The Beauty Of A Contract Marriage

The Beauty Of A Contract Marriage
Chap 51 Terpikat 1



Sudah hampir lewat jam makan siang, tapi Gita masih semangat bermain.


"Mungkin kita harus keluar sekarang. Udah jam makan siang," kata Alex pada Julie.


Julie mengangguk setuju, karena perutnya sudah keroncongan.


"Gita kita pulang yuk. Udah jam makan siang," ajak Alex.


"Gita boleh makan ayam yang kemarin?"


"Ayam?" Alex kebingungan.


"Kemarin aku belikan McD," jawab Julie. Alex mengangguk


"Gita mau makan itu lagi?" tanya Alex.


"Eh, gak boleh. Gak boleh keseringan makan fast food," Julie menegur Alex.


"Tapi Gita mau ayam McD."


"Gita gak baik keseringan makan gituan. Nanti Gita bisa sakit leher."


"Gita gak mau sakit. Gita gak mau makan obat pahit."


"Kalau gitu kita makan yang lain saja ya," bujuk Julie. Gita langsung mengangguk. Alex hanya bisa menatap Julie dengan kagum.


"Mau makan di mana?" tanya Alex.


"Yang sekitaran sini saja. Aku udah lapar soalnya," jawab Julie. Alex mengangguk.


"Perasaan tadi disekitar TMR banyak tempat makan. Kenapa harus ke sini?" tanya Julie.


"Ini juga cukup dekat kan dari TMR,"


"Memang gak terlalu jauh lokasinya. Cuma ini tempat harganya mahal," batin Julie.


Ternyata Alex sudah reservasi tempat. Julie sampai bingung kapan Alex reservasi tempat.


"Julie mau makan apa?" tanya Alex.


"Emm... Aku ikut kamu saja deh," jawab Julie pelan.


"Yakin?" Alex menaikkan sebelah alisnya.


"Asal jangan kepiting. Alergi," jawab Julie.


"Oke. Kalau lobster?"


"Lobster? Kamu kasih aku makan lobster? Aku gak sanggup bayar woi," batin Julie.


"Gak kok," jawab Julie pelan.


"Gita mau makan ayam."


Alex akhirnya memutuskan memesan menu course untuk empat orang.


"Course menu? Astaga nanti bakal bayar berapa ini?" batin Julie.


Selama makan, Julie lebih banyak berinteraksi dengan Gita ketimbang Alex. Mereka berdua terlihat canggung. Bahkan Gita sampai menegur mereka.


"Kok Daddy sama Tante Julie dari tadi gak ngobrol? Biasanya Daddy cerewet."


"Kan gak ada yang diobrolin sayang," jawab Alex.


"Em, sebenarnya ada sih yang saya mau bicarakan." Julie terlihat ragu.


"Apa?" tanya Alex. Julie menatap Gita dan Bi Asih bergantian.


"Non Gita mau main di luar sama Bibi?" Bi Asih bisa membaca situasi dengan cepat.


"Boleh main air?" Gita menunjuk ke arah kolam renang.


"Sayangnya gak boleh. Gita kan gak bawa baju ganti," jawab Alex. Gita mengerucutkan bibirnya. Pelayan datang membawakan dessert.


"Gita duduk di pinggir saja ya. Sambil makan es krim," Julie mencoba membujuk Gita. Gita mengangguk mengiyakan.


"Saya terkejut, Gita bisa mau menuruti kamu." Alex menatap Julie dengan senyuman manis.


"Saya juga gak tahu."


"Mau ngomong apa?" tanya Alex. Julie terdiam sesaat, berpikir harus mulai bicara dari mana.


"Sebelumnya saya mau minta maaf. Mungkin apa yang akan saya katakan akan terkesan terlalu ikut campur, tapi saya rasa perlu membicarakan ini." Julie menatap mata Alex dengan tatapan tegas.


"Akan saya dengarkan," jawab Alex.


"Apa Alex tahu kalau Gita sering diejek di sekolah?"


Alex memperbaiki duduknya dan mulai terlihat serius.


"Saya baru mendengar itu," jawab Alex.


"Itu yang jadi alasan Gita terpisah dari kelompoknya. Gita bisa dibilang melarikan diri dari tukang bully, sampai akhirnya tersesat."


"Kalau memang ada yang seperti itu, kenapa pihak sekolag tidak pernah melapor?" tanya Alex.


"Mungkin mereka hanya berpikir itu hanya pertengkaran anak kecil. Mungkin juga mereka tidak bisa mengatakannya, karena hal ini sangat sensitif."


"Sesensitif apapun, saya rasa itu tetap harus disampaikan. Apalagi kalau sampai Gita diejek terus."


"Makanya saya sekarang berbicara sama Alex," balas Julie.


"Akan saya dengarkan."


"Teman-teman Gita menegejeknya, karena tidak memiliki ibu." Raut wajah Alex langsung menggelap. Julie memperhatikan perubahan itu.


"Sepertinya memang hal yang sangat sensitif," guman Julie.


"Maaf," seru Alex.


"Saya tidak tahu masa lalu kamu, tapi Gita itu anakmu. Kalau kamu belum bisa memberikan dia ibu yang baru, berikan dia kasih sayang dan perhatian dua kali lipat lebih besar."


"Aku sayang sama Gita. Dia satu-satunya keluargaku."


"Memangnya Kevin dan Nenek kamu anggap apa?" tanya Julie.


Alex menghela nafas dengan amat berat.


"Mereka juga keluargaku. Mungkin kamu belum tahu, tapi mereka bukan keluarga kandungku."


"Apa Kevin memperlakukanmu seperti saudara tiri? Apa Nenek pernah membedakanmu dengan Kevin?" Julie bertanya.


Alex sudah tahu jawaban dari pertanyaan Julie, tapi dia tak bisa menjawab. Alex hanya menunduk.


"Saya yang orang luar, bahkan bisa menyadari mereka memperlakukan kamu seperti keluarga. Justru kamu yang sepertinya membatasi diri dengan mereka."


Alex tersenyum pahit.


"Bagaimana kamu bisa melihat sejauh itu?" tanya Alex. "Saya terbiasa memperhatikan orang-orang disekitarku."


"Belajarlah membuka diri pada orang-orang yang menyayangimu dengan tulus," sambung Julie.


"Hubungannya dengan Gita?" Alex berusaha mengganti topik.


"Agar kamu bisa segera mencari ibu baru buat Gita."


"Saya sudah berusaha ganti topik, tapi balik lagi ke masalah keluarga."


"Karena yang dari tadi saya bahas memang itu," kata Julie. "Berikan saya alasan untuk menikah lagi," tantang Alex.


"Simpel aja. Lakukan demi Gita." Julie memberi sedikit jeda untuk melihat reaksi Alex.


"Gita masih dalam usia yang sangat membutuhkan peran seorang ibu. Lebihtepatnya membutuhkan kedua orangtuanya," lanjut Julie.


"Saya sebenarnya menyadari itu, tapi saya merasa belum sanggup." Wajah Alex terlihat sedih.


"Secinta itukah pada ibunya Gita?"


"Gimana ya? Dibilang cinta juga tidak, soalnya kami dijodohkan. Lebih pada kecewa saja mungkin, karena dia rela ninggalin kami untuk pria lain."


Julie mengangguk mengerti.


"Apa artinya kamu takut ditinggal lagi gitu?" tanya Julie. Alex tersenyum.


"Mungkin," jawabnya.


"Lebih tepatnya saya takut kehilangan keluarga lagi. Orang tua kandung saya meninggal, papa tiri saya juga. Bahkan istri saya sekalipun pergi meninggalkan saya dan Gita."


"Saya juga, orang tua saya meninggal waktu masih kuliah semester akhir. Saya gak punya siapa-siapa lagi, tapi saya tetap bisa move on. Life is still go on. Kamu gak bisa terus tinggal di masa lalu, karena kamu masih harus melanjutkan hidup. Melanjutkan hidupmu sendiri dan hidup Gita. Tapi, move on bukan berarti harus melupakan loh ya."


"Bicara sih gampang, tapi prakteknya susah." Alex tersenyum tipis.


"Kamu belum coba kok bilang gak bisa." Pernyataan Julie membuat Alex tersenyum lebih lebar.


"Oke, kalau begitu apa Julie punya ide untuk move on?" tanya Alex.


"Move on dari mantan istri atau dari apa?" Julie bertanya balik.


"Semuanya," jawab Alex.


"Kalau move on karena ditinggal orang tua, kamu bisa fokus pada hubunganmu dan keluarga yang lain. Terutama Gita, karena dia butuh kasih sayang lebih banyak."


Alex menatap Julie dengan penuh kekaguman.


"Kalau dari mantan istri?" tanya Alex iseng.


"Tinggal cari yang baru aja kan," jawab Julie.


"Emang masih ada yang mau sama duda anak satu?" Alex tersenyum mengejek dirinya sendiri.


"Kenapa gak? Kamu ganteng, mapan, menurutku kamu itu baik dan bertanggung jawab. Pasti banyak banget cewek yang mau sama kamu. Yah, walaupun gak semua orang yang mau nerima anak tiri sih," jawab Julie.


Alex tersenyum lebar.


"Artinya bisa dong ya kalau aku simpulin kamu juga mau sama aku."


Julie mengangkat sebelah alisnya. Dia tak menyangka akan mendengar pernyataan seperti itu.


"Kalau bicara secara realistis, ya. Aku mau sama kamu," Julie menjawab dengan mantap.


"Serius?" tanya Alex.


next>>>