The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 92 Kunjungan



Setelah berdiskusi bersama, pihak Clarence dan Kevin akan menggelar konfrensi pers bersama esok hari.


"Benar-benar hari yang melelahkan," keluh Kevin.


"Besok akan lebih melelahkan lagi," seru Alex.


Kevin meraih ponselnya. Kevin mengirimkan chat pada Anna. "Yah, masih diblokir. "


"Anna?" tanya Alex. Kevin menganggukkan kepala


"Coba kamu hubungi Nico saja. Anak itu pasti mau bantu kamu," saran Alex.


"Ini udah malam Lex."


"Kalau gitu besok saja."


Keesokan harinya, sesuai jadwal konfrensi pers diadakan di B Hotel. Konfrensi pers diadakan tiga puluh menit lagi, tapi Clarence dan Kevin sudah duduk di ruang tunggu.


"Astaga banyak banget wartawan yang datang sih. Mana aku belum makan lagi," protes Clarence.


"Ini aku sudah pesankan makanan." Alex menyodorkan sekotak makanan.


"Apaan isinya?" tanya Clarence.


"Beef teriyaki."


"Good." Dengan bersemangat Clarence membuka kotak bekalnya.


"Bisa makan di tempat lain saja?" Kevin menutup hidungnya.


"Kenapa?" tanya Clarence.


"Bau tahu," protes Kevin.


"Bau apa? Bau daging?" ejek Clarence.


"Bau bawang. Pindah sana, aku mau muntah cium baunya." Clarence menaikkan sebelah alis melihat reaksi Kevin.


"Perasaan kamu dulu gak gini amat deh. Dia kenapa sih Lex?" tanya Clarence. Alex mengedikkan bahu.


"Aku juga bingung. Dia tiba-tiba jadi gak suka bawang bombay," jawab Alex.


"Bawang bombay ya?" Clarence menahan tawanya.


"Kenapa ketawa? Pindah sana cepat," Kevin masih protes.


"Aku gak nyangka ya. Seorang Kevin Bramantara bisa ngidam juga," seru Clarence sambil tertawa.


"Emangnya Anna juga gitu?" tanya Alex. Clarence mengangguk.


"Kapan hari Nico pesan onion ring. Anna langsung lari ke toilet untuk muntah."


"Pergi saja bisa gak?" Kevin memelas.


"Gak mau. Aku mau lihat kamu menderita." Clarence mengunyah dengan senang.


"Sudah waktunya dimulai." Seseorang datang memberitahu konfrensi pers akan dimulai. Kevin segera beranjak dari tempatnya.


Kevin duduk bersebelahan dengan Clarence, kursi mereka diberi sedikit jarak. Alex duduk di sebelah Kavin dan manajemen Clarence duduk di sebelah artisnya.


"Oke. Saya gak mau basa-basi ya, jadi saya akan bicara yang penting-penting saja." Clarence mulai berbicara, sementara suara kamera saling memburu.


"Pertama. Memang benar Kevin menjemput saya di bandara dan mengantar saya pulang, tapi dia punya alasan untuk itu."


"Boleh tahu alasannya?" Seorang wartawan mengangkat tangannya.


"Nanti akan ada sesi tanya jawab," jawab Clarence tegas.


"Istri Kevin beberapa hari ini berada di rumah saya. Kevin datang mengunjungi istrinya." Terdengar suara riuh rendah dari para wartawan.


"Yang kedua, beredar gosip kalau saya punya anak dengan Kevin." Clarence diam sebentar, menunggu suasana hening.


"Saya memang punya anak diluar nikah, tapi bukan Kevin ayahnya." Para wartawan yang hadir semakin ribut.


"Boleh jelaskan lebih lanjut?" seorang wartawan lain bertanya.


"Saya tidak akan memberi tahu detailnya, karena mungkin akan menyakiti anak saya. Yang jelas kedua lelaki yang ada di sebelah kiri saya ini bukan ayahnya. Kalau tidak ada yang percaya, bisa dilakukan tes DNA."


"Intinya saya menyembunyikan fakta ini demi kebaikan anak saya. Karena saya sayang sama dia. Sekarang karena kalian sudah tahu, maka saya memutuskan untuk tidak lagi menyembunyikannya. Sekian itu saja dari saya, saya juga tidak akan menjawab pertanyaan lain seputar anak saya."


Terdengar suara ribut di seluruh penjuru ruangan. "Pak Kevin bisa berikan statement soal istri anda?"


"Saya memang ada sedikit masalah dengannya, tapi sudah bisa diatasi dengan baik."


"Lalu bagaimana pernyataan Vanessa Pratama?"


"Saya tidak pernah berhubungan dengan dia."


"Itu tidak benar. Kita bisa tes DNA untuk membuktikannya."


"Apa anda bertengkar dengan istri karena Mbak Vanessa?" Kevin menghela nafas dengan kesal.


"Boleh saya tambahkan?" Clarence menyela. Kevin mempersilahkan.


"Pernah dengar ibu hamil yang sebal melihat suaminya sendiri?" Clarence memberi jeda.


"Itu yang terjadi pada istri Kevin. Dia sedang ngidam."


Anna yang sedari tadi menonton siaran langsung konfrensi pers ini langsung tersedak. Nico dengan cekatan langsung memberinya air.


"Oh, ternyata ngidam toh." Mama Mei yang ikutan nonton tertawa mengejek. Anna hanya tersenyum mendengarnya.


Hasil konfrensi pers cukup positif dan memuaskan. Kevin tidak langsung kembali ke kantor. Dia menyempatkan diri membelikan Anna cemilan.


Clarence sudah memberikan kartu kunci salah satu apartemennya yang tak berpenghuni. Hal ini memudahkan Kevin untuk naik ke lantai Anna tinggal.


Selama di perjalanan menuju lantai dua belas, semua yang berpapasan dengannya berbisik di belakangnya.


"Harusnya aku tidak ikut konfrensi pers tadi," batin Kevin kesal.


Sebelumnya Kevin sempat menelpon Nico menanyakan keberadaan Anna.


"Tante Anna balik ke tempatnya. Mau mandi katanya," jawab Nico jujur.


Kevin menekan bel yang ada di depan pintu. Kevin menunggu, tapi tidak ada jawaban. Kevin menekan bel sekali lagi.


"Tunggu bukannya Nico bilang Anna lagi mandi. Mungkin kutunggu sebentar biar Anna gak buru-buru," batin Kevin.


Semenit kemudian pintu terbuka. Rambut Anna masih dibalut handuk dan masih menggunakan bathrobe.


Begitu melihat wajah Kevin, Anna langsung menutup pintu. Senyum di wajah Kevin menghilang.


Kevin mencoba mengetuk pintu. "Anna kamu masih marah?" Tidak ada jawaban dari Anna.


"Aku ada beli buah dan cemilan. Kutinggalkan di depan pintu ya. Nanti kamu makan." Kevin menaruh barang bawaannya di lantai.


"Aku pulang ya. Besok pagi aku datang lagi. Jangan lupa buahnya dimakan," seru Kevin sebelum pergi.


Setelah yakin Kevin sudah pergi, Anna membuka pintu. Dia melihat dua kantong besar tergeletak di lantai. Anna menggigir bibir bawahnya, sebelum menyeret kantong yang berat itu masuk.


Keesokan paginya Kevin kembali berkunjung sebelum pergi kerja. Kali ini dia langsung ke tempat Nico.


"Kevin? Ngapain ke sini?" Clarence yang membukakan pintu.


"Anna ada?"


"Anna ada Kevin nih," Clarence langsung berteriak.


Anna langsung memberi isyarat tidak ingin bertemu. "Dia gak mau keluar," seru Clarence pada Kevin.


"Kalau gitu titip ini saja ya." Kevin memberikan kantongan.


"Apaan nih?" tanya Clarence.


"Sarapan pagi buat Anna," jawab Kevin singkat.


"Cuma seporsi? Rumah ini banyak penghuninya loh," ejek Clarence.


"Aku cuma mau kasih buat Anna saja." Kevin segera pergi.


Setelah pulang kerja, Kevin kembali singgah. Anna juga kembali menolak kehadiran Kevin. Kevin juga membawakan makan malam untuk Anna saja.


Beberapa hari berikutnya, Kevin tetap mengunjungi Anna walau terus ditolak. Rutin sebelum kerja dan setelah pulang kerja.


Bahkan pada suatu hari saat Nico yang membuka pintu dan mengatakan Anna lagi mau makan fish and chip, Kevin langsung pergi membelinya.


"Kamu gak kasihan apa lihat Kevin bolak balik terus kayak gitu?" Suara Julie terdengar dari ponsel Anna.


"Enggak. Aku masih mau kerjaiin dia lebih lama lagi," jawab Anna manja.


"Ckck. Dasar kamu ngidamnya cuma mau kerjaiin suami saja."


"Biarin, yang penting aku senang."


"Jadi selama ini kamu lari dari Kevin juga benaran karena ngidam?"


Anna tidak langsung menjawab. "Mungkin saja sih. Soalnya dari sebelum tahu hamil, aku sering sih kesal sama Kevin."


"Ngidammu itu lebay tahu."


"Biarin." Anna tertawa senang


next>>>