
"Alamat kamu di mana?" tanya Kevin.
"Gak, jauh kok. Cuma di kompleks belakang. Di kompleks kirana." Kevin mengagguk dan terdiam.
Suasana mobil jadi diam untuk beberapa saat.
"Ngomong-ngomong ada apa ya? Kok tiba-tiba muncul di kantor saya?"
"Bahasanya kok jadi lebih formal?" Kevin bertanya balik.
"Ya gimana soalnya tiba- tiba banget, jadinya kan canggung."
"Sebenarnya ini tidak tiba-tiba loh. Saya menelpon kamu beberapa kali tapi tidak diangkat, terakhir malah sudah tidak bisa dihubungi. Kamu blokir saya ya?"
"Masa sih? Coba berapa nomor telponnya."
"Tunggu, kamu gak simpan nomor saya?"
"Simpan kok. Cuma pulang dari Bali, ponsel saya sempat di software ulang jadi ada nomor yang terhapus," Anna berbohong.
"Oh gitu."
"Berapa nomornya nanti saya simpan ulang." Anna segera mencari daftar nomor yang diblokir dan melepas blokir nomor Kevin.
"Jadi, kenapa kamu cari aku?" tanya Anna.
"Bagaimana ya? Saya juga tidak tau mau mulai ngomong dari mana."
"Ngomong aja."
"Saya sepertinya butuh bantuan kamu lagi." Anna mencerna sebentar kata-kata Kevin.
"Lagi? Maksudnya kamu suruh aku berurusan lagi sama Vanessa?" Kevin tidak langsung menjawab.
"Emm... Ini agak sedikit beda."
"Bedanya apa?"
"Jadi, gini biar saya cerita sedikit dulu ya." Anna menyimak.
"Vanessa melapor ke nenek. Nenek saya. Soal kamu."
"Terus."
"Jadi.... Jadi nenek saya mau ketemu sama kamu."
"Tunggu dulu. Maksudnya kamu nyuruh aku pura-pura jadi pacar kamu di depan nenek kamu?"
"Yah, bisa dibilang seperti itu."
"Oh, gak bisa. Aku gak mau."
"Kenapa? Kenapa gak bisa."
"Aku bisa mengatasi anak kecil kayak Vanessa, tapi kalau orang tua gak bisa."
"Kenapa? Kamu cukup bersikap kayak biasa saja. Seperti waktu di Bali."
"Eh, depan belok kiri liat pintu kompleks langsung aja." Anna memberikan arahan
"Beda loh, Ken. Orang tua itu gak gampang ketipu," lanjut Anna.
"Tapi mau gimana lagi, aku udah bilang ia."
"Lah, bukannya tanya aku dulu kek." Anna menurunkan kaca mobil untuk menyapa pak security.
"Jalan sampai mentok belok kanan, terus belok kiri pertama."
"Masalahnya Na, nenek gak mau tau. Dia ngotot suruh aku bawa kamu."
"Lantas kalau aku ditampar lagi di depan keluarga kamu yang lain gimana? Atau muka aku dilemparin uang atau air gitu."
"Jauh amat sih pikirannya. Kebanyakan nonton drama Korea ya kamu?"
"Ya, gak ada yang gak mungkin kan. Atau bisa aja kan nenek kamu malah suka sama aku dan malah minta kita nikah."
"Astaga kejauhan sekali mikirnya."
"Eh, aku ini cantik loh."
Ciiittt...... Kevin menginjak rem mendadak.
"Aduh, Ken kok direm mendadak." Kevin menyandarkan kepalanya ke stir mobil dan berusaha menahan tawa.
"Kenapa lagi nih orang ketawa."
"Baru kali ini aku dengar orang bilangin dirinya sendiri cantik ngegas gitu. Haaa... haaaa. haaa"
"Berhenti gak sih." Anna jadi malu sendiri
.
"Ih, udah dong berhenti ketawanya."
"Ok, sorry. Sekarang aku harus lewat mana?"
"Udah. Udah sampai," Anna ngegas.
"Di mana?"
"Tuh, di depan yang nomor empat belas." Anna melepas sabuk pengaman dan hendak membuka pintu mobil.
"Mau ke mana? Kita kan belum selesai bicara."
"Aku gak mau."
"Tolonglah, kita bisa putus setelah dua atau tiga bulan. Mau ." Anna terdiam sesaat, berpikir keras.
"Ayolah. Nenek soalnya cukup keras, aku bisa dapat masalah nanti." Anna menghela nafas.
"Bicara di dalam aja deh." Anna keluar dari mobil.
"Ok." Kevin tersenyum.
"Parkirnya jangan di depan rumah orang dong, majuin dikit."
"Maaf ya kalau rumahnya berantakan." Anna mempersilahkan Kevin masuk.
Begitu masuk Kevin langsung memperhatikan sekeliling.
"Mau sekalian makan malam di sini? Kalau mau aku langsung masak."
"Kamu bisa masak?"
"Yang sederhana aja sih."
"Boleh deh, aku belum makan siang soalnya."
"Udah dibilangin makan tiga kali sehari."
"Boleh naik ke lantai dua?" tanya Kevin
"Silahkan. Tapi gak ada apa-apa sih."
"Kamu tinggal sendirian ya?" Kevin berjalan turun ke lantai satu.
"Kok tahu."
"Di lantai dua kelihatan gak pernah di tinggali."
"Ia juga sih. Aku sama Julie cuma pakai lantai satu saja."
"Kamu tinggal sama Julie?"
"Ini rumah Julie. Aku cuma numpang di sini."
Kevin membuka jasnya dan menyampirkannya di kursi ruang makan.
"Orang tua kamu mana?" Kevin duduk.
"Sudah meninggal. Dua-duanya." Anna sibuk dengan masakannya.
"Sorry."
"Gak perlu minta maaf, sudah lama juga."
"Kamu gak punya saudara yang lain?"
"Saudara tiri ada dua sama ibu tiri. Tapi kami gak akur sih."
"Kita mirip dong," kata Kevin.
"Apanya?"
"Orang tua kandungku juga sudah meninggal. Aku juga punya ibu tiri, tapi sudah meninggal juga. Aku punya adik tiri satu, tapi aku akur sih sama dia."
"Oh, ya Enak dong kalau bisa akur. Saudara tiriku yang seumuran aku baik sih, tapi dasar aku aja yang gak mau terlalu dekat."
"Kenapa?"
"Ibu dan kakak tiri aku jahat."
"Oh, ya. Mirip Cinderella dong."
"Julie juga ngomong gitu."
"Kalau adiknya Ken orangnya gimana?"
"Menurut kamu dia gimana?"
"Loh,kok balik nanya aku sih? Aku kan belum pernah ketemu."
"Sudah pernah ketemu kok."
"Kapan?"
"Di Bali." Anna memasang wajah bingung.
"Alex," jawab Kevin.
"Alex adik kamu?" Kevin mengangguk.
"Masih lama?" tanya Kevin.
"Gak kok, paling juga lima menitan lagi udah selesai."
"Nah, ini sudah jadi. Untung tadi pagi aku masak nasinya lebih."
"Masak nasi pagi- pagi?"
"Ia sebelum kantor aku masak nasi. Malam aku kulkas kalau ada lebihnya, besok dipanasin lagi." Kevin menyodorkan piring ke Anna.
"Ya, ampun dasar putra mahkota nasi juga minta diambilin."
"Makasih."
"Jadi gimana nenek kamu?" tanya Anna
"Dia mengundang kamu ke acara ulang tahunnya hari selasa depan." Kevin makan cukup lahap.
Anna menjatuhkan sendoknya ke atas piring.
"Hati-hati dong," tegur Kevin.
"Eh, gila. Jangan-jangan aku mau dipermalukan di depan umum nih."
"Jangan pikir yang aneh-aneh Na. Aku jamin kamu aman."
"Kamu bukan Tuhan Ken, kamu mana tahu apa yang bakal terjadi."
"Tenang saja aku bakal tanggung jawab dan atur semuanya. Kamu cuma perlu datang. Kamu punya dress pesta kan?"
"Ada sih, tapi aku gak yakin cocok atau nggak."
"Emm, kalau gitu hari minggu aku coba bikinin kamu janji di toko langganan Vanessa."
"Gak mau. Nanti aku ketemu dia lagi di sana."
"Kalau gitu nanti aku hubungi lagi deh kalau soal dress."
"Gak usah lah, nanti aku cari sendiri aja. Kebetulan Julie bakal datang ke Jakarta akhir pekan ini."
"Emang Julie di mana?"
"Dia kerja di Bandung."
"Kalau gitu, kamu pegang saja kartu aku." Kevin mengeluarkan kartu kreditnya.
"Gak perlu kali, biar aku yang bayar sendiri."
"Kan aku yang minta tolong, aku dong yang harus siapkan semuanya." Enggan Anna akhirnya menerima kartu Kevin.
"Jadi nanti hari selasa aku jemput jam lima?" tanya Kevin.
"Pestanya di mana?"
"Di B Hotel Thamrin."
"Gak usah lah aku sendiri saja, gak terlalu jauh kok dari sini."
"Atau aku suruh sopir aja yang jemput. Ok."
"Nanti aku sendiri aja. Lagian aku juga kerja, harus siap-siap juga. Dari pada kamu nunggu lama."
"Kan sopir yang nunggu, bukan aku."
"Terserah deh, capek ngkmong sama kamu. Kayaknya kamu sama keras kepalanya sama nenek kamu. Keturunan"
"Aku kan cucu kandungnya nenek."
"Tau ah." gusar Anna.
next...!