lagi?" Clarence mengangguk.
"Nico gak takut sama wartawan."
Keesokan paginya Clarence menelpon Kevin.
"Mau bikin konfrensi pers?" tanya Kevin. Kevin menyalakan speaker atas permintaan Clarence, biar Alex dan Nenek bisa sekalian dengar.
"Yup. Kami memutuskan untuk tidak lagi menyembuyikan Nico."
"Kamu yakin?" tanya Nenek.
"Iya Nek, Nico dan orangtuaku juga sudah setuju. Lagipulan masalah ini harus segera diselesaikan. Nanti kasihan Anna."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kevin.
"Baik. Hanya saja tidak bisa keluar rumah. Paling cuma bisa ke groceries di lantai bawah."
"Tapi Ren, sebaiknya jangan terlalu buru-buru bikin konfrensi pers. Takutnya memberi kesan ada yang mau ditutupi," Alex memberikan saran.
"Aku juga baru mau diskusi dengan manajemenku kok. Atau boleh juga pihakmu berhubungan langsung dengan manajemen."
"Kirimkan saja kontak personnya," balas Alex.
"Oke, aku matikan ya. Aku mau antar Nico ke sekolah. Bye."
Setelah kemunculan Nico ke publik. Gosip yang menyebar semakin menggila.
"Sekarang mereka bilang anaknya Clarence anak haramnya Kevin?" gumam Vanessa senang.
"Sepertinya aku bisa memanfaatkan ini."
Vanessa mengambil ponselnya dan menelpin wartawan kenalannya. "Halo. Kamu mau berita eksklusif gak?"
"Wah, sekarang Vanessa ikut-ikutan ambil kesempatan." Alex memandang ponselnya dengan tidak percaya.
Kevin memijat pelipisnya sekuat tenaga. "Dia bilang apa lagi?" tanya Kevin.
"Dia memberikan wawancara eksklusif loh. Coba dengar."
"Vanessa Pratama, anak rekan bisnis Bramantara Grup menyatakan dirinya hamil anak Kevin Bramantara. Pihak mereka mengklaim telah meminta pertanggung jawaban, tapi ditolak mentah-mentah."
"Dengan penuh air mata Vanessa Pratama mengungkapkan isi hatinya, bahwa sesungguhnya dia sudah lama jatuh cinta pada Kevin. Pertunangan sudah siap diadakan, tapi Kevin malah menikah dengan orang lain."
"Ketika ada masalah dengan istrinya, Kevin datang mencari Vanessa dan menghamilinya. Mau kubacakan juga isi wawancaranya?"
"Gak. Aku gak mau dengar apapun lagi." Kevin bersandar pada kursi kerjanya. Kepalanya terasa sakit.
"Belum selesai satu datang lagi yang lain," gumam Kevin.
"Sepertinya kita harus menggelar konfrensi pers lebih cepat. Berita yang beredar sudah tidak masuk akal," Alex memberikan saran.
"Kamu atur saja. Kepalaku sudah sakit juga. Harga saham kita gimana?"
"Menurun drastis. Sudah menyentuh batas bawah."
"Keluarlah dulu aku mau tidur sebentar." Alex segera keluar dari ruangan Kevin. Tak lupa Alex menitip pesan pada Dinda agar tak ada yang mengganggu.
Bukannya tidur, Kevin malah kepikiran Anna. Kevin mencoba menelpon Anna, tapi nomornya masih diblokir.
Kevin kemudia menelpon Mama Mei.
"Halo Ma. Maaf ganggu pagi-pagi." Mama Mei menayakan kondisi Kevin dan dijawab dengan baik oleh Kevin.
"Anna ada disitu Ma?"
"Ada. Kevin mau ngobrol?"
"Gak usah Ma. Kevin cuma mau tanya keadaannya saja."
"Anna terlihat sedikit lesu, tapi selain itu tidak ada masalah lain."
"Boleh minta tolong gak Ma?"
"Selama masih bisa dibantu, akan Mama bantu."
Kevin menghembuskan nafas pelan. "Tolong sampaikan pada Anna, setelah semua ini selesai aku akab datang menjemputnya."
next>>>