The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 41 Marah



"Ken?" Anna mencari Kevin sampai ke ruang makan dan dapur.


"Itu anak ke mana sih?" batin Anna cemas.


"Anna? Kok masih pakai piyama? Hari ini tidak kerja?" tanya Nenek.


"Nenek lihat Kevin? Waktu aku bangun dia sudah gak ada di kamar."


Nenek menggelengkan kepala.


"Nenek belum lihat dia."


"Aduh itu anak ke mana sih. Nanti kalau tambah sakit gimana?" Anna bergumam cemas.


Nenek memperhatikan Anna dengan senang.


"Senangnya sekarang ada yang perhatikan Kevin," batin Nenek.


"Bi Asih, lihat Kevin?" tanya Anna.


"Sepertinya tadi Bibi lihat Pak Kevin ada di luar. Sepertinya baru pulang lari pagi."


"Lari pagi?"


"Ia, Mbak."


"Makasih ya." Anna segera menuju ke arah pintu keluar.


"Dia ngapain sih? Lagi sakit malah pergi lari subuh-subuh," batin Anna.


Kevin sedang berjalan menuju kamar saat Anna melihatnya.


"Ken," panggil Anna.


"Pagi. Kok masih pakai piyama? Gak ke kantor?"


"Kamu dari mana?" tanya Anna marah.


"Lari pagi," jawab Kevin singkat.


"Lari pagi?" Ekspresi Anna makin gelap.


"Ia. Kenapa?"


"Kamu sadar gak sih? Kamu itu lagi sakit, malah keluar subuh-subuh buat lari. Kalau tambah sakit gimana?"


"Aku sudah merasa sehat kok," jawab Kevin polos.


"Emang kamu dokter?"


"Bukan sih, tapi..."


"Dokter udah suruh kamu istirahat dua atau tiga hari. Ini bahkan belum dua puluh empat jam," potong Anna.


"Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba marah?" protes Kevin.


"Ya karena aku khawatir," teriak Anna. Kevin tertegun melihat tingkah Anna.


"Kamu bayangkan aku bangun tidur kamu sudah hilang. Gak ada pesan sama sekali, belum lagi kamu masih sakit udara juga masih dingin Kamu tahu gak aku panik banget."


"Ada apa Nek?" Alex muncul di sebelah Nenek.


"Kevin habis lari pagi."


"Hah? Gila kali masa udah lari pagi aja."


"Makanya istrinya marah."


Kevin ingin bicara, tapi tidak bisa.


"Mau ngomong apa lagi?" Belum juga Kevin bicara, Anna sudah masuk kamar dan membanting pintu.


Kevin berbalik dan menatap Alex dan Nenek.


"Aku salah apa?"


"Ckckck. Bertanya lagi." Alex menggelengkan kepala dan berlalu pergi.


"Pokonya kamu harus minta maaf sama Anna. Jangan biarin dia marah lama-lama." Nenek segera pergi setelah berbicara.


Kevin dengan bingung masuk ke kamar. Dia mencari Anna dan menyadari Anna sedang dikamar mandi.


Begitu Anna keluar Kevin langsung menhampirinya.


"Na, kamu kenapa? PMS?" tanya Kevin lembut. Anna tersenyum kecut.


"Tadi aku udah teriak-teriak di luar kamu gak dengar?" tanya Anna marah.


"Dengar cuma kan, aku gak ngerti kenapa kamu marah."


"Gak ngerti atau gak mau peduli? Susah banget ya ngomong dengan orang yang gak pernah peduli sama orang lain." Anna keluar dengan membanting pintu.


Kevin bergegas ke ruang makan setelah mandi.


"Kopiku mana?"


"Na gak bikinin aku cappucino?" tanya Kevin. Anna tidak menggubrisnya.


"Om Kevin apaiin Tante Anna? Kok Tante Anna marah?"


"Anak kecil saja lebih peka," seru Nenek.


Kevin menarik nafas dalam.


"Sarapanku gak ada?" tanya Kevin pada pelayan.


"Cuma ada roti Pak. Mau?"


"Boleh deh, sama cappucino ya."


"Kamu udah mau ngantor?" tanya Alex.


"Ia lah, kemarin saja banyak kerjaan tertunda kan?"


"Mending gak usah dulu deh, aku gak mau terlibat perang dingin."


"Maksudnya?" tanya Kevin.


"Maksudnya dari pada bikin Anna tambah marah, mending kamu tinggal di rumah."


"Hubungannya apa?"


"Tau ah gelap," balas Alex.


"Loh, Anna sudah berangkat?" Kevin melihat mobil Anna sudah tidak berada di tempat biasanya.


"Ia Pak. Tadi Bu Anna berangkat sendiri." jawab Pak Ujang.


"Itu anak kenapa sih?" gumam Kevin.


"Aku juga mau berangkat sendiri, mau ngantarin Gita ke sekolah."


"Lah, aku juga berangkat sendiri dong."


"Mbak Anna?" Kiki sudah ada sepuluh menit berdiri di depan meja Anna.


"Nyebelin banget sih tuh orang." Anna tiba-tiba memukul meja, membuat Kiki kaget.


"Eh, Kiki. Ada apa?"


"Maaf Mbak, itu berkas saya mau ditandatangani." Anna melihat kertas yang diremasnya.


"Mbak Anna ada masalah?" tanya Kiki kepo.


"Gak kok, gak ada apa-apa." Anna merasa sedikit canggung.


Telpon Anna berdering. Anna langsung mengangkatnya setelah dering pertama.


"Halo dengan Anna bisa dibantu." Kebiasaan saat mengangkat telpon di kantor lama


masih terbawa.


"La, bikinin aku..."


Brak...


Anna membanting telpon dengan sangat keras. Kiki yang masih ada di dalam ruangan terlonjak kaget.


"Astaga kenapa lagi si Anna. Telponnya dibanting kencang banget," batin Kevin.


"Udah deh bentar siang coba ajak dia makan siang aja."


"Ki, hari ada meeting atau urusan penting yang harus saya selesaikan?" tanya Anna dengan suara berat.


"Gak ada kok Mbak," Kiki sedikit terbata.


"Bagus. Saya mau keluar kunjungan outlet, habis itu saya langsung pulang." Anna mengambil tasnya dan langsung keluar sambil membanting pintu.


"Astaga seram amat sih kalo Mbak Anna marah," gumam Kiki.


"Kamu lagi PMS?" suara Julie terdengar dari headset Anna.


"Kok kamu juga tanya gitu sih? Aku lagi marah nih," protes Anna.


"Wajar kalau kamu marah, tapi gak harus segitunya juga kali sampai banting apa-apa. Pasti lagi PMS kan?" tanya Julie.


"Udah haid malah. Barusan."


"Pantesan."


Anna sedang duduk di geria B Cafe cabang Grand Indonesia.


"Aku kesal banget. Aku khwatir minta ampun, tapi dia santai banget. Kayak gak ada apa-apa."


"Ia ngerti. Kamu emang pantas marah, tapi masa sampai dibawa-bawa ke kantor? Sampai berkas kamu juga diuleg gitu."


"Namanya juga lagi bad mood."


"Boleh aku tanya gak?" tanya Julie.


"Itu sudah bertanya," jawab Anna.


"Anak ini."


"Mau tanya apa?" tanya Anna.


"Kamu kenapa khawatir banget sama Kevin?"


"Ya karena dia lagi sakit. Kalau dia kenapa-kenapa gimana?"


"Yakin cuma itu?"


"Maksud kamu apa sih Li?"


"Khawatir wajar, tapi kamu berlebihan. Maksudku, aku ngerasa kalau kamu ada rasa sama Kevin. Ngerti kan?"


Anna tertawa mendengar Julie.


"Astaga. Li, aku udah anggap Kevin kayak keluarga aku. Bukan hanya dari segi status ya. Aku anggap dia itu saudara aku dan sahabat aku. Itu aja."


"Yakin?"


"Banget," jawab Anna.


"Kalau gitu udahan dong marahnya."


"Dia gak minta maaf kok."


"Ajak ngobrol baik-baik atau apa gitu."


"Nanti deh aku lihat dulu. Kalau dia jadi anak baik, mungkin aku akan berhenti marah."


"Kayak anak-anak aja sih kamu Na," ejek Julie.


"Biarin."


Seseorang meletakkan segelas green tea latte di meja Anna.


"Saya gak minta dibuatin," seru Anna.


"Saya traktir Mbak," seru Rian dengan senyum lebar.


*****


Kiki langsung berdiri begitu melihat Kevin datang.


"Mbak Anna lagi keluar Pak," Kiki langsung menginformasikan.


"Ke mana?" tanya Kevin.


"Katanya mau kunjungan ke gerai habis itu mau langsung pulang."


"Gerai yang mana?"


"Mbak Anna gak bilang Pak." Kevin mengangguk dan segera pergi.


Kevin mendobrak masuk ke ruangan Alex.


"Astaga Vin, bisa pelan-pelan gak sih?" protes Alex. Berhubung Alex kepala bagian divisi sekretaris, dia mendapat ruangan sendiri.


Ruangan Alex tidak terlalu besar, hanya sebesar ruangan kantor pada umumnya. Hanya ada sebuah meja kerja, kursi yang Alex duduki dan dua kursi di depannya. Serta sebuah lemari file.


"Itu Anna kenapa sih?" Kevin duduk di kursi yang tersedia.


"Kenapa lagi?"


"Aku telpon di ponselnya direject, sekarang malah sibuk terus."


"Kamu lagi curhat?" tanya Alex.


"Gak. Aku cuma bertanya."


"Anna itu cuma khawatir sama kamu."


"Khawatir apa?"


"Kamu masih sakit bukan istirahat malah keliaran. Istri mana yang gak khawatir?"


"Harus sampai semarah itu?" tanya Kevin.


"Dia semarah itu karena rasa khawatirnya juga sebesar itu," jawab Alex. Kevin ingin membalas, tapi tidak bisa.


Kevin tahu yang dikatakan Alex benar. Dia hanya tidak tahu cara menghadapi Anna.


"Jadi gimana dong?" tanya Kevin.


"Minta maaf lah. Yang simpel kok dibikin susah?" jawab Alex.


next>>>