The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 35



"Kenapa sih Na? Dari tadi bengong saja," protes Julie.


Anna menarik nafas panjang.


"Tadi di cafe aku lihat Cleo."


"Sepupu Kevin yang kemarin?" Anna mengangguk.


"Kenapa lagi dia?"


"Dia tadi ke cafe sama teman-temannya. Cowok semua," Anna menjelaskan.


"Terus?"


"Kayaknya sih salah satu dari mereka pacarmya Cleo. Cuman gak tau kenapa aku gak suka orang-orang itu."


"Kamu bilang salah satu dari mereka pacar Cleo?"


"Mungkin. Soalnya mereka mesra banget."


"Kalau itu benaran pacarnya Cleo, dia pasti bisa lindungi pacarnya. Tenang aja."


Walaupun sudah diyakinkan Julie, Anna tetap merasa tidak tenang. Seharian Anna tidak bisa bekerja dengan tenang.


"Ken, boleh minta nomor telpon Cleo?" Anna akhirnya menelpon Kevin.


"Buat apa?" tanya Kevin.


"Ada yang mau aku omongin sama dia."


"Anna. Cleo itu udah dewasa."


"Bukan somoon al yang kemarin kok. Ini soal yang lain," protes Anna sebelum ocehan Kevin bertambah panjang.


"Nanti aku chat." Kevin mematikan telpon.


Setelah mendapat nomor Cleo, Anna segera menelponnya. Sia-sia karena telpon Anna tidak diangkat.


"Udah Anna, fokus kerja dulu. Nanti aja urusin Cleo."


Anna memutuskan untuk fokus kerja dulu.


"Na, masih di cafe?" Julie menelpon.


"Ia nih lagi rame, jadi aku bantu. Kenapa?"


"Jadi kamu gak jadi balik Jakarta hari ini?"


"Gak tahu, nanti aja di lihat."


"Di Cafe mana?"


"Asia-Afrika," jawab Anna.


"Pas banget. Aku juga lagi di Asia-Afrika, mobilku mogok. Aku ke sana ya nanti nebeng."


"Terserah. Tapi mungkin aku lama."


"Gak masalah. Kamu lanjut kerja gih."


"Sorry nunggu lama ya Li." Anna mendatangi meja Julie.


"Gak apa-apa kok. Udah selesai?"


"Udah gak seramai tadi, jadi udah bisa ditinggalin."


"Jadi kamu pasti gak jadi balik ke Jakarta."


"Iyalah Li, ini udah jam sepuluh lewat. Mau jam berapa aku sampai di rumah."


"Aku masih pengen makan nih, pesan online dong. Apa gitu yang manis." Anna menghentikan mobil di depan rumah dinas Julie.


"Jam segini?" tanya Julie.


"Ia."


"Kamu ngidam ya? Hamil?"


"Idih, gak mungkin." Anna melepas seatbelt.


"Mungkin aja kamu toh bersuami." Julie turun dari mobil.


"Gak ada yang gituan." Anna juga turun dari mobil.


"Kalau kamu gak ada suami ia. Nah, ini ada suami kok."


"Ih, ini orang ya berapa kali juga dikasih tahu."


Julie tiba-tiba menyipitkan mata melihat ke depan.


"Itu kayaknya kenal. Bukan sepupunya Kevin?" Anna melihat ke arah yang ditunjuk Julie.


"Loh, ia itu Cleo sama teman-temannya."


"Itu si Cleo kayak gak sadar gitu."


"Mereka mau ngapain?" tanya Anna.


"Aduh, ini cewek berat juga."


"Berisik banget angkut aja cepat ke dalam."


"Yakin di rumahmu gak ada orang kan?"


"Yakin, orangtuaku lagi ke luar kota."


"Lumayan nih dapat cewek lugu gini. Mau saja ikut kita."


Anna refleks melangkah mendekati mereka.


"Aduh, Anna." Julie panik.


"Eh, kalian mau ngapain?" Anna setengah berteriak.


"Siapa nih?" tanya salah seorang pria itu.


"Mangsa baru kayaknya."


"Kalian mau apaiin Cleo?" tanya Anna.


"Oh, ini kayaknya yang tadi pagi. Kenalannya Cleo."


"Mau ikut main neng?" Julie datang mendekat.


"Na, aku udah telpon pos security."


"Wah, dapat satu lagi. Bisa masing-masing satu," seru yang satunya lagi.


"Lepasin Cleo sekarang, atau saya teriak," ancam Anna.


"Emang siapa yang mau dengar? Orang-orang sudah pada tidur."


"Saya sudah telpon pos security," Julie menjawab.


"Jam segini mah mereka pasti malas-malasan."


Entah apa yang dipikirkannya, Anna melempar tasnya. Anna berusaha menarik Cleo dari tangan salah seorang pria itu.


"Lepas gak." Anna berteriak.


"Astaga Anna, tungguin security kenapa?" Julie mulai panik,


sementara Anna masih tarik-tarikan dengan para pria itu.


"Tolong." Julie berteriak histeris.


"Tolong ada rampok." Anna didorong sampai terjatuh.


"Anna." Julie menolong Anna berdiri.


"Tolongin dong itu sepupu saya mau diapa-apain," seru Anna.


"Anna?"


"Rian? Tolongin dong itu.


"Disaat yang bersamaan security juga datang dan lampu-lampu rumah mulai menyala.


"Ada apa ini?" Dua orang


security datang mendekat.


"Itu Pak, sepupu saya mau diapa-apain sama mereka."


"Udah lari aja bro.Tinggalin aja." Teman-teman Cleo segera naik mobil dan tancap gas.


"Cleo." Anna berlari mendekati Cleo.


Security mencoba menahan mobil teman Cleo,tapi tidak berhasil.


"Cleo, bangun."


"Dibawa ke rumah sakit saja Na," saran Julie.


"Biar saya bantu." Rian menggendong Cleo.


"Itu mobil saya." Anna menunjuk mobilnya.


Julie mengambil tas Anna dan memberikannya pada yang punya.


"Na, sini kuncinya biar aku yang nyetir." Anna melempar kunci pada Julie.


"Makasih ya Rian." Anna masuk mobil mengambil tempat sebelah Cleo.


"Gak apa-apa kok."


"Li ayo buruan."


"Ia sabar. Mending kamu telpon Kevin atau siapa gitu," Julie memberi saran. Anna buru-buru mencari ponselnya dalam tas.


"Rian tolong tutupin pintunya dong," pintu Anna. Rian dengan bingung menutup pintu mobil. Julie langsung tancap gas.


"Padahal masih mau dibantuiin," bisik Rian.


"Jadi gimana nih mas. Orang yang tadi kabur," kata salah seorang security.


"Udah Pak gak apa-apa, nanti biar keluarganya yang urus."


Orang-orang di sekitar situ mengintip dari jendela. Rian melemparkan senyum malu-malu.


"Nasib," batinnya.


"Ken lama amat angkat telponnya."


"Tadi lagi di toilet, kamu kenapa lagi?"


"Kamu tolong telpon Tante Sandra, Cleo kecelakaan. Aduh bukan kecelakaan sih."


"Cleo kenapa coba cerita pelan-pelan." Anna mengambil nafas sebelum bercerita panjang lebar.


"Jadi sekarang kamu di mana?" tanya Kevin.


"Sekarang lagi jalan ke rumah sakit."


"Ok. Kalau kamu sudah sampai, kamu kabarin lokasinya. Aku langsung ke sana."


*****


"Anna."


"Ken."


"Gimana Cleo?"


"Itu udah dipindah ke kamar biasa."


"Apa kata dokter?"


"Kemungkinan di kasih minum obat bius katanya."


"Hah?"


"Ya kata dokternya dan hasil labnya begitu."


"Terus kamu gak apa-apa?" tanya Kevin.


"Lecet dikit tapi gak apa-apa. Kamu udah kasih tahu Tante Sandra?"


"Mana yang lecet?" tanya Kevin. Kevin memutar badan Anna.


"Eh, ngapain pusing tau." Kevin kemudian mengangkat lengan Anna dan melihat lecet ditanganya.


"Kenapa gak diobati?"


"Cuma lecet gak apa-apa kok."


"Ayo cari dokter," desak Kevin.


"Astaga. Ini benaran gak kenapa-kenapa."  Kevin mendorong Anna.


"Cuma lecet sedikit, tidak apa-apa kok." Ibu dokter jaga memeriksa lengan Anna.


"Tuh, kan." Anna melihat Kevin dengan kesal.


"Saya bersihkan dan kasih sedikit obat ya," Ibu dokter kembali memberitahu.


"Sudah kasih tahu Tante Sandra?" tanya Anna lagi.


"Belum. Soalnya sudah malam banget, takutnya mengganggu mereka. Kalau nyetir buru-buru malam gini juga gak aman." Anna menganggum setuju.


Anna dan Kevin sedang berjalan menuju kamar Cleo. Kamar Cleo sudah dipindahkan Kevin, dari kamar biasa ke kamar VIP.


Sekarang sudah lewat jam dua subuh. Julie juga tadi sudah pamit pulang. Anna sempat memintanya tinggal karena sudah malam, tapi Julie menolak dan pulang menggunakan mobil Anna.


Anna juga disuruh ikut Julie pulang. Anna menolak dengan alasan akan menjaga Cleo.


"Kalau Cleo tiba-tiba bangun mau ke toilet gimana? Memang Ken mau temani?" Kevin langsung berhenti meminta Anna pulang.


"Kalau ngantuk tidur saja dulu," seru Kevin.


"Ngantuk sih, tapi mau tidur di mana?"


"Ini sofanya kan bisa ditarik jadi tempat tidur."


"Aku lupa," balas Anna.


Kevin menarik sofa yang mereka duduki dan mengaturnya menjadi tempat tidur.


"Ken tidak tidur?"


"Tidur saja duluan. Nih, tadi aku sempat ambil sarung Bali dari lemarimu."


"Ken juga tidur. Nanti besok sakit loh." Kevin berbaring di samping Anna.


Anna kemudian membagikan sarung Bali yang kecil itu dengan Kevin.


"Pakai sendiri saja, nanti kamu kedinginan."


"Kalau gak kubagi nanti Ken yang dingin. Lagian kalau kita tidurnya dekatan gak bakal kedinginan kok." Anna mendekat ke arah Kevin.


"Jangan marah ya kalau aku gak sengaja peluk karena kiraiin kamu guling," seru Kevin.


"Ia, kali ini bakal dimaafkan." Dan mereka pun tertidur dengan cepat.


 next>>>