
"Apa kamu tidak merasa Vanessa terlalu aneh?" bisik Clarence pada Cleo.
"Dia terlalu tenang," Cleo balas berbisik. Mereka berdua memperhatikan interaksi Vanessa dan Anna.
Sementara itu Mike mulai bicara omong kosong pada Kevin. Kevin merasa bosan dengan omong kosong Mike.
"Sebenarnya sih aku mau minta maaf," seru Mike.
"Minta maaf?" tanya Kevin.
"Yah, kamu tahulah. Waktu acara keluarga tempo hari, aku berlaku sedikit kurang ajar pada istrimu."
"Sangat kurang ajar," balas Kevin.
"Baiklah sangat kurang ajar." Mike tersenyum tipis. Kevin menghembuskan nafas berat.
"Dia sudah tobat atau gimana?" batin Kevin dalam hati.
"Lain kali jangan seperti itu lagi." Kevin memutuskan untuk mempercayai Mike kali ini.
"Sebagai tanda berbaikan, biar aku ambilkan segelas wine." Tanpa menunggu reaksi Kevin, Mike beranjak mengambil dua gelas wine.
Satu gelas diberikan untuk Kevin, satu gelas lagi untuknya.
"Mari bersulang," seru Mike. Tanpa curiga Kevin menyesap isi gelasnya sedikit-sedikit.
"Aku mau minta maaf sama kamu Na. Aku udah banyak nyusahin kamu selama ini," seru Vanessa. Cleo hampir saja tersedak salivanya sendiri.
"Aku juga minta maaf sama Clarence dan Cleo. Aku tahu kok aku ini nyebelin," lanjut Vanessa. Anna menaikkan sebelah alis tidak percaya.
"Dia kesambet apa?" bisik Clarence pada Cleo.
"Mbak kunti mungkin," jawab Cleo juga berbisik.
Vanessa sama sekali tidak peduli pada bisik-bisik Cleo dan Clarence.
"Bagaimana kalau aku ambilkan wine untuk kita semua. Anna mengangguk sambil tersenyum.
"Na, kamu gak merasa Vanessa mencurigakan?" tanya Clarence.
"Mencurigakan gimana?" tanya Anna.
"Masa tiba-tiba minta maaf gitu? Terus dia juga jalan dengan Mike, perpaduan yang gak bagus." Clarence berusaha menyadarkan Anna.
"Mungkin saja dia emang sudah sadar Ren. Kebetulan saja Mike yang bikin dia sadar." Anna tersenyum geli mendengar teorinya sendiri.
"Kamu tuh terlalu baik tahu," seru Cleo.
"Biasa aja deh," balas Cleo.
"Tahu ah gelap. Mending aku ke toilet aja deh." Clarence berlalu pergi.
Saat Clarence ke toilet, dia sempat melirik ke arah Mike dan Kevin.
"Pasangan yang mencurigakan," gumam Clarence.
"Loh, Clarence mana?" tanya Vanessa.
"Dia ke toilet sebentar," jawab Anna.
"Oh."
Vanessa memberi kode pada pelayan yang mengikutinya untuk mendekat.
"Aku tentu tidak bisa memegang semua gelasnya kan."
Dengan cepat Vanessa mengambil segelas dan memberinya pada Anna terlebih dulu. Baru kemudian memberi gelas lain untuk Cleo dan dirinya.
"Akan lebih baik kalau punya Clarence kupegangkan saja," seru Vanessa datar.
Julie sedari tadi memperhatikan Vanessa dari jauh. Entah mengapa dia merasa ada yang aneh padanya.
"Aku ke tempat Anna dulu ya," serunya pada Alex. Alex mengambil alih Gita dari Julie.
"Anna." Julie mengagetkan Anna tepat pada saat gelas winenya menyentuh bibir. Anna yang terkaget menumpahkan isi gelasnya dan mengenai kaki Vanessa.
"Ups. Sorry gak sengaja," seru Julie.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Anna pada Vanessa.
"Gak apa-apa kok." Vanessa memasang senyum terpaksa.
"Mungkin aku harus ke toilet," sambung Vanessa.
"Mau ditemani?" tanya Anna berbaik hati.
"Gak perlu. Aku bisa sendiri," jawab Vanessa cepat.
Clarence baru saja keluar dari toilet, ketika dia melihat Mike membopong Kevin.
"Sudah mabuk?" batinnya. Baru saja Clarence mau melangkah lagi, dia melihat Vanessa menyusul Mike dan Kevin.
"Anna, kamu harus cari Kevin sekarang." "Ren? Kenapa buru-buru amat? Kevin cari aku?" tanya Anna.
"Aku barusan lihat Mike dan Vanesaa membopong Kevin keluar ballroom," jawab Clarence singkat.
"Mereka pasti rencanaiin sesuatu," Cleo membantu Clarence.
"Mungkin..."
"Anna, cari Kevin sekarang." Julie memotong Anna. Dengan ekspresi tak menentu Anna mulai melangkah.
"Aku akan tanya resepsionis di kamar mana mereka menginap. Nanti akan kutelpon," Cleo berinisiatif membantu.
Anna bergegas menuju ke arah lift. Dia tahu di lantai berapa keluarga laksono menginap, hanya saja dia tak tahu nomor kamarnya.
"Kalau Kevin mabuk dan sampai meniduri Vanessa, aku harus bagaimana? Kalau sampai Vanessa hamil?" Pikiran Anna mulai berkeliaran kemana-mana.
"Ini bukan kamarku," seru Kevin samar.
"Oke baby aku antar kamu ke kamar. Kamarnya nomor berapa?" tanya Vanessa. "1208."
"Aku harus membawanya naik lagi?" tanya Mike? "Bukankah lebih bagus kalau istrinya menemukan kami di kamar mereka."
Mike mendengkus dengan kesal.
"Bagaimana dengan Anna?" Mike mulai menuju lift lagi. "Minumannya tumpah," jawab Vanessa.
"Kenapa kamu gak becus banget sih?"
"Perjanjian awalnya kan kamu membantuku menangkap Kevin."
"Di sini panas." Kevin yang tidak memakai dasi, mulai menarik-narik kerah bajunya.
"Iya, sayang sebentar lagi sampai kok. Nah, kuncinya mana?"
Vanessa merogoh kantong kemeja Kevin. Mike segera membawa Kevin masuk dan merebahkannya di ranjang.
Kevin yang sudah seperti cacing kepanasan melepas jasnya. Vanessa tersenyum melihat hal ini.
"Biar kubantu melepas bajumu." Tangan Vanessa menjangkau kancing kemeja Kevin, melepasnya satu per satu. Tak lupa Vanessa mengecup bibir Kevin.
Mike terkekeh melihat tingkah Kevin. Dengan cepat Mike memotret kejadian ini dengan ponselnya.
"Selaikan dengan cepat," seru Mike berlalu pergi.
Kini Vanessa berusaha melepas ikat pnggang Kevin. Kevin menahan tangan Vanessa.
"Keluar dari sini." Meskipun terasa panas dan menyiksa, Kevin belum kehilangan rasionalitasnya.
"Kamu kenapa sih beb, pasrah saja. Aku akan membantumu," goda Vanessa. Kevin mendorong Vanessa dengan kasar sampai terjatuh.
Vanessa bangkit berdiri.
"Kak Kevin kenapa sih? Nurut saja kenapa? Kak Kevin juga pasti sudah tidak tahan kan?"
Kali ini Vanessa langsung menyerang Kevin, mendorongnya hingga terlentang di atas ranjang. Vanessa menaiki dan ******* bibir Kevin dengan ganas. Bahkan berpindah ke leher Kevin.
Tak ingin kalah dari Vanessa, Kevin membalikkan keadaan. Sekarang Kevin berada di atas. Vanessa tersenyum puas.
"Keluar," gumam Kevin. Vanessa kehilangan senyuman di wajahnya. Tangannya yang berusaha melepas kemeja Kevin berhenti bergerak.
Kevin bangkit dari ranjang dan menarik Vanessa. Memaksanya untuk turun dari ranjang dan menghempaskan tubuh Vanessa keluar dari pintu.
Entah apa yang dipikirkan Anna. Cleo sudah memberikan nomor kamar Mike dan Kevin, tapi kakinya malah melangkah ke arah kamar mereka.
"Apa harusnya aku coba untuk ke bawah dulu?" Anna mulai frustasi sendiri.
"Tapi aku merasa harus kembali ke kamar sekarang juga. Apa yang harus kulakukan?"
Anna melangkah dengan pelan. Kepalanya terasa sedikit pusing.
"Bertahanlah Anna. Sedikit lagi kamu akan sampai ke kamar."
Anna terlonjak kaget mendengar pintu terbanting membuka dengan keras. Dilihatnya Vanessa di dorong keluar dari kamar dengan kasar.
"Kak Kevin," teriak Vanessa.
Deg....
Jantung Anna berdebar tidak karuan.
"Apa yang sudah terjadi?" batin Anna kacau.
Vanessa menyadari kehadiran Anna. Saking marahnya Vanessa tidak ada lagi niat untuk menggoda Kevin.
Vanessa merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, juga lipstik yang diyakinya belepotan. Dengan kasar Vanessa menabrak bahu Anna dengan kasar, berjalan melewati Anna yang masih shock.
next>>>