
"Ken, coba ke sini," panggil Anna.
"Ada apa?" Kevin keluar dari walk in closet sambil memakai dasi.
Anna langsung mendekati Kevin dan mengambil alih dasinya.
"Kok dilepas?"
"Aku mau kamu pakai yang ini." Anna mengeluarkan dasi yang dibelinya dari kantongan.
"Aku beli ini waktu di Bandung," seru Anna.
"Kiraiin kamu cuma mau habisin duitku buat balas dendam," ejek Kevin.
"Aku gak sejahat itu tahu. Aku emang beli beberapa barang baru, tapi aku juga beliin kamu beberapa." Anna memasangkan dasi yang dibelinya dengan telaten.
"Kamu beliin aku apa aja?" tanya Kevin.
"Emm. Kemeja, dasi sama pinnya, ikat pinggang dan skincare."
"Skincare?"
"Biar kamu tambah ganteng." Anna merapihkan dasi yang dipasangnya, kemudian memasangkan pin.
"Kalau aku tambah ganteng, nanti makin banyak cewek yang mau sama aku loh."
Anna mengambilkan jas Kevin dan membantunya memakai jas itu.
"Harusnya aku bangga dong karena punya suami ganteng." Anna menepuk ringan jas Kevin.
"Bijaksana banget," sahut Kevin.
"Selama itu bukan Vanessa, aku gak akan marah." Kevin langsung terdiam mendengar nama Vanessa.
"Apa aku harus ngomong soal chat Vanessa?" batin Kevin.
"Kamu masih digangguin Vanessa?" tanya Kevin ragu-ragu.
"Hm. Sebenarnya kejadiannya selalu gak disengaja sih, tapi ya tiap ketemu dia selalu nyebelin." Anna kini mengganti ikat pinggang Kevin dengan yang baru.
"Ken masih digangguin Vanessa?" Kevin terdiam sesaat.
"Masih," jawabnya dengan pelan.
Anna berhenti melakukan aktivitasnya dan menatap Kevin tajam.
"Aku gak ladeni kok. Aku saja heran dari mana dia tahu nomor baruku."
"Kamu ganti nomor lagi?" tanya Anna.
"Gak. Terakhir itu sebelum kita menikah."
"Kurasa dia pasti cari tahu dari papanya. Kalian masih kerja sama kan?" Anna masuk lagi ke closet.
"Apa aku batalkan saja kontrak dengan mereka?" tanya Kevin serius.
"Gak usah. Kamu harus bisa bedakan urusan pribadi dan bisnis."
Kali ini Anna memasangkan jam tangan ke tangan Kevin.
"Nah, sekarang sudah ganteng." Anna tersenyum puas.
"Ngomong-ngomong soal kontrak. Kontrak nikah kita gimana?" tanya Anna penasaran.
"Sudah kubakar," jawab Kevin santai
"Serius?" tanya Anna.
"Kemarin waktu kamu mandi aku bakar. Kita tidak perlu kontrak lagi kan?" Anna mengangguk dengan senyuman.
"Pagi ini masak apa?" tanya Kevin.
"Cuma mie goreng jawa. Gak sempat masak yang lain. Yuk kita pergi sarapan." Kevin langsung menggandeng tangan Anna.
"Selamat pagi," sapa Anna.
"Selamat pagi Tante." Anna singgah dan mencium kening Gita. Tak lupa Anna juga singgah mencium pipi Nenek. Kevin tidak melepas tangan Anna sampai mereka duduk.
"Nenek senang banget lihat kalian jadi makin mesra." Anna tersenyum malu-malu.
"Padahal waktu pulang kemarin, aku langsung dipukuli." Kevin protes.
"Mana Nenek tahu kalau kalian ternyata mesra-mesraan dulu di Bandung. Kalau tahu begitu sekalian saja minggu depan baru pulang."
"Oh, jangan dong Nek. Nanti aku yang sakit kepala urusi kerjaannya Kevin." Alex langsung mengajukan protes.
"Sampai kapan kamu mau jadi sekretaris terus? Sudah waktunya kamu berbagi kerjaan dengan Kevin," kata Nenek lembut.
"Sebelum itu carikan aku sekretaris baru. Asisten pribadi sekalian," saran Kevin.
"Tapi harus cowok yang normal ya. Aku gak mau ada cewek aneh terlalu nempel sama Ken," sambung Anna.
Kevin tersenyum mendengarnya. "Aku heran apa sih yang kamu suka dari Kevin?" tanya Alex pada Anna.
"Semuanya," jawab Anna. Alex memberikan ekspresi jijik mengejek.
"Daddy bucin itu apa?" tanya Gita.
"Anak kecil gak usah tahu. Buruan berangkat sekolah sana," tegur Kevin. Bibir Gita maju beberapa senti, sebelum pamit berangkat.
"Kapan kenalin pacar kamu Lex?" tanya Kevin. Alex langsung tersedak mie goreng.
"Itu benaran?" tanya Anna.
Nenek memandang Kevin dengan tajam.
"Serius Nek. Waktu reuni kemarin Alex ngaku sendiri," Kevin yang menjawab.
Nenek memandang Alex dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Nenek hati-hati.
Alex menghabiskan segelas air putih sebelum menjawab.
"Belum," jawabnya singkat.
"Apaan sih? Tempo hari katanya ada," protes Kevin.
"Aku bilang punya kandidat, bukan punya pacar. Masih PDKT," jawan Alex kesal.
"Siapa? Kamu gak kenalin ke Nenek?" Nenek terlihat antusias.
"Nanti ya Nek. Kalau sudah resmi pacaran pasti aku bawa ke sini."
"Kapan resminya?" Nenek bertanya lagi.
"Segera," jawab Alex singkat.
"Nenek akan menunggu dengan sabar."
"Menurutmu, apa mungkin orang yang dimaksud Alex itu Julie?" Kevin dan Anna sedang dalam perjalanan ke kantor.
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" Kevin bertanya balik.
"Intuisi perempuan," jawab Anna asal. Kevin tertawa mendengarnya.
"Kenapa tertawa?" Anna mulai kesal.
"Kamu lucu banget sih." Anna mencebik dengan kesal.
"Nanti biar Alex sendiri yang perkenalkan pada kita. Siapa pun pilihannya aku akam dukung dia." Anna mengangguk setuju.
Kevin benar-benar lebih memanjakan Anna. Ketika sampai di kantor, Kevin membukakan pintu mobil untuk Anna. Bahkan Kevin langsung menggandeng tangan Anna dan mengantarnya sampai ke ruangan.
"Hari ini jadwal kamu apa?" tanya Kevin.
"Belum tahu. Aku kan bolos beberapa hari, jadi pasti banyak jadwal yang diatur ulang."
Begitu sampai di depan ruangan Anna, Kevin langsung memberi perintah pada Kiki.
"Pastikan jam makan siang Anna tidak ada jadwal apapun. Dan pekerjaan sudah harus selesai sebelum jam enam malam."
Kiki kebingungan karena tiba-tiba dapat perintah.
"Kamu jangan bikin sekretarisku bingung dong," protes Anna.
"Aku pengen makan siang dengan istriku, masa gak boleh?"
"Boleh kok manja." Anna mengusap lembut pipi Kevin.
"Kalau gitu sampai jumpa makan siang nanti." Dengan cepat Kevin mengecup bibir Anna. Sebelum Anna sempat protes, Kevin segera berlalu pergi.
"Dasar manja," gumam Anna. Anna tidak sengaja melihat ekspresi kaget Kiki, dan menjadi malu karenanya.
"Pagi-pagi bikin baper saja. Nasib jomlo." Kiki memprotes sedikit nyaring setelah Anna masuk ke ruangannya.
"Mereka ngapain lagi?" Nina muncul dari ruangan di balik meja Kiki.
"Nyosor. Di bibir. Belum lagi sepanjang jalan kenangan kita bergandeng tangan." Kiki bernyanyi frustasi.
"Masa?"
"Masak aja tuh di pantry," Kiki menjawab kesal.
"Makanya cari pacar biar gak nyanyi kayak orang gila," balas Nina.
"Cermin diri sendiri dulu kali. Situ juga belum punya pacar kan?"
"Sorry ya, aku sebulan ini pacaran." Nina melenggang angkuh kembali ke ruangannya.
"Susah amat sih cari cowok. Memangnya kurang aku apa?" protes Kiki seorang diri.
Memang tidak bisa dipungkiri Kevin dan Anna semakin mesra saja setelah pulang dari Bandung.
Setiap hari Kevin mengantar Anna sampai ruanganya dan memberi kecupan di kening. Anna protes pada Kevin, tidak ingin dicium di bibir ketika berada di tempat umum.
Setiap siang pun mereka pasti makan siang bersama, kecuali jika ada halangan. Mereka selalu bergenggaman tangan tiap kali bersama, bahkan saling memeluk pinggang.
next>>>