
Sudah dua minggu Anna tinggal di apartemen Clarence sambil menjaga Nico. Mama Mei juga sudah keluar dari rumah sakit.
Anna juga membantu terapi Mei sehari-hari. Memasak juga menjadi rutinitas Anna. Walaupun sudah dilarang, tapi Anna tetap melakukannya.
Mbak yang menemani Nico, serta suster yang menemani Mei juga senang dengan Anna. Nico juga sudah mulai menempel pada Anna.
Hari ini Anna pamit untuk cek kandungan. Clarence sudah merekomendasikan dokter kenalannya.
"Maaf ya aku gak bisa temani kamu. Aku masih ada show. Mungkin minggu depan baru balik."
"Gak apa-apa aku bisa sendiri kok."
"Biar Nico saja yang temani Tante. Tugas Nico sudah selesai semua kok." Nico memberi saran setelah Anna memutuskan sambungan telpon.
"Gak usah sayang. Nico di rumah saja."
"Masa ibu hamil dibiarkan pergi sendiri. Harus ada yang temani dong," protes Nico.
Anna tidak pernah terbiasa dengan sikap dewasa Nico, menatap takjub padanya. "Udah biarin saja Nico ikut," seru Mei. Anna tersenyum dan mengangguk.
"Nico sebelum ke dokter, kita singgah beli roti dulu ya."
"Dedeknya sudah lapar?" tanya Nico. Anna mengangguk sambil tersenyum.
Jadi lah Anna dan Nico singgah di toko roti. Nico benar-benar bersikap sangat dewasa dibanding umurnya.
Saat Anna masuk ke toko roti, Nico yang membukakan pintu. Nico juga yang mengambilkan Anna roti dan memegangnya.
"Anna." Anna yang sedari tadi memperhatikan Nico, berbalik ke arah datangnya suara.
"Andi?"
"Ngapain di sini?" tanya Andi.
"Pastinya bukan untuk beli sabun."
Anna berjalan ke arah kasir diikuti Nico.
"Ini anak siapa?" tanya Andi ragu-ragu.
"Saya keponakannya Tante Anna," jawab Nico tegas.
Andi terus memperhatikan Anna yang mengelus perutnya. "Kamu hamil?"
"Kenapa kamu bertanya pertanyaan yang jawabannya sudah jelas?" Anna membayar belanjaannya.
"Sudah berapa bulan?"
"Jalan enam bulan." Nico segera mengambil alih belanjaan Anna yang sudah dibayar.
"Gak berat? Biar Tante saja yang angkat," tanya Anna pada Nico.
"Gak kok. Lagian ibu hamil gak boleh capek."
Andi tertawa mendengar Nico. "Anak kecil tahu apa sih?" ejek Andi.
"Saya tahu kalau Tante Anna gak boleh capek, gak bisa makan sembarangan, harus rajin ke dokter dan gak boleh stress."
"Anak kecil saja lebih tahu," sindir Anna. Andi hanya bisa tersenyum masam.
"Biar Nico saja yang pesan taksi online ya."
"Gak usah biar Tante saja."
"Gimana kalau aku saja yang antar?" Andi menawarkan diri.
"Om ini teman Tante?" tanya Nico dengan curiga.
"Mantan," jawab Anna singkat.
Nico mengangguk mengerti. "Kalau gitu biar kita naik taksi saja," seru Nico.
"Loh, kenapa?" tanya Andi.
"Biasanya mantan yang sikapnya baik ada maunya," jawab Nico. Anna langsung tertawa mendengarnya.
"Om gak ada maksud apa-apa kok. Murni mau membantu ibu hamil. Hitung-hitung gak perlu bayar ongkos."
Nico melirik ke arah Anna. "Boleh deh. Saya numpang sama kamu saja." Andi tersenyum puas.
Andi menuntun Anna dan Nico menuju parkiran. Andi masuk duluan ke dalam mobil, sementara Nico membantu Anna membuka pintu mobil bagian belakang. Setelah itu Nico duduk di kursi penumpang di sebelah Andi.
Andi yang melihat kelakuan Nico tercengang. "Kenapa Tante Anna disuruh duduk di belakang?"
"Gak boleh dong. Nanti Om Kevin cemburu."
Andi makin tercengang mendengar omongan Nico. "Gak mau jalan Om?"
"Jalan? Ya, kita berangkat sekarang." Anna tertawa melihat interaksi keduanya.
"Kita mau ke mana?" tanya Andi.
"Ke rumah sakit ibu dan anak yang di menteng," Nico yang menjawab.
"Saya gak tanya kamu loh," seru Andi.
"Oh. Soalnya tadi Om gak sebut nama, jadi saya pikir saya yang ditanya." Andi menggelengkan kepala dengan ekspresi tidak percaya.
"Tapi kok Kevin gak temani kamu Na?" Anna menarik nafas berat dan menjawab,
"Dia sibuk." Anna membuang muka, menatap keluar jendela.
"Kalian bertengkar ya?"
"Bukan urusanmu," jawab Anna singkat. Andi diam tak ingin membalas Anna. Dilihatnya mata Anna berkaca-kaca.
Andi memarkirkan mobilnya dekat pintu masuk.
"Makasih ya," seru Anna.
"Biar aku antar sampai ke dalam." Andi sudah siap menuntun Anna.
"Terima kasih tapi, tidak perlu."
"Aku cuma mau membantu saja kok," Andi memasang senyum terbaiknya.
"Saya gak perlu bantuan kamu."
"Anna. Daripada masuk sendiri, mending sama aku kan?"
"Sudah ada Nico yang temani." Anna merangkul Nico.
"Anak-anak tahu apa? Akan lebih baik kalau ada pria dewasa yang temani kamu."
"Maaf Andi, tapi kamu bukan suami saya."
"Lalu kemana suami kamu?" Andi sudah mulai marah.
"Dia sibuk kerja."
"Sibuk kerja atau sibuk main cewek?"
"Maksud kamu apa sih?" tanya Anna.
"Kalau bukan karena Kevin jahat sama kamu. Kamu pasti gak akan nangis kayak tadi."
"Itu bukan urusan kamu. Kamu bukan siapa-siapa aku."
"Aku emang bukan siapa-siapa, tapi aku peduli sama kamu."
"Aku gak butuh kepedulian kamu."
Nico merasakan tangan Anna yang memegangnya sedikit bergetar.
"Maaf Om, tapi Tante Anna bisa telat kalau tidak masuk sekarang. Ayo Tante." Nico menarik tangan Anna.
"Tante gak apa-apa?"
"Makasih ya Nico." Nico merogoh kantong belanjaan yang dipegangnya.
"Tante coba makan roti coklat dulu. Katanya coklat bisa menghilangkan stress." Anna tertawa dan menerima roti yang diberikan Nico.
"Tante boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Nico gak kangen papa?" Nico langsung menggeleng.
"Yakin?"
"Nico kan gak punya papa."
"Gak mau punya papa?"
"Gak."
"Kenapa gak mau punya papa?"
"Bukannya gak mau sih, tapi semua laki-laki yang dekatin mama pasti ada maunya. Nico gak mau mama dimanfaatin sama mereka."
Anna terkejut mendengar pengakuan Nico. "Kalau Om Gerald?"
"Om Gerald baik sih, tapi mama kan gak mau nikah. Nico gak mau maksa mama."
"Terus nanti yang jagaiin mama siapa?"
"Nico dong. Makanya Nico harus cepat gede dan jadi orang hebat, biar bisa jagaiin mama dari orang jahat."
"Nico gak sering diledekin di sekolah karena gak punya papa? Gak kesepian?"
"Selalu diledekin, tapi Nico kan sudah punya mama. Ada opa sama oma juga, jadi gak apa-apa."
"Gak capek main kucing-kucingan sama Mama?"
"Gak. Ini juga kan demi kebaikan mama. Bukan karena mama mau sembunyiin Nico."
Anna mengelus rambut Nico dengan lembut. "Anak umur sepuluh tahun saja lebih bijak dari aku," seru Anna dalam hati.
*****
"Ruangan Kevin Bramantara lantai berapa?" Andi berdiri di depan resepsionis dengan kesal.
"Lantai sepuluh." Resepsionis refleks menjawab.
Andi bergegas naik ke lantai sepuluh. "Eh, Pak sudah buat janji belum?" sang resepsionis berteriak panik.
"Aduh, aku perlu beritahu Pak Kevin tidak ya?"
Begitu tiba di lantai sepuluh, tidak susah mencari ruangan Kevin. Karena lantai sepuluh hanya diisi oleh Kevin dan sekretarisnya.
"Ada yang bisa dibantu Pak?" Dinda menyapa Andi.
"Tunggu sebentar Pak." Dinda berusaha menghalagi Andi yang sudah mendorong pintu ruangan Kevin.
Kevin, Alex dan seorang klien wanita terlonjak kaget karena pintu tiba-tiba terbuka. "Apa-apaan ini?" tanya Kevin.
Andi dengan marah langsung mencengkram kerah baju Kevin.
"Kamu di sini enak-enakan dengan perempuan, dan kamu biarkan Anna yang lagi hamil ke dokter sendirian?"
next>>>