The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 77



Dengan tangan gemetaran Anna membuka pintu kamar. Anna berjalan pelan masuk dan menuju ke arah tempat tidur berada.


Anna melihat Kevin duduk menunduk di sebelah ranjang. Kondisinya berantakan, begitu pula dengan ranjangnya.


Anna berjalan mendekati Kevin. Kevin yang menyadari kedatangan seseorang langsung mendonggakkan kepala.


Anna bisa melihat bekas lipstik merah menyala di sudut bibir Kevin. Bahkan bekas lipstik itu juga membekas di leher Kevin.


"Warna yang sama dengan lipstik Vanessa," batin Anna.


"Anna," geram Kevin. Kevin bangkit berdiri, langsung meraih tengkuk Anna. Kevin ******* bibir Anna dengan penuh gairah.


Anna sama sekali tidak bisa melawan Kevin. Terlebih lagi Kevin berada dibawah pengaruh obat.


Dengan tidak sabar, Kevin menarik resleting Anna. Kevin sudah tidak bisa lagi bermain dengan lembut.


Kevin menggiring Anna dan menidurkannya di atas ranjang.


"Kevin pelan-pelan," pinta Anna. Kevin tidak mendengarnya. Anna hanya bisa pasrah, karena dia pun sudah mulai terbawa suasana.


*****


Setelah bermain sekian jam Kevin tertidur pulas. Anna yang belum bisa tertidur pergi untuk membersihkan diri.


Walaupun hari ini Kevin bermain 'sedikit' kasar, Anna amat menikmatinya. Hanya saja ada yang mengganjal di hati Anna. Anna termenung di bawah pancuran shower.


"Apa yang terjadi dengan Vanessa? Berapa lama mereka di dalam kamar?" Lagi, pikiran Anna berkeliaran kemana-mana. Setelah selesai mandi Anna segera terlelap karena sudah sangat lelah.


Keesokan harinya Kevin terbangun dengan suasana hati yang baik.


"Anna?" Kevin langsung mencari Anna.


Tidak menemukan Anna di kamar, Kevin segera memakai pakaian seadanya. "Anna?" Kevin menemukan Anna melamun di ruang tamu.


Anna tidak menyahut Kevin. Kevin berjalan mendekati Anna. "Anna," panggil Kevin sekali lagi.


Anna mendonggak melihat Kevin. Tiba-tiba saja air mata jatuh membasahi pipi Anna.


"Anna kamu kenapa?" Kevin langsung berlutut di hadapan Anna.


"Kamu kenapa sayang. Kok tiba-tiba nangis?" tanya Kevin dengan bingung.


"Semalam kamu ngapain sama Vanessa?" Anna terisak.


"Maksudnya?"


"Kamu gak usah pura-pura Ken. Aku lihat Vanessa keluar dari kamar ini."


"Gak terjadi apa-apa. Kamu cuma salah paham saja." Kevin berusaha membela diri.


"Lalu kenapa Vanessa keluar dalam keadaan berantakan?"


"Aku yakin itu cuma akal-akalan dia saja," jawab Kevin.


"Apa bekas lipstik di bibir dan leher kamu juga akal-akalan Vanessa?" Ekspresi Kevin jadi makin gelap. Kevin menelan ludahnya dengan susah payah.


"Anna yang kamu lihat itu gak seperti yang kamu bayangkan. Aku berani sumpah, tidak ada yang terjadi di antara kami."


"Buktikan?" Anna terus mendesak Kevin.


"Bagaimana aku bisa membuktikannya? Lagipula yang kamu lihat belum tentu juga bisa jadi bukti," Kevin masih membela diri.


"Lalu ini apa?" Anna memperlihatkan layar ponselnya. Terlihat gambar Vanessa yang mengecup bibir Kevin, sambil membuk kancing kemejanya.


Mata Kevin membulat sempurna melihat foto itu.


"Dari man..."


"Gak usah tanya dari mana. Jawab aku Ken," Anna memotong perkataan Kevin.


"Vanessa memang sempat cium aku, tapi aku langsung mengusirnya keluar. Itu saja gak ada yang lain."


"Kamu dalam pengaruh obat," balas Anna datar.


"Mike pasti mencampur sesuatu dalam wine ku kemarin. Aku tidak sepenuhnya sadar."


"Waktu pertama kali dengaku," Anna berteriak.


"Waktu pertama kali denganku pun kamu tidak sadar. Apa yang membuatmu yakin tidak melakukan apa-apa pada Vanessa?" lanjut Anna.


Kevin terdiam, dia tidak bisa membalas perkataan Anna. Mata Anna kembali berkaca-kaca.


"Jangan cari aku lagi." Anna berdiri dan menarik koper yang sudah disiapkan sebelumnya, berjalan dengan cepat.


"Anna." Kevin berdiri dan segera menahan Anna.


"Anna please jangan kayak gini? Aku akui aku salah. Harusnya aku lebih hati-hati sama mereka."


"Lepasin," seru Anna.


"Lepas." Anna menghentakkan tangannya dengan keras, bahkan mendorong Kevin sampai hampir terjatuh.


"Anna." Kevin mengejar sampai ke depan pintu. Sadar hanya menggunakan dalaman, Kevin segera menyambar pakaian apapun yang dilihatnya.


Kevin kehilangan jejak Anna. Segera dia berlari ke arah lift. Sayangnya dewi fortuna sedang tidak dipihaknya. Tidak ada lift kosong yang bisa ditumpanginya.


"Sialan," umpat Kevin. Kevin tidak perlu menunggu lift terlalu lama. Setelah sampai ke lantai dasar, Kevin segera berlari ke lobi.


Dari jauh dilihat mobil pribadinya melaju meninggalkan hotel.


"Anna." Kevin berlari keluar sambil berteriak. "Sialan," Kevin masih berteriak.


Kevin yang sering menitipkan kunci mobil di tas Anna, membuatnya mudah melarikan diri.


Kevin masuk kembali ke dalam hotel dengan amarah membuncah. Dia mendatangai meja resepsionis dan langsung memukul meja.


Tentu saja semua staff yang bertugas pagi itu terkejut. Ditambah lagi beberapa tamu yang berkeliaran di lobi.


"Berapa nomor kamar Mike Laksono?" tanya Kevin penuh amarah.


"Se.. Sebentar Pak."


Untungnya staff resepsionis mengenali Kevin. Andaikata dia tidak mengenali bosnya, mungkin besok dia sudah dipecat karena tidak mau memberikan nomor kamar tamu.


Setelah mendapat nomor kamar Mike, dengan tidak sabar Kevin pergi mencari kamar yang dimaksud.


Kevin menekan bel kamar 1104 dengan tidak sabaran. Karena tidak ada respon, Kevin menggedor pintu dengam tidak sabaran.


"Mike keluar kamu sialan," Kevin berteriak kencang. Saking kencangnya tetangga kamar Mike sampai mendengar keributan itu. Padahal kamar di hotel ini sudah dipasangi sedikit soundproof.


"Mike keluar sekarang sebelum aku mendobrak pintu." Kevin menggedor pintu semakin keras. Clarence yang menempati kamar yang tak jauh dari kamar Mike, sampai keluar dari kamar.


"Kevin? Ada apa ini?" tanya Clarence masih mengenakan gaun tidur.


"Aku akan membunuh bajingan ini."


Kevin menggedor pintu lebih keras lagi, bahkan menendang pintunya. Tangan Kevin sampai lecet, saking kerasnya dia menggedor.


"Kevin. Stop. Kamu mengganggu orang lain." Clarence mulai frustasi. Karena Kevin tidak juga mau berhenti, Clarence menghubungi Alex.


"Untung saja aku bawa ponsel keluar," batin Clarence.


Tidak berselang lama Mike membuka pintu kamar.


"Ada apa sih ini? Ribut ba... " Kevin langsung menerjang Mike, memotong omongannya.


"Kevin." teriak Clarence. Dia memutuskan sambungan telpon yang tidak diangkat Alex.


"Di mana perempuan jal**g itu?" Kevin menggenggam bahu telanjang Mike dengan keras.


"Apaan sih ini?" tanya Mike masih bingung.


"Jangan pura-pura tidak tahu masalah. Kamu membantu Vanessa kan?"


Mendengar nama Vanessa disebut-sebut, Mike langsung terkekeh riang.


"Jadi akhirnya anak itu berhasil juga? Kukira dia gagal."


Dengan cepat kepalan tangan Kevin sudah mendarat di pipi Mike.


"Kyaa..." Clarence berteriak kencang.


"Hei, kalian ngapain? Bantuin dong." Clarence berteriak pada staff yang belum lama datang dan mematung di depan pintu.


Tanpa perlu diperintah dua kali, mereka memegangi Kevin dengan kuat.


"Lepas. Sialan." Kevin memberontak.


"Kevin sudah berhenti. Mukulin orang tidak menyelesaikan masalah," Clarence masih berteriak histeris.


Kevin mulai tenang. Mike menyeka sudut bibirnya yang berdarah, dengan senyum mengejek.


"Kalau sampai ada apa-apa pada Anna." Kevin memberi jeda.


"Aku akan membunuh kalian berdua. Kevin beranjak pergi, disusul dengan Clarence.


Dengan isak tangis yang makin menjadi, Anna melajukan mobil Kevin. Air matanya tidak berhenti mengalir.


Dalam lubuk hati Anna yang terdalam, dia tahu Kevin tidak sepenuhnya salah. Anna tahu kalau Kevin dijebak, tapi hatinya tetap tidak bisa terima.


Hatinya sakit melihat Vanessa di keluar dari kamar Kevin dalam keadaan berantakan. Sakit hati melihat noda lisptik yang menempel pada Kevin.


Lebih sakit hati lagi melihat foto yang diterimanya tadi pagi. Anna melajukan mobil makin kencang, isak tangisnya pun makin membahana.


next>>>


yuk ramaikan...